
Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (4)
Estephania duduk di sebuah sofa sambil memegang sebuah botol kecil di tangannya. Di hadapannya, berdiri seorang wanita yang usianya mungkin sama dengan ibunya, atau mungkin lebih tua setahun dua tahun. Orang itu tampak bersiap mendengarkan perintah dengan seksama.
"Berikan ini kepada ibuku, setiap tiga jam sekali. Dosisnya sudah aku tulis di botol. Dan jangan lupa, di sini kau bekerja denganku, jadi kau tidak boleh mematuhi perintah siapapun, selain aku" Kata Estephania.
"Baik, Nona. Tetapi, obat apa ini? Sebab kemarin saya terlambat memberikan obat ini, dan Nyonya terlihat seperti mengamuk" Kata wanita bernama Diana itu.
Estephania tampak melotot. "Apa yang kau katakan? Bukankah aku selalu bilang padamu, jangan pernah terlambat memberikan obat ini pada ibuku. Pekerjaanmu di sini hanyalah membantuku merawat ibu, jadi jangan sibukkan dirimu dengan hal lain. Aku tidak mau lagi mendengar laporan, bahwa kau terlambat memberikan obat. Ingat baik-baik" Kata Estephania.
"Ma... Maaf, Nona. Saya berjanji, tidak akan melakukannya lagi" Diana tampak menundukkan wajahnya. Tangannya saling menggamit satu sama lain. Ia cukup merasa ketakutan.
"Satu lagi, lakukan apa yang ku perintahkan. Tidak perlu bertanya tentang apapun yang tidak perlu kau ketahui. Kudengar, kau sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai sekolah anakmu. Kau tidak ingin kehilangan pekerjaan, bukan? Jika aku memecatmu, tidak sampai lima menit, aku akan mendapatkan penggantimu" Kata Estephania dengan nada mengancam.
"Maaf, maafkan saya, Nona. Saya berjanji, tidak akan bertanya apapun lagi" Kata Diana sambil ber linangan air mata. Ia langsung terduduk, bahkan langsung berlutut di kaki Estephania.
"Sudahlah. Yang penting, kau benar-benar menyesali perbuatanmu, dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Lakukan tugasmu dengan benar. Seperti yang aku katakan sebelumnya, jika kau bekerja dengan baik, aku tidak segan-segan menambah bayaranmu menjadi tiga kali lipat" Kata Estephania lagi.
"Baik, Nona. Saya berjanji. Saya berjanji akan bekerja dengan baik, sesuai dengan perintah Nona" Kata Diana.
"Ya sudah, kembalilah bekerja. Ingat, siapapun tidak boleh bertemu dengan ibuku, tanpa seizin dariku" Kata Estephania sambil memerintahkan Diana untuk pergi.
"Baik, Nona. Saya permisi" Kata Diana sambil berlalu.
Estephania menghela nafas panjang. "Ada saja hal mengganggu. Di mana Paman Edward bisa mendapatkan perawat seperti itu. Gelagatnya agak sedikit mencurigakan. Ah, sudahlah, mungkin yang dikatakan oleh Duvatte benar, aku terlalu mudah menaruh curiga" Kata Estephania lagi.
"Aku harus kembali bekerja, hari ini aku harus mengawasi para pekerja di pabrik" Estephania langsung berdiri, dan bergegas mengambil ponselnya.
"Kita ke pabrik sekarang" Katanya singkat, lalu ia segera mengakhiri pembicaraan, tanpa banyak basa-basi.
******
Monnaire dan Carlo tampak mengamati kerumunan buruh yang sedang berdemo. Sesekali mereka menelisik diantara kerumunan itu, seperti sedang menanti kedatangan seseorang.
"Dia belum datang" Kata Monnaire.
"Pasti dia akan datang sebentar lagi. Ini adalah masalah penting. Tidak mungkin dia bisa lepas tangan begitu saja. Ini adalah masalah yang cukup pelik yang terjadi selama dia menjadi presdir. Masa depannya dipertaruhkan di sini" Kata Carlo.
"Lihat, yang aku katakan benar. Dia datang" Kata Carlo lagi, sambil menatap kedatangan Estephania yang terlihat tergesa-gesa.
"Suasana sudah semakin memanas. Para buruh meminta tuntutan mereka didengarkan. Sebentar lagi, saatnya aku muncul sebagai pahlawan untuk membelanya. Kali ini, aku harus bisa mendapatkan kepercayaannya" Kata Monnaire sambil terus menatap ke arah kerumunan yang ada di depannya, dari jendela kedai kopi langganannya.
Kerumunan orang-orang itu semakin mengular hingga ke gerbang depan kantor Green Future, suasana terlihat kacau, banyak orang berteriak histeris, bahkan sampai menangis. Keberanian Estephania untuk memenangkan suasana, justru semakin membuat orang-orang itu semakin menjadi-jadi.
"Kita bicarakan semua dengan bai..."
"Pluk..."
Belum sempat Estephania menyelesaikan kalimatnya, ia merasakan sesuatu menghantam kepalanya, meski tidak terlalu keras, namun cukup sakit. Bau busuk dan menyengat langsung tercium. Sebagian besar dari kerumunan pendemo itu langsung tertawa.
"Rasakan itu. Telur itu sama busuknya dengan dirimu" Kata salah satu dari pendemo.
Estephania terlihat geram. Ia menggerutu, kemudian langsung meninggalkan tempatnya.
"Hei, Nona muda, jangan lari. Kau harus bertanggung jawab dengan keadaan kami. Bagaimana dengan anak-anak kami jika kami tidak lagi bekerja, kami juga butuh makan" Teriak orang-orang itu. Suasana terlihat semakin kacau, persis seperti yang diinginkan oleh Monnaire.
Estephania yang panik, terlihat mondar-mandir di toilet. Sesekali ia menatap wajahnya di kaca wastafel.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa situasi jadi berubah kacau seperti ini? Padahal aku belum melakukan apapun terkait peralihan tenaga manusia ke mesin. Kenapa mereka semua langsung melakukan demonstrasi?" Kata Estephania sambil menggigit bibirnya. Pikirannya tampak kacau, ia seakan hampir menggila.
Monnaire masuk dengan langkah biasa, seolah semuanya benar-benar berlangsung alami, tanpa terencana. Ia menghela nafas sejenak, kemudian mengatur ekspresi wajahnya.
"Nona Estephania? Apa yang sedang Anda lakukan? Wajah Anda seperti menunjukkan ada masalah serius" Pancing Monnaire.
Estephania diam, tanpa menggubris pertanyaan Monnaire. Ia hanya melirik sejenak, kemudian pergi meninggalkan Monnaire yang sedang berpura-pura membasuh tangan.
"Sombongnya... Lihat saja, sebentar lagi kau akan benar-benar bergantung padaku" Kata Monnaire.
Monnaire ke luar dari toilet, samar-samar ia mendengar pembicaraan yang terdengar sedikit serius.
Ia bisa menebak, salah satu dari suara itu, adalah Estephania. Nada bicaranya terdengar meninggi, kemudian terdengar merendah lagi.
"Lalu kenapa kau tidak bisa membujuk mereka untuk menghentikan demonstrasi ini? Ini benar-benar akan menjatuhkan citraku, publik pasti menilai bahwa aku tidak kredibel. Sebentar lagi, masalah ini pasti akan menjadi berita utama" Kata Estephania.
"Saya sudah berusaha menjelaskan, Nona, tapi mereka tidak mau mendengarkan saya. Mereka terlalu kecewa dengan keputusan Nona. Sedangkan di masa kepemimpinan Nyonya Nath, beliau menjanjikan kesejahteraan para buruh, dan berjanji tidak akan merumahkan para karyawan, kecuali karena keadaan tertentu" Kata David, ketua asosiasi buruh untuk lingkup perusahaan.
"Aku belum mengumumkan peralihan tenaga manusia ke mesin, aku juga belum melakukan pemutusan hubungan kerja. Lalu kenapa mereka sampai melakukan ini?" Estephania terlihat membanting berkas ke meja.
"Bagaimanapun, isu itu sudah santer terdengar sejak Nona mulai memimpin perusahaan ini. Bukankah, memang rencana Nona seperti itu? Mengganti tenaga manusia ke mesin, untuk memperlancar proses produksi, dan menekan biaya? Jika menggunakan mesin, Anda hanya perlu melakukan pemeliharaan, namun jika menggunakan tenaga manusia, Anda tidak hanya harus membayar gaji dan bonus, tetapi juga harus menyiapkan biaya jaminan kesehatan serta jaminan hari tua bagi buruh. Bukan begitu, yang ada dalam pikiran Nona?" Kata David lagi.
Estephania menggenggam jari jemarinya, rasanya seperti ingin memukul sesuatu, sampai ia mendengar suara benda jatuh yang cukup membuatnya terkejut. Ada seseorang yang menguping pembicaraan.
"Siapa di sana?" Katanya dengan geram.
******