![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
...***********...
Masih ditempat yang sama, seorang gadis kini tidak sadarkan diri dengan kedua tangan yang diikat menggunakan rantai, "Hmm?"
Liza mengerjapkan matanya beberapa kali, kepalanya terasa sangat pusing, dan ia tidak bisa menggerakkan kedua tangannya, "Sial, apa yang terjadi?"
Liza terdiam kemudian mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Ia melotot saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Tolong, lepaskan aku!" serunya berharap ada seseorang yang bisa melepaskannya dari rantai itu, sepertinya itu bukan rantai biasa.
Hari ini mungkin adalah hari tersial baginya, pulang dari restoran ia malah dihadang iblis yang menyebalkan, lalu ia ketahuan dan sekarang diikat, "Hahhhh"
Liza hanya bisa menghela nafas panjang, sembari meratapi nasib sialnya hari ini. Karena ia sudah sedikit pulih maka ia bisa menyembunyikan cakar dan telinganya.
"Waw, kemana kuku tajam dan telingamu itu nona?" tanya seseorang yang tiba-tiba mendekat kearah Liza. Liza sedikit takut, ia ingin melepaskan rantai ditangannya.
"Arghhh!!!" sepertinya rantai yang ada ditangan Liza adalah rantai sihir yang membuatnya kesakitan saat memberontak.
"Tenanglah kucing kecil, semakin kau memberontak kau akan semakin kesakitan," ujar laki-laki itu dengan senyum menyebalkan.
"Si-siapa kau?" tanya Liza yang ketakutan, mungkin jika ia adalah Liza yang dulu ia akan berani melawan, namun Liza yang sekarang sangatlah lemah.
Lelaki dengan pakaian kasual itu tertawa, "Kau tidak perlu mengetahuinya nona kucing, hahaha!"
Sayangnya tawa sang penyihir mengusik singa yang kini terbangun dari tidurnya, "Cukup main-mainnya Riel."
Riel tersentak, ia berbalik badan, ternyata sahabatnya itu sudah ada dibelakangnya. Ya lelaki penyihir yang menangkap Liza adalah Riel, "Yah, kau selalu serius".
Riel mendesah kecewa, padahal ia hanya ingin bermain-main sebentar, karena kebetulan ada seseorang yang menarik perhatiannya, "Maaf, Nona kecil."
Liza berekspresi bingung, kemana raut menakutkan yang sedari tadi menghantuinya? kenapa tiba-tiba berubah jadi baik?
"Sebenarnya kalian ini siapa?" tanya Liza yang tampaknya frustasi dengan kebingungannya sendiri. Kejadian ini terasa terlalu cepat baginya.
"Kau yang siapa? kenapa kau bisa mengalahkan iblis itu sendirian?" tanya seseorang yang berhati dingin, sahabat Riel.
"Kau terlalu keras, Zy," tegur Riel kepada Zylan, sudah bertahun-tahun bahkan ratusan tahun sahabatnya itu berubah menjadi lelaki kejam berhati dingin.
Liza hanya diam, aura dari seseorang yang tadi 'Zy' itu sangatlah kuat, siapa saja yang bisa merasakannya pasti akan ketakutan, 'Aura yang bisa membunuh mu'
Zylan mengabaikan perkataan temannya, ia masih menatap tajam perempuan yang masih terikat rantai itu, "Kau belum menjawab pertanyaan ku!"
Seruan itu membuat Liza memejamkan matanya takut, dengan reflek ia pun menjawab pertanyaannya, "Namaku Liza, aku hanya berusaha melawan iblis itu!"
Nama yang membuat Zylan terdiam sejenak, kemudian ia mengeluarkan senyum smirknya, "Oh, ternyata hanya roh kucing rendahan."
Kata-katanya sangat menusuk hati Liza, sepertinya orang itu tidak punya hati, "Apa maksudmu?!"
"Lepaskan rantainya, El," perintah Zylan yang dipatuhi Riel, sang penyihir itu langsung membentuk tanda silang menggunakan jarinya.
Dan bufft, rantai itu seketika lenyap.
Kedua orang itu tidak menggubrisnya, Zylan memberikan isyarat kepada Riel untuk segera meninggalkan Liza, mereka berdua pun akhirnya melangkah menjauh.
"Hah, kau terlalu keras Zy," tegur Riel menggeleng-gelengkan kepalanya, apa-apaan sahabatnya itu, padahal yang ada dihadapan mereka adalah seorang gadis.
Riel menghadap kebelakang, seketika ide kecil terlintas di kepalanya, ia pun berteriak kepada Liza yang termenung, "Oh ya nona, jika kau roh kucing seharusnya kau punya senjata roh mu sendiri!!!"
"Riel!!!" peringatan keras dari Zylan yang hanya ditanggapi tawa oleh Riel, si penyihir itu sudah tau sifat sahabatnya jadi ia hanya bersikap santai.
"Ada apa dengan tingkahmu? bukankah dia yang selama ini kau cari?" tanya Riel yang muak dengan sikap Zylan, ia selalu bertingkah seperti itu.
"Dia yang kucari tidak lemah seperti itu!" tegasnya dengan serius. Ia sudah malas berdebat lagi, ia memutuskan untuk diam. Sedangkan Riel kini menghela nafasnya.
Sementara Liza yang ditinggalkan mereka berdua begitu saja menggerutu kesal, "Apa-apaan mereka itu?! datang lalu pergi begitu saja, tanpa memperkenalkan diri pula."
Namun Liza termenung sejenak saat memikirkan ucapan yang penyihir tadi katakan, "Senjata roh? yang benar saja!"
Liza berdiri dan membersihkan dress-nya yang sedikit kotor, dengan langkah kesal karena hari buruk ia pun pergi dari sana menuju rumahnya.
...***********...
Sampai di rumah Liza langsung mandi dan membersihkan badannya. Setelah itu ia hanya berbaring di tempat tidurnya.
Ia terus memikirkan dan memikirkan apa yang tadi terjadi, "Hahhhh, kenapa aku harus memikirkan mereka berdua?!"
"Kalau tidak salah namanya Riel, ya? lalu yang satunya siapa? argh bahkan aku tidak tau namanya!" Liza menggeram kesal. Ia terus-terusan bermonolog.
Liza menghela nafas kesal, kedua lelaki yang tadi ia temui sangat mengganggu pikirannya, "Lagipula aku masih penasaran dengan senjata roh."
"Kupikir aku akan di rumah saja, sembari menunggu serangan iblis mereda," ucapnya, memang sekarang masih banyak serangan iblis diluar sana.
Entah bagaimana nasib para penduduk di kota itu, mungkin saja para iblis sudah dihadapi oleh pemburu iblis. Memikirkan itu semua membuatnya mengantuk.
...***********...
'Dunia Bawah'
Disebuah tempat seperti gua yang sangat dalam, namun kenampakkan tempat tersebut berbeda dengan dunia nyata, gua tersebut dipenuhi kabut racun.
"Bagaimana persiapannya?" tanya seseorang dengan tanduk berwarna hitam, ia juga berjubah, serta tubuhnya sangat besar, lebih besar dari manusia biasa.
"Sebentar lagi akan selesai yang mulia raja," ucap bawahannya yang menunduk hormat, namun sang iblis kecil itu malah diserang oleh lelaki bertanduk.
"Arghh," teriaknya kesakitan saat serangan dari atasannya mengenai perutnya, membuatnya langsung terpental dan menubruk bebatuan yang ada di gua.
"Jaga mulutmu bodoh! raja yang sebenarnya sedang tertidur, dan aku bukanlah raja!!!" seru sang lelaki bertanduk.
Padahal memang dirinya terlihat seperti raja, kalau dia bukan raja lalu siapa rajanya? bahkan dirinya saja sudah besar, apalagi rajanya nanti.
"Ba-baik tuan," ucap iblis bawahan yang kini merasa ketakutan. Sang pria bertanduk menyuruhnya pergi, tentu saja iblis bawahan itu langsung menurutinya.
"Hmm, sebentar lagi akan menjadi kebangkitan demon lord, aku sangat menantikannya," ujar sanh pria bertanduk dengan senyum senang yang mengerikan.
"Bukankah begitu lord?" entah dia berbicara dengan siapa. Namun kini di dinding gua terlihat sebuah mata. Mata yang sangat besar.
Mata itu bahkan lebih besar dari pria bertanduk itu, sangat mengerikan. Warna mata yang terlihat seperti merah api, bahkan orang biasa akan langsung mati jika menatapnya.
"Hahaha!!!" tawa puas yang sangat mengerikan, tawa itu menunjukan dirinya yang tak sabar menantikan sesuatu. Mungkin sesuatu yang mengerikan.
Siapapun yang melihatnya pasti akan merinding dibuatnya.