
Part 4 – Pengkhianat (2)
Pernahkah kau merasakan memiliki saudara yang tidak ada bandingannya denganmu. Kepintarannya, kecantikannya, atau bahkan sikapnya, tetapi, justru dia yang mendapatkan perhatian lebih, sehingga seolah dunia ini hanya miliknya. Dia bisa mendapatkan semuanya tanpa harus bekerja keras, sedangkan kau? Kau harus bisa mengubah siang menjadi malam, mengubah gelap menjadi terang, atau mengubah terik menjadi teduh, hanya untuk sekedar mendapatkan pengakuan, bahwa kau juga ada di sekitar mereka.
Ya, itulah yang saat ini aku rasakan. Aku selalu berupaya mendapatkan perhatian keluargaku dengan belajar keras, hingga aku bisa mendapatkan peringkat juara di kelas, mengikuti kejuaran olahraga yang tidak sedikitpun aku minati, dengan tujuan agar mereka bisa membanggakanku disetiap pertemuan akhir pekan, tetapi, usaha yang aku lakukan, tidak begitu berarti. Mereka hanya mengganggap hal itu seperti batu karang yang berada di tengah lautan. Ada, tetapi tidak dianggap.
Berbelas tahun aku hidup dalam keadaan seperti ini. Aku yakin, suatu saat keadaan ini akan berubah, perhatian mereka akan tertuju padaku, aku akan menjadi ratu dikeluarga ini. Namun pikiranku ini terbantahkan, ketika Monnaire selalu saja menjadi petir di siang hari, menyadarkanku dari lamunan tak berarti, dan tidak akan pernah terwujud.
“Nona Estephania, Anda tidak bersiap-siap? Mau saya ambilkan pakaian Anda?” kata Krissa, asisten pribadiku. Aku tidak tahu, sejak kapan dia ada di sampingku. Hari ini, pikiranku benar-benar kacau. Aku menarik nafas panjang. Aku salah. Aku tidak boleh merasa demikian. Bagaimanapun, Monnaire dan aku adalah saudara. Kami dibesarkan bersama, dan... Aku, hemm... Ya, aku sangat menyanyanginya. Dia adalah adikku yang berharga.
“Prang...” terdengar suara gaduh dari arah dapur. Sepertinya ada sesuatu yang pecah. Aku berlari menuju dapur, dan melihat Monnaire sedang menangis di sana.
“Tidak apa, Nona. Kami akan membereskannya. Nona tidak perlu khawatir” ucap Dante, kepala dapur kami, sambil sigap membereskan kekacauan yang baru saja dibuat oleh Monnaire.
Perlahan aku menghampiri Monnaire yang masih menangis terisak dan memohon maaf. “Kenapa bisa seperti ini?” tanyaku pelan, sambil mengusap rambut gadis itu.
“Lucas. Aku mengejarnya, karena dia baru saja menangkap burung biru kesayangan ibu. Aku takut ibu akan memarahinya, jadi aku berniat untuk melepaskan burung itu, tetapi saat burung itu lepas, Lucas mencakar tanganku. Aku kaget, dan tidak sengaja menjatuhkan gelas-gelas ini...” jawab Monnaire sambil terisak.
“Sudahlah, Pak Dante dan yang lainnya akan membereskan semuanya. Kita masih punya banyak gelas dan juga persiapan minuman. Kau tidak perlu khawatir. Pak Dante juga akan menangkap Lucas, dan memasukannya ke kandang” kataku, berusaha menenangkan Monnaire.
Monnaire menggigit bibir bawahnya. “Tetapi, ibu pasti akan memarahiku, karena burung biru kesayangannya juga lepas. Kakak tahu kan, burung biru itu adalah hadiah dari sahabat ibu di Venisia” kata Monnaire, kali ini tangisnya makin pecah.
Aku tahu apa yang ia rasakan. Ibu kami memang cukup tegas, wajar jika Monnaire takut kepada ibu. Pasti karena ia membayangkan akan dihukum di gudang seperti saat aku menghilangkan arloji antiknya. Gudang itu berada di bawah rumah kami. Tempatnya terasa lembab, tidak ada cahaya matahari masuk ke sana, dan Monnaire, sangat takut pada kegelapan. Ia selalu berlari ke kamarku ketika listrik padam, dan tidak akan kembali ke kamarnya, hingga saat pagi tiba.
“Tenanglah, jika kau dihukum di gudang, aku akan menemanimu” kataku sambil tersenyum.
“Kakak serius?” tanya Monnaire dengan mata berbinar. Kali ini tangisnya mulai berhenti, meski matanya masih basah.
Aku mengangguk pelan.
Monnaire tersenyum senang, sambil mengusap wajahnya. “Riasanku berantakan” katanya. Lalu ia berlari menghampiri Dante beserta anak buahnya yang sedang sibuk.
“Nona, Anda tidak perlu membantu” kata Dante dengan wajah khawatir.
“Aku salah, karena telah membuat kekacauan ini. Izinkan aku membantu”
“Tetapi, Nona...”
“Aku mohon” kata Monnaire sambil mengatupkan jari-jarinya. Wajahnya terlihat memelas.
“Ah, bagaimana ya?” Dante terlihat ragu.
“Aku janji, ketika ibu datang, aku akan berhenti. Namun, aku pastikan, sebelum ibu datang, semuanya sudah beres”
“Baiklah, tetapi Nona sebaiknya berhenti, jika Nona merasa lelah” kata Dante.
Monnaire tersenyum lebar, sambil memberi hormat. Dengan bergegas, ia membereskan pecahan gelas dan meja yang dipenuhi tumpahan minuman. Aku tertawa kecil melihat Monnaire. Tingkahnya masih saja seperti anak-anak, meski hari ini usianya tepat dua puluh tahun.
Aku dan Monnaire berdiri berdampingan. Monnaire sudah mengganti pakaiannya yang sebelumnya penuh dengan noda minuman. Pakaian yang ia pakai kali ini lebih sederhana, berbanding terbalik dengan pakaianku yang terlihat mewah. Berkali-kali Delilah, asisten pribadi Monnaire, memintanya untuk membeli pakaian baru di toko desainer langganan kami, tetapi Monnaire menolaknya, dan mengatakan bahwa, ia akan bicara yang sejujurnya pada ibu, serta menjamin ia akan menerima semua hukumannya tanpa melibatkan orang lain.
Hari ini adalah hari ulang tahun kami berdua. Kami bukan anak kembar, hanya saja, kebetulan hari ulang tahun kami sama. Ibu sengaja mengadakan pesta yang cukup besar hari ini, karena hari ini juga menjadi hari bersejarah baginya. Hari ini adalah tepat peringatan lima tahun kebangkitan Green Future, perusahaan yang nyaris bangkrut, tetapi kemudian menjadi salah satu perusahaan ponsel terbesar di negara ini, karena kepiawaian ibu dalam menjalankan bisnis.
Aku berbisik pada Monnaire, menyadari pandangan para tamu yang merasa sedikit aneh melihat penampilan kami yang cukup mencolok. Aku berpakaian mewah dengan dandanan yang cukup glamor, sedangkan Monnaire hanya memakai gaun sederhana dengan riasan seadanya.
“Tidak apa-apa, kak. Akan menjadi masalah jika aku tidak langsung datang ke ruangan ini ketika ibu tiba, dibandingkan dengan aku sibuk mengurusi pakaian dan riasanku. Lagipula, gaun ini juga merek terkenal, kan? Kata Monnaire.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, ibu kami memang cukup tegas. Kata-katanya adalah perintah yang tidak bisa dilanggar. Wajar jika tadi Monnaire terburu-buru dan langsung menuju ruangan, ketika diminta berkumpul karena ibu sudah tiba, dan bersiap memberikan sambutan.
Kali ini, seperti biasanya, ibu selalu terlihat anggun, dengan pembawaannya yang santun. Ia terlihat lugas menyampaikan pidatonya. Ah, aku ingin sekali menjadi seperti ibu. Dihormati dan dikagumi oleh banyak orang.
“Saya, akan menyampaikan dua kabar, ah, bukan, lebih tepatnya tiga kabar penting, pada kesempatan kali ini. Yang pertama, mengenai fitur terbaru dari produk ponsel keluaran Green Future. Sebenarnya, saya ingin menyampaikannya secara resmi di acara peluncuran produk, tetapi, saya akan sedikit membocorkannya di sini” kata ibu sambil tertawa kecil, kemudian langsung disambut dengan riuh tepuk tangan oleh para hadirin. Lihatlah, betapa ibu selalu bisa membuat semua pandangan tertuju padanya.
Kemudian, ibu memerintahkan kepada salah satu karyawannya, untuk menyalakan proyektor, dan mulai menjelaskan tentang fitur-fitur ponsel keluaran terbaru Green Future.
“Jika dilihat sekilas, ponsel ini mungkin tidak jauh berbeda dengan ponsel milik kompetitor, tetapi, ada perbedaan yang saya rasa belum dimiliki oleh ponsel lainnya” kata ibu lagi.
Tiba-tiba sekelebat cahaya muncul, aku cukup terkejut, dan aku melihat ada beberapa orang dengan kamera di tangan mereka. Oh, rupanya ibu mengundang awak media. Yah, wajar saja, ini bisa jadi sedikit jalan untuk melakukan promosi sebelum produk benar-benar diluncurkan. Ibu berhenti sejenak, ia berdehem kecil, sebelum kembali melanjutkan presentasinya, membuat para hadirin sedikit penasaran, menantikan penjelasan selanjutnya.
“Ponsel ini, dilengkapi dengan sensor yang bisa menangkap gerakan mata, sehingga kita bisa menggulirkan layar ke atas, bawah, ataupun samping, hanya dengan gerakan mata” lanjut ibu.
Aku mengernyitkan dahi. Aku baru saja menyampaikan ide ini minggu lalu, dan ibu menolaknya. Apakah ibu berubah pikiran?
“Menarik sekali bukan? Saya pikir, Anda semua setuju” kata ibu dengan senyum bangga. “Ini adalah ide dari anak saya, dan karena ide cemerlangnya itu, saya akan menghadiahkan dua buah kejutan untuknya sekaligus malam ini”
Kejutan? Ibu akan memberikan kejutan untukku? Wah, kejutan apa ya? Aku benar-benar tidak sabar.
“Saya akan panggilkan anak saya ke atas panggung” kata ibu sekali lagi, senyum manis selalu tersungging di bibirnya, begitupun aku. Rasanya senang sekali, aku hampir melompat, sangking bahagianya. Ibu akan memperkenalkanku ke atas panggung sebagai anak kebanggaannya. Aku merapikan pakaianku dan sesekali menyisir rambutku dengan jari, aku benar-benar harus tampil memukau. Aku tidak boleh membuat ibu malu.
“Monnaire, bagaimana penampilanku?” tanyaku pada Monnaire.
“Kakak selalu cantik” katanya, sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Aku harus mengatur langkahku dan juga cara bicaraku. Monnaire, aku benar-benar gugup. Tolong bantu tenangkan aku” kataku sambil menarik nafas panjang. Monnaire menepuk-nepuk pundakku dengan pelan, mencoba memberiku semangat.
“Baiklah, saya akan panggilkan anak saya, untuk naik ke atas panggung...”
Nafasku semakin tidak karuan, aku benar-benar gugup. Aku mencoba berdiri perlahan.
“Monnaire, kemarilah... Inilah anak saya, Monnaire, bintang malam ini” kata ibu, sambil menunjuk ke arah Monnaire. Monnaire terlihat terkejut, terlebih lagi aku. Bukan aku yang ingin ibu perkenalkan. Bukan aku anak yang ibu banggakan. Aku... Lagi-lagi aku, hanya menyimpan harapan kosong.
Perlahan Monnaire melangkah maju menghampiri ibu. “Kau siap dengan kejutannya Monnaire?” kata ibu lagi, disambut dengan tawa hadirin.
Ibu kemudian melanjutnya pidatonya lagi. “Malam ini, saya akan umumkan, bahwa Monnaire akan menjadi penerus saya, untuk menjalankan Green Future” kata ibu dengan bersemangat. Lagi-lagi, semua hadirin menyambutnya dengan tepukan riuh.
“Ya, saya tahu, Monnaire belum memiliki pengalaman dalam mengelola bisnis, tetapi saya yakin, seiring berjalannya waktu, Monnaire akan membawa perubahan yang lebih besar untuk perusahaan. Untuk itu, di sini saya juga akan mengumumkan perjodohan Monnaire dengan Wizzarez De Fabrizio, direktur utama Fabrizio Company”
Mataku terbelalak. Nyaris tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Tangisku pecah di tengah keramaian. Ya, tidak ada yang peduli, mereka sibuk memberi selamat kepada Monnaire, bintang malam ini.
\*\*\*\*\*\*
Aku duduk di kursi taman yang ada di belakang rumah. Suasana di dalam masih ramai, meski acara sudah berakhir. Dengan mata basah, aku memberanikan diri menghampiri ibu.
“Ibu, bisakah bicara sebentar?” kataku pada ibu. Ibu langsung meletakkan gelasnya.
“Apakah ada hal penting?” tanya ibu sambil mengernyitkan dahi.
“Ya, bagiku cukup penting” kataku sambil sedikit menahan nafas.
“Baiklah” kata ibu sambil mengangguk.
Aku mulai mengatur nafasku, mencoba menyusun kalimat yang sejak tadi memenuhi pikiranku. Perlahan aku membuka suara.
“Ibu, kenapa ibu menyebut ideku sebagai idenya Monnaire?” tanyaku sambil menggigit bibir, berusaha sekuat tenaga menahan tangis.
Ibu menghela nafas, kemudian ia duduk.
“Bukankan aku yang menyampaikan ide itu kepada ibu, lalu ibu menolaknya, bahkan ibu tidak mengatakan alasannya padaku” kataku dengan terbata.
“Estephania, saat kau menyampaikannya pada ibu, berulang kali ibu bertanya, sungguhkah itu idemu?” kata ibu sambil menatapku yang tidak bisa membendung air mataku.
“Ibu, aku sudah mengatakannya padamu, itu memang ideku. Kenapa ibu tidak yakin pada jawabanku?”
“Estephania, ibu tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang tidak jujur” kata ibu lagi, matanya tidak bergeming menatap wajahku.
“Ibu, ide itu memang benar-benar ideku. Harus dengan apa aku...” ibu langsung memotong kalimatku, sebelum aku menyelesaikannya.
“Estephania, ibu mendengar pembicaraanmu dan Monnaire di kamar. Bukankah Monnaire yang lebih dulu mengatakan hal itu kepadamu? Monnaire bilang, andai saja bisa menggunakan isyarat mata, tanpa harus menggunakan jari, benar begitu?”
“Tetapi, bu...”
“Estephania, berulang kali ibu bilang kepadamu, ibu tidak menyukai kebohongan, sekecil apapun itu” kata ibu lagi.
“Lalu mengenai Wizzarez, kenapa ibu menjodohkannya dengan Monnaire. Kenapa ibu tidak berdiskusi dulu denganku, atau dengan Monnaire?” kataku lagi.
“Ibu rasa, untuk hal itu, tidak ada yang perlu ibu bicarakan denganmu atau Monnaire. Lagipula, Monnaire pasti tidak akan menolak. Ibu sudah bersepakat dengan orang tua Wizzarez. Dengan perjodohan ini, akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ah, Estephania, nanti kita bicara lagi, sepertinya ibu terlalu lama meninggalkan tamu ibu” kata ibu sambil berlalu meninggalkanku.
Aku terdiam, bahkan aku tidak bisa membantah kalimat ibu, tetapi air mataku, cukup mewakili semuanya. Aku jatuh terduduk di rumput taman yang basah karena hujan sore tadi.
“Ibu... Kenapa sejak dulu ibu hanya memikirkan Monnaire? Ibu tidak tahu kan, Wizzarez adalah kekasihku, bu”
\*\*\*\*\*\*