MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#34, House Part 2



Rendi bangkit dari duduknya, ia penasaran apa yang terjadi di dapur, "Aku akan memeriksanya."


"Aku ikut," imbuh Kevin cepat, jujur saja ia sangat ingin tahu sejak tadi, mulai dari cerita Dessy, lalu sekarang benda terjatuh. Semua sumbernya adalah dapur.


"Aku juga ikut," timpal Andra yang juga ingin mencari tahu.


Dessy berdecak kesal menatap ketiga pria yang ingin mengecek dapurnya, "Hei, kalau kalian semua pergi, bersama siapa aku disini?"


Ketiga pria itu saling pandang, sialnya karena mereka benar-benar penasaran sehingga mereka tidak bisa untuk tetap tinggal.


Helaan nafas keluar dari mulut gadis yang kini tengah pasrah, "Baiklah, aku akan ikut saja."


"Kau yakin?" tanya Rendi memastikan. Dengan anggukan pasti Dessy menjawabnya, "Iya."


Rendi mengangguk paham. Mereka mulai menelusuri lorong dengan Rendi di barisan pertama sementara Dessy dibelakangnya, Kevin dan Andra berada pada bagian paling belakang.


Sesampainya di dapur, mereka dikejutkan piring yang telah terpecah belah di lantai. Juga jendela yang kembali terbuka, kali ini bukan hanya tirainya saja.


"Hah? kenapa jendelanya terbuka?" tanya Dessy gelisah, ia ingat betul ia lah yang menutup tirai jendela, namun kini tirai beserta jendelanya terbuka lebar.


Ketakutan menyergap dirinya, ia masih ingat jelas bayangan yang pernah ia lihat dibalik jendela, memikirkannya membuat ia pusing.


Dessy terhuyung ke belakang, dengan sigap Kevin menahan tubuhnya, "Apa kau baik-baik saja?"


"Dessy ada apa?" tanya Rendi khawatir melihat sang adik terlihat melemah.


"Aku baik-baik saja," jawab Dessy.


Andra melihat ke sekeliling. Jendela terbuka, satu piring pecah, benar-benar taktik untuk menarik perhatian. Mustahil jika piring terjatuh, pasti itu sebuah kesengajaan.


"Kalau masih ingin menggunakan akal sehat, kita bisa berpikir ini perbuatan seseorang yang ingin mencuri," jelasnya masih mengamati sekitar.


Namun jika diperhatikan lagi, tidak ada jejak alas kaki sama sekali, jika benar ulah pencuri seharusnya akan meninggalkan jejak karena alas kaki yang kotor.


"Tidak ada jejak sama sekali, padahal belakang rumah adalah hutan dan hanya ada jalan setapak, mungkinkah sang pelaku masuk tanpa alas kaki?"


Andra mendekati jendela dan melihat ke bawah, tak ada alas kaki apapun yang di tinggalkan.


Tidak, kemungkinan terburuknya bahkan sang 'pelaku' tidak mempunyai kaki atau... tidak menapak.


"Saat ini kita hanya bisa berpikir positif," jelas Andra menatap sahabat-sahabatnya yang memasang wajah tegang. Ia tertawa kecil.


"Haha, sudahlah lebih baik kita kembali ke ruang tengah," Andra menutup jendela, sebelum itu ia menatap lurus ke depan.


'Jangan kau bawa kegelisahan malam kemari.'


'Grep'


Jendela tertutup bersama dengan tirai yang ikut menutup jendela.


Rendi, Kevin dan Dessy tidak bisa berkata apa-apa, otak mereka tengah mencerna kejadian beserta penjelasan Andra tadi.


Mereka pun kembali ke ruang tengah.


"Apa sebelumnya pernah terjadi sesuatu seperti ini?" pertanyaan dari Kevin itu membuat Rendi mengernyitkan alisnya.


"Sepertinya belum pernah, kalaupun pernah terjadi tidak separah ini," jelas Rendi mengingat-ingat. Selama ini rumah mereka sangatlah nyaman dan tentram.


"Eum benar, tidak pernah terjadi secara nyata," imbuh Dessy. Dia yang memang sangat penakut ditambah kejadian seperti, ia rasa tidur saja tidak akan bisa.


Andra menatap mereka satu persatu, nampaknya suasana masih tegang, "Sudahlah, lebih baik kita bermain game saja, jangan terlalu dipikirkan hal-hal buruk seperti ini."


Dia hanya ingin mencairkan suasana, daripada suasana semakin kalut, dan ketakutan semakin menular.


Beberapa menit setelahnya semuanya berjalan dengan tenang, tanpa ada gangguan sama sekali. Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan ketakutan dari lantai atas.


"AAAAAAAA!" teriakan yang berasal dari kamar sang ibunda Rendi dan Dessy Keduanya pun seketika terkejut dan panik.


"Mama?!" sahut Dessy kalut, ia cepat-cepat berlari menaiki anak tangga. Diikuti oleh Rendi dan kedua temannya.


Mereka kira tidak akan ada gangguan lagi. Ah entahlah, apakah ini gangguan dari makhluk yang sama atau bukan?.


Ketika dibuka pintu kamar orang tuanya, terlihat ibunda Dessy meringkuk ketakutan, dengan wajah ketakutan.


"Ma, ada apa?" tanya Dessy menghampiri Mamanya yang meringkuk. Ia langsung mendekapnya.


"Baru saja, Mama melihat sesuatu yang menyeramkan," jawabnya dengan bibir bergetar. Siapapun yang melihatnya pasti mengerti.


Sang Ayah dari kakak beradik itu terbangun dari tidurnya, ia menatap semua orang yang ada di kamarnya saat ini, "Ada apa, kenapa ramai sekali disini?"


"Mama berkata baru saja ia melihat sesuatu yang menyeramkan, tapi kami tidak tau itu apa," jelas Rendi yang menatap ibunya cemas.


Andra dan Kevin menatap sekeliling, tak ada yang mencurigakan, kecuali lagi-lagi jendela di ruangan ini terbuka.


"Mama juga tidak tau itu apa, tapi sesuatu itu sungguh menyeramkan," imbuhnya lagi, matanya terpancar kekosongan, mungkin ia masih dalam keadaan shock.


Andra termenung sekejap, mungkin sekarang mereka bisa menyimpulkan, bahwa semuanya yang terjadi saat ini bukan ulah manusia.


"Sebaiknya kita segera keluar dari rumah ini," ucap Andra yang membuat semua mata tertuju padanya.


"Apa kau gila? diluar masih sangat gelap!" seru Dessy. Entah mana yang lebih baik di dalam rumah atau di luar rumah.


"Tapi firasat ku mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi," jelas Andra menatap sang pemilik rumah dengan serius.


Mungkin saja makhluk itu akan segera membuat kerusuhan yang lebih besar, "Daripada itu, lebih baik kita turun kebawah."


"Benar, lebih baik kita turun kebawah, setelah itu jika tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kita akan tetap di dalam rumah," imbuh Kevin yang memberikan saran.


Mereka menyetujui, satu persatu dari mereka pun akhirnya keluar ruangan, hingga Andra yang terakhir dan hendak menutup pintu namun sesuatu terjadi.


'Brak!!!'


Pintu tertutup sangat kencang dengan sendirinya, padahal Andra belum sempat menegang gagang pintu tersebut.


"Apa yang terjadi?!" tanya Dessy terkejut, mereka yang ada di sana bertambah panik.


"Tidak apa-apa, mungkin ada angin, ayo kita turun," sanggah Andra cepat. Ia tidak ingin suasana bertambah kalut.


Lagipula firasatnya sudah sangat buruk.


"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini?" gumam Rendi dengan suara yang sangat kecil.


Kevin pun merasakan keanehan. Mereka sering bermain disini, namun baru kali ini lah sesuatu yang menyeramkan terjadi.


"Ayo semuanya," ajak sang kepala keluarga. Orang tua Rendi dan Dessy berjalan di depan, sementara yang lain mengikuti di belakang.


Ketika sampai di lantai bawah tepatnya di ruang tengah, perasaan mereka bertambah campur aduk. Perasaan gelisah memenuhi ruangan tersebut.


"Sepertinya kita memang harus keluar rumah," ujar Dessy yang sepertinya sangat lelah menghadapi gangguan-gangguan yang terus menerus datang.


"Aku setuju, lagi pula sebentar lagi matahari akan terbit," Rendi menyetujui saran dari sang adik.


"Baiklah."