Parhelion

Parhelion
Part 4 - Pengkhianat (3)



Part 4 – Pengkhianat (3)


Aku sudah tidak memikirkan bagaimana kondisiku saat ini. Wajah yang lusuh, pakaian yang berantakan, serta suasana hati yang benar-benar tidak karuan. Aku harus segera menemui Wizzarez. Entah ia ada di mana? Setelah acara di rumahku berakhir, aku sama sekali tidak melihatnya, aku juga bahkan tidak melihat Monnaire. Jika pikiran burukku benar, mungkin mereka sedang pergi bersama, atau mungkin sedang berbincang mesra. Saat ini, aku tidak bisa sepenuhnya percaya, bahwa Wizzarez benar-benar mencintaiku, meski terkadang sikapnya menunjukan, bahwa ia benar-benar takut kehilanganku. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk membunuh rasa benciku pada Monnaire yang selama ini selalu aku tutupi, tetapi, kali ini aku benar-benar bertekad, jika aku tidak bisa menjadi seperti Monnaire, maka aku akan menyingkirkannya. Sejak awal, Monnaire memang tidak seharusnya ada di dalam hidupku.



Aku bergegas menekan bel di pagar rumah Wizzarez, tembok tinggi menjulang itu seolah sedang menatapku sambil mencibir keadaanku yang menyedihkan. Berulang kali aku menekan bel, namun tidak ada jawaban. Pikiranku bertambah kacau, manakala aku teringat, bahwa aku meninggalkan ponselku di kamar. Aku tidak bisa menghubungi Wizzarez. Aku terlalu panik, hingga aku tidak bisa berpikir dengan jernih.



“Tenangkan dirimu, Estephania” kataku sambil berulang kali menarik nafas. Kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku. Seseorang turun membukakan pintu mobil. Berani-beraninya laki-laki itu membawa Monnaire ke rumahnya. Aku menggigit bibir, berusaha menahan marah dan tangisku. Beginilah jadinya jika aku terlalu lemah. Semua orang semena-mena, dan seenaknya memperlakukanku, menginjakku seperti sampah yang tidak berguna.



Wizzarez terkejut melihat keberadaanku, begitu juga dengan Monnaire.



“Kakak, sedang apa di sini?” Monnaire mengernyitkan dahinya.



Aku secepat kilat mengatur ekspresi wajahku. Tidak begitu sulit bagiku, karena selama inipun aku selalu berpura-pura di hadapan si bodoh ini.



“Ah, aku ingin memberikan selamat, sekaligus peringatan” jawabku sambil tersenyum.



“Peringatan?” kata Monnaire dan Wizzarez bersamaan.



Aku kembali tersenyum, sambil menatap pantulan wajahku di jendela mobil. Benar-benar menyedihkan. Kotor dan hina. Aku maju beberapa langkah mendekati kedua orang itu. Monnaire tampak heran, sementara Wizzarez terlihat gugup, seolah ia tahu, bahwa aku sedang sangat marah. Tanpa pikir panjang, aku melayangkan tamparanku ke pipinya dengan cukup keras. Wizzarez terkejut, tetapi ia tidak berkata apa-apa.



“Kakak, ada apa ini? Wizz, kau tidak apa-apa?” tanya Monnaire sambil memegang pipi Wizzarez. Benar-benar pemandangan yang membuatku muak. Rasanya ingin sekali aku mematahkan tangan Monnaire, agar ia bisa menyingkirkan tangannya itu dari Wizzarez.



“Itu peringatan untukmu Wizzarez” kataku sambil melotot, disertai dengan tatapan penuh selidik dari Monnaire.



“Jika kau berani menyakiti adikku, maka aku akan memberikan hukuman lebih dari ini padamu” kataku lagi.



“Kakaaak, kau berlebihan” kata Monnaire. “Wizz, maafkan kakak ya, dia hanya terlalu khawatir, karena selama ini aku tidak pernah dekat dengan laki-laki” kata Monnaire dengan nada penuh penyesalan.



“Ti...Tidak apa-apa. Aku paham dengan sikap kakakmu” kata Wizzarez terbata.



“Haaaah, kalian bahkan belum saling mengenal, tetapi malah jadi seperti ini” kata Monnaire lagi. Ia kemudian melangkah menghampiriku, lalu memelukku dengan erat.



“Kakak, terima kasih karena selalu melindungiku, tetapi lain kali, tidak perlu berlebihan seperti ini. Kau lihat? Wizzarez sampai takut padamu”



“Sudah seharusnya aku melakukan itu, karena aku kakakmu” kataku, sambil membalas pelukannya.



Dari balik punggung Monnaire, Wizzarez menunduk, ia terlihat bingung, karena aku terus menatapnya tajam.



“Wiz, bolehkah kakak ikut bergabung bersama kita?” pinta Monnaire.



“Bergabung? Apakah ada acara lanjutan?” tanyaku.



Monnaire menggeleng. “Tidak. Orang tua Wizzarez, hanya ingin kami bisa lebih dekat. Jadi, Wizzarez dan orang tuanya, mengajakku kemari”



“Ah, begitu rupanya” kataku sambil mengangguk. Sedangkan Wizzarez saja belum pernah mengenalkanku pada orang tuanya. Monnaire, kau terlalu beruntung. Tetapi, mulai saat ini, keberuntungan itu, harus menjadi milikku.



“Bagaimana, kau mau ikut?” tanya Monnaire.



“Tidak. Aku terlalu lelah. Lagipula, seperti yang aku katakan, aku hanya ingin memberi selamat dan peringatan. Dan, semoga Wizzarez akan terus ingat pada peringatanku” kataku dengan menatap wizzarez. Ia masih menunduk, seolah tidak berani balik menatapku.



“Ah, kebetulan ada taksi. Aku pamit pulang. Semoga kalian berbahagia” kataku sambil membuka pintu taksi. Dari kaca spion, aku bisa melihat senyum bahagia yang terus mengembang dari wajah Monnaire. Sayangnya, senyum itu tidak akan bertahan lama.



“Nikmati kebahagiaanmu saat ini, Monnaire, karena sebentar lagi, bahagiamu akan kuubah menjadi duka. Kau sudah terlampau bahagia selama ini. Sekarang, adalah giliranku”


******


Wizzarez berjalan sambil mengendap, menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di kursi taman. Di tangannya, ada seikat bunga mawar. Dengan senyum manis, kemudian ia mengecup pipi gadis itu dengan lembut.



“Kau masih marah?” tanya Wizzarez.



Gadis itu terdiam, bahkan tidak bergeming sedikitpun.



“Estephania, aku sudah menjelaskannya padamu, bahwa ini semua adalah keinginan orang tuaku. Perjodohan ini semata-mata hanya karena bisnis. Pelan-pelan, aku akan berbicara pada orang tuaku, mengenai hubungan kita. Rencana perjodohanku dengan Monnaire, akan segera berakhir” kata Wizzarez.



“Tidak. Teruskan rencana perjodohanmu” kata Estephania.



“Maksudmu?” dahi Wizzarez berkerut. Ia heran mendapati perubahan sikap Estephania yang berbanding seratus delapan puluh derajat dibandingkan semalam.



“Wizzarez, kau benar-benar mencintaiku, kan?” Estephania berbalik menghadap Wizzarez. Tatapannya dalam. Kemudian, ia memegang tangan Wizzarez dengan lembut, seperti seorang anak kecil yang sedang minta dituruti keinginannya.



“Ya, tentu saja. Aku tidak akan repot-repot datang kemari, jika aku tidak mencintaimu” jawab Wizzarez.



“Jika, kau mencintaiku, kau akan memenuhi permintaanku, kan?”



“Ya”



“Apapun?”



“Ya. Apa yang kau inginkan? Kau ingin tas edisi terbatas seperti yang kau minta minggu lalu?” tanya Wizzarez.



“Tidak. Bukan itu yang aku minta”



“Lalu?” Wizzarez mengernyitkan keningnya. Ia semakin tidak paham, dengan sikap gadis yang ada di hadapannya ini.



“Teruskan perjodohan ini, dan buatlah Monnaire benar-benar jatuh cinta padamu” Estephania menaikan sebelah alisnya, senyum kelicikan tersungging di ujung bibirnya.



“Estephania, aku tidak mengerti maksudmu... Aku tahu kau sedang marah, tetapi...” Estephania langsung memotong kalimat Wizzarez.



“Aku tidak marah. Sebaliknya, aku sedang merasa sangat bahagia”



“Aku tidak mengerti dengan sikapmu. Apa kau ingin hubungan ini berakhir? Estephania, kau gila. Aku sudah bilang, tunggulah sebentar, sampai aku bisa benar-benar meyakinkan orang tuaku mengenai hubungan kita. Atau, kita temui orang tuaku sekarang, dan kita katakan semuanya. Kau tahu, aku tidak mencintai Monnaire” Wizzarez terlihat bingung.




“Dasar bodoh. Aku tidak memintamu untuk mengakhiri hubungan kita. Aku hanya memintamu untuk membuat Monnaire benar-benar jatuh cinta kepadamu. Buat ia benar-benar percaya bahwa kau mencintainya. Lalu, kita bisa dengan mudah menghancurkannya”



“Jadi maksudmu, aku harus berpura-pura mencintainya?” tanya Wizzarez, berusaha memastikan pemahamannya.



“Ya, benar sekali. Kau ingat, ceritaku tentang seseorang yang selalu menjadi penghalang dalam hidupku? Orang yang selalu mendapatkan perhatian dan pujian, tanpa harus berusaha keras seperti yang aku lakukan?” kata Estephania. Wajahnya seolah menunjukan rasa benci dan dendam yang sudah tidak bisa dibendung, seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lahar.



Wizzarez mengangguk paham. “Jadi, orang itu adalah Monnaire?”



“Tepat. Jadi, jika kau benar-benar mencintaiku, bantu aku untuk menyingkirkan Monnaire” Estephania menatap Wizzarez lekat-lekat. Ia tahu, Wizzarez akan dengan mudah menuruti permintaannya. Entah karena takut kehilangan, atau karena terlalu cinta? Terkadang Wizzarez menjadi orang bodoh dihadapan Estephania.



Wizzarez terdiam, kemudian mengangguk tanda setuju. Ia mengiyakan permintaan Estephania dengan mudahnya.



Estephania tersenyum penuh kemenangan. Ia mendekatkan bibirnya ke wajah Wizzarez. Wizzarez seketika membeku, kemudian ia tersadar.



“Di sini ramai. Orang-orang memperhatikan kita” kata Wizzarez sambil menelaah keadaan sekitarnya. Ia berdalih dengan seolah membenarkan ikatan dasinya.



Estephania kemudian bergerak sedikit menjauh.



“Baiklah. Bagaimana kalau nanti malam, aku akan memberimu lebih dari ini” kata Estephania dengan senyum menggoda. Ia memang pandai membuat pria bertekuk lutut, dengan pesona yang dimilikinya. Dan dengan pesonanya itu, ia berambisi untuk menguasai segalanya. Rubah kecil itu, kini bukan lagi makhluk manis yang menggemaskan, tetapi telah berubah menjadi hewan buas yang siap menghabisi mangsanya.


******


Estephania berjalan tergopoh menuju ruang keluarga. Nath masih belum beranjak dari tempat itu sejak semalam. Matanya sembab, wajahnya terlihat kuyu. Ia tidak bisa memejamkan mata, meski merasa sangat lelah. Sejak semalam, belum ada kabar dari Monnaire. Ia semakin cemas, manakala ponsel Monnaire tidak bisa dihubungi.


“Ibu...” panggil Estephania dengan terengah. Seketika Nath menoleh. Raut wajahnya penuh harap, seolah menanti berita baik yang dibawa oleh Estephania. Perlahan ia berdiri, dan menghampiri Estephania yang terlihat gemetar.



“Kau sudah mendapatkan kabar dari adikmu?” tanya Nath dengan mata mengiba, seolah benar-benar meminta Estephania membawa kabar baik yang diinginkannya.



“Ya, aku sudah mendapatkan kabar, tetapi, mungkin ini kabar yang tidak terlalu baik untuk kita” kata Estephania.



“Maksudmu?” Nath mulai berkaca-kaca, ia tahu, Estephania tidak sedang membawa berita bagus, justu malah sebaliknya. Ia berusaha untuk tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang, menanti apa yang diucapkan oleh Estephania selanjutnya.



Estephania menyerahkan sebuah ponsel kepada Nath. Nath sadar, itu adalah ponsel milik Monnaire. Perkiraannya benar, ada hal buruk yang pasti terjadi.



“Bu, aku minta maaf. Ini semua salahku” kata Estephania. “Aku akan menjelaskan semuanya kepada ibu”



“Sebenarnya, Wizzarez adalah kekasihku. Kami menjalin hubungan, sejak kami kuliah. Selama ini aku ingin mengenalkannya kepada Ibu, karena aku menunggu saat yang tepat. Tetapi, sebelum aku sempat mengenalkannya, Ibu sudah mengambil keputusan untuk menjodohkannya dengan Monnaire” Estephania mencoba mengutarakan isi hatinya pada Nath. Berkali-kali ia terlihat mengepal tangannya, mengatur kalimat agar mudah dimengerti oleh pikiran Nath yang sedang kacau balau.



“Bukalah ponsel Monnaire, Bu, dan bacalah pesannya. Ibu akan mengetahui semuanya” kata Estephania lagi.



Nath membuka ponsel Monnaire. “Dia tidak memasang sandi pada ponselnya?” kening Nath berkerut heran, seperti mencoba menelaah kejanggalan.



“Mungkin ia sengaja melakukan itu, ketika meninggalkan ponselnya, agar kita semua tahu apa yang membuatnya menghilang seperti ini” jawab Estephania. Ia tahu, Nath pasti akan menanyakan hal ini.



Nath kembali membuka ponsel Monnaire, dan membaca pesan yang tertulis pada aplikasi percakapan dengan hati-hati. Matanya berkaca-kaca, kemudian ia terdiam cukup lama. Bahunya berguncang. Ia menutupi wajahnya, lalu tangisnya benar-benar pecah, meski tanpa suara.



Estephania perlahan mendekatinya. “Ini salahku, Bu. Seandainya aku juga jujur sejak awal, mungkin tidak akan begini. Monnaire tidak perlu mendengar pembicaraanku dengan Wizzarez, dan mencurigai kami”



“Mencurigai kalian? Apa maksudnya?” tanya Nath dengan terbata. Ia berusaha mengatur suaranya yang terasa serak. Nafasnya mulai terasa berat. Ia tidak sanggup membayangkan hal yang lebih buruk dari perkiraannya.



“Semalam, Monnaire mendengar aku dan Wizzarez sedang bertengkar ditelepon. Aku meminta Wizzarez untuk mengakhiri hubungan kami, tetapi Wizzarez tidak setuju, dan memintaku untuk menunggunya mengatur waktu tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Ibu, dan orang tuanya” kata Estephania panjang lebar.



Ibu bisa membaca percakapan kami, juga percakapan antara Monnaire dan Wizzarez. Aku dan Wizzarez sudah berusaha untuk menjelaskan semuanya, tetapi Monnaire bersikeras, dan menuduhku merebut Wizzarez darinya. Wizz bilang, setelah mereka bertengkar semalam, Monnaire langsung pergi meninggalkannya dengan taksi. Wizz kemabali berusaha menjelaskan kepada Monnaire, namun Monnaire tetap tidak menerima penjelasan itu. Monnaire masih bertahan dengan anggapannya” lanjut Estephania.



“Lalu, sekarang Monnaire pergi ke mana? Monnaire tidak akan bisa bertahan di luar sana. Apakah dia sudah makan? Mungkin saja dia kedinginan” kata Nath panik. Estephania mendengus kesal, namun tetap berusaha mengatur rona kekesalan yang tergambar di wajahnya.



“Wanita tua sialan. Dalam keadaan seperti inipun kau masih saja memikirkan Monnaire. Apakah kau tahu, bahwa aku juga terluka di sini?” batin Estephania. Ia terus mengumpat dalam hatinya.



“Ibu, tenangkan diri ibu. Wizzarez sudah melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian. Mereka akan segera mengabari kita, begitu ada perkembangan”



“Mereka sudah mencari Monnaire?” tanya Nath dengan gelisah.



“Ya. Mereka sedang melakukan pencarian” jawab Nath. “Tetapi sayangnya, Monnaire tidak akan pernah ditemukan” lanjut Estephania dalam hati, sambil tersenyum sinis. Langkahnya untuk mewujudkan ambisinya, mulai terbuka. Satu penghalang terbesar telah tersingkir, saatnya untuk menyingkirkan kerikil-kerikil kecil, dan itu bukan hal yang terlalu sulit. Begitu pikirnya.


******


“Kakak, kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu? Apa yang membuatmu begitu gembira?” tanya Manuella kepada Edward yang sejak tadi tidak pernah berhenti menebar senyum, sambil menikmati segelas anggur di tangannya.



Edward menoleh ke arah Manuella yang baru saja datang. Dengan sikap manis, ia mempersilahkan Manuella untuk duduk, dan menuangkan anggur ke gelas.



“Ini anggur mahal, dan diproduksi terbatas. Hanya kalangan tertentu yang bisa memilikinya. Dan kau tahu, kita bisa menikmatinya, berarti kita bukan dari kalangan orang biasa” kata Edward sambil menggoyangkan isi gelasnya. Ia memberikan gelas itu kepada Manuella, dan mengajaknya bersulang.



Manuella menerimanya, meski ia merasa janggal, karena Edward tiba-tiba saja bersikap manis padanya. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Jelaskan padaku, apa yang membuatmu bahagia?” tanya Manuella sambil meneguk minumannya pelan-pelan.



Edward kembali tersenyum. “Siapkan jantungmu. Kau pasti akan terkejut mendengarnya” kata Edward sambil membenarkan letak kacamatanya.



“Ya, ya, ya. Cepat katakan. Kau tahu, aku bukan orang yang senang menunggu” kata Manuella dengan sedikit kesal.



Edward kemudian mengeluarkan sebuah kamera kecil berbentuk pena. “Gambarnya tidak terlalu jelas, tetapi untuk suara, kita bisa mendengarnya dengan cukup jelas” kata Edward, sambil menyambungkan kamera itu ke komputernya, lalu menekan tombol putar.



Manuella seketika terbelalak. Ia benar-benar tidak menyangka. Tanpa dikomando, ia langsung tertawa terbahak, hingga memecah suasana.



“Kakak, kau benar-benar jenius” kata Manuella. “Bagaimana bisa kau memikirkan hal ini? Kapan kau merekamnya?”



“Aku selalu membawa kamera ini untuk berjaga-jaga. Gadis itu benar-benar dikuasai ambisi, sehingga ia tidak memikirkan hal-hal kecil. Lagipula, dia terlalu picik, dengan menganggap kita bodoh” kata Edward.



“Lalu, apa yang kita lakukan selanjutnya? Apakah kita akan langsung menunjukan rekaman itu kepadanya?” kata Manuella dengan berapi-api.



“Kau ini, sesekali, gunakanlah akalmu itu. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa, jika menunjukannya sekarang. Biarkan Estephania menjalankan rencananya, ketika dia sudah berhasil mendapatkan semuanya, kita ancam dia dengan bukti rekaman itu. Aku yakin, Estephania tidak akan berkutik ketika dia tahu, bahwa aku juga memegang kartu matinya. Apa jadinya jika aku sampai menyerahkan bukti itu ke polisi, bahwa dia yang merencanakan pembunuhan Monnaire? Dengan itu, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mudah” Edward menyeringai licik sambil mencengkram erat gelas di tangannya, seolah menandakan kekuasan yang akan segera diraihnya. Tidak akan ia lepaskan sedikitpun, kepada siapapun.



Serigala-serigala lapar itu mulai saling menyerang, untuk membuktikan siapa yang lebih pantas mendapatkan mangsanya. Yang terkuat, adalah pemenangnya. Tetapi, bukankah sang pemenang, adalah dia yang bisa menguasai permainan?


******