Parhelion

Parhelion
Part 13 - Kehidupan dan Kematian



Part 13 - Kehidupan dan Kematian


Takdir adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah diketahui ujungnya. Entah suka atau bahagia? Manusia hanya sebatas penerima, yang bisa harus menjalani hidupnya sesuai dengan garis yang ditentukan. Tidak dapat menolak, tidak dapat mengelak. Begitulah, meski terkadang jalan tidak sesuai keinginan, tetapi selalu ada hal berharga yang bisa dijadikan pedoman, entah untuk belajar, atau untuk mengajarkan.


Monnaire terdiam di balik jendela ruang ICu, menatap wajah tua yang tampak lelah, dengan garis-garis kerutan yang terlihat nyata. Tidak ada lagi sorot mata tajam dan suara yang lantang. Tidak lagi wajah bijak yang dihormati dan disegani. Sosok itu kini tidak berdaya, tanpa bantuan selang oksigen dan alat bantu lainnya. Di luar sana, banyak yang menanti kabar kepergiannya, hanya untuk merebut kuasa yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Miris.


Monnaire kembali menarik nafas. "Entah kenapa aku ingin datang kemari? Rasanya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada kakek, meski aku tahu, kakek tidak akan pernah menggubrisku. Kakek tahu namaku saja, itu sudah lebih dari cukup" Kata Monnaire sambil memandangi sosok itu dengan seksama.


"Kau tidak mau masuk?" Tanya Carlo.


Monnaire hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Kakek memang sedang tidak sadarkan diri, tetapi dia pasti masih bisa merasakan kehadiranku. Aku tidak mau, niat baikku malah justru membuat keadaan kakek makin memburuk" Jawab Monnaire, sedikit lirih.


Carlo terdiam, memandang wajah Monnaire yang terlihat sendu. Ia tidak berani mengatakan apapun, karena ia tahu bagaimana posisi Monnaire dalam keluarga De Frank.


"Aku hanyalah anak yatim piatu yang beruntung, karena diadopsi oleh keluarga kaya. Aku sadar di mana posisiku berada" Kata Monnaire lagi.


"Jangan berkecil hati seperti itu. Bukankah kau tahu, kakek adalah orang yang tidak mau menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Bisa saja, sebenarnya selama ini kakek juga menyayangimu" Kata Carlo, berusaha menghibur.


"Terima kasih sudah menghiburku, tetapi, rasanya itu agak sedikit berlebihan" Kata Monnaire tersenyum kecut.


"Aku rasa tidak. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengetahui isi hati orang lain. Bahkan, terkadang seorang cenayang pun bisa salah" Kata Carlo lagi.


"Kau benar, tetapi aku tidak mau berharap lebih. Memakai nama De Frank sebagai nama belakang keluarga, merupakan suatu kebanggan bagiku yang bukan siapa-siapa" Kata Monnaire, sambil tersenyum. Kali ini, senyumnya terlihat lebih manis dari sebelumnya.


Wajah Carlo seketika memerah. Ia pun tidak menyadari, apa yang membuatnya jadi mendadak kikuk, ketika Monnaire tersenyum.


"Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" Tanya Monnaire heran. Carlo bertambah kikuk.


"Tenangkan dirimu, Carlo" Kata Carlo, sambil mencoba mengingat, kapan terakhir kali ia merasakan debaran seperti saat ini.


"Hei, kau baik-baik saja?" Tanya Monnaire sekali lagi.


"Y... Ya, tentu saja baik" Jawab Carlo lagi.


"Ini tidak benar. Aku hanya sudah lama tidak berinteraksi sedekat ini dengan wanita" Kata Carlo berusaha meyakinkan hatinya.


"Aku harus pulang. Mom tadi menelepon, dia memintaku untuk menemaninya berbelanja. Semoga saja, hari ini bisa mengobati sedikit kerinduannya kepada Liberty" Kata Monnaire sambil memastikan waktu di arlojinya.


"Mau aku antar?" Kata Carlo menawarkan diri. Ia berharap, Monnaire akan mengiyakan tawarannya, tetapi ia harus sedikit kecewa saat ini.


"Aku membawa kendaraan sendiri" Jawab monnaire.


Carlo mengangguk, meski dalam hatinya kecewa.


"Jangan kecewa begitu, masih ada hari lain. Kau bisa mengantarku saat itu" Kata Monnaire sambil tersenyum lagi.


"Hentikan, Monnaire. Jangan tersenyum seperti itu, jantungku tidak sedang baik-baik saja" Batin Carlo.


Carlo berusaha menanggapi kalimat Monnaire dengan candaan.


"Kau pikir, aku kecewa karena kau menolak tawaranku? Yang benar saja" Kata Carlo, berusaha menyembunyikan sikap kikuknya.


"Sudahlah, cepat pergi. Nyonya Lauricie pasti sudah menunggumu" Kata Carlo sambil mendorong pelan pundak Monnaire.


"Kau mengusirku? Yakin, kau tidak akan merindukanku?" Canda Monnaire.


"Haaah, yang benar saja" Kata Carlo, seolah bersungut kesal. Padahal, ia benar-benar merasa bahagia saat ini. Jantungnya seperti sedang dipenuhi ledakan kembang api.


"Aku akan mengantarmu sampai ke lobi. Tidak usah menolak, ini adalah kewajiban seorang pria. Satu lagi, jangan merasa tersanjung dengan sikapku, ya" Kata Carlo sambil berjalan meninggalkan Monnaire beberapa langkah.


"Pria ini aneh sekali. Apa kau salah minum obat?" Kata Monnaire setengah berteriak. Dengan berlari kecil, ia menyusul Carlo, dan berusaha mengimbangi langkahnya.


Tiba-tiba, ponsel Monnaire berdering. Dengan sigap, Monnaire segera menjawabnya.


Bersamaan dengan itu, ponsel Carlo juga berdering. Mereka berdua saling tatap.


"Liberty kritis..." Kata Monnaire.


"Kakek juga kritis" Kata Carlo sambil menghentikan pembicaraan di ponselnya.


Monnaire terlihat bingung, ia tidak bisa memilih, siapa dahulu yang ingin dilihatnya. Carlo segera berlari menuju ruang ICU.


******


Lauricie tertunduk membisu di kursi ruang tunggu. Matanya basah dan sembab. Tidak ada satupun kata-kata keluar dari mulutnya. Monnaire memandanginya lekat-lekat. Mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh ibunya, ketika mendengar berita kematiannya.


Monnaire menggenggam lembut tangan Lauricie, tidak ada yang dapat ia katakan, tidak ada pula yang dapat ia lakukan.


Kehidupan dan kematian memang seperti sebuah permainan tarik ulur. Ada yang ingin segera mengakhirinya, dan ada juga yang ketakutan menghindarinya. Yang diberikan kesempatan hidup, begitu mudah ingin mati. Lalu yang mati, ingin diberi kesempatan hidup. Memang terkadang kenyataan selucu itu.


"Mom, jika dengan melihat wajahku membuatmu semakin terluka, maka aku akan pergi" Kata monnaire lirih. Ia menyadari, wajah Liberty yang saat ini ia pinjam, akan mengingatkan Lauricie pada masa-masa indah bersama putri kesayangannya.


Lauricie menarik tangan Monnaire, dan menggenggamnya pelan.


"Tolong tetap di sini, temani aku. Aku tidak pernah keberatan dengan kehadiranmu di sini" Kata Lauricie.


"Tetapi, bolehkah aku meminta izin untuk melihat kakek? Sebentar saja. Aku tidak akan menimbulkan kecurigaan, dan akan sangat berhati-hati" Mohon Monnaire.


Lauricie mengangguk.


"Pergilah, kabari aku jika terjadi apa-apa" Kata Lauricie.


"Mom juga. Hubungi aku jika terjadi sesuatu" Kata Monnaire sambil melepaskan pelan tangan Lauricie.


Monnaire tiba di depan ruang tunggu. Seluruh keluarga De Frank, kecuali Carlo, tengah berkumpul di sana. Tidak ada raut wajah sedih ataupun khawatir, bahkan Edward masih asyik berkutat dengan ponselnya.


Monnaire mengurungkan niatnya untuk bergabung. Selain tidak ada Carlo di sana, ia pun tidak memiliki alasan untuk mengunjungi Theodore.


Dari jarak yang tidak begitu jauh, Monnaire memperhatikan wajah-wajah itu satu persatu. Wajah-wajah yang menginginkan kematian penguasa De Frank terjadi secepatnya. Wajah-wajah yang ingin menggantikan sang penguasa. Dan wajah-wajah yang justru menantikan berita duka. Padahal di tempat lain, ada seseorang yang dengan bersungguh-sungguh berdoa, memohon kehidupan bagi orang yang sangat dicinta. Yah, kehidupan dan kematian, terkadang terlihat seperti sebuah drama.


******