
Part 8 - Orang Yang Dipercaya
Monnaire membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Udara segar langsung masuk ke seluruh penjuru ruangan, angin lembut yang berhembus, seketika membelai wajahnya. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan semua ketenangan ini mengalir masuk ke seluruh raganya.
"Maaf, aku mengganggu. Carlo menunggumu di bawah" Kata Lauricie sambil tersenyum.
"Ya, Mom. Aku akan segera turun" Kata Monnaire.
"Sepertinya kau sedang bahagia" Kata Lauricie lagi, sambil membelai lembut rambut Monnaire.
"Ah, aku hanya sudah lama tidak menghirup udara pagi yang begitu segar" Kata Monnaire lagi.
Lauricie dan Monnaire menuruni anak tangga dengan langkah yang tidak terlalu cepat. Ada rasa sedih yang terselip di hati Lauricie. Karena ketika semuanya berakhir, berarti ia dan Monnaire akan berpisah, dan menjalani kehidupan masing-masing. Padahal, Lauricie sudah menganggap Monnaire seperti anaknya sendiri. Ia sangat bahagia, karena pada akhirnya ia memiliki dua anak perempuan, seperti yang diinginkannya selama ini.
Monnaire tersenyum melihat Carlo yang sedang menunggunya sambil membuka lembaran majalah yang sejak tadi hanya ia bolak-balik, tanpa membacanya. Carlo sepertinya agak sedikit bosan menunggu.
"Kau sudah lama?" Tanya Monnaire sambil duduk di sofa.
Carlo menggeleng. "Tidak juga. Tetapi, entah kenapa, aku hanya sedikit bosan hari ini"
"Oh, jadi karena itu, kau membuka-buka majalah lama" Canda Monnaire.
Carlo ikut tertawa. Sementara itu, Lauricie datang sambil membawa cangkir berisi teh kamomil hangat. Sajian pagi yang sangat disukai Monnaire, sejak ia menjalani hari-harinya sebagai Liberty.
"Ah, terima kasih, Nyonya" Carlo langsung membungkukan punggungnya, tanda berterima kasih atas jamuan yang diberikan oleh Lauricie.
"Jadi, bagaimana hasil pembicaraanmu dengan Estephania kemarin? Maaf aku kemarin tidak menunggumu hingga selesai, karena ayahku tiba-tiba menelepon" Kata Carlo.
"Tidak perlu meminta maaf. Estephania tidak mungkin menyakitiku secara terang-terangan. Ia pasti akan lebih berhati-hati setelah menjabat sebagai presdir" Kata Monnaire. Aroma teh hangat yang menggoda, membuatnya tidak sabar untuk segera menyeruputnya dari cangkir.
"Jadi, apa dia mendengarkan pendapatmu?" Tanya Carlo.
"Ya, dia melakukan seperti apa yang aku sarankan, meski mungkin karena terpaksa" Jawab Monnaire.
"Terpaksa?" Carlo dan Lauricie berkata bersamaan. Kening mereka sama-sama berkerut.
"Estephania bukan orang yang bodoh. Setiap tindakannya selalu terstruktur dan terencana dengan baik. Ia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, hanya saja, terkadang dia mengesampingkan rasa kemanusiaan. Dia berniat untuk mengalihkan tenaga manusia ke mesin, untuk menekan pengeluaran, sehingga dia bisa memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun sayangnya, tindakannya terlalu gegabah. Estephania sama sekali tidak memikirkan bagaimana nasib para buruh ke depannya" Jawab Monnaire panjang lebar.
"Aku memanfaatkan hal itu, dengan menghasut para buruh, dengan mengirimkan kontrak perjanjian pengadaan mesin yang dilakukan oleh Estephania. Kalian pasti bertanya, dari mana aku mendapatkan kontrak itu?" Kata Estephania.
Carlo dan Lauricie mengangguk.
"Kontrak itu palsu. Supplier yang bekerja sama dengan Estephania, adalah orang suruhanku, sama seperti Pierre yang aku minta untuk menjebak Bernadette, agar aku bisa menggantikannya menjadi brand ambassador Green Future. Jadi sebenarnya, baik perjanjian ataupun mesin yang akan digunakan oleh Estephania, semua itu tidak ada. Aku hanya memerlukan tanda tangan Estephania di atas kontrak itu, agar aku bisa membuat suasana menjadi kacau, dan membuat para buruh melakukan tuntutan" Lanjut Monnaire.
"Aku sengaja memancing keadaan agar bertambah kacau. Estephania pasti sudah memikirkan, akan terjadi demonstrasi atas keputusannya, tetapi dia pasti tidak akan menyangka, akan terjadi secepat ini, karena tidak ada satupun yang mengetahui mengenai kontrak yang sudah dia buat, sehingga dia sangat terkejut. Dia pasti belum memikirkan rencana yang harus ia lakukan, karena semuanya terjadi begitu cepat dan di luar dugaannya. Dan aku... Memanfaatkan itu sebagai umpan, kemudian, dia mengigit umpannya" Kata Monnaire lagi.
"Posisi Estephania saat ini sedang terhimpit. Dia masih membutuhkan pengakuan publik untuk menilai kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin perusahaan. Demonstrasi besar-besaran yang terjadi kemarin, pasti akan memunculkan sentimen publik, yang menilai bahwa Estephania tidak memiliki nurani. Masalah kemanusiaan, sangat mudah mempengaruhi citra seseorang" Monnaire berhenti sejenak.
"Jadi, Estephania menyetujui saranmu?" Tanya Lauricie.
"Ya. Seperti yang aku katakan tadi, dia melakukannya karena terpaksa. Dan aku juga, menyuruhnya berbohong" Jawab Monnaire.
"Berbohong? Maksudnya?" Carlo dan Lauricie kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Dalam pidatonya kemarin, aku menyuruh Estephania mengatakan bahwa kontrak itu palsu, dia tidak pernah menandatangani kontrak itu. Semua itu dibuat untuk menjebaknya, supaya namanya menjadi buruk dan dinilai tidak kompeten sebagai seorang presdir. Apa yang dikatakan oleh Estephania, membuat para buruh percaya, dan situasi menjadi tenang. Aku bilang padanya, dia harus menunda pengalihan tenaga itu sampai situasi benar-benar kondusif" Jawab Monnaire lagi.
"Setelah situasi tidak lagi kacau, Estephania juga tampak tenang. Walaupun masih dengan nada angkuh, dia mengucapkan terima kasih atas saranku. Aku mungkin sudah mendapatkan kepercayaan darinya, walaupun tidak seratus persen. Tetapi paling tidak, untuk selanjutnya, aku akan bisa lebih mudah mendekatinya, sehingga menjadi orang yang benar-benar dipercaya olehnya" Lanjut Monnaire.
"Tetapi, aku minta maaf juga kepadamu Carlo" Kata Monnaire sambil menoleh ke arah Carlo. Ia sudah siap jika Carlo marah. Ia akan mempersilahkan Carlo berhenti menjadi sekutunya, meski mungkin nanti ia akan sedikit kesulitan. Sejauh ini Carlo sudah banyak membantunya, terutama dalam hal yang berhubungan dengan pembobolan data, seperti yang dilakukannya kemarin, untuk masuk ke dalam grup obrolan karyawan Green Future. Tanpa bantuan Carlo, tidak mungkin Monnaire bisa memuluskan rencananya.
Kening Carlo tampak berkerut.
"Dengan adanya kejadian ini, mungkin Estephania akan mencurigai ayahmu, karena ayahmu cukup dekat dengan Pak David, ketua asosiasi buruh di Green Future. Bukan tidak mungkin, Estephania akan menyerang ayahmu" Kata Monnaire sambil menundukkan kepalanya, seolah menyesali apa yang sudah dilakukan.
Carlo mengangguk paham. "Tidak masalah. Justru dengan begini, bukankah akan semakin memudahkan kita? Mereka akan saling mencurigai, kemudian akan saling menyerang. Ayahku juga sama seperti Estephania. Ayah tidak akan tinggal diam, dan akan melakukan serangan balasan, saat dia menerima serangan. Posisi ini akan menguntungkan kita, karena kita tidak perlu terlalu bersusah payah menghancurkan mereka. Mereka akan hancur dengan sendirinya, balasan yang setimpal atas perbuatan mereka"
"Justru aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu, karena secara tidak langsung, kejadian yang pernah menimpamu, juga adalah perbuatan ayahku. Sebenarnya, aku sudah lama ingin mengatakan ini, tetapi aku tidak mempunyai keberanian, karena aku tahu, perbuatan mereka tidak bisa kau maafkan" Lanjut Carlo lagi.
"Sekarang, sedikit demi sedikit aku sudah melebarkan langkahku untuk menuju Estephania. Aku akan memeluknya erat-erat, supaya aku bisa menghunuskan pedangku lebih dalam, seperti yang dulu pernah ia lakukan padaku" Monnaire mengepal erat jari jemarinya.
"Tunggu saja, dendamku pasti akan terbalas. Dan aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku" Batin Monnaire.
******