MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#40, Lari Part 4



"Iya kan? sangat payah," kedua perempuan yang tengah berbincang-bincang di depan toilet perempuan itu terkejut saat membuka salah satu pintu.


"Astaga, siapa itu?" ia menutup mulutnya tak percaya saat melihat gadis dengan kepala berdarah dan tergeletak tanpa pergerakan sedikitpun.


"Ayo kita laporkan ke guru!" ajak teman gadis itu, ia pun mengangguk.


Mereka cepat-cepat lari dari sana untuk meminta pertolongan, kebetulan mereka melihat seseorang yang cukup penting di sekolah itu.


"Ketua!!!"


Sosok yang dipanggil 'ketua' itu terkejut dengan panggilan yang sangat keras, dilihatnya orang yang memanggilnya sangat tergesa-gesa, "Ada apa?"


"Huh, i-itu ada gadis yang pingsan di toilet," lapornya pada sosok ketua OSIS itu.


Alex kaget dengan perkataan gadis yang melaporkan kepadanya, ia segera mengambil tindakan, "Kalian tolong hubungi pihak medis!"


Keduanya mengangguk dengan wajah khawatir, "Baik, ketua."


Mereka pun segera melakukan apa yang diperintahkan sang ketua OSIS. Sementara Alex, ia pergi untuk melihat seseorang yang dimaksud tadi.


Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di toilet perempuan, bukan tanpa alasan ia masuk kedalam toilet, ia tertegun, "Neira?!"


Ia segera memeriksa keadaan gadis itu, dilihatnya pelipis si gadis berdarah, sepertinya ia mendapatkan kekerasan, "Hei Neira, bangunlah!"


Alex sangat cemas dengan keadaan Neira, bagaimana kalau gadis itu kenapa-kenapa? "Apa yang terjadi padamu?"


Menghadapi rasa khawatirnya, ia tidak punya waktu untuk terus termenung seperti itu. Alex pun mengangkat tubuh Neira dan menggendongnya.


"Bertahanlah, Neira!"


Ia cepat-cepat membawa ke UKS, dimana di sana sudah ada guru medis, mungkin dua gadis tadi sudah melakukan tugasnya.


"Bu Anna, tolong bantu saya," pintanya yang kesulitan saat membuka pintu ruangan itu. Guru yang dipanggil pun mengangguk menuruti.


Anna membantu memindahkan tubuh Neira ke brankar yang ada di ruang UKS, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Sembari menunggu penjelasan ia pun segera memeriksa keadaan salah satu anak didiknya, sungguh mengenaskan.


"Saya juga tidak tau, tiba-tiba saja dua siswi melaporkannya padaku, entah apa yang terjadi padanya adalah sekedar kecelakaan atau memang kesengajaan."


Mendengar penjelasan Alex, Anna pun mengernyitkan dahinya, "Kesengajaan?"


"Eum, gadis itu adalah Neira, gadis yang selalu menjadi bahan perundungan," Alex cemas, ia khawatir bahwa yang terjadi bukanlah kecelakaan biasa.


"Siapa yang melakukan tindakan perundungan disekolah ini?" tanya Anna serius, ia baru mendengar ada kasus perundungan di sekolah elit ini.


Alex menatap serius, "Kiara... tapi belum tentu juga ini kasus perundungan, bisa saja Neira tidak sengaja terjatuh dan terhantam dinding."


Anna terdiam sejenak, ia berdecih pelan, "Cih, bodoh sekali, anak kepala sekolah memang sangat merepotkan."


Melihat raut wajah dari gurunya membuatnya sedikit kebingungan, namun sekarang lebih penting keadaan Neira.


"Bu Anna, bagaimana keadaan Neira?" tanya Alex menatap gadis yang terbaring itu dengan tatapan cemasnya.


"Kondisinya sedikit parah, sebaiknya dia segera dibawa ke rumah sakit," jelas Bu Anna sembari menatap gadis yang bernasib malang.


Alex terdiam, rumah sakit? "Bu Anna, biarkan saya yang membawanya ke rumah sakit, sekarang juga saya akan mengantarkannya."


Guru itu pun menatap Alex, "Kau serius? bukankah sekarang masih jam pelajaran?"


Sang ketua OSIS tidak meragukan keputusannya, ia mengangguk yakin, "Tidak apa-apa Bu Anna, saya akan meminta izin kepada guru."


Anna berpikir sebentar, namun jika gadis itu tidak ditangani oleh dokter yang tepat ia takut jika keadaannya memburuk, "Baiklah, aku mengandalkanmu."


Alex yang mendengarnya pun bernafas lega, sekarang ini ia akan berusaha menghubungi pihak rumah sakit dan meminta untuk memanggilkan ambulan.


"Terima kasih Bu Anna, saya permisi sebentar," ia segera keluar dari ruangan itu sembari menunggu ambulan datang di luar.


Sementara Anna, ia menatap gadis malang yang tidak sadarkan diri di brankar, "Perundungan, kah?"


Rumah Sakit.


Setelah menunggu sekiranya setengah jam, Neira pun bisa diantarkan ke rumah sakit, kedua siswa itu telah berada di salah satu ruangan rawat inap di rumah sakit tersebut.


Alex masih setia menunggu sadarnya gadis yang belum lama ini selalu ia temani. Hah, sebenarnya apa yang telah terjadi?


Gadis yang baru terbangun dengan setengah kesadarannya menyipitkan mata, merasa asing dengan lingkungan ini, "Rumah sakit?"


Ucapan bernada lemah itu mengundang rasa lega untuk Alex yang sedari tadi menunggunya, "Neira, kau sudah sadar?"


"Syukurlah."


"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara yang amat lemah. Kepalanya terasa pening, percikan ingatan yang memicu ingatan lain.


Neira pun membeku, mengingat tragedi yang baru saja terjadi, ketika ia diperlakukan dengan sangat rendah, layaknya sampah tak bermakna.


Pisau yang berterbangan dalam imajinasinya seolah menusuk dirinya, kejadian seperti itu sangat membuatnya trauma.


"Aku ingin pulang."


Dingin, sosoknya berubah dingin. Ucapan lembutnya seakan berubah menjadi tak ada rasa, ada apa dengannya?


Alex menggeleng, tentu dia tidak akan setuju, "Kau tidak di perbolehkan pulang."


Neira memalingkan wajahnya, tak ingin menatap seseorang yang mungkin telah membawanya kemari, "Aku yang memutuskannya."


Mendengar perkataan yang membuatnya sedikit tertampar membuat Alex pun terbungkam, namun sepertinya Neira serius.


"Baiklah, aku akan meminta izin dokter." setuju Alex, ia segera melenggang pergi dan menemui dokter yang menangani Neira di rumah sakit itu.


Tak terasa mata Neira kembali berkaca-kaca, hatinya terasa menghitam pekat, ia tertelan dengan kegelapan disekelilingnya. Ia ingin sendiri.


**********


Dengan izin dokter akhirnya Neira pun diizinkan untuk pulang. Sekarang ini Alex dan Neira sedang dalam perjalanan, keduanya berada dalam mobil taksi.


"Kau tidak apa-apa? sungguh?" tanya Alex memastikan, memang benar dokter memperbolehkannya untuk pulang, namun yang dikhawatirkan adalah...


"Eum," gadis itu tak berucap. Mulutnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah katapun. Terlebih lagi ia selalu memalingkan wajahnya.


Alex terdiam sembari menatap Neira, tatapan yang kosong terlihat jelas diwajahnya. Sebenarnya Neira kenapa?


"Jika ada hal yang ingin kau sampaikan, maka aku akan mendengarkannya." tawar Alex yang hanya ditanggapi dengan keterdiaman Neira.


Neira memandang keluar jendela, berkata lirih dalam hati, 'Mendengarkan? jangan bercanda! kehadiranmu disini hanyalah bentuk rasa kasihanmu!'


Terlepas dari niat Alex yang kini berada disampingnya, jika itu hanya rasa kasihan ia tidak butuh, "Sebaiknya kau jangan terlalu dekat padaku."


Alex mengernyit, "Kenapa? aku ingin ada di sampingmu, aku akan selalu ada saat kau membutuhkanku."


Penjelasannya membuat Neira terbungkam. Apa itu? apa maksudnya? lebih baik jangan membuatnya berharap lebih. Perasaan seorang gadis terlalu lembut.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, Neira hanya menatap kosong dengan senyum miris di bibirnya.


"Tolong berhenti di depan," ucap Neira kepada si supir taksi, sang empu pun mematuhi penumpangnya, ia memberhentikan mobilnya.


"Cukup sampai disini, maaf dan terimakasih untuk semuanya," Neira keluar dari mobil kemudian menutup pintu.


Alex yang menatapnya terpaku, sungguh sikapnya sangat berbeda dengan kemarin. Ia ingin Neira menjadi seperti semula, lagipula apa yang menyebabkan perubahannya?


"A-," belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Neira lebih dulu memotongnya, "Tolong jalan."


Sopir taksi itu kembali mengangguk patuh dan melajukan taksinya. Neira menatap kepergian Alex dengan senyum sendu, cukup sampai disini!


Tak terasa satu tetesan bening mengalir ke pipinya. Menyakitkan.