Parhelion

Parhelion
Part 5 - Aku Yang Baru (5)



Part 5 – Aku Yang Baru (5)


Estephania dan Edward saling diam beberapa saat, sebelum mereka membahas tentang secarik kertas yang ada di tangan Estephania. Perbincangan terlihat serius. Edward berkali-kali terlihat menggigit bibirnya. Hal yang tidak terduga telah terjadi, dan bisa saja menghancurkan rencananya semula, begitu pikirnya.


“Jadi, hasil tes itu positif?” tanya Edward, berusaha memastikan untuk yang kesekian kalinya.


“Ya. Nenek sudah memastikan dengan sampel rambut Ibu. Hasilnya, ada kesamaan yang signifikan antara sampel Ibu dan Monnaire” jawab Estephania.


“Kesamaan? Maksudnya?” mata Edward terbelalak. Sekali lagi ia terkejut, namun ia masih berharap, bahwa apa yang ada di dalam pikirannya salah.


“Paman pasti terkejut. Sebenarnya, Monnaire adalah anak kandung ibuku. Ibu sengaja menitipkan Monnaire di panti asuhan, karena takut Kakek akan membunuh Monnaire, sama seperti yang Kakek lakukan pada Ayah, sebab Kakek tidak pernah merestui pernikahan Ibu dengan Ayah. Setelah Monnaire berusia lima tahun, Ibuku mengadopsinya, bersama denganku. Begitulah penjelasan yang aku dapat dari Nenek” jawab Estephania, panjang lebar.


"Pantas saja Nath ingin Monnaire menjadi penerus Green Future. Tunggu, apa sebenarnya kau sudah tahu hal ini dari awal? Wajahmu tidak menunjukan keterkejutan sama sekali" selidik Edward.


Estephania tertawa lepas. Ia terdiam sejenak, kemudian kembali angkat bicara, setelah beberapa saat.


"Aku tidak menyangka, tebakan Paman cukup tepat" katanya sambil beranjak menuju sofa.


"Saat di panti asuhan, sebenarnya aku selalu mencari perhatian para donatur kaya, berharap mereka akan mengadopsiku. Saat aku mendengar pembicaraan Ibu dengan pengurus panti, aku mendapatkan sebuah harapan, bahwa nasibku akan berubah, tidak lagi menjadi anak penghuni panti asuhan yang menyedihkan"


"Maksudmu?" Edward mengernyitkan dahinya, seolah tidak sabar menunggu lanjutan cerita Estephania.


"Aku tahu bahwa Monnaire adalah anak dari seorang wanita kaya, maka, mulai saat itu, aku berusaha untuk dekat dengan Monnaire, dan berperan sebagai seorang kakak yang ia harapkan selama ini. Benar saja, saat ibuku menyatakan keinginan untuk mengadopsi Monnaire, Monnaire menolaknya, kecuali, ibuku juga mengadopsiku"


Edward menyunggingkan senyum. Ia tidak salah memilih sekutu. Estephania adalah seorang yang tidak hanya licik dan ambisius, tetapi juga cerdas, berbeda dengan Manuella.


Edward mengangguk pelan. Ia akan membiarkan Estephania bekerja dengan pikirannya, setelah semuanya tercapai, ia akan menyingkirkan Estephania, dengan bukti yang sudah dikumpulkannya.


"Lalu, bagaimana dengan Monnaire, apa yang akan kita lakukan, karena pasti polisi akan menyelidiki kasus ini? " Edward terlihat cemas.


"Paman tenang saja, selama Paman selalu patuh padaku, Paman akan aman" jawab Estephania.


Edward mengangguk, meski dalam hatinya ia menolak. Ia sama sekali tidak ingin menjadi bawahan siapapun. Baginya, ia adalah satu-satunya yang berhak menjadi pewaris kekayaan De Frank.


“Jadi, aku harap, Paman tidak mengkhianatiku. Kita harus bekerja sama sampai akhir” kata Estephania.


“Paman tahu, bukan, aku tidak akan tinggal diam kepada siapa saja yang mencoba menghalangiku?” lanjutnya lagi.


Edward mengangguk sambil menelan liurnya. Ada sedikit rasa takut dalam dirinya, mengingat orang yang di hadapannya, bukanlah lawan yang bisa dengan mudah disingkirkan. Untuk saat ini, ia hanya perlu mengikuti Estephania dan berpura-pura menjadi sekutu yang taat, sambil menyusun strategi secara diam-diam, dan siap menghancurkan Estephania, saat ia mulai lengah.


\*\*\*\*\*\*


"Aku tidak setuju, bagaimana jika publik sampai tahu tentang kematian Monnaire" kata Marina.


"Nenek, justru itu. Kita tidak mungkin membiarkan publik tahu, bahwa Monnaire bunuh diri karena masalah percintaan. Ini tentu akan menyebabkan opini negatif dan membuat nama keluarga De Frank tercoreng. Pasti masalah ini akan mempengaruhi penilaian investor tentang perusahaan milik De Frank” kata Estephania panjang lebar.


Marina terdiam. Ia benar-benar buntu. Di satu sisi, pikirannya terpecah pada kondisi Nath yang semakin memprihatinkan karena kehilangan Monnaire.


“Mungkin Nenek tidak akan peduli jika perusahaan De Frank hancur, tetapi, apakah Nenek tidak berbelas kasihan pada Kakek yang saat ini sedang koma? Apakah Nenek tidak ingat bagaimana perjuangan Kakek untuk membangun bisnis, lalu kemudian hancur begitu saja karena pemberitaan negatif tentang Monnaire? Coba Nenek pikirkan sekali ini saja” lanjut Estephania.


Marina terlihat berpikir. Wajahnya menunduk. Berkali-kali ia menghela nafas panjang. “Baiklah, aku serahkan semua padamu. Besok, kita akan adakan konferensi pers, dan aku akan meluncurkan berita tentang Monnaire sebagai berita utama di surat kabar The Fact. Lalu, mengenai pemakaman Monnaire, aku akan adakan secara tertutup, tanpa diketahui oleh pihak manapun, selain keluarga kita” kata Marina pasrah.


Estephania terlihat tersenyum, dalam hatinya ia bersorak. Untuk sementara ini, posisinya aman.


******


Monnaire, Lauricie, Threzz dan Carlo masih berembug mengenai rencana yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sesekali mereka terlihat seperti sedang berdebat, kemudian kembali tenang.


“Monn, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan perihal Kakekmu. Aku bermaksud menceritakannya, ketika kondisimu sudah lebih tenang” kata Lauricie, penuh perasaan bersalah.


Monnaire menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Mom. Aku sama sekali tidak berpikiran buruk mengenai hal itu” kata Monnaire.


Lauricie menghela nafas lega. “Syukurlah, kalau kau tidak berpikir yang bukan-bukan”


“Berarti, kita tidak hanya harus mencari bukti tentang rencana pembunuhan Monnaire, tetapi juga bukti mengenai rencana pembunuhan Liberty dan juga Kakek. Apa mungkin, pelakunya adalah satu orang?” kata Carlo dengan pikiran menyelidik.


“Kenapa kau bisa berpikir begitu?” tanya Monnaire.


“Kau, dan Kakek, adalah target utama, karena kalian berhubungan kuat dengan harta keluarga De Frank. Kakek berencana mewariskan semua hartanya kepada siapa saja yang bisa mengelola Green Future. Sementara itu, ibumu mengumumkan bahwa akan menyerahkan pengelolaan Green Future padamu. Berarti, secara tidak langsung, kau akan mewarisi semua harta kekayaan Kakek. Jika memang pelakunya ingin menyingkirkan kalian, lalu apa hubungannya dengan Liberty? Kita harus mencari tahu tentang hal ini” selidik Carlo.


“Mungkinkah, Liberty mengetahui sesuatu?” kata Monnaire.


“Bisa jadi. Sekarang, kita harus memikirkan rencana yang akan kita lakukan. Estephania tidak hanya licik, tetapi dia juga punya kuasa setelah menjadi presdir di Green Future. Lawan kita kali ini, adalah seseorang yang tidak mudah untuk dihancurkan” kata Threzz.


“Ya, benar. Jadi, yang saat ini harus kita lakukan adalah, mengurangi jumlah musuh kita” kata Carlo.


“Maksudmu?” tanya Threzz, Monnaire, dan Lauricie berbarengan.


“Kita harus membuat orang-orang berpihak kepada kita, sebanyak mungkin. Buat orang-orang itu menjadi sekutu kita, meskipun dengan terpaksa. Dalam setiap peperangan, akan selalu ada pengkhianat. Kita akan temukan pengkhianat itu, atau menciptakan pengkhianat itu sendiri” jawab Carlo.


“Bukankah akan lebih mudah, jika kita bisa menemukan aib mereka, lalu menjadikan itu sebagai senjata untuk membuat mereka menuruti kita?” kata Monnaire.


“Ya, itu benar. Untuk membuat seseorang mengikuti keinginanmu, berikan apa yang paling dia inginkan, atau ancam dia dengan apa yang paling tidak dia inginkan. Dan kita, akan melakukan keduanya” kata Carlo lagi.


Monnaire mengangguk paham. Ia setuju dengan perkataan Carlo, meski saat ini, ia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada Carlo. Namun, seperti apa yang Carlo katakan, saat ini ia perlu mengurangi jumlah musuhnya. Semakin banyak yang berpihak padanya, maka akan semakin baik dan akan semakin mudah untuk mencapai tujuan akhirnya.


“Rencanaku berubah, Estephania. Aku tidak akan mengirimmu ke neraka, tetapi aku akan membuatmu membakar dirimu sendiri, sampai hangus tak bersisa” batin Monnaire sambil menaikkan alisnya. Ia tersenyum licik.


“Aku bukan lagi Monnaire yang dulu” batin Monnaire lagi.


******