![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
...************...
'Rumah Sakit Jiwa'
Satu tahun yang lalu ada seseorang yang dibawa keluarganya kesini, dimana pada saat itu kedua orang tuanya menangis seakan putus asa dan tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya.
"Tolong dokter, sembuhkan anak saya," pintanya dengan amat sangat ia memohon, karena ia sendiri tidak tau mengapa anaknya bertingkah laku seperti itu.
"Sejak kapan anak anda mengalami gejala ini?" tanya dokter itu yang melihat khawatir kepada anak yang dibawa mereka.
"Saya juga tidak tau dokter, tapi saya baru melihatnya seperti ini dalam beberapa waktu terakhir," jelasnya menatap sedih putra semata wayangnya.
Suami dari wanita itu memeluknya dari samping, memberikan kekuatan untuk wanita itu. Dokter pun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan apa yang terjadi.
"Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter itu yang dapat membuat kedua orang tua itu sedikit bernafas lega.
Namun mereka tidak tau berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyembuhkan anak itu. Karena setelah beberapa kali pemeriksaan, anak tersebut di diagnosa mengidap gangguan...
Skizofrenia.
***********
"Adakah sesuatu yang terjadi?" tanya perawat yang baru masuk dengan senyuman lebarnya, ia menatap tenang Rafael yang tampaknya baru terbangun.
"Mira, kenapa aku ada disini?" tanya Rafael yang kebingungan, ia tidak pernah merasa bahwa dia kesini. Karena dia itu sehat, dia tidak punya penyakit kejiwaan atau apapun.
Mira menatap Rafael terkejut, oh nampaknya sesuatu telah terjadi disini, ia menyamarkan wajahnya dan tersenyum, "Entahlah, aku hanya mengikuti kemanapun tuan ku pergi."
"Bohong, kau pasti mengetahui sesuatu, kan?" tegas Rafael menatap Mira serius. Mira tersenyum, begitu kah? Rafael telah kembali, ya?
Mira Kenisha, adalah seorang asisten yang beralih profesi sementara menjadi perawat disebuah rumah sakit jiwa, hanya karena majikannya sendiri yang 'sakit'.
Mira senang jika Rafael telah kembali dari jebakan imajinasinya sendiri, tapi sepertinya ia kehilangan ingatan selama disini, "Sebaiknya tuan istirahat, aku akan menelfon Tuan Dista dan Nyonya Annaya."
"Kau bisa meneleponnya disini, lagipula ada apa dengan seragam mu itu, dimana jas yang biasa kau pakai?" sindirnya yang membuat Mira merengut kesal.
Kalau bukan karena Rafael, Mira tidak akan melepaskan jasnya dan berubah menjadi perawat disini. Ya ampun, tuannya itu benar-benar merepotkan.
"Aku mengenakan seragam perawat ini juga karena Tuan El," gerutunya pelan. Melihat asisten pribadinya merunut kesal membuatnya menghela nafas.
"Ya ya, mau pakai seragam apapun kau tetaplah Mira, si asisten cerewet," apakah setelah sembuh Rafael menjadi semakin menyebalkan? Mira semakin kesal dengan ejekannya.
Mira adalah sosok ceria, karena sifat itulah yang membuatnya terkesan cerewet. Selain itu, hati perempuan itu sangat tulus dan ia mudah bersimpati kepada siapapun.
"Ya sudahlah, terserah kau saja!" finalnya yang merasa sangat kesal dengan lelaki satu itu. Tapi tunggu... Karena terbiasa dengan bahasa non formal dia tidak sadar mengubah panggilannya.
"Emm- maksudku terserah tuan saja," ralatnya pelan sembari memalingkan wajahnya, nampaknya ia merasa malu.
Rafael menatap Mira karena tersadar bahwa ia tidak memanggilnya dengan sebutan 'tuan'. Sepertinya begitu lebih baik, "Tidak buruk juga jika kau memanggilku tanpa sebutan 'tuan'"
Mira tersenyum kecut, begitu kah? mungkin Rafael merasa tidak apa-apa, tapi apa kata tuan dan nyonya besar nanti?! Huhh memikirkannya saja membuatnya takut.
"Tidak! sebentar lagi Tuan Dista dan Nyonya Annaya akan kesini, Tuan El tau sendiri bagaimana sifat mereka," ujar Mira pelan, memang benar keduanya sangat menakutkan.
Rafael juga masih sedikit takut jika menentang orang tuanya yang sangat keras itu, namun... "Baiklah kalau begitu saat tidak ada mereka kau bisa memanggilku dengan nama."
"Lalu kapan mereka akan membawa anaknya ini pulang?" tanya Rafael menatap keluar jendela, tiba-tiba saja hatinya merasa kosong. Mungkin dia merasa rindu dengan keluarganya.
"Sebentar lagi tuan dan nyonya akan datang, aku sudah mengirimkan pesan," jelas Mira yang juga merasa sepi. Setelah ini ia tidak akan kesini lagi dan akan menjadi asisten Rafael Sankara Dista.
Keduanya akhirnya bisa keluar dari lingkungan menyedihkan itu. Memang dari awal tujuan Mira hanya untuk mengikuti majikannya, hah akhirnya tuannya itu telah sembuh.
"Emm Rafael, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Mira kepada Rafael yang bahkan tidak tau harus menjawabnya dengan apa.
Rafael bahkan tidak tau mengapa dirinya ada disini, dan sudah berapa lama dia terkurung disini. Untung saja asistennya itu sangat setia.
"Entahlah," jawabnya tanpa kejelasan. Mira mengerti kebingungan yang Rafael alami, namun ia harap itu tak berlangsung lama, karena setelah ini adalah waktunya untuk mereka bangkit!
"Baiklah, aku akan bersiap-siap, kau juga harus bersiap, setelah itu akhirnya aku bisa pulang," ujar Mira senang merasa kebebasan akhirnya didepan mata.
Rafael menatap Mira, "Bukan hanya kau yang pulang, aku juga akan pulang."
Mira menatap majikannya dengan senyuman hangat, "Ya!"
Mereka berdua keluar dari ruangan itu bersama-sama. Mira yang akan berganti baju dengan jas nya, begitu pula Rafael yang akan bersiap untuk menyambut kembali dunia luar yang liar.
Kebebasan telah didepan mata, kurungan ini akan membebaskannya, tapi kenapa...? kenapa hatinya merasakan kekosongan? bukankah ini yang ia inginkan? apakah ia melupakan sesuatu?
***********
Perasaan yang ia tekan itu membuat hatinya semakin sakit, namun inilah yang harus ia lakukan, bukan? Meskipun sakit namun jika itu bisa membuat seseorang yang ia sayangi bahagia maka ia akan melakukannya.
"Begitu bukan Rafael? Selamat tinggal."
Imajinasi itu telah menghilang, membawa perasaan yang pernah ada sendirian. Takdir sangat kejam kepadanya. Begitu sakit sampai air matanya terus mengalir.
Takdirnya adalah tak lebih hanya sebagai bayangan, tidak seharusnya ia mencintai makhluk yang nyata sedangkan dia hanyalah sesuatu yang hadir dipikiran seseorang.
Kini saatnya ia menghilang. Karena seperti itulah takdir seorang... bayangan.
**************
Mobil keluarga Dista telah sampai di depan bangunan itu. Kedua orang tua yang tersenyum haru karena anaknya telah sembuh, begitu kah?
"Dengar Rafael, kuharap kau bisa segera mengingat semuanya," ucap Mira setelah termenung memikirkan sesuatu. Rafael tak bergeming dengan ucapannya.
Mira terdiam sejenak menghela nafas panjangnya, "Tapi, jika itu membuatmu terjebak lagi maka sebaiknya kau tidak perlu mengingatnya lagi, selamanya."
Rafael tidak mengerti apa maksud asistennya itu. Namun jika sesuatu itu harus diingat maka, ingatan itu akan kembali kepadanya. Sekarang, sebagian hatinya terasa kosong, dan ia tidak tau alasannya.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu untuk menemui kedua orang tua Rafael. Setelah ini, Mira akan menjadi asisten Rafael, maka ia akan mengabdi lagi pada keluarga Dista.
...*************...
..."Takdirku adalah sebagai bencana, tapi......
...apakah yang tidak nyata tidak diperbolehkan mendapatkan kebahagiaannya sendiri? bukankah ini hanya masalah takdir? andai saja takdirku adalah sebagai manusia."...
...~Bayangan~...
THE END