MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#30, The Exorcist Part 3



"A-anu di kelas A ada sesuatu..."


'Deg'


Anahira terdiam, kegelapan pun menyelimuti ruangan tersebut. Anahira seketika menatap kesekililing, siapapun jiwa kosong akan mudah terpengaruhi oleh energi negatif ini.


"Malvin, kita harus segera keluar dari sini!" Seru Anahira yang langsung menarik tangan Malvin, ia ingin berlari dan membawa Malvin keluar.


Malvin menatap Anahira lekat, tatapan matanya berbeda, suaranya menjadi lebih berat, "Ada apa Ana? Tidak ada apa-apa disini"


Anahira menatap Malvin aneh, kenapa suara Malvin seperti berbeda. Malvin menunjukkan senyum smirknya. Tidak! itu bukan Malvin, ada sesuatu yang... merasukinya.


Ana juga menyadari bahwa semua murid yang ada dikelas ini kini tidak sadarkan diri, kesadaran mereka telah dimakan habis oleh sesuatu.


...~5 Menit sebelum kejadian~...


'Tap... Tap... Tap...'


Suara langkah kaki dari kedua gadis itu terdengar jelas. Mereka merasakan sesuatu yang sama, "Apa kau merasakan sesuatu ketika kita berpisah dengan Ana tadi?"


Gelya menganggukan kepalanya menyetujui, "Aku merasakannya, ada sesuatu disini yang mengintai kita dan mengikuti kita."


"Sebaiknya kita segera menuju kelas," mereka cepat-cepat melangkah kaki.


'Swushhh'


Mereka merasakan angin yang melewati keduanya. Seketika mereka saling pandang, "Gelya, aku memiliki firasat buruk."


"Aku juga sama sepertimu, sebaiknya kita mencari tau apa yang sebenarnya terjadi," keduanya berlari di sepanjang lorong, tanpa memikirkan apa yang terjadi keduanya langsung membuka pintu kelas A dengan keras.


'Brakkk'


Aura gelap sudah menyebar diruangan tersebut, membuat sebagian siswa disana tak sadarkan diri, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Mereka berdua menutup mulutnya tak percaya, bagaimana keadaaan disini bisa sangat buruk sekali?! Sebenarnya apa... apa yang terjadi?!


Sesuatu merangkak di tembok, tunggu apa itu?


"Eva mundur!" Seru Gelya yang langsung menyeret Eva untuk mundur. Sesuatu yang ada dihadapan mereka saat ini sangat berbahaya.


Eva masih terperangah, ia masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi, "H-hah? Sebenarnya ini ada apa!"


"Aku tidak tau Eva, apa yang harus kita lakukan?!" Mereka berdua sangat panik, sehingga tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Raut wajah mereka sangat ketakutan.


"Kita harus pergi ke Ana, dia pasti bisa mengatasi ini!" Seru Evangeline yang hendak mengajak Gelya pergi dari sana, namun sesuatu memanggil mereka dan mencegah mereka pergi.


"Wahai anak yang diberkahi tuhan, aku sudah menunggu kalian disini," suara serak tersebut sangat menusuk, membuat Eva dan Gelya sangat ketakutan.


Keduanya kini saling berpegangan, mereka tidak dapat melihat jelas apa yang ada dihadapanya saat ini karena kepekatan kegelapan yang ada disana.


"S-siapa kau sebenarnya?! Dan apa maumu?!" Tanya Evangeline dengan sedikit berteriak. Ia memejamkan matanya, dia sangat takut melihat makhluk itu.


'Krekk... krekk'


Makhluk tersebut bersuara aneh, dan itu semakin membuat mereka ketakutan, "Eva, aku sangat takut."


Mereka seakan tidak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bisa diam mematung, ini terlalu cepat terjadi! Mereka baru saja masuk sekolah ini.


"Aku adalah iblis yang tinggal di bangunan ini, dan sekarang ini aku meminjam tubuh dari seseorang!" Jawab makhluk itu dengan suara mengerikan, siapa pun yang mendengar itu pasti akan sangat ketakutan.


Evangeline memicingkan mata, ia ingin tahu sebenarnya tubuh siapa yang dirasuki oleh iblis biadab tersebut, setelah Evangeline menyadari ia semakin ketakutan.


Ia tau karena ia sempat mencari tau data-data dari seseorang yang berhubungan dengan sekolah ini, itu sebabnya dari awal dia sudah mengetahui banyaknya guru-guru religi disini.


Tubuh Evangeline melemah, ia terduduk ke lantai, wajahnya dipenuhi keringat dingin, tatapan matanya menjadi kosong.


"Eva! Eva! Kita harus segera memberitahukan Ana sekarang, bangunlah!" Gelya mencoba menyadarkan Eva, ia sangat panik bahkan sekarang setetes air turun dari matanya.


Evangeline menatap Gelya, benar ini bukan pertama kali mereka menghadapi sesuatu seperti ini, mereka sudah terbiasa berhadapan dengan iblis. Meskipun kali ini lebih berbahaya.


"Gelya, kita harus melakukan sesuatu!" Ucap Evangeline dengan yakin, Gelya pun menganggukan kepalanya setuju.


Mereka berdua bersiap untuk berdoa, dengan sikap berdiri dan memejamkam mata. Mereka merapalakan doa, doa yang biasa mereka gunakan untuk mengeksekusi 'setan-setan' biadab.


"PERGILAH WAHAI IBLIS!" teriak mereka berdua bersama dengan kekuatan doa yang mereka rapalkan.


Kegelapan yang ada disana sudah pergi, hanya makhluk yang merasuki tubuh seseorang itu masih ada disini.


"Eva, dia masih belum pergi, b-bagaimana ini?" lirih Gelya ketakutan. Nafas Eva tercekat, biasanya mereka bisa dengan mudah untuk mengusir setan-setan kecil yang mengganggu.


Tapi kali ini? B-bagaimana makhluk itu masih bisa bertahan, "Aku tidak takut kepadamu, seharusnya kau yang takut akan Tuhan!"


Evangeline berteriak dan mengancam makhluk tersebut.


'Krekk... krekk'


Makhluk tersebut mendekat, sebenarnya dengan tampilan tubuh manusia itu tidak terlalu menakutkan, yang lebih menakutkan ketika melihat seseorang merangkak di dinding seperti saat ini.


"Apa kau mengamcamku wahai manusia yang penuh dosa?!" nada makhluk tersebut menjadi marah. Mereka berdua pun tidak tau apa yang skan terjadi lagi.


Makhluk yang merangkak tembok tersebut kini semakin mendekat, keduanya melemah dan terduduk dilantai. Apa yang harus mereka lakukan?!


Mereka berdua menyeret tubuh masing-masing untuk mundur, bagaimana pun juga mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan makhluk itu.


...********...


Raut wajah Anahira berubah menjadi khawatir, ia pun memutuskan untuk meninggalkan Malvin disana. Anahira segera pergi dari kelas D, dan ia pun langsung berlari sekuat tenaga menuju kelas A.


Namun tanpa Anahira sadari, sosok yang merasuki tubuh Malvin tersebut bergerak mengikutinya dari belakang.


'Huh... Huh... Huh...'


Anahira mempercepat larinya hingga ia sampai dikelas D atau kelas Evangeline dan Gelya. Ia mendapati keduanya yang sudah tidak berdaya, meskipun begitu mereka masih mendapat kesadaran.


"Eva, Gelya!" Seru Anahira yang sangat khawatir terhadap keduanya. Anahira langsung menghampiri teman-temannya itu.


"Apa yang terjadi disini?! K-kalian berdarah!" Anahira semakin panik saat melihat darah yang mengalir dari kepala kedua temannya itu.


Evangeline menatap Anahira, ia sedang mengumpulkan tenaganya kembali, "Ana, berhati-hatilah 'Dia' masih ada disini."


'Dia'? Siapa? Siapa yang masih ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi? Segala pertanyaan itu kini memenuhi isi kepala Anahira, ia tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini.


"Gelya, kau tidak apa-apa?" Anahira membantu Gelya duduk bersandar di dinding, nampak wajah Gelya yang sangat pucat.


Gelya mengangguk pelan, ia menjawab pertanyaan Ana dengan sisa tenaganya, "Aku tidak apa-apa Ana, t-tapi 'sesuatu' itu masih disini."


Tampak dari wajah Evangeline dan Gelya yang masih sangat ketakutan, Anahira semakin terheran-heran dengan 'sesuatu' apa yang dimaksud teman-temanya itu.


Evangeline menatap sesuatu yang tiba-tiba hadir, kedua bola matanya membola, ia berusaha untuk memperingatkan Anahira, "ANA AWAS!"