![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
...***********...
Sheryl terus berlari dengan nafas terengah-engah. Kakinya menjadi lecet karena tergores ranting-ranting kecil yang ada di tanah.
'Huh' 'Huh' 'Huh'
Ia semakin jauh ke arah barat, mungkin ia kini berada di tepi hutan bagian barat, namun tetap saja tidak ada satu rumah pun ditepi hutan itu, "Bryan kau ada dimana?"
Sheryl menemukan sebuah bangunan tua, spertinya itu bekas penyimpanan kayu, mungkin dahulu disini ada penebangan liar. Ia pun memberanikan diri untuk memasuki bangunan itu.
'Brakkk'
Suara pintu yang terbuka dengan keras. Itu merupakan dorongan dari Sheryl, karena pintu bangunan tersebut sangat sulit untuk dibuka.
Tanpa disangka, Sheryl melihat Bryan dari kejauhan, namun sepertinya ia sedang berbicara dengan sesuatu. Sheryl tidak melihat apa-apa, namun ia lega akhirnya menemukan pemuda itu.
"Bryan?" Sheryl mendekati laki-laki itu, jika dilihat lagi sepertinya memang ada seseorang yang berada dihadapan Bryan.
Namun Sheryl melihatnya bukanlah seseorang, yang ada dihadapan Bryan adalah sosok mengerikan dengan baju putih yang kotor, rambut yang menjuntai hingga kelantai, dan kuku tajamnya.
'deg'
Sheryl melotot, jantungnya berdebar kencang, Apa yang harus ia lakukan?! Apa yang Bryan lakukan?! Ia sangat takut saat melihat sosok itu.
"Bryan!" seru Sheryl takut-takut, namun sayang Bryan seakan tak mendengar panggilannya. Ia ingin kesana namun ia takut dengan sosok itu.
Sheryl hanya bisa berjalan dengan sedikit-demi sedikit, menutup mulutnya agar tidak bersuara sama sekali. Ia mungkin akan jatuh tak sadarkan diri jika sosok itu menatapnya.
Siapapun tolong! Bagaimana bisa Bryan tidak takut saat melihat sosok itu?! Apa yang dia pikirkan?!
Ia berjalan berjinjit-jinjit, semakin dekat kepada Bryan, saat itu pula ia segera menarik Bryan hingga lelaki itu menatap tajam dirinya, "Sheryl? sedang apa kau disini?"
Sheryl benar-benar tidak mengerti lagi dengan lelaki yang bodoh itu, apakah dia tidak sadar yang ada didekatnya itu hantu?, "Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu, Ayo kita pulang!"
"Aku sedang ingin berbicara dengan Celine," ujar Bryan yang menurut Sheryl sangat tidak masuk akal. Ternyata benar, lelaki didepannya ini memang bodoh.
"Apa kau sudah gila?! Celine sudah meninggal!" pernyataan Sheryl membuat Bryan marah, karena menurutnya Celine ada disini, sosok yang ada dihadapan mereka.
"Celine masih ada disini! dia sekarang ada dihadapan kita!" seru Bryan yang membuat Sheryl takut. Ia baru ingat masih ada sosok mengerikan itu disini.
Jadi maksudnya sosok mengerikan itu adalah Celine? tidak-tidak! Bryan pasti sedang membual. Sheryl tidak percaya dengan apa yang sekarang terjadi.
"Sadar Bryan! yang didepan mu itu hantu!!!" teriak Sheryl yang sangat kesal dengan pemuda yang satu itu. Betapa bodohnya dia!
Keduanya mempertengkarkan sosok yang mengerikan bagi Sheryl dan sosok cantik bagi Bryan. Mana yang benar?
Sosok itu menghampiri keduanya dengan pelan. Sheryl ketakutan setengah mati, air matanya hampir menetes karena rasa takutnya. Sedangkan Bryan menatap sosok itu dengan penuh harap.
"Sudahlah kalian berdua, aku tidak suka diganggu!" jawab sosok itu yang dalam sekejap ia langsung menghilang tanpa jejak. Bryan yang melihat itu memelototinya.
"CELINE! CELINE!" Bryan memutar badannya, berharap dapat menemukan sosok itu lagi. Setidaknya ia ingin kejelasan untuk kedepannya, ia bahkan bingung akan hidup seperti apa.
Bryan mengacak rambutnya frustasi. Ia tertampar dengan kenyataan yang terungkap hari ini. Semuanya sangat kacau! bahkan sekarang dirinya juga ikut kacau!
Bryan terduduk dihadapan Sheryl, ia mendekap perempuan itu, dan entah untuk alasan apa ia meminta maaf, "Maafkan aku, Sheryl."
Kata maaf yang terucap dari bibir lelaki itu malah semakin membuat Sheryl kesakitan, ia sadar dirinya bukanlah siapa-siapa, "Sudahlah! lebih baik kita kembali, mereka berdua menunggu."
Sheryl menepis tangan yang mendekapnya, ia pun meninggalkan bangunan tua itu. Disusul dengan Bryan yang kini sangat kacau, entah mengapa ia merasa bersalah dengan gadis itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bryan pelan kepada gadis yang ada disampingnya. Sheryl tersenyum miris dengan pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Menurutmu?" Sheryl berbalik tanya yang membuat sang penanya tadi diam tak bersuara, "Tenanglah, aku baik-baik saja."
Jawaban itu cukup membuat Bryan tenang, namun ia tak dapat memungkiri jika itu adalah kebohongan, "Maaf."
Sheryl lagi-lagi tersenyum miris, jika sudah seperti ini ia hanya ingin satu hal, jangan membahasnya lagi dan cukup untuk mengabaikannya, "Tidak perlu meminta maaf."
Bryan yang merasa kini Sheryl bersikap dingin padanya, atau entah itu hanya perasaannya saja. Sedangkan Sheryl ia hanya acuh, merasa tidak ada hubungannya setelah hal ini terjadi.
Sheryl menoleh kebelakng melihat bangunan yang menjadi tempat kejadian aneh tadi. Ia melihat sosok itu, namun bukan lagi dalam bentuk yang menyeramkan.
Ia terlihat anggun dengan gaun putihnya, membuat Sheryl tertegun. Pantas saja Bryan sampai tergila-gila dengan sosok itu.
"HEI KALIAN!" terdengar suara teriakan yang memanggil mereka berdua. Terlihat dari kejauhan seorang lelaki menggendong gadis, raut lega terpancar dari keduanya.
Sheryl terkejut dengan kedatangan mereka. Bukankah ia sudah bilang untuk menunggunya saja? hah mereka benar-benar keras kepala.
"Hei!" balas Sheryl yang segera menghampiri Nitta dan Dicky, "Bukankah aku sudah bilang untuk menunggu saja?! kalian ini."
Keduanya hanya terkekeh tanpa merasa berdosa, "Ya mau bagaimana lagi? kami khawatir karena kau tidak kunjung kembali, akhirnya kita memutuskan untuk menyusul mu."
Dicky menurunkan Nitta yang sedari tadi digendongnya. Beban itu terasa hilang dari punggungnya, ia meregangkan ototnya lega.
Sheryl hanya tersenyum menanggapi penjelasan Nitta, ia tau sahabatnya itu pasti mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah karena kita harus kembali sebelum pagi, mari kita melanjutkan perjalanan untuk pulang!" Sheryl langsung mengajak Nitta untuk berjalan terlebih dahulu.
Karena kaki sahabatnya itu belum sepenuhnya pulih maka Sheryl harus membantunya berjalan.
Sementara itu Dicky dan Bryan yang ada dibelakang mereka saling pandang. Dicky menyadari sesuatu yang aneh, "Apa terjadi sesuatu?"
Dicky menatap temannya itu dengan serius, terlihat dari tingkah Sheryl dan matanya yang sedikit sembab. Sepertinya memang benar terjadi sesuatu.
"Aku akan menjelaskannya nanti, setelah sampai aku akan menceritakannya," jelas Bryan yang ikut berjalan terlebih dahulu.
Dicky merasa bingung, semuanya tiba-tiba bersikap seperti ini. Apa sesuatu yang terjadi itu adalah hal yang serius? Ia mengedikkan bahunya acuh.
'Ya sudahlah, saatnya untuk pulang dan beristirahat,' pikir Dicky.
Sementara itu sosok dengan gaun putih yang melihat mereka dari kejauhan memperlihatkan senyum manis, mungkin itu senyuman yang terakhir kalinya.
Karena setelahnya, sosok itu berubah menjadi sosok yang menyeramkan, persis seperti yang Sheryl lihat tadi. Sosok itu berdiri diatas atap bangunan itu sembari tersenyum mengerikan.