MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#33, House Part 1



Malam itu Dessy terbangun dari tidur malamnya, melihat ke sekeliling yang sepi seperti biasanya, karena ia di kamar sendirian.


"Ah, aku sangat haus," ia melihat ke arah meja kecil yang di samping kamarnya. Kosong, air yang selalu tersedia hari ini kosong karena telah habis.


"Ehm," ia menyipitkan matanya dan memegang lehernya, daripada dahaga ini mengganggunya ia memutuskan untuk mengambil minuman di dapur.


Dessy tinggal di sebuah rumah keluarga, tepatnya rumah itu milik orang tuanya. Satu keluarga itu di isi oleh orang tua dan empat anak.


'Kriet'


Membuka pintu dengan pelan dan menutupnya kembali, samar ia dengar dari ruang tengah suara yang ramai, tidak salah lagi itu pasti kakaknya.


Ia berjalan menuju ke dapur yang memang harus melewati ruang tengah sebagai jalur, ia melihat kakak bersama teman-temannya yang masih terjaga, "Apa kalian itu kelelawar?"


Sindirnya dengan wajah sinis, kebiasaan kakak dan teman-temannya yaitu tidur di siang hari dan beraktivitas di malam hari.


"Ck, apa masalahmu?" kesal Rendi yang masih fokus dengan gamenya.


Dessy memutar bola matanya malas, tak berniat menjawab pertanyaan itu ia langsung melenggang pergi. Kakaknya pun memandangnya kesal.


"Adik menyebalkan!" ketus Rendi.


"Rendi fokuslah, di depanmu banyak musuh!" sentak Kevin yang nampaknya semakin serius dengan game nya. Ya, aktivitas mereka tentu saja sedang bermain game bersama.


"Di sampingmu Kev!" seru Andra yang dengan lihai menggerakkan jari-jarinya pada smartphone yang kini di genggamnya.


...**********...


"Hah, sungguh sangat tidak menyenangkan mempunyai kakak yang kerjanya hanya bermain game," gumamnya meratapi nasib, ia menuangkan segelas air untuk dirinya.


'glek' 'glek' 'glek'


Tegukan demi tegukan yang membuat tenggorokannya terasa lega, "Ah, leganya."


Ia menaruh gelas tersebut di meja, saat ia kembali matanya memicing.


'Siapa yang membuka tirai jendela, ataukah memang karena lupa tidak menutupnya?' pikirnya.


Ia pun tergerak untuk mendekati jendela itu, dan menutup tirai yang masih terbuka lebar. Namun sebelum itu matanya kembali memicing, bayangan.


Tentu banyak bayangan, karena tepat belakang rumahnya adalah hutan yang sangat luas. Tapi... bayangan apa yang dilihatnya?


Bersembunyi dan malu untuk menunjukkan diri. Entah ia yang salah liat atau apa? tapi bulu kuduknya mulai berdiri.


"Ah aku bergegas saja," ia segera meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya. Mencoba melupakan apa yang ia lihat tadi.


Saat ia berada di ruang tengah, kakaknya yang ternyata telah selesai bermain game pun menghentikan dirinya, "Kenapa kau terlihat sedikit pucat?"


Dessy mengelak, ia memilin ujung bajunya, bola matanya tak bisa diam dan memilih memalingkan wajah, "Tidak, aku biasa saja."


Meskipun begitu tetap saja Rendi masih curiga dengan Dessy yang memang terlihat aneh.


"Oh ya, apa kalian akan tetap disini dan terjaga sampai pagi?" tanya Dessy memastikan.


Kevin menatap Dessy menggoda, "Apa kau ingin di temani?"


'Bugh'


Candaan itu dihadiahi bantal sofa yang mendarat di kepalanya, tentu saja dari sang kakak. Sementara itu Andra hanya tertawa m lihatnya.


"Aku hanya bercanda," ucap Kevin memelas saat melihat tatapan membunuh yang diberikan oleh Rendi kepadanya.


Dessy menghela nafasnya, salahnya yang berbicara kepada orang-orang bodoh di hadapannya itu, "Sudahlah, aku ingin tidur kembali."


Dessy melangkah kembali ke kamarnya, tubuhnya berkeringat dingin mengingat apa yang ia lihat tadi.


Menutup pintu dan membaringkan tubuhnya, jujur saja ia sangat ketakutan, namun ia tidak bisa apa-apa selain melawan ketakutannya.


"Haah, lebih baik aku tidur."


...**********...


Gadis yang masih tertidur itu menggeliat gelisah, tampaknya mimpi ia sedang dihantui mimpi buruk.


".... tidak jangan! pergi! pergi dari sini!" gumamnya lirih penuh takut, keringatnya bercucuran, tanpa sadar tangannya menggenggam erat sprei kasurnya.


'Prangg'


Jam weker yang terjatuh membuat gadis dalam mimpi buruk itu tersadar, ia mengatur nafasnya yang tidak stabil, "Hah, hah, apa itu tadi?"


Matanya berkaca-kaca, ia melihat ke arah jendela, perasaan gelisah kembali menyeruak, kegelisahan dimalam hari. Ia cepat-cepat pergi keluar kamar.


Untung saja di ruang tengah masih ada kakak beserta teman-temannya, tanpa pikir panjang Dessy menghampiri dan memeluk sang kakak, "Kak, aku takut."


'Brukk'


Tubuhnya jatuh dalam pelukan Rendi, tentu saja lelaki itu kebingungan dengan tingkah adiknya, namun ia memilih untuk menunggu tenang.


"Hei, ada apa?" tanyanya lembut, tangannya terulur mengusap puncak kepala Dessy. Gadis dalam pelukannya terisak.


Dessy mengangkat kepalanya, matanya terlihat sembab dan memerah begitu juga hidungnya, "Aku bermimpi buruk."


Suara parau dari sang adik membuat Rendi bersimpati, adiknya itu memang sangat penakut, "Mimpi apa? hantu?"


Dessy menganggukkan kepalanya, ia masih meredakan isak tangisnya, "Aku takut."


"Kau kembali tidur beberapa menit yang lalu dan ternyata sudah bermimpi, terlebih lagi mimpi buruk, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Kevin.


Aneh, padahal Dessy baru saja kembali tidur, namun sudah bermimpi buruk, mungkinkah karena ia melihat sesuatu?


"Eum, mungkin karena aku melihat sesuatu dan terlalu memikirkannya, padahal bisa saja itu hanya imajinasi atau salah lihat," jelas Dessy yang mengingat kejadian tadi.


"Melihat apa? dimana?" tanya Andra yang tiba-tiba bergabung dalam obrolan. Ia tertarik dengan apa yang mereka bicarakan.


Wajah Dessy sedikit merengut, "Sebenarnya saat aku sedang ke dapur tadi aku melihat sesuatu di luar jendela, tapi aku tidak tau apa yang kulihat."


"Mungkin itu hanya sebuah bayangan," lanjutnya, kalaupun memang benar bayangan, apakah bayangan itu memiliki nyawa?


Tidak bukan nyawa, lebih tepatnya apakah bayangan itu bisa bergerak dengan sendirinya?


Hening, mereka yang ada di sana masih mencerna apa yang Dessy katakan. Bayangan? sepertinya bukan, melainkan lebih dari sekedar bayangan.


"Aku ingin memeriksanya, apa yang kau katakan itu benar?" tanya Rendi memastikan. Sial, malam hari malah terjadi sesuatu yang meresahkan.


"Eum, tapi sepertinya tidak perlu memeriksanya karena tidak pasti, mungkin sebenarnya tidak ada apa-apa di sana," jelas Dessy panjang, ia menghela nafasnya.


Dessy sudah merasa cukup tenang, namun ia rasa ia sudah tidak bisa kembali tidur, padahal masih dini hari. Apa yang akan ia lakukan sampai pagi?


"Hm, baiklah. Sebaiknya kau kembali tidur," saran dari kakaknya yang ditanggapi gelengan. Mana mungkin ia bisa tidur?


"Setelah mengalami mimpi buruk, mustahil untuk ku tidur kembali," jelasnya menghela nafas panjang. Mungkin ia akan menunggu pagi disini.


'Prang!!!'


Suara yang sangat keras dengan sumber suara dapur membuat mereka terperanjat dan terfokus pada hal tersebut. Suara apa itu?


"Astaga? ada apa?" gumam Dessy takut, ia mendekatkan dirinya kepada Rendi. Rendi menatap nanar lorong yang menuju ke arah dapur.


Rendi bangkit dari duduknya, ia penasaran apa yang terjadi di dapur, "Aku akan memeriksanya."