Parhelion

Parhelion
Part 3 - Taken (End)



Part 3 – Taken (End)


Monnaire mempercepat langkahnya dengan sekuat tenaga. Peluh bercampur air mata tidak lagi ia hiraukan. Rasa takut, cemas, dan kecewa, bercampur menjadi satu. Rasanya ingin sekali ia secepatnya tiba di rumah, memeluk ibunya, lalu menceritakan semuanya sambil menangis sejadi-jadinya. Sesekali ia menoleh ke belakang. Bukan tidak mungkin, saat ini Estephania dan orang-orangnya, sudah mengetahui bahwa Monnaire telah melarikan diri. Luka dan perih seolah tidak dirasakannya lagi, ia hanya ingin cepat ke luar dari tempat ini. Namun rasanya, sejauh apapun kakinya melangkah, ia seperti hanya berputar di satu tempat. Entah karena tempat ini terlalu luas, atau karena ia mulai berhalusinasi?


“Itu dia...” kata sebuah suara yang cukup keras. Monnaire langsung menoleh, kemudian ia melanjutkan langkahnya, kali ini ia mencoba berlari, namun rasa nyeri seketika menahannya, hingga ia kembali melangkah dengan terseok.



“Tuhan, kumohon bantu aku. Jika ini mimpi, tolong segera bangunkan aku” kata Monnaire dalam doanya. Ia masih berharap bahwa ini semua hanyalah sebuah mimpi buruk yang terjadi karena ia terlalu lelah, atau terlalu banyak menonton drama. Ya, ia masih terus terjebak dalam harapannya, meski sebenarnya ia juga yakin, bahwa tidak ada mimpi yang terasa begitu nyata seperti ini.



Estephania tidak tinggal diam. Monnaire seolah seperti mangsa yang siap disantap dihadapannya. Dengan secepat kilat, ia langsung merebut pistol yang ada di tangan Edward.



“Estephania, apa yang mau kau lakukan?” kata Edward terkejut. Ia benar-benar melihat sosok lain dalam diri Estephania. Seorang pembunuh berdarah dingin, yang tidak peduli siapa yang menjadi korbannya. Uang dan kekuasaan terkadang membuat manusia menjadi gila.



“Tidak. Justru aku melihat diriku yang sebenarnya dalam diri gadis gila ini. Aku tidak perlu menghentikan perbuatannya. Biarkan saja dia membunuh adiknya. Rencananya itu sangat fantastis. Aku saja tidak pernah terpikir untuk melakukan itu” batin Edward.



Estephania berlari, kemudian, mengokang pistol dan bersiap menembak. Jarak antara ia dan Monnaire tidak terlalu jauh, jadi kemungkinan besar, Estephania akan mengenai sasarannya.



“Doorrrr” suara tembakan memecah keheningan. Sebuah timah panas mengenai kaki Monnaire. Monnaire jatuh tersungkur. Ia menjerit menahan rasa sakit yang luar biasa. Dalam rasa sakitnya itu, Monnaire terus meyakinkan dirinya untuk kembali berdiri, dan menjauh sekuat tenaga.



Samar-samar terdengar gelak tawa yang seolah mengejek. Monnaire terus memaksa dirinya untuk melangkah. Suara-suara itu terdengar semakin jelas.



“Monnaire, mau lari ke mana? Kau tidak akan bisa bersembunyi?” kata Estephania dengan nada mengejek.



Monnaire menaiki anak tangga dengan tergesa, peluhnya semakin bercucuran. Ia berusaha mengatur nafasnya. Monnaire benar-benar kehabisan tenaga, ditambah lagi, darah segar terus mengucur deras, meninggalkan jejak di setiap tempat yang ia lewati. Sambil bersandar sebentar di tembok, Monnaire kembali mengecek ponselnya, lalu mencoba menghidupkan kembali ponselnya. Ia berusaha untuk bertahan hidup sebisa mungkin, jikapun ia harus mati, ia berharap ada seseorang yang akan menemukan mayatnya. Monnaire kembali melangkah dengan terseok, hingga tanpa disadari, ia sudah sampai di atap gedung.



Monnaire jatuh tersungkur. “Argghhhh, aku tidak kuat lagi” kata Monnaire.



Ia benar-benar sudah tidak kuat lagi, dan merasa bahwa kematian sudah tiba di depannya. Petir seketika menyambar, dan hujan deras mulai turun. Nafasnya mulai melemah, tangannya mulai terasa kelu. Derai air hujan membasahi lukanya yang menganga, rasa perih yang teramat sangat seketika menjalar hingga ke seluruh tubuh. Monnaire pasrah dalam keadaannya. Ia lalu memejamkan matanya.



Dalam diam dan kepasrahannya, seseorang tiba-tiba muncul, dan berjalan ke arahnya. Monnaire mundur perlahan, menggeser tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga. Ia memicingkan matanya, berusaha memastikan, bahwa orang itu adalah sosok yang ia kenal.



Monnaire tersenyum dan bernafas lega. Orang itu mendekatinya, dengan membawa sebuah payung di tangannya, seperti benar-benar akan menyelamatkan Monnaire dari kematiannya, dan mengusir rasa takut yang sejak tadi menderanya. Dari bawah payungnya, orang itu menatap Monnaire, seolah akan memberikan pertolongan yang sejak tadi ia harapkan.



“Kaukah itu? Kau, membaca pesanku? Kau datang untuk menyelamatkanku? Kau sudah memanggil bantuan? Polisi?” kata Monnaire dengan terengah. Ia kembali mengatur nafas.



“Duvatte, tolong bawa aku pergi dari sini. Aku harus segera bertemu ibu” kata Monnaire dengan nafas tersengal.



“Ah, kalian di sini. Kau menemukannya lebih dahulu? Memang benar ya, Monnaire bilang, kau adalah sahabat sejatinya. Kalian berdua, pasti terhubung dengan ikatan batin” kata Estephania.



“Kakak, kenapa kau tega melakukan ini padaku?” kata Monnaire. Air matanya kembali jatuh, bercampur dengan tetesan air hujan yang mengalir semakin deras. Bahkan ia tidak memiliki rasa benci sedikitpun pada Estephania, tetapi Estephania justru ingin menghabisinya dengan cara sadis.



“Kau bisa tanyakan alasanku, ketika nanti kita bertemu di neraka. Tetapi, sekarang, kau yang harus ke sana terlebih dahulu” kata Estephania sambil menyerahkan pistol kepada Duvatte.



“Sekarang lakukan tugasmu...” Estephania mendekatkan wajahnya ke telinga Duvatte, memerintahkan Duvatte untuk segera melakukan apa yang diinginkannya.



Duvatte mengambil pistol itu dengan gemetar, seolah ragu pada apa yang akan ia perbuat. Estephania langsung mengambil kembali pistol dari tangan Duvatte, dan menodongkannya ke kepala Monnaire. Monnaire memejamkan matanya, seolah bersiap menjemput ajalnya.



Tiba-tiba seseorang datang dengan nafas terengah, kemudian merebut pistol itu dari Estephania. “Kau bilang ingin membuat Monnaire seolah bunuh diri. Kalau kau menembaknya, polisi tidak akan semudah itu percaya, kalau Monnaire bunuh diri. Suntikan cairan ini, seperti rencana awal kita” kata Wizzarez.



“Kau terburu-buru datang kemari hanya untuk menggagalkan aku menembakan pistol ke kepala Monnaire?” kata Estepahia dengan tatapan penuh selidik.



“Dengarkan aku, Estephania. Berpikirlah jernih. Pikirkan apa yang aku ucapkan tadi” kata Wizzarez.



Estephania kemudian menarik kembali tangannya sambil berteriak kesal. “Sudah lama sekali aku menantikan saat ini, menghabisi anak ini dengan tanganku sendiri”.



Monnaire menggeleng tidak percaya. Meski hanya sedetik, tidak pernah ia membayangkan bahwa orang-orang dihadapannya justru akan saling bekerja sama untuk menghancurkannya. Saat ini Monnaire tidak bisa berpikir jernih, tanpa pikir panjang, ia langsung naik ke pagar pembatas. Baginya, ia tidak punya pilihan lain, bertahan atau melompat, ia tetap akan mati. Malaikat pencabut nyawa seolah bersiap di sampingnya, menanti saatnya melaksanakan tugas dengan gembira.




“Jangan, Monnaire, aku mohon jangan melompat” teriak Estephania.



Monnaire menatap tajam Estephania. Tidak mungkin monster itu seketika berubah pikiran. “Kau sudah gila” kata Monnaire. Ia mulai kesulitan bernafas, tubuhnya semakin lemah, karena terlalu banyak kehabisan darah.



“Ya, memang aku sudah gila. Dan kau yang menyebabkan semua kegilaan ini. Kau pikir, aku benar-benar memintamu untuk jangan melompat? Hahahahaha” tawa membahana memecah keheningan. Monnaire benar-benar tersudut, seperti rusa yang siap dimangsa oleh rombongan singa yang lapar.



“Terlalu mudah bagimu Monnaire, untuk mati karena dirimu sendiri. Oleh karena itu, aku tidak membiarkanmu melompat. Kau harus mati atas keinginanku. Hei, cepat lakukan tugasmu. Ini saatnya Nona Muda kita mati” kata Estephania.



“Monnaire, maafkan aku...Aku harus melakukan ini” kata Wizzarez. “Tahanlah sedikit, ini jauh lebih baik daripada peluru”



Dalam keadaan terdesak, Monnaire berusaha untuk bernegosiasi, meski kecil kemungkinannya, ia harus tetap berusaha. Begitu pikirnya dalam hati. Monnaire yakin, ada sesuatu yang mereka inginkan, hingga mereka sampai melakukan hal gila seperti ini.



“Tolong, jangan bunuh aku. Aku... Aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan”.



“Apapun? Kau yakin?”



“Ya, aku akan memberikan apapun itu” kataku dengan penuh harap.



“Tidak. Justru, jika dengan membiarkanmu hidup, aku akan kehilangan apa yang aku inginkan. Sampai jumpa di neraka, Monnaire. Tidak perlu menungguku, karena aku akan lama sampai di sana”



Suara tembakan terdengar keras, bersahutan dengan suara petir yang menggelegar. Kilatan cahaya itu terasa begitu dekat. Monnaire sempat berpegangan pada sesuatu, namun akhirnya terlepas, karena kehabisan tenaga. Tubuhnya terjatuh diantara rimbun dedaunan dan ranting-ranting pohon yang menyisakan goresan di tubuhnya.



Wizzarez langsung berlari ke pagar pembatas. “Kau gila, sudah kubilang, jangan lakukan itu. Kenapa kau tidak mendengarkanku?” kata Wizzarez.



“Kau tidak mau kita ketahuan, atau karena kau tidak tega, Monnaire mati dalam keadaan tersiksa dan penuh rasa sakit?” Estephania tampak berang.



“Dengarkan aku Estephania, kita tidak punya waktu untuk berdebat. Kita harus segera membereskan ini semua. Apakah kau yakin, Monnaire pasti mati?” kata Wizzarez lagi.



Estephania menggerutu kesal, sambil membalikan badannya menjauhi Wizzarez.



“Duvatte, turunlah, dan pastikan anak itu mati. Skenario kita harus diubah. Aku akan mengatakan pada ibu, bahwa Monnaire hilang. Paman dan bibiku yang bodoh itu, harus dikabari mengenai hal ini, agar mereka tidak mengacaukan rencanaku lagi” kata Estephania sambil mengambil ponselnya.



Duvatte bergegas turun ke bawah, mencoba memeriksa apakah Monnaire sudah benar-benar mati. Namun, ia justru melihat Monnaire bertahan sekuat tenaga dengan mencoba terus melangkah. Monnaire terlihat lunglai, jalannya sudah tidak beraturan, dan berkali-kali jatuh. Duvatte berusaha mendekatinya perlahan, namun akhirnya Monnaire benar-benar tergeletak.



Ponsel Duvatte berdering. “Ya, dia sudah mati. Aku akan membereskannya, kalian tenang saja. Mayatnya akan aku kubur di dekat hutan” kata Duvatte.



“Kau yakin, dia sudah mati?”



“Ya, aku sudah memastikannya. Wajahnya juga hancur. Dengan luka yang sebegitu berat, dia tidak mungkin bisa bertahan” jawab Duvatte lagi sebelum mengakhiri pembicaraannya.



“Maafkan aku, Monnaire” kata Duvatte sambil menatap wajah Monnaire lekat-lekat. Ia menarik nafas panjang, kemudian menekan nomor telepon.



“Hallo, aku mau melaporkan ada seseorang terluka di sini...” kata Duvatte.



“Sekali lagi, maafkan aku Monnaire, hanya ini yang bisa aku lakukan. Jika umurmu panjang, semoga saja nanti kau akan mengalami amnesia, sehingga kau benar-benar akan melupakan kejadian ini. Namun, jika kau mati, semoga arwahmu tenang dan tidak menyimpan dendam. Jujur saja, aku tidak pernah sampai hati membunuhmu” kata Duvatte sambil berjalan perlahan meninggalkan Monnaire yang tergeletak. Hujan turun semakin deras, suara petir menggelegar mengantarkan langkah Duvatte yang perlahan-lahan hilang ditelan kepekatan malam.



Monnaire terbaring tidak berdaya. Dalam diamnya, ia berharap agar bisa hidup sekali lagi.



\*\*\*\*\*\*