
Part 5 – Aku Yang Baru (2)
Threzz dan Lauricie saling tatap mendengar perkataan Monnaire yang sedikit di luar nalar. Monnaire terdiam sejenak, matanya tetap memandang lurus, tanpa melihat ke arah dua orang di hadapannya yang tampak bingung. Monnaire dengan sigap mengambil remote televisi yang ada di atas meja. Ia sengaja menyetel saluran berita dalam negeri, karena jawaban dari perkataannya tadi, ada di sana.
“Estephania sudah diangkat secara resmi menjadi Presdir, oleh dewan direksi. Kalian lihat?” kata Monnaire sambil terus menyimak apa yang disampaikan oleh presenter televisi.
Threzz dan Lauricie menggangguk paham. “Jadi, kita harus mulai bertindak dari sekarang” kata Lauricie.
“Untuk itulah, aku bilang, salah satu dari Monnaire ataupun Liberty harus mati. Dan karena saat ini aku sudah menjadi Liberty, maka Monnaire yang akan mati. Kematian Monnaire juga akan menjadi pancingan bagi musuh-musuh kita” kata Monnaire.
“Pancingan?” kata Lauricie mengernyit.
“Ya, mereka pasti akan senang, karena tidak ada lagi yang bisa menjadi penghalang. Lalu, saat mereka lengah, maka kita lakukan serangan dari dalam, perlahan-lahan, sampai pada akhirnya mereka akan habis” kata Monnaire dengan tatapan tajam.
“Mom, kau bilang, ada mayat wanita tanpa identitas yang tersimpan di ruang jenazah” lanjut Monnaire lagi.
“Ya, kami belum bisa melakukan tindakan apapun, karena selain tanpa identitas, tidak ada satupun yang mengakui sebagai kerabatnya. Kurasa, mungkin memang orang itu hidup sebatang kara” jawab lauricie.
“Bagus sekali. Ceritanya, mirip denganku. Bukankah saat aku ditemukan, aku pun tidak memiliki identitas?” kata Monnaire dengan mantap. Ide-ide liar mulai berkecamuk di kepalanya, pikirannya dipenuhi dengan dendam, sehingga ia akan melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya, seperti yang dilakukan oleh Estephania dan komplotannya untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan.
“Lalu, kita akan memberikan pengumuman bahwa kita telah menemukan mayat?” tanya Threzz.
“Lebih tepatnya, kita akan taruh mayat itu, di tempat mereka mencoba membunuhku. Aku ingin lihat, alasan apa lagi yang dibuat Estephania, untuk menutupi kesalahannya. Pasti akan menjadi pertanyaan, karena menurut cerita yang mereka buat, aku dinyatakan menghilang di perbatasan kota” jawab Monnaire.
“Tetapi keadaan mayat itu tidak terlalu parah. Hanya mengalami pendarahan yang berujung kematian. Wajah dan tubuhnya utuh, dia korban tabrak lari” kata Threzz lagi.
“Mau tidak mau, kita harus membuatnya mengalami luka parah, seperti yang telah terjadi padaku. Wajahnya harus benar-benar hancur, sehingga tidak bisa dikenali” kata Monnaire sambil menatap kedua orang di hadapannya.
“Tidakkah itu terlalu kejam?” kata Threzz sambil memegangi sudut keningnya. Ia tidak pernah berpikir untuk melakukan penyiksaan kepada tubuh yang sudah tidak bernyawa.
“Anggap saja, kalian sedang berlatih membedah pasien, seperti yang dulu kalian lakukan, sebelum menjadi seorang dokter spesialis. Bukankah, situasinya sama, kalian melukai orang yang sudah mati?” jawab Monnaire dengan lugas.
“Mereka terlalu mudah mendapatkan apa yang tidak mereka perjuangkan sejak awal. Dan aku, harus mengambil kembali apa seharusnya tidak menjadi milik mereka” lanjutnya lagi.
Threzz dan Lauricie terdiam. Kemudian keduanya mengangguk setuju, Monnaire tersenyum lebar. Tabuhan genderang keras memecah keheningan kalbu. Perang yang sesungguhnya segera dimulai.
******
Semua orang bertepuk riuh di ruang rapat direksi. Estephania benar-benar sudah resmi menjadi Presdir Green Future, dengan demikian, segala tindak tanduk yang berhubungan dengan perusahaan, kini atas kuasa Estephania.
Manuella dan Edward ikut bertepuk tangan, namun dengan senyum masam, tanpa ada raut kebahagiaan. Sesekali mereka terlihat ikut tertawa, hanya untuk menghindari kecurigaan. Estephania mengamati tingkah mereka dari posisinya berdiri. Ia tersenyum sinis, karena ia tahu, bukan ini yang diinginkan oleh paman dan bibinya.
“Aku tetap harus berhati-hati pada dua orang itu. Meskipun mereka terlihat seperti orang bodoh, namun mereka juga memiliki strategi licik yang tidak terduga. Aku harus bisa tetap membuat mereka berada di sisiku, karena aku jelas-jelas memegang kartu mati mereka” kata Estephania dengan tersenyum puas.
Edward dan Manuella saling berbisik. “Kakak, kapan kakak akan menyerahkan rekaman itu kepada Estephania?” kata Manuella, sambil menelisik ke sekitar, berjaga-jaga agar jangan sampai ada yang mendengar pembicaraan mereka. Meski suasana cukup riuh, seorang penjilat, bisa hadir di mana saja.
“Bersabarlah, belum saatnya. Kita nikmati dulu pertunjukannya. Ketika tua bangka itu benar-benar dinyatakan mati, surat wasiat akan dibacakan, saat itulah, waktu yang tepat untuk kita merayakan kemenangan” kata Edward sambil menaikan alisnya.
******
Estephania berdiri di atap Green Future sambil memandangi keindahan kota yang megah. Kelap-kelip lampu saling bersaing dengan sinar bulan yang berkilat di malam temaram. Suasana yang begitu damai, tetapi tidak dengan hatinya. Sambil menyesapi rokok di tangannya, Estephania terlihat melamun, kemudian perlahan ia menghembuskan asap rokoknya yang lalu menghilang tertiup hembusan angin.
“Aku hampir mendapatkan semuanya. Lalu kenapa aku tidak merasa senang? Benarkah ini yang aku inginkan?” kata Estephania sambil terus menikmati kepulan asap dari rokoknya, seolah semuanya dapat memberikan jawaban atas kegelisahannya.
Perlahan, terdengar suara langkah mendekatinya dengan hati-hati. Estephania langsung menoleh. “Ada apa kau ke sini?”
“Apa aku mengganggumu?” tanya Duvatte dengan sedikit ragu.
“Tidak usah banyak basa-basi. Ada yang ingin kau katakan padaku?” kata Estephania sambil membuang rokok di tangannya.
“Aku ingin mengakui sesuatu” kata Duvatte sambil mengatur nafasnya.
“Mengakui sesuatu?” kening Estephania tampak berkerut. Ia yakin, ada sesuatu yang tidak beres, yang di luar keinginannya.
Duvatte terdiam. Mencoba menyusun kata-katanya, karena ia merasa serba salah, namun ia tetap harus mengakui apa yang telah ia perbuat.
“Aku tidak mengubur mayat Monnaire di belakang bukit, seperti yang kau perintahkan” kata Duvatte.
Estephania seketika terbelalak. Ia terlihat geram, lalu ia berjalan mendekati Duvatte. “Apa yang kau katakan? Kau sedang bercanda?” kata Estephania dengan mata melotot, seolah bola matanya akan melompat ke luar.
“Aku tidak bercanda. Saat itu, aku sudah memastikan bahwa Monnaire sudah meninggal, karena dia sudah tidak bernafas lagi. Lagi pula, lukanya benar-benar parah, sehingga aku yakin, dia tidak akan bertahan” kata Duvatte.
“Kenapa kau melakukan itu? Kau kasihan padanya, apa kau menyukainya?” tanpa sadar, Estephania berteriak dengan keras.
Seketika Duvatte langsung mencium bibir Estephania, Estephania langsung mendorong tubuh Duvatte dengan keras.
“Bajingan gila. Bagaimana kalau ada yang melihat?” kata Estephania.
“Kenapa kau takut? Bukankah kau bilang, akan mengakui hubungan kita, setelah keinginanmu tercapai? Aku membantumu sejak dulu, bahkan aku tidak pernah mempedulikan keselamatanku sendiri. Aku bahkan rela berpura-pura menjadi kaki tangan Paman Edward, demi mendapatkan informasi yang kau butuhkan” kata Duvatte. Matanya memerah, bicaranya tegas, dan dipenuhi emosi. Amarah benar-benar membakar hati dan pikirannya. Ia seolah berubah wujud menjadi sosok lain, sosok yang tidak dikenal oleh Estephania. Mengingat selama ini, Duvatte selalu tunduk kepada Estephania, bahkan ketika diperintahkan untuk sujud di kakinya, maka Duvatte akan melakukannya dengan suka rela.
“Bu...Bukan begitu maksudku” kata Estephania terbata. Ia terlihat sedikit takut, sebab ia sama sekali tidak menduga, hal ini akan terjadi.
“Kau tahu, rasanya aku ingin sekali membunuh Wizzarez saat melihat kalian bercumbu mesra di depanku. Kau benar-benar jatuh cinta padanya?” kata Duvatte dengan berang.
“Tidak. Kau kan tahu, aku hanya memanfaatkannya, untuk membantuku menyingkirkan Monnaire, seperti rencana kita” jawab Estephania, terlihat meyakinkan.
“Wajah dan sikapmu tidak menunjukan hal itu. Kau terlihat menikmatinya” kata Duvatte.
Estephania perlahan mendekati Duvatte, kini ia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi. Baginya, ia harus menyelamatkan diri dahulu dari amukan Duvatte saat ini. Dengan lembut ia membelai pipi Duvatte, kemudian mencium bibirnya dengan mesra, berbeda dengan reaksinya sebelumnya. Perlahan ia berbisik kepada Duvatte.
“Aku mencintaimu... Tetaplah di sisiku selamanya, maka aku akan menjadikanmu raja”
******