MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#23, Hilang Part 6



Disebuah kawah yang jauh dari pemukiman, terdapat pula tebing-tebing tinggi yang menjulang dan berbahaya disana.


'GRAAAAAR'


Teriakan monster yang dapat membuat seluruh makhluk hidup takut dan berlarian menjauhi tempat itu


"Ahahah! Hancurkan semuanya! Hancurkan!!!" teriak seorang lelaki bertanduk dengan girang, bak akal sehat yang sudah hilang.


Ia merasa sangat senang, kebahagiaan membuncah dari hatinya melihat kehancuran ini, ia memang sudah gila! dia gila! "Semua ini membuatku bersemangat!"


"Silahkan hancurkan semuanya! AHAHAH."


Tingkah pria bertanduk itu semakin aneh, dia benar-benar kehilangan akal sehatnya, atau memang dari awal dia tidak memiliki akal?


Sosok tinggi setinggi gedung yang menjulang itu disebutnya 'Demon Lord' padahal sendirinya pun masih memerintahnya.


"Apa yang kau lakukan, Red!!!" teriak seseorang yang baru tiba, mereka sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi sekarang ini.


Dihadapannya sedang berlaku sesuatu yang sangat mengerikan, "Haha seharusnya kalian tidak perlu repot-repot kesini."


"Karena sebentar lagi, aku akan memancing raja iblis ke pusat kota," sambungnya dengan senyum mengerikan. Membuat mereka bertiga geram.


'Dum!' 'Dum!' 'Brak!'


Makhluk itu menghancurkan dan terus menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya. Zylan, Riel dan Liza menjadi semakin geram.


"Kau memang iblis bodoh yang tidak punya akal sehat!" sarkas Liza dengan tatapan tajam, taring dan juga cakarnya telah muncul siap untuk merobek iblis itu.


Red menggeram, siapa gerangan yang berani menghinanya, "Kau!!! apa yang bisa dilakukan oleh roh kucing yang dibuang tuannya sendiri?"


Liza terdiam sesaat, hatinya serasa tertimpa batu besar. Hanya cerita lama yang sudah ia lupakan, "Diamlah iblis bodoh! kau tidak tau apa-apa."


Liza langsung menyerang iblis bertanduk yang ternyata bernama Red, membuat Zylan dan Riel kaget, "Nona/Liza!!!"


'Srakkk' 'Srakkk' 'Sringgg'


Roh kucing itu terus mencabik dan mencakar Red, namun iblis Red tidak terluka sedikit pun, "Haha! kucing lemah sepertimu takkan pernah bisa melukaiku."


Liza menggertakan giginya, ia mengeluarkan sisa-sisa sihirnya, "Rasakan ini iblis bemulut besar!!!"


'Srakk'


Gumpalan energi sihir itu berhasil mengenai wajah Red dan melukai pipinya, hal itu membuatnya sangat marah kepada roh yang ia anggap rendahan.


"Beraninya kau!" geram Red yang akhirnya berbalik menyerang Liza. Ia merapalkan mantra-mantra yang entah Liza tidak tau sihir apa itu.


'Brakkk'


Liza melotot, ia tidak tau tiba-tiba batu besar menabraknya dari depan, membuatnya terpental jauh kebelakang, tergores batu-batu tebing.


...***********...


Ditempat yang sama, disaat Liza melawan Red sendirian. Kini Zylan dan Riel harus melawan makhluk yang sangat merepotkan, 'Demon lord' atau apalah itu.


"Riel, kau pancing dia!" perintah Zylan yang kini dalam mode pertempuran, tudung jubahnya ia turunkan dan kini terlihatlah wajah serta rambut merahnya.


"Eum," Riel menganggukan kepalanya patuh, ia pun berlari mengitari monster itu dengan secepat kilat sehingga demon lord terpancing dan menyerangnya.


Dengan lihai Riel menghindari setiap serangan dari iblis itu. Sementara Zylan menyiapkan sebilah pedangnya, ia memejamkan matanya.


'Sringg' 'Srakkk'


Besi tipis itu berhasil merobek sebagian kecil kulit sang iblis. Namun itu masih belum seberapa karena tiba-tiba Zylan menyerangnya dibeberapa titik.


'Arghhhh'


Titik yang diserang Zylan mengucurkan darah yang banyak, luka-luka itu cukup untuk membuat iblis lemah.


Disaat pertarungan keduanya berlangsung mereka mendengar suara hantaman keras dibelakang, ternyata itu Liza.


Liza merasakan tubuhnya seperti remuk karena hantaman tubuhnya dengan dinding tebing, sepercik darah keluar dari mulutnya, "Uhukkk!!"


Melihat Liza yang terhantam kerasa dengan dinding batu membuat Riel langsung menghampirinya dengan wajah khawatir, "Nona, apa kau baik-baik saja?"


Liza sedikit kesulitan bernafas, "Eum, A-aku baik-baik saja."


Riel pun membantunya berdiri, gadis itu merasa sangat lemah, bahkan ia harus ditopang oleh Riel yang merangkulnya.


Sedangkan Zylan kini menatap tajam Red, ia mengepalkan tangannya, hembusan nafasnya yang gusar dan matanya yang memerah, "Terkutuk kau."


Zylan berkata dengan dingin, sedangkan sang iblis kini tertawa senang karena melihat roh kucing yang terluka dan kemarahan Zylan.


"Kemarilah! mari kita bersenang-sedang," ucap Red yang gila itu. Kemarahan Zylan semakin tersulut, iblis memang tidak akan pernah bisa memiliki hati.


Atmosfer disana yang semulanya memang sudah pekat kini semakin pekat, guntur menyambar angin pun turut bersemilir kencang.


"Kau tidak akan selamat," dengan kecepatan seperti cahaya ia mendekati Red yang membuat iblis itu terkejut namun masih bisa menghindarinya.


Tanpa memberikan jeda waktu Zylan langsung mengeluarkan pedang miliknya, "Pedang yang bagus."


Tanpa menghiraukan ucapan Red, pedang berwarna biru itu menari-nari di udara sembari menunggu mengenai sasarannya.


'Tring'


Melihat belati milik Red yang menangkis pedang miliknya, Zylan pun memiliki celah untuk menendang perutnya. Meskipun itu tidak cukup membuat iblis kesakitan.


"Hah, apa hanya ini yang kau bisa?" remeh Red kepada Zylan. Pria itu hanya diam, mendengarkan ocehan yang tak berbobot itu membuatnya sangat muak.


Zylan menarik kakinya bersamaan dengan itu ia menarik pula pedangnya. Kembali bergerak secepat cahaya.


'Sring' 'Srakk'


Red terdiam membeku, ia merasakan perutnya nyeri dan mengeluarkan darah, lukanya cukup besar namun iblis itu masih bisa berdiri.


"Sialan kau mantan dewa!" teriaknya marah. Zylan yang membelakanginya itu kembali bergerak dan mengitarinya.


Karena Red yang sudah kalang kabut akhirnya Red mengayunkan belatinya ke sembarang arah, asalkan belati itu mengenai Pria yang kini menjadi lawannya.


"Cih, bergerak dengan emosi itu akan mudah dibaca," Zylan mengeluarkan senyum miring yang mengerikan, ia pun dengan tepat dapat menangkis belati itu.


Liza yang melihat pertarungan itu dari kejauhan menjadi khawatir, bagaimanapun belati milik Red tidak terarah dan bisa melukai Zylan kapan saja.


"Tenanglah nona, dia tidak akan terluka semudah itu," ujar Riel yang seolah tau isi hatinya. Meskipun begitu, Liza tetap khawatir.


"Eum," Liza merasakan tubuhnya melemah. Ia sudah tidak bisa lagi, sebelum pertarungan tubuhnya memang sudah diambang batas, dan sekarang...


Riel yang merasakan berat Liza semakin bertambah itu menjadi khawatir, "Nona, apa kau baik-baik saja?"


Liza masih bisa mengangguk untuk menjawab, "Eum, A-ku ba-ik ba-ik saja."


Zylan yang sedang bertarung melihat dari sudut matanya, sialan ia tidak dapat fokus saat melihat Liza melemah seperti itu.


Ia pun berhenti bergerak dan menatap Liza. Ia lupa bahwa belati yang dikendalikan Red masih terayun tak terarah.


'Srak' 'Srak'


Zylan yang berhenti bergerak tak dapat menghindarinya, ia memejamkan matanya. Itu sedikit sakit. Red yang mengetahui adanya kesempatan pun tersenyum.


Belati itu terfokus pada satu titik. Zylan yang masih menahan rasa sakitnya belum bisa berpikir jernih. Liza yang melihat dari kejauhan itu melotot.


"TUAN AWAS!"


'Srakkk'


Perut seseorang tertusuk belati milik Red dan meneteskan darah. Semua yang melihatnya terkejut.