![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
...***********...
Lelaki itu memejamkan matanya, bukan untuk tidur melainkan untuk menikmati malam hari yang penuh ketenangan.
Tapi... kenapa kegelisahan selalu bisa mencari celah diantara tenang, ia selalu memikirkannya, tenang dan gelisah. Kenapa di dunia ini harus ada kegelisahan.
"Kau sudah tidur?" pertanyaan itu membuat Rafael kaget, namun responnya hanya biasa saja, ia spontan membuka mata.
"Cristie? aku tidak mendengar kau membuka pintu," wajar saja Rafael kaget, huft ia kira siapa yang kesini malam hari selain kekasihnya itu.
"Ya, karena kau tadi tidur," polosnya, perawakan Cristie tidaklah tinggi, tubuhnya juga kecil, suaranya imut. Namun menurut Rafael, ia adalah sosok pekerja keras.
"Aku tidak tidur, aku hanya memejamkan mataku," jelas Rafael tersenyum tipis melihat kelolosan gadisnya.
Cristie merengut, ternyata Rafael masih sama, "Kupikir kau akan merubah kebiasaanmu, lihatlah kau bahkan tidur diatas jam dua belas malam, itu akan memperburuk keadaanmu."
Ini yang Rafael rindukan, omelan-omelan gadis cerewet itu yang selalu ia inginkan. Tidak ada yang peduli padanya selain Cristie, karena itu ia sangat menyayanginya.
"Baiklah baiklah, cerewet," ejeknya yang membuat kekasihnya menggembungkan pipinya kesal. Membuat Rafael gemas dengan tingkahnya.
Rafael pun bingung, bagaimana caranya ia mendapatkan pacar seimut Cristie? Entahlah, dengan sekejap Cristie bisa membuatnya terjatuh kedalam pesonanya.
"Aku tidak cerewet," rajuknya yang benar-benar kesal dengan lelaki yang mengejeknya itu. Rafael menghela nafas mengalah dengan Cristie, daripada marahnya lebih parah lagi.
"Apa seharian perawat itu merawatmu lagi?" tanya Cristie yang membuat Rafael menatapnya, Rafael tau siapa yang ia maksud.
"Tentu, karena dia perawat disini," jawab Rafael tidak ada salahnya. Namun jawaban itu membuat Cristie terdiam cukup lama, "Apa kau cemburu?"
Pertanyaan Rafael membuat pipi kekasihnya merona, ia segera memalingkan wajahnya dan berpura-pura biasa saja, "Tidak!"
Rafael memperhatikannya, ia terkekeh kecil melihat pacarnya salah tingkah seperti itu, "Kalau dia kesini untuk merawatku itu karena tugasnya, dia juga merawat pasien lain."
Cristie kembali terdiam saat mendengar penjelasan Rafael, ia menghela nafas mengalah, "Baiklah, tidak perlu dibahas lagi, sekarang kau harus tidur!"
Cristie menyelimutinya. Rafael pun hanya bisa mengangguk, ia memejamkan matanya, terasa tangan kecil itu menggenggam tangannya.
Cristie merasa gelisah, namun apapun itu ia hanya bisa menyembunyikannya, ia menghembuskan nafas gusar, sembari menatap lekat Rafael yang kini menuju alam tidurnya.
"Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan mu!"
kalimat tegas yang diucapkan dalam suara pelan
...************...
Pagi.
Lagi dan lagi, lama-lama ia terbiasa terbangun tanpa sosok Cristie disampingnya, itu sudah menjadi makanan sehari-hari.
"Pagi! Rafael," sapa perempuan yang mendorong rak makanan itu, nampaknya sarapan pagi ini cukup menggugah selera.
"Pagi," balasnya seperti biasa, ia memperhatikan Mira yang kini bersiap-siap untuk menyuapinya. Makanan seenak apapun akan terasa membosankan, namun kali ini sepertinya tidak.
"Rafael! lihatlah sup ini, aku membuatkannya untuk mu," seru Mira yang sepertinya pagi ini lebih ceria daripada biasanya. Rafael menatapnya heran.
"Ada apa? tumben sekali," tanya Rafael yang kebingungan. Sedangkan Mira kini hanya senyum-senyum tidak jelas, yang jelas dia sedang senang pagi ini.
"Kau tau? kemarin dokter memeriksamu bukan? lalu dokter mengatakan bahwa tidak lama lagi kau bisa sembuh!" jelasnya sangat senang.
Ekspresi wajah Mira sama seperti kemarin saat ia mendengar kabar itu. Rafael tertegun dengan ketulusan Mira, hatinya benar-benar tulus, bahkan senyumannya sangat tulus.
"Tentu!" balas Mira pasti. Ia bersemangat dipagi ini, berharap Rafael segera sembuh. Mira kini mulai menyuapi lelaki itu.
Laki-laki itu memakan masakan Mira dengan lahap, menurutnya sup buatan Mira sangat enak, apalagi sup identik dengan makanan kesukaan, namun sup itu terasa... tidak asing.
"Lagipula kenapa kau harus menyuapiku? aku bisa memakan sendiri," ucap Rafael setelah menghabiskan sarapan paginya.
"Tidak tidak, itu sudah menjadi tugasku," jawab perempuan yang sedang membereskan peralatan makan tadi. Rafael menanggapinya dengan senyum.
"Hahhh padahal tanganku masih normal," ujar Rafael sembari menunjukan tangannya yang bisa bergerak bebas tanpa alat bantu.
Mira bingung harus menjawab bagaimana, namun ia merasa merawat pasien adalah tugasnya, terkhusus untuk Rafael, karena keluarganya tidak pernah kesini.
"Sudahlah, aku kan sudah mengatakan kalau itu tugasku," balasnya dengan senyuman manis, yang membuat Rafael kembali merasakan ketulusan hati perawat itu.
"Baiklah baiklah," jawab Rafael pasrah, oh ya dia ingin berjalan-jalan nanti siang, "Mira, aku ingin berjalan-jalan nanti siang, apakah boleh?"
Mira menatap pasien yang satu itu, tumben sekali biasanya Rafael tidak mau untuk diajak keluar, "Tumben sekali, yah kalau itu masih dilingkungan sekitar tidak apa-apa."
Rafael tersenyum lega, ia jenuh setiap harinya hanya terkurung di ruangan itu, "Baiklah kalau begitu kau harus menemaniku."
"Ehhh?!" serunya menatap kaget Rafael. Rafael yang melihat itu menatap Mira dengan alisnya yang terangkat satu.
"Kenapa? kau tidak bisa?"
"Bu-bukan begitu, kau yakin ingin aku temani?" tanya Mira memastikan, sungguh hari ini Rafael sangat berbeda dari biasanya.
"Ya kalau kau senggang," jelas Rafael santai. Setidaknya untuk hari ini dia bisa keluar dari ruangan membosankan yang selama ini menjerat dirinya.
"Ba-baiklah, aku akan menyiapkan kursi roda dan kesini nanti siang," ujar Mira sedikit gugup. Ada apa dengan perempuan itu? entahlah Rafael tidak mengerti.
"Baiklah, terimakasih," setelah Rafael mengucapkan rasa terimakasihnya, perawat itu langsung keluar dari ruangan Rafael dengan terburu-buru.
Rafael melihat itu, ia hanya mengangkat bahunya acuh.
...************...
Siang hari.
Perawat itu menepati janjinya, ia kini mendorong kursi roda dengan pasien yang duduk diatasnya, "Mira, sebetulnya tidak perlu memakai kursi roda, kaki ku juga masih bisa berjalan normal"
Mira menanggapi itu dengan senyuman, sembari terus mendorong kursi roda itu sampai ke taman yang ada di sana, "Tidak apa-apa, karena ini adalah tugasku"
Rafael menghela nafas jengah. Mira itu adalah sosok yang sangat bertanggung jawab ya? sedari tadi ia mendengar jawaban kalau itu adalah tugasnya, apakah tugas Mira sebanyak itu?
"Terserah kau saja" Rafael menghela nafasnya, ia menatap ke sekeliling, ternyata masih banyak orang yang sakit seperti dirinya disini.
Ia menjadi miris melihat pemandangan itu, mereka semua terlihat tidak bahagia di sana. Semuanya terlihat kesakitan.
Rafael pun belum sepenuhnya sembuh, namun mengingat kata dokter bahwa dirinya bisa sembuh dalam waktu dekat.
"Mereka terlihat menderita, ya?" Mira pun sama, ia menunjukan senyum sendu miliknya saat melihat pasien-pasien itu.
"Eum," Rafael mengangguk, karena memang seperti itulah yang terlihat. Ia juga mendoakan agar semuanya dapat lekas sembuh dan kembali tersenyum lagi.
'Swushh'
Angin berhembus dengan tenang, semoga angin membawa doa-doa tulus dari mereka untuk kesembuhan orang lain yang ada di sana.