MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#37, Lari Part 1



Seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi menyedihkan, tak ada yang memihaknya, ia terbelenggu dalam dinding pengasingan yang dibuat teman-temannya.


"Haha! lihat pecundang itu hanya diam."


"Dasar pengecut!"


Di manapun pembullyan tidak akan pernah bisa dibenarkan atas alasan apapun, apalagi dengan mengatasnamakan candaan.


'Sialan! Sialan! Sialan!'


Ia hanya bisa mengumpat didalam hati, sedangkan tubuhnya memilih diam meskipun kini dirinya dilempari tepung kering yang membuatnya sedikit terbatuk.


"Hei! Apa kau bisu?!" sentak seorang perempuan yang berpenampilan tomboy dengan lengan baju yang ditekuk ke atas.


Sentakan itu membuat gadis yang terbully terperanjat kaget, namun dia tak bisa mengatakan sepatah katapun, mulutnya seakan terkunci dengan sendirinya.


"Haha! gadis itu memang bisu, Kiara," teman dari seseorang yang dipanggil Kiara itu tertawa, seakan yang terjadi sekarang adalah hal yang lucu.


Kiara menyeringai melihat gadis yang tidak berdaya itu, ia mengeluarkan sedikit kata sarkas yang tentu menusuk, "Pecundang memang ditakdirkan untuk diam."


Teman sekelas mereka hanya bisa memperhatikan apa yang terjadi dengan tatapan miris, mereka ingin membantu namun mereka juga takut.


Kiara merupakan anak dari kepala sekolah di SMA itu, karenanya tidak ada yang berani melawan tindakannya.


"Ada apa ini?" seorang lelaki yang sangat tampan dengan rambut berwarna hitam legam memasuki kelas, ia menatap tajam ke arah Kiara.


"Alex," bukannya Kiara merasa bersalah karena ditegur, namun ia malah tersenyum girang saat melihat orang yang ia sukai datang ke kelasnya.


Alex sangat jengah dengan kelakuan gadis itu, selalu membuat masalah dan menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menindas orang lain, "Masalah apa lagi?"


"Tidak ada," jelas Kiara sembari bersolek dihadapan Alex.


Alex melihat sosok yang kini kotor penuh tepung putih, ia membantunya berdiri. Sungguh ia sangat muak dengan kelakuan Kiara, "Ini terakhir kalinya!"


Setelah mengatakan itu Alex langsung pergi, ia ingin mengantar Neira ke toilet untuk membersihkan tepung yang menempel diseluruh badannya.


"Ish!" Kiara berdesis kecil, ia kesal dengan Neira yang selalu mencuri perhatian dari Alex.


"Sudahlah, yang penting kau sudah puas bukan?" ujar Jessi yang merupakan teman Kiara, ia tersenyum licik.


Mendengar perkataan dari sahabatnya membuat Kiara melebarkan senyumnya, "Tentu."


...***********...


Neira mengunci dirinya disalah satu toilet di sana, sementara Alex menunggunya di luar, atau Alex telah pergi, entahlah ia tidak tau.


Tanpa disadari matanya kini berkaca-kaca, meskipun ia telah membentengi hatinya tetap saja luka sebesar itu pasti dapat menembusnya.


"Apa salahku?"


"Kenapa mereka kejam?"


"Kenapa tidak ada seorangpun yang memihak ku?"


"Kenapa semua orang sangat jahat?"


"Dan.."


"Kenapa aku terlahir di dunia ini?"


Semua pertanyaan itu selalu menamparnya berkali-kali, pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang lain. Pertanyaan yang benar-benar bodoh.


"Apa di hidupku ini tidak ada sedikitpun kebahagiaan?" sesak terasa menyerang hatinya. Lirih suaranya tak bisa didengar siapapun.


Suara minoritas yang selalu terabaikan dan tertutupi dengan suara mayor, suara yang menyedihkan.


'Tok' 'Tok' 'Tok'


Ketukan yang membangunkannya dari lamunan, "Apa kau sudah selesai?"


Neira tak menyangka bahwa seseorang menunggunya, ia kira Alex sudah pergi, "E-eum."


Ia segera membuka pintu, melihat Alex yang membawa kantung plastik entah berisikan apa, "Apa kau baik-baik saja?"


"Ya," hanya jawaban singkat yang keluar dari mulutnya, ia tidak pernah nyaman berbicara dengan orang lain, karena dirinya hanya merasakan intimidasi.


Alex menyodorkan plastik yang ia bawa tersebut, "Minuman untukmu."


Alex menyadari perubahan raut Neira dan ia mengerti, "Kau belum makan apapun kan? aku membelikannya untukmu"


Memang benar jam istirahatnya selalu terbuang sia-sia karena ia hanya dijadikan pesuruh oleh seorang pembully a.k.a Kiara dan temannya.


"Terimakasih."


Neira menerimanya, setidaknya ia tidak ingin menyinggung karena menolak pemberian seseorang.


"Kenapa kau baik?" tanya Neira pelan, kepalanya ia tundukkan karena dirinya tidak bisa menatap mata seseorang.


"Aku hanya menjalankan tugasku," jelas Alex singkat, itu merupakan tugasnya karena ia adalah ketua OSIS di SMA itu.


"Dan lain kali lawan mereka, aku sudah muak dengan yang selalu terjadi seperti ini."


Setelah mengatakan itu Alex pergi meninggalkan Neira sendirian termenung didepan pintu toilet. Perkataan yang sangat menusuknya.


Ia tidak bisa melawan siapapun. Tidak akan pernah bisa karena dia hanyalah minoritas. Tak akan ada yang membelanya.


Neira melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya, dengan pikiran khawatir yang tiba-tiba menyerangnya.


...*************...


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Neira segera meninggalkan kelasnya dan bergegas pulang kerumahnya.


"Kenapa dia sangat terburu-buru? gadis kampungan!" sarkas Kiara yang sangat membenci Neira.


"Bukankah kau muak kalau dia terus disini? jadi biarkan saja dia pulang cepat" sahut Jessi dengan helaan nafas jengahnya.


"Benar, aku sangat membencinya!"


...**************...


Neira membanting tubuhnya ke kasur, ia menangis sepuasnya untuk apa yang terjadi hari ini. Ia sangat kesal, karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


"SIAL!"


"KENAPA AKU SANGAT LEMAH!"


Teriaknya tak terbendung, isak tangisnya yang sangat menyesakkan dada. Ia bisa menangis sepuasnya tanpa orang lain tau karena dia hanya tinggal sendirian.


Neira memilih bangkit dari tempat tidurnya dan mengganti bajunya, seperti biasanya ia akan pergi ke tempat kerjanya.


"Setidaknya bertahanlah hidup."


Gumamnya sembari menutup bekas luka yang ada di tangannya, hatinya tergetar. Dengan semua ini ia harus hidup sendirian dan bertahan.


Tidak apa-apa.


...************...


Di atas atap sekolah, tempat yang paling tenang dan tepat untuk dijadikan perenungan. Seorang laki-laki menerawang jauh ke jalan raya yang terlihat kecil.


"Kenapa kau sangat membencinya?" tanyanya pada seorang gadis yang duduk memandanginya.


Gadis itu tersenyum, "Karena dia selalu merebut semuanya dariku, termasuk merebut mu."


"Aku bukan milik mu, dan bukan milik siapa-siapa." sanggahnya dengan cepat, ia bukan barang yang dimiliki siapapun, ia hidup untuk dirinya sendiri.


Gadis itu kembali tersenyum sembari mendekat ke arah lelaki tersebut, "Kau milik ku."


Mendengar ucapan itu, si lelaki pun menatap tajam, ia sudah sering memperingatinya, "Jangan lagi mengganggunya, atau kau akan tau akibatnya!"


Peringatan kali ini cukup serius, membuat gadis itu tertegun. Meskipun begitu ia tidak ingin sesuatu yang ia anggap miliknya direbut oleh orang lain.


"Kalau kau terus bersikap seperti itu dan terus memperdulikannya, aku tidak yakin dia tidak terluka lebih dari hari ini."


Ancaman balik dari gadis itu, membuat sang lelaki dihadapkan pilihan yang sulit dan membimbangkan, "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"


"Aku hanya ingin kau di sampingku selalu, tanpa memihaknya," jawabannya membuat sang lelaki berdecih


"Kau sangat egois! dari awal aku tidak pernah menjadi milikmu, kau sendiri yang mengklaimnya secara sepihak, dasar perempuan gila!"


Sarkas sang lelaki yang kemudian melenggang pergi. Membuat gadis yang terdiam sebentar itu seketika menggeram.