MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#42, Lari Part 6 [END]



Pada waktu istirahat, kelas itu menjadi kosong seperti biasanya. Namun sekarang, Kiara dan Jessi sudah berada di hadapan Neira.


Ia sudah menduganya, "Kalian ingin membalas ku bukan? kenapa tidak lakukan sekarang saja? kelas sudah sepi."


Kiara mencengkram dagu Neira, ia berkata dengan penuh penekanan, "Sejak kapan kau menjadi sangat berani seperti ini? Kau lupa siapa aku?! hah!!!"


Jessi pun memulai mengukir senyum jahatnya.


Neira terkekeh remeh, "Haha, aku melupakan mu? mana mungkin aku melupakan orang yang selalu mengandalkan kekuasaannya "


ia sadar ucapannya mengundang amarah untuk orang yang ada dihadapannya saat ini, tapi... "Apalagi orang yang menyita sebagian besar kebahagiaan ku."


'Plak'


Tamparan di pipi kirinya membuat pipi mulus itu memerah mengecap lima jari dari sang penampar.


"Mulutmu sudah sangat lancang!!!" bentak Kiara yang menampar Neira. Nafasnya berhembus kasar, gadis itu benar-benar membuatnya sangat marah.


Tiba-tiba ada beberapa siswa yang lewat, entah kenapa secara reflek Kiara melangkah ke belakang, ada apa dengan gadis itu.


"Eh, apa kau takut jika perbuatan mu itu dilihat orang lain? ayolah Kiara mana keberanian mu yang sebelumnya?" tanya Neira dengan nada mengejek.


Benar-benar! Neira benar-benar berubah, ia sudah bukan lagi orang yang hanya diam ketika ditindas, tapi...


Itu membuat orang yang terbiasa dengan sikap baiknya menjadi khawatir, terutama Alex.


"Sialan, aku hanya tidak ingin orang lain melihat dirimu yang menyedihkan," elak Kiara, raut wajahnya tak bisa membohongi, ia tidak jujur dengan ucapannya.


Neira menghembuskan nafasnya pelan, "Begitu? baiklah, kenapa tidak mencari tempat yang sepi saja, bagaimana kalau atap sekolah?"


Tanpa meminta persetujuan, ia berjalan lebih dulu, tentu menuju atap sekolah seperti yang ia bicarakan.


Entah apa yang dipikirkan Kiara, namun kali ini ia menurut pada Neira. Jujur saja setelah kejadian kemarin, rasa takut sedikit menyeruak ke dalam hatinya.


"Cih," decihan kecil dari mulut perempuan yang kini tinggal sendiri di kelas, ia menatap kedua orang yang berjalan itu dengan tatapan misterius.


...************...


Atap sekolah.


"Kita sudah disini sekarang, lakukanlah sesukamu," ujar Neira datar, ia sedikit merentangkan kedua tangannya, mempersilahkan dua orang itu untuk menyakitinya.


Kiara dan Jessi malah terdiam, ia bingung dengan sikap gadis itu hari ini. Sangat berbeda dengan lima hari yang lalu. Sangat membuatnya tidak nyaman.


"Dengan mempersilahkan ku untuk menyakitimu, maka sama saja kau telah menyerahkan hidupmu pada ku," balas Kiara dingin.


Permainan seperti sama sekali tidak membuatnya senang, ia ingin seperti biasanya saja, "Tapi, aku tidak akan membuang kesempatan."


"Kau benar-benar orang yang tidak pernah belajar dari kesalahan, bagaimana bisa kau membenci seseorang yang bahkan tidak pernah mengusik mu?"


Terdiam sejenak menghadapi pertanyaan Neira, membuat Kiara sedikit tersentak dengan kalimatnya, "Siapa peduli?! aku sangat membencimu!!!"


Neira memalingkan wajahnya, entah apa yang dipikirkan gadis bodoh itu, "Kalau kau memang membenciku, seharusnya bunuh saja aku."


Mendengar kalimat yang sangat berani dari mulut Neira membuat Kiara dan Jessi terbebelalak, "Mana mungkin..."


Meskipun dirinya selalu menyakiti orang lain, namun ia tidak pernah berpikir untuk membunuhnya. Tidak akan pernah!


"Heh, kau berani menyakiti seseorang dan menghancurkan semua kebahagiaannya, tapi tidak berani untuk membunuhnya? apa kau bodoh?"


Jessi yang melihat Kiara hanya terdiam pun menjadi geram, "Jadi kau ingin mati? aku pikir tidak ada salahnya untuk membunuh orang lain."


"Cih," Neira memalingkan wajahnya dari gadis itu, ia hanya ingin berbicara pada Kiara, "Aku tidak ada urusan denganmu."


Perempuan yang sempat mengancam Neira hanya bisa menatapnya tak percaya, "Kau!!!"


"Kiara, apa kau tidak tau jika apa yang kau lakukan telah membuat orang lain berharap mati? itu yang aku rasakan!"


Kali ini Neira berani mengatakan semuanya kepada gadis yang selalu mengintimidasinya. Tak lebih hanya untuk pelampiasan sebelum ia mengakhirinya.


"Kau menghancurkan kehidupan orang lain! kau menghancurkan semuanya! kau lebih jahat dari pada pembunuh! bahkan kejahatanmu itu lebih kejam!"


"Apa kau tidak tau seberapa besar perjuangan seseorang yang menghadapi dunia ini dengan mati-matian, kau tidak tau?!"


Neira tidak terkendali, ia mengeluarkan semuanya, ia ingin mencurahkan semua perasaanya, terlebih pada gadis itu. Namun, air matanya juga hilang kendali.


"Kau tidak akan pernah tau apa yang aku rasakan selama ini..." lancangnya air mata yang mengalir di pipinya, sangat memilukan.


"Setiap kata yang kau ucapkan, setiap perbuatan yang kau lakukan, satu kalimat saja mampu menghancurkan mimpi-mimpiku selama ini!"


"Ah, rasanya aku ingin sekali pergi, aku ingin beristirahat, aku sudah lelah, aku sudah tidak peduli lagi."


Dengan melemahkan nada pada kalimat terakhirnya, ia benar-benar kehilangan harapan. Tak ada lagi mimpi yang harus ia perjuangkan.


Kakinya melemah, Kiara terduduk dengan menunduk, tatapan matanya kosong, "Apa yang telah aku lakukan selama ini?"


Monolognya pada hati yang telah lama mati.


Jessi menatap Kiara kesal, apa yang gadis itu lakukan? apa maksudnya dengan semua ini, "Kiara, kau tidak bersalah, kau hanya membencinya karena telah merebut Alex!"


Sentakan Jessi membuat Kiara menatap wajahnya. Ia yang melihat sahabatnya itu bertatapan kosong membuat dirinya termenung, "Tidak mungkin..."


"Benar juga... yang ku lakukan hanyalah membencimu dan mengancam mu agar kau tidak bisa dekat dengan Alex," ucapnya dengan suara lemah.


Tak ada lagi nada kejahatan di dalam kalimatnya, hanya ada penyesalan yang dalam di sana.


Neira berjalan menuju tepi atap yang hanya dibatasi dengan besi yang tidak terlalu tinggi, "Kau ingin aku menjauhi Alex bukan?"


"KAU TIDAK INGIN ADA YANG MENGGANGGU MU BUKAN?"


"Apa yang kau lakukan?" Kiara menatap Neira yang sedang merentangkan tangannya dan membelakangi dirinya. Tidak bisa dipercaya.


"Tidak, jangan lakukan itu!" mohon Kiara kepadanya.


Terlambat, kata-kata sudah tidak bisa menghentikannya apalagi menyembuhkannya, "AKU AKAN PERGI SELAMA-LAMANYA!"


"SETELAH INI TIDAK ADA LAGI YANG MENGGANGGUMU, TAK ADA LAGI YANG MENGUSIK HARI-HARIMU, HINGGA AKHIRNYA KAU HIDUP DALAM PENYESALAN."


Kiara menatapnya dengan sendu dan memelas, ia memegang kepalanya, kalimat dari Neira selalu berhasil menusuknya, "Tolong, hentikan!"


"INI ADALAH BALASANMU! AKU MEMBENCIMU, AKU MEMBENCI KALIAN SEMUA, DAN AKU MEMBENCI... dunia ini."


Jadi... ini adalah akhir yang akan diciptakan Neira? jadi inilah akhir yang selalu disebut Neira? inikah maksudnya mengakhiri?


"Aku sudah lelah, maafkan aku tuhan..."


Sebelum akhirnya ia memejamkan mata dengan penuh penyesalan, ia bersiap terjun bebas dari lantai ke tiga ini. Sekarang juga ia akan membuang semuanya.


Kiara dan Jessi nampak sangat menyesal, mereka tak berdaya dihadapkan semua yang terjadi secara mendadak ini. Mereka bersalah! ya, mereka menyesal!


"NEIRA TOLONG HENTIKAN!" teriak Kiara dengan keras.


Gadis yang berniat mengakhiri hidupnya hendak terjun ke bawah sana, namun...


'Grep'


Siapa? siapa yang tiba-tiba memelukanya? siapa yang menariknya kebelakang? apa maksudnya? apa orang itu tidak ingin penderitaannya lenyap?


"Sudah ku bilang jika terjadi sesuatu padamu segera hubungi aku," suara lembut yang sangat ia kenali. Suara yang tidak pernah mengintimidasi.


Gadis itu membeku, ia menunduk tanpa suara, memegang lengan yang kini melingkari dirinya.


"Alex?" di saat-saat terakhirnya lelaki itu datang. Kenapa? ia hanya ingin mengakhirinya.


"Eum," untuk saja ia tepat waktu, untung saja. Jika tidak entah dia bisa memaafkan kedua orang yang kini terdiam membeku itu, atau bahkan ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Neira berbalik, ia langsung memeluk tubuh tegap laki-laki itu. Ia menangis, mencurahkan semuanya disana, ia benar-benar bodoh.


Alex menatap ke langit, bersyukur ia tidak terlambat. Tangannya tergerak untuk mengusap surai yang tergerai milik Neira. Suara isakan gadis yang kini di dekapnya sangat memilukan.


"Hiks..."