
Part 9 - Kebetulan dan Keberuntungan
Banyak orang bilang, bahwa hidup adalah sebuah misteri. Kita tidak dapat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, meski hanya beberapa detik. Terkadang, kita dikejutkan dengan kejadian tidak terduga, entah yang membuat luka, atau bahkan yang membuat bahagia. Seperti halnya keberuntungan yang tercipta dari sebuah keadaan atau sebuah kebetulan. Yang pasti, semua terjadi atas campur tangan Tuhan, yang terkadang kita abaikan.
Monnaire dan Estephania saling tatap. Estephania sangat enggan menuruti apa yang baru saja dikatakan oleh Monnaire, tetapi apa yang dikatakan oleh Monnaire, sama sekali tidak salah.
"Nona Estephania, isu mengenai kemanusiaan saat ini sangat sensitif. Meskipun Anda sudah mengumumkan bahwa kontrak itu palsu, itu semua tidak serta merta bisa mengembalikan kepercayaan para buruh kepada Anda. Anda harus bisa merangkul mereka dengan memberikan keamanan, kenyamanan, serta kesejahteraan. Memberikan bonus sebagai penghargaan atas kontribusi mereka selama ini kepada Green Future, akan mengembalikan kepercayaan mereka kepada Anda yang sempat pudar akibat beredarnya berita mengenai kontrak itu" Kata Monnaire dengan nada meyakinkan. Kali ini ia harus benar-benar bisa membuat Estephania menuruti keinginannya lagi.
"Anda tidak akan rugi. Uang yang Anda keluarkan, akan kembali berlipat-lipat karena berhasil menciptakan opini positif. Hal ini tentunya akan menarik semakin banyak investor. Apakah Anda ingat, bahwa buruh Green Future memiliki semacam forum? Kepuasan mereka terhadap kinerja Anda sebagai presdir, pasti akan mereka tuliskan di sana. Bukankah akan sangat bagus, ketika mereka menceritakan kebaikan Anda dalam forum itu? Anda tidak perlu terlalu bersusah payah membangun citra Anda sebagai pemimpin" Kata Monnaire lagi. Wajahnya terlihat semakin meyakinkan.
Estephania masih terdiam. Mungkin memang apa yang dikatakan oleh Monnaire ada benarnya. Untuk hal-hal yang bersifat kemanusiaan, Estephania kurang memahami hal itu, karena selama ini, ia selalu melakukan cara-cara kotor untuk mencapai tujuannya.
"Percaya padaku, Nona" Monnaire kembali meyakinkan Estephania.
Estephania mengangguk pelan. Menurutnya, tidak ada salahnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Monnaire.
"Nona Liberty, sepertinya Anda sangat paham mengenai bisnis. Apakah Anda pernah mengelola bisnis sebelumnya?" Tanya Estephania.
Monnaire tertawa kecil. "Ini bukan tentang bisnis, Nona. Ini tentang nurani. Siapapun bisa mengelola bisnis, asalkan mau belajar. Tetapi, tidak semua orang bisa menggunakan nuraninya dalam setiap tindakan" Jawab Monnaire.
Estephania terlihat kikuk, seolah merasa tersindir, tetapi ia tidak memiliki alasan untuk marah.
"Tetapi, aku lihat, caramu mengambil keputusan, seperti sudah sangat berpengalaman dalam mengelola perusahaan" Kata Estephania lagi.
Monnaire menggeleng. "Saya belum pernah mengelola perusahaan, tetapi hampir"
"Hampir?" Kening Estephania berkerut.
Monnaire kembali tersenyum. "Itu hanya masa lalu. Tidak ada yang perlu dibahas. Tidak etis juga jika saya membicarakan urusan pribadi masa lalu saya, ketika kita sedang dalam jam kerja" Kata Monnaire.
Estephania menatap Monnaire dengan tatapan heran. Ia merasa ada hal aneh yang sulit ia jelaskan dalam diri wanita yang kini berdiri di depannya.
"Sudah malam, dan pekerjaan saya juga sudah selesai. Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya harap, Anda bisa mempertimbangkan masukan dari saya tadi" Kata Monnaire sambil membungkukkan badannya.
Estephania mengangguk, tanpa berkata sepatah pun. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejanggalan yang sejak tadi mengganggunya.
"Semoga hari Anda selalu menyenangkan, Nona" Kata Monnaire sambil menutup pintu. Langkahnya terdengar beraturan dan tidak terlalu cepat. Sambil berjalan, ia berdendang kecil. Hatinya cukup bahagia hari ini, karena ia berhasil mendekati Estephania. Itu artinya, terwujudnya harapan yang ia inginkan, sudah semakin dekat.
Dalam perjalanannya menuju lantai dasar, ia berpapasan dengan seorang pria yang terlihat tergopoh. Wajahnya berkeringat, nafasnya tidak beraturan. Monnaire menatapnya dengan tatapan heran. Sepertinya orang itu sedang terburu-buru.
Orang itu kemudian terduduk lemas. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari sesuatu. Lagi-lagi Monnaire menatapnya. Orang itu tersenyum kepada Monnaire, sambil mengatur nafasnya.
"Nona, bo... Boleh saya bertanya?" Kata pria itu sambil berusaha mengatur nafas. Berulang kali ia tertunduk, dan memegangi dadanya.
"Ya, apa yang ingin Anda tanyakan kepada saya?" Tanya Monnaire dengan ramah.
"Apakah, semua karyawan sudah pulang?" Tanya pria itu lagi.
"Ah, sepertinya mereka semua sudah pulang. Tetapi, sepertinya tadi ada beberapa karyawan pabrik yang belum pulang. Mungkin mereka lembur" Jawab Monnaire.
Pria itu tersenyum menyeringai. Kali ini ia memegangi lututnya. Monnaire terkejut karena terlihat cairan kental mengalir dari balik celana pria itu. Kakinya terluka.
"Ah, kaki Anda terluka" Kata Monnaire sambil berjalan ke arah pria itu.
Pria itu sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. "Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini hanya luka kecil" Katanya.
"Tetapi darahnya mengalir banyak sekali" Kata Monnaire tampak khawatir.
"Ini hanya terkena paku kecil, tidak apa-apa. Akan segera sembuh setelah diobati" Kata pria itu, sambil tetep berusaha tersenyum dan menahan nyeri.
"Saya akan mengobati Anda, kebetulan, saya punya kotak P3K di mobil. Tunggulah sebentar" Kata Monnaire sambil melangkah menuju mobilnya, yang jaraknya tidak begitu jauh.
"Tidak perlu, Nona. Saya sudah dijemput. Teman saya akan langsung membawa saya pulang" Kata pria itu.
Monnaire terdiam terkesima, seolah seperti terhipnotis.
"Semoga dia baik-baik saja" Kata Monnaire sambil kembali melangkah. Ia bergegas membuka pintu mobilnya begitu sampai, tetapi ia terlihat kebingungan. Tangannya berusaha merogoh saku dan isi tasnya, seperti sedang mencari sesuatu.
"Di mana kuncinya?" Katanya sambil terus berupaya mencari. Kemudian, Monnaire menepuk keningnya pelan.
"Apakah mungkin kuncinya tertinggal di ruangan Estephania, saat aku mengobrol dengannya tadi?" Monnaire bergegas kembali ke lantai atas. Meski ia tidak yakin dengan tebakannya, tetapi ia tetap berusaha untuk memastikan, jika tidak, ia terpaksa harus meninggalkan mobilnya di sini.
"Haaah, jika kuncinya tidak ketemu, aku terpaksa pulang naik taksi" Gerutu Monnaire sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Tiiiing" Pintu lift terbuka. Monnaire langsung disambut oleh pemandangan yang di luar dugaannya. Estephania terkulai lemas bersimbah darah.
"Apa yang terjadi? Kak... Ah, Nona Estephania, apa Anda bisa mendengar saya?" Tanya Monnaire panik. Ia bukan khawatir karena keadaan Estephania, tetapi ia tidak ingin menjadi tertuduh atas kejadian ini. Suasana sekitar tampak sepi, di lift ini, hanya ada mereka berdua.
"Nona, tolong katakan sesuatu" Kata Monnaire sambil berusaha mengecek nadi Estephania.
"Masih ada denyut nadi, tetapi sepertinya sangat lemah" Monnaire masih terlihat panik. Ia langsung mengambil ponsel, dan menghubungi Carlo.
"Cepat angkat, kumohon" Kata Monnaire.
"Ya" Jawab suara di seberang sana.
"Bisakah aku meminta nomor sambungan ke penjaga keamanan? Aku akan ceritakan nanti. Aku tidak punya banyak waktu... Baiklah, terima kasih" Kata Monnaire dengan cepat. Ia langsung menghubungi penjaga keamanan yang ada di lantai bawah, dan tidak seberapa lama, mereka datang.
Beberapa waktu setelahnya.
Monnaire masih memperhatikan Estephania yang terbaring tidak berdaya. Melihatnya seperti itu, rasanya tidak percaya, jika ia yang telah merencanakan pembunuhan kepada Monnaire.
"Haaah, sudah hampir dua jam aku di sini, tetapi belum juga ada yang datang. Aku lelah sekali. Kenapa harus aku yang ada di sana, dan menunggunya seperti ini?" Gerutu Monnaire, kesal. Ia kembali mengambil ponselnya, dan mencoba mengusir kebosanan dengan membuka sosial media.
"Non... Nona Liberty, Anda masih di sini?" Kata Estephania, sambil perlahan membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemah. Luka di tubuhnya juga masih terasa nyeri.
"Anda sudah siuman? Maaf jika saya lancang, saya menemukan Anda bersimbah darah di dalam lift. Tadinya saya akan kembali ke atas untuk memeriksa apakah kunci mobil saya tertinggal, tetapi, ketika pintu lift terbuka, saya justru terkejut melihat keadaan Anda" Kata Monnaire.
"Tiga orang. Aku diserang oleh tiga orang, tetapi aku tidak bisa melihat wajah mereka, karena mereka menggunakan topeng. Tetapi, saat menyerangku, salah satu dari mereka berkata, ini hukuman yang setimpal karena telah membuat mereka dan keluarga mereka menderita. Lalu dia bilang, lebih baik dia mati, daripada harus hidup tanpa pekerjaan. Begitulah kurang lebihnya" Kata Estephania sambil menahan rasa sakit.
"Sepertinya, mereka adalah buruh yang kemarin berdemo. Mungkin mereka masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang aku sampaikan dalam pidatoku kemarin" Lanjut Estephania.
"Aku sempat melakukan perlawanan, sepertinya salah satu dari mereka juga terluka" Kata Estephania lagi.
Monnaire mengernyitkan keningnya. Mungkinkah salah satu dari orang yang menyerang Estephania, adalah orang yang tadi bertemu dengannya di lantai dasar? Monnaire masih terus berjibaku dengan tebakannya, hingga ia dikejutkan oleh Estephania yang memanggilnya.
"Nona Liberty, aku mau mengucapkan terima kasih. Jika tadi kau tidak menolongku, aku pasti sudah mati" Kata Estephania sambil tersenyum.
"Ah, itu. Itu hanya kebetulan. Anda tidak perlu merasa tidak enak" Kata Monnaire.
"Kau memang belum boleh mati sekarang, Estephania. Masih banyak yang harus kau terima atas perbuatanmu selama ini, terutama kepadaku" Batin Monnaire.
"Ah, kedepannya, jangan merasa sungkan kepadaku. Kau tidak perlu menggunakan bahasa formal dan terkesan kaku kepadaku" Kata Estephania.
Monnaire tersenyum kecil, antara bingung dan waspada.
"Untuk selanjutnya, bisakah kita berteman?" Kata Estephania sambil mengulurkan tangannya.
Monnaire terkesima, dan diam mematung beberapa detik. "Apa ini? Apakah Tuhan sedang berpihak kepadaku, dan memberikanku keberuntungan? Aku tidak perlu susah payah mendekatkan diri kepada Estephania, justru dia sendiri yang datang kepadaku" Kata Monnaire dalam hati.
Estephania kembali memanggil, dan kali ini ia juga kembali mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Monnaire balas tersenyum. "Baiklah, mari berteman" Kata Monnaire sambil menjabat tangan Estephania. Seringai licik tersirat di wajahnya.
******