
Part 4 – Pengkhianat (1)
Monnaire terpaku di depan cermin, berulang kali terdengar helaan nafas panjang, seolah ia berniat membuang semua rasa ragunya dalam setiap hembusan. Ia memegangi wajahnya yang benar-benar tidak bisa dikenali. Luka-luka itu sudah mulai mengering, namun tetap menyisakan bekas yang mengerikan, hingga ia sendiri pun bergidik.
“Mereka harus membayar semuanya. Semua yang telah mereka lakukan padaku. Terlebih lagi, aku akan mematahkan kaki mereka, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh lagi” kata Monnaire sambil memegangi pantulan wajahnya di depan cermin.
Suara pintu diketuk pelan. Seketika lamunan Monnaire langsung buyar. Lauricie menghampiri Monnaire dengan lembut, mengajaknya untuk segera bersiap, karena jadwal keberangkatan pesawat mereka tinggal satu jam lagi. Monnaire mengangguk pelan, mengiyakan ajakan Lauricie, sambil melangkah menuju pintu.
Sebelum ia benar-benar keluar, Monnaire kembali menatap lekat-lekat wajahnya untuk yang terakhir kali. Sekali lagi ia menarik nafas, kali ini ia melambaikan tangannya pada pantulan tubuhnya di cermin, seolah mengucapkan salam perpisahan.
\*\*\*\*\*\*
Edward dan Manuella saling bersulang, segelas anggur di tangan mereka, seperti menandakan kemenangan yang selama ini mereka harapkan. Sesekali mereka berdansa, tertawa lepas, menikmati alunan musik yang sejak tadi terdengar di ruang kerja Edward. Samar-samar terdengar suara langkah mendekati ruang kerja Edward, tanpa aba-aba, pintu ruang kerja Edward terbuka, dan Estephania berdiri di depan pintu sambil menatap tajam paman dan bibinya yang asyik menikmati suasana.
“Terlalu dini untuk kalian merayakan keberhasilan. Green Future belum sepenuhnya ada di tangan kita” kata Estephania sambil mematikan musik.
Manuella yang sedang menari, tiba-tiba berhenti. “Bocah kurang ajar, tidak punya sopan santun” katanya sambil menghampiri Manuella dengan langkah sedikit terhuyung.
“Kebiasaan burukmu di panti asuhan, jangan kau bawa kemari, bocah jalang” kata Manuella lagi, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Estephania. Seketika bau alkohol langsung menyeruak.
“Jaga cara bicaramu, Bibi! Kau tidak ingat, sedang berhadapan dengan siapa? Aku tahu Bibi sedang mabuk, tetapi, Bibi pasti ingat, apa sudah aku lakukan semalam. Aku, bisa melakukan hal yang sama kepadamu, seperti yang aku lakukan pada Monnaire” ancam Estephania. Ia langsung merebut gelas di tangan Manuella, dan membantingnya ke lantai. Seketika gelas itu pecah berhamburan, dan menimbulkan suara yang cukup membuat kaget.
Edward langsung menoleh, matanya melotot. Manuella mundur beberapa langkah, tanpa diperintah.
“Sebaiknya, mulai saat ini, kalian juga harus sadar diri. Kalian tidak bisa memperlakukanku seenaknya, seperti sebelumnya” kata Estephania sambil duduk di sofa panjang. Ia merogoh tasnya, kemudian mengambil ponsel, dan menekan nomor seseorang.
“Aku di kantor Paman Edward, kemarilah” katanya singkat.
Edward menatap Estephania sambil melotot. “Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Anak ini akan semakin kurang ajar” kata Edward dalam hati. Estephania menyadari, bahwa Edward sedang menatapnya. Sambil menoleh, ia balas menatap Edward dengan pandangan tajam.
“Kau merencanakan sesuatu?” kata Estephania penuh selidik. Alisnya sedikit naik. Ia tersenyum sinis.
Edward langsung kikuk. Seketika ia terkejut, karena Estephania bisa membaca pikirannya.
“Kartu mati kalian ada di tanganku, jadi jangan macam-macam. Bahkan aku punya rencana yang sama sekali tidak pernah kalian pikirkan. Aku, lebih licik dari yang kalian bayangkan. Jadi, jangan macam-macam denganku. Aku tidak perlu memperingati kalian terus menerus, bukan?” kata Estephania. Kali ini ia juga mengambil gelas yang ada di tangan Edward, kemudian menyiramkan isinya ke wajah Edward.
“Ingat, aku bisa melakukan apapun, bahkan hal-hal yang di luar pikiran kalian. Ingat itu” kata Estephania. “Ketika kalian hanya punya rencana untuk menculik Monnaire, aku bahkan membunuhnya. Aku, tidak akan segan-segan menyingkirkan apapun yang menghalangiku, ataupun yang tidak sejalan denganku, termasuk juga menyingkirkan tua bangka tidak berguna sepertimu”
Edward menelan ludahnya, tubuhnya gemetar. Ia merasa takut, tetapi sekaligus juga merasa terhina atas perlakuan Estephania.
“Jika kau masih ingin hidup tenang, dan menikmati harta keluarga De Frank, maka tunduklah pada Estephania ini” katanya lagi, sambil menuangkan anggur ke gelasnya, lalu meneguknya sampai habis.
Di sela ketegangan yang terjadi, Duvatte datang seperti yang diperintah Estephania, ia membawa laporan penting yang sedang ditunggu. Sambil langsung mengatur posisi duduknya di sebelah Estephania, Duvatte mengeluarkan sesuatu dari dalam tas hitam kecil yang ia bawa sejak tadi. Ponsel Monnaire.
Estephania langsung mengambil ponsel itu dari tangan Duvatte, dan langsung mengecek isinya. Beberapa percakapan di aplikasi pesan, tersusun dengan sempurna.
“Aku akan memberikan ini pada ibu” kata Estephania, sambil memasukan ponsel itu ke tasnya. “Lalu, bagaimana dengan Monnaire?” tanya Estephania. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya, kemudian mengisyaratkan Edward untuk menyalakan korek. Edward benar-benar merasa diperlakukan seperti seorang pembantu. Ia tampak geram, namun terpaksa tetap melakukan perintah Estephania.
“Aku hanya perlu bertahan sebentar lagi” kata Edward dalam hati.
“Mayat Monnaire sudah aku kubur di hutan bukit belakang hotel” jawab Duvatte.
“Kau sudah pastikan, bahwa Monnaire sudah benar-benar mati?” tanya Estephania sambil menghembuskan asap rokok perlahan.
“Ya. Lagipula, ia kehabisan banyak darah, jadi dia tidak mungkin bisa bertahan” kata Duvatte lagi.
“Bagus. Sayang sekali, aku tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku belum sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Ah, adikku yang malang, semoga para malaikat memperlakukanmu dengan baik di sana” Estephania tertawa lebar. Seolah beban yang mengikatnya selama ini, terlepas satu persatu. Akhirnya ia bisa menunjukan jati dirinya yang sebenarnya, tanpa harus berpura-pura lagi.
“Bagaimana jika ada yang menemukan mayat Monnaire?” tanya Manuella dengan nada panik.
“Bibi tenang saja, banyak rumor yang beredar, bukit itu berhantu, jadi tidak ada yang berani ke sana” kata Duvatte.
“Rumor?” Edward mengernyitkan dahinya.
“Ya, rumor yang disebarkan beberapa tahun yang lalu. Saat itu ada seorang anak yang kerasukan, dan dia mengatakan, bahwa dia adalah roh jahat, yang akan meminta tumbal. Lalu seorang cenayang menyembuhkannya, dan mengusir roh itu ke bukit. Roh itu tidak bisa pergi ke mana-mana, namun akan menyakiti siapa saja yang berani datang ke sana. Pernah ada sesorang yang nekat datang ke bukit itu, kemudian ia hilang, dan seminggu kemudian, ia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dengan luka sayatan di leher” jawab Estephania.
“Bagaimana kau bisa tahu itu?” tanya Manuella dengan nada penasaran.
“Karena aku yang menciptakan rumor itu. Aku sudah merencanakan ini, sejak beberapa tahun yang lalu. Ada atau tidaknya Green Future, aku akan menyingkirkan Monnaire. Green Future, adalah bonus” kata Estephania.
“Lalu, kau juga yang membunuh orang itu?” Manuella mengharapkan jawaban tidak, tetapi harapannya meleset.
“Tepat sekali. Aku juga yang membayar pihak kepolisian, supaya menghentikan penyelidikan kasus itu” Estephania menjentikan jarinya. Ia tersenyum lebar. Seringai wajahnya memancarkan aura iblis.
Edward dan Manuella ternganga. Mereka kembali dikejutkan oleh fakta mengerikan mengenai Estephania. Edward menelan ludah. Estephania bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan.
Estephania bangkit dari duduknya, kemudian mematikan api rokoknya, dan \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* hingga tidak berbentuk.
“Aku akan pulang ke rumah bersama Wizzarez, kalian tunggu saja kabar dariku” katanya sambil menyemprotkan pengharum ke tubuhnya, untuk menyamarkan bau rokok. Rencana harus berjalan dengan sempurna, tidak boleh ada hal yang menjadi penghambat, meski hanya aroma menyengat dari rokok.
\*\*\*\*\*\*