![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
#Flashback On
Jasad yang mereka berdua temukan itu sudah ada dirumah sakit. Mereka menunggu berjam-jam untuk memastikan. Dokter pun mengautopsi jenazah untuk mengetahui penyebab dan identitas jasad tersebut.
Setelah penantian lamanya, akhirnya dokter menemui mereka berdua yang saat ini tengah frustasi dengan pikiran bercabang.
"Apa kalian mengenal saudari Celinedya Anandha Putri?" tanya seseorang berjas putih itu kepada mereka yang membuat mereka semakin merasa cemas.
Mereka hanya berpikir, belum tentu nama yang dokter sebutkan adalah nama dari jasad yang mereka temukan saat setelah kejadian kebakaran tadi.
"Ya dokter, kami mengenalnya," jawab salah satunya mewakili. Mereka sudah tidak sanggup lagi memikirkan semuanya terlalu jauh.
"Tolong, salah satu dari kalian ikutlah bersama saya, saya ingin berbicara sesuatu," pinta dokter tersebut menatap keduanya secara bergantian.
Dicky menatap Bryan kemudian menganggukkan kepalanya, ia tau Bryan sudah tidak dapat berfikir positif, "Kau saja, agar semuanya jelas"
Bryan menatap sahabatnya itu, ia pun mengangguk pasti. Lelaki dengan isi kepala yang sangat berantakan kini hanya bisa pasrah sembari memantapkan hati untuk menghadapi kenyataan.
Setelah sampai di ruangan pribadi, Dokter itupun langsung menyampaikan apa yang sedari tadi ia tahan dimulutnya, "Maaf sebelumnya, apakah saudari Celinedya sudah menikah?"
Bryan yang mendengar itu tentu saja langsung bingung, ia mengernyitkan dahinya menatap tanya seseorang yang dihadapannya, "Belum dokter, saya kekasih dari Celine"
Dokter tersebut semakin dibuat bingung dengan jawaban Bryan, "Tapi berdasarkan hasil autopsi, jenazah ini sedang mengandung janin dengan umur 2 minggu"
Bryan tertampar oleh dua kenyataan. Kenyataan pertama yang harus ia hadapi adalah, ternyata jasad tersebut memang benar Celine, kekasihnya. Dan kenyataan kedua adalah Celine sedang mengandung.
Anak siapa yang dikandung Celine? apakah itu perbuatan dirinya? atau siapa? sebenarnya apa yang telah terjadi.
Bryan sangat frustasi dengan keadaan ini. Ia hanya bisa menghela nafas gusar berkali-kali, dapatkah ia berdoa bahwa ini hanyalah mimpi?
Sementara itu, Dicky yang menunggu di kursi tunggu itu kini mengambil sebuah benda yang ada di sakunya. Benda yang tadi ia terjatuh dari jasad yang mereka temukan.
Dicky mengamati benda itu dengan penuh rasa curiga, matanya menatap tajam dan lekat.
'Hufft'
Sebuah pemantik api.
#Flashback Off
...**************...
Mereka kini didalam hutan, mungkin ada ditengah-tengah hutan tersebut. Entah sudah berapa jam mereka berjalan, tetap saja mereka tidak menemukan apapun disini.
Apakah semua rumor itu palsu?
"Apa kita tidak akan tersesat?" tanya Nitta takut-takut. Ya tentu saja rasa takut akan tersesat muncul dibenak mereka.
"Tidak akan," jawab Dicky pasti. Mereka yang hanya bermodalkan kenekatan, tanpa tau apa yang sebenarnya mereka cari adalah sebuah bahaya.
"Lalu sekarang kita ada dimana?" tanya Sheryl menatap ke sekelilingnya, yang terlihat hanyalah pohon-pohon rimbun dengan bayangan-bayangan hitam yang merupakan bayangan pohon itu sendiri.
"Kurasa kita sekarang tepat ditengah-tengah hutan ini," jawab Bryan, ia mengarahkan senternya keseluruh penjuru untuk melihat keadaan saat ini.
"Bolehkah kita istirahat sebentar disini? sepertinya aku sudah mulai lelah," pinta Nitta yang sedang mengatur nafasnya. Benar juga mereka telah berjalan jauh dari tepi hutan.
Sheryl juga nampaknya sudah mulai kelelahan. Terlihat perempuan itu beberapa kali menyeka keringat yang sedikit demi sedikit bercucuran di wajahnya.
"Baiklah, kita akan beristirahat disini sebentar," sahut Dicky menyetujui.
Mereka berempat akhirnya duduk di akar pohon yang berukuran besar, karena pohon nya pun sudah sangat besar.
Seperti pohon beringin yang ada di halaman sekolah itu, pohon yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.
"Jam berapa sekarang?" tanya Bryan menatap teman-temannya bergantian. Mereka duduk di akar pohon yang berdekatan untuk memudahkan mereka berkomunikasi.
Sheryl melirik arloji yang ia kenakan, dilihatnya sekarang pukul sebelas malam, "Pukul sebelas lebih tujuh menit"
"Selanjutnya kita akan kemana?" tanya Nitta yang sepertinya sudah lelah dan ingin segera meninggalkan hutan menyeramkan ini.
"Kita akan kearah barat, hanya arah itu yang belum kita telusuri," jelas Dicky mengingat-ingat mereka telah menyusuri sebagian besar hutan ini. Sementara ini belum ada apa-apa yang mereka temukan.
"Sebenarnya apa yang kalian cari dihutan belantara seperti ini?" tanya Sheryl terheran, ia berdecak lirih. Tidak mungkin alasannya sepele, mereka bahkan rela menyusuri hutan rimba.
Dicky dan Bryan saling pandang. Sejenak pandangan Bryan menjadi sebuah keseriusan yang seakan menusuk mata seseorang yang menatapnya.
"Kami hanya mencari tau kebenaran rumor yang sedang beredar," jawab Bryan penuh ketenangan, padahal sebenarnya ia sedang menghadapi kegelisahan.
Mendengar jawaban Bryan, Sheryl merasa ia tau sesuatu. Ia tau mereka sedang mencari kebenaran rumor itu, hanya saja jawaban darinya kurang memuaskan, "Ya aku tau, tapi apa maksudnya?"
"Anggap saja kita sedang mencari sosok yang belakangan ini sedang diperbincangkan," timpal Dicky yang membuat Sheryl semakin paham.
Sheryl memutar bola matanya, berecih lirih. Tak dapat dipungkiri hatinya juga sedikit tersayat, "Lalu apa yang akan kalian lakukan?"
Dicky dan Bryan dibuat bingung dengan pertanyaan Sheryl yang kurang jelas dan terkesan ambigu. Sheryl menyadari tatapan tanya keduanya.
"Kalian akan mencarinya sampai ketemu? dan apa kalian yakin kalian akan menemukannya? lalu apa yang akan kalian lakukan jika sampai kapanpun hal itu tidak terbuktikan?"
Pertanyaan beruntun itu membuat kedua lelaki yang ada di sana sedikit tertampar. Keduanya terdiam, namun sepertinya salah satu dari kedua lelaki itu ingin berkata sesuatu.
"Aku yakin aku akan menemukannya!" ujar Bryan penuh keyakinan yang terpancar dari matanya. Melihat itu Sheryl tersenyum miris.
Yah Sheryl ingin jujur terhadap dirinya. Ia tau yang dicari adalah sosok Celine, entah itu arwah atau apa?. Apakah Bryan masih mencintai sosok yang telah mati itu, sehingga Bryan masih sangat yakin dapat menemukannya?
Memikirkan itu semua hanya menyakiti hatinya lebih dalam lagi. Dicky menyadari kesedihan yang terpancar dari garis senyuman Sheryl yang terlihat palsu.
"Baiklah jika kau berkata seperti itu," balas Sheryl dengan tenang dan senyum lengkung di bibirnya. Bryan yang mendengar itu menatap Sheryl dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sial, Bryan lupa kalau yang bertanya adalah Sheryl. Ia hanya menjawab itu dengan keyakinan hatinya. Ia hanya yakin, bahwa ia akan bertemu kembali dengan kekasihnya itu.
Dicky tau suasana sekarang sangat sulit dijelaskan. Namun seorang gadis disampingnya itu hanya bersikap polos dan sepertinya tidak tau apa yang sedang dibahas.
"Pembahasan kalian membuatku semakin takut," Nitta hanya berpikir bahwa mereka sedang mencari sosok hantu, dan itu membuatnya sangat takut.
Nitta tidak tau bahwa yang dicari ada hubungannya dengan mereka. Dicky tersenyum simpul, perempuan disampingnya ini ternyata sangat polos.