Parhelion

Parhelion
Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (End)



Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (End)


Beberapa waktu sebelumnya


Malam sudah sangat larut. Kesunyian tidak membuat Carlo menghentikan pekerjaannya. Ia masih terlihat sibuk mengerjakan sesuatu dari komputer jinjingnya. Beberapa kali ia membenarkan letak kacamatanya. Kemudian menghela nafas panjang. Setelah berulang kali mengatur beberapa rumus dalam sistem komputernya, akhirnya Carlo tertawa lebar. Ia langsung mengambil ponselnya.


"Aku sudah berhasil masuk ke dalam grup obrolan karyawan Green Future. Kau sudah bisa memulai misimu" Kata Carlo.


Monnaire langsung mengambil ponsel yang sudah sejak lama ia persiapkan, dan mulai mengirim sesuatu ke dalam grup obrolan karyawan. Tidak mudah untuk bisa masuk ke dalam grup itu, mengingat Carlo dan Monnaire adalah orang luar. Cara paling jitu untuk masuk ke dalam grup, adalah dengan membobolnya, dan masuk menjadi anggota grup secara diam-diam.


"Langkah keduaku sudah kumulai, Kakakku tercinta. Bersiaplah, ini akan menjadi kado terindah yang akan semakin mempererat hubungan persaudaraan kita" Kata Monnaire sambil menaikkan satu alisnya.


******


Monnaire benar-benar membuat kehebohan dengan masuk ke dalam grup obrolan karyawan. Beberapa kontrak penggunaan teknologi mesin yang sudah ditandatangani oleh Estephania, ia kirimkan ke dalam grup tersebut, hingga memicu kemarahan karyawan. Meski tidak ada pernyataan resmi peralihan tenaga manusia ke mesin, namun adanya kontrak tersebut menimbulkan isu panas, bahwa akan terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap buruh secara besar-besaran.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus mengadakan protes. Presdir yang sebelumnya pernah berjanji untuk selalu memperhatikan kesejahteraan karyawan, tetapi presdir yang baru, justru malah ingin merumahkan kita. Ini sama saja seperti memberikan racun untuk membunuh kita. Kita akan mati jika kita kehilangan pekerjaan" Kata Saufe, salah satu buruh yang cukup senior dari bagian perakitan komponen.


"Benar sekali, kita harus melakukan protes. Bagaimanapun, kita sudah cukup lama berkontribusi untuk perusahaan ini. Bagaimana mungkin kita disingkirkan begitu saja" Kata Arnold, buruh yang lainnya.


Suasana terlihat memanas, hanya beberapa menit saja, perkataan kedua buruh senior itu, berhasil mempengaruhi pikiran buruh yang lainnya.


"Kita harus protes, dan melakukan mogok kerja. Tuntutan kita harus didengarkan. Green Future tidak boleh melanggar janji"


"Ya... Kita harus protes" Teriak semua buruh itu. Mereka sepakat melakukan demonstrasi dan mogok kerja. Satu lagi rencana Monnaire, mulai berjalan sesuai keinginannya. Monnaire seperti sedang memasang bom waktu, yang siap diledakkan kapan saja.


******


Estephania terkejut melihat kerumunan buruh yang berjajar sampai ke pintu gerbang masuk. Puluhan spanduk yang berisi tuntutan, bahkan tidak jarang pula yang disertai makian, terlihat berbaris di sela-sela kerumunan orang itu.


"Lihat, si Nona Presdir yang hebat itu sudah datang" Kata salah seorang yang kemudian mengajak beberapa rekannya untuk menghalangi mobil Estephania.


"Bagaimana, Nona, kita tidak bisa masuk?" Tanya supir pribadi Estephania yang mulai terlihat panik.


"Hentikan mobilnya di sini, aku akan segera turun" Kata Estephania.


"Tidak apa-apa. Lakukan yang ku perintahkan. Mereka hanya ingin menyampaikan tuntutan mereka kepadaku" Kata Estephania sambil membuka pintu mobilnya. Beberapa orang terlihat mengerumuninya, bahkan ada beberapa yang mendorongnya, hingga Estephania limbung dan hampir terjatuh.


Estephania langsung mengambil pengeras suara yang sedang dipegang oleh salah satu pendemo.


"Tenang, semua bisa dibicarakan bai..." Sebelum Estephania berhasil melanjutkan kalimatnya, sebutir telur busuk, mendarat mulus di kepalanya yang kemudian kembali mengundang hinaan, makian, bahkan cemooh. Mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan semacam itu, Estephania langsung pergi dan bergegas menuju toilet, bermaksud membersihkan dirinya, sekaligus mencoba meredakan amarahnya.


******


Monnaire menguping pembicaraan antara Estephania dan David dari balik pintu. Ia tidak dapat menelaah pembicaraan itu dengan jelas, tetapi dapat dipastikan, Estephania dan David sedang membicarakan masalah demonstrasi buruh. Perlahan Monnaire maju sedikit ke depan, menempelkan telinganya pada daun pintu, tetapi ia justru malah tidak sengaja menyenggol beberapa peralatan kebersihan yang entah kenapa diletakkan di samping pintu. Mungkin karena masih pagi, sehingga petugas kebersihan juga masih bersiap-siap untuk melakukan pekerjaannya. Monnaire langsung menyiram air yang ada di ember, ke pakaiannya, untuk menghindari kecurigaan.


"Siapa di sana?" Tanya Estephania dengan geram. Ia langsung melangkah menuju pintu, dan mendapati Monnaire sedang membersihkan pakaiannya yang basah.


"Nona Liberty, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Estephania dengan mata melotot.


"Ah, saya terpeleset. Saya sedang membaca pesan di ponsel saya, saya tidak melihat ada ember dan beberapa peralatan kebersihan di sini, lantainya juga licin" Jawab Monnaire sambil tersenyum.


Estephania memperhatikan lantai di depannya, lantai itu benar-benar basah. Estephania bersiap kembali ke ruangannya, namun Monnaire tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Maaf, Nona Estephania, saya tidak bermaksud lancang. Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Anda dengan lawan bicara Anda. Sepertinya Anda sedang kesulitan menghadapi masalah demontrasi yang sedang terjadi" Kata Monnaire dengan nada memancing. Estephania bukan orang yang senang dianggap remeh. Kalimat Monnaire barusan, seolah menegaskan bahwa Estephania tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi.


"Ini bukan urusan Anda, Nona Liberty. Bukankah pemotretan untuk iklan baru akan dilakukan satu jam lagi, kenapa Anda ada di sini?" Kata Estephania dengan tatapan tajam.


"Ah, saya hanya tidak ingin terlambat. Apalagi ini adalah pemotretan pertama setelah saya dinyatakan sehat. Jadi, saya benar-benar sangat antusias" Jawab Monnaire dengan nada tenang. Ia sudah memperkirakan, Estephania pasti akan menanyakan hal ini.


"Jika Anda tidak keberatan, saya ingin memberikan saran kepada Anda mengenai hal ini. Yang diinginkan para buruh adalah kepastian dan jaminan seperti yang telah diucapkan oleh presdir sebelumnya. Jadi, Anda hanya perlu memberikan kepastian dan jaminan itu, sampai suasana benar-benar kondusif. Bukankah Anda sangat peduli pada citra Anda sebagai pemimpin? Demonstrasi besar-besaran seperti ini, tentu akan memancing perhatian publik. Kemungkinan, Anda juga akan mendapatkan penilaian yang kurang baik, sehingga mempengaruhi keputusan calon investor. Tentu saja, ini juga berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan ini. Bukan begitu?" Kata Monnaire panjang lebar. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat Estephania berada dalam pengaruhnya. Estephania memang cukup cerdas, tetapi ia belum memiliki pengalaman dalam dunia bisnis. Ia hanya mengikuti apa yang ada di pikirannya, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sehingga terkadang mengesampingkan nurani. Estephania tidak akan pernah paham akan ketakutan dan kecemasan yang dirasakan oleh para buruh. Tetapi di sisi lain, Estephania ingin terlihat baik dan kompeten sebagai seorang pemimpin.


Estephania terdiam, yang dikatakan Monnaire ada benarnya.


"Lalu menurutmu, apa yang harus aku lakukan saat ini?" Tanya Estephania.


Monnaire tersenyum licik. "Bagus. Kau sudah mulai masuk dalam permainanku" Batin Monnaire. "Bisakah kita bicara di dalam?" Kata Monnaire lagi.


******