MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#41, Lari Part 5



"Kenapa dia tidak berangkat lagi ya? padahal sudah lima hari, apa terjadi sesuatu?"


"Entahlah, tapi aku dengar dia terjatuh di toilet dan kepalanya terhantam, mungkin dia masih di rumah sakit."


"Heh apa kalian tidak tau? ada seseorang yang mengatakan kalau itu bukanlah kecelakaan biasa, namun tindakan kekerasan."


Mendengar para gadis di kelas itu yang membicarakan Neira membuat telinga Kiara panas. Sial, banyak yang sudah mencurigai.


"Hah, aku hanya harus menyuruh ayahku untuk membungkam isu itu dan mengalihkan perhatian satu sekolah," gumamnya kesal.


Dibalik kekesalannya, ada rasa takut jika seseorang mengetahui bahwa dia lah yang menyebabkan Neira seperti itu. Namun sudahlah, dia punya kekuasaan.


"Ya itu kebiasaanmu, tenang saja ayahmu pasti bisa membereskannya," ujar Jessi santai sembari memainkan kuku jarinya yang ia rawat.


Gadis yang membuat masalah beberapa hari yang lalu itu hanya diam. Ya, mungkin benar.


...************...


Gadis yang menjadi korban pembullyan hanya berdiam diri dikamar. Sudah berhari-hari ia tidak berangkat sekolah, ia mengabaikan semuanya.


Bahkan, ia tidak pernah membukakan pintu untuk seseorang yang selalu mengetuk pintunya di pagi hari, hingga orang itu pergi.


'Tok' 'Tok' 'Tok'


"Sial, apa dia tidak berangkat sekolah?" gumamnya, baru saja ia memikirkannya orang itu sudah datang kembali, "Tunggu sebentar!"


Neira menutup buku diary yang sedari tadi ia pegang dan ia menuliskan beberapa kalimat di dalamnya, ia berbicara lirih, "Aku akan mengakhirinya."


Gadis itu berdiri dan berjalan keluar untuk membukakan pintu, tepat setelah ia melihat sosok dihadapannya kini, ia tidak heran lagi, "Apa kau tidak sekolah?"


"Aku hanya ingin mengantarkan sarapan untukmu," ujarnya sembari menunjuk dengan lirikan mata kantong plastik yang ia bawa.


Neira menghela nafas lemah, ia sudah mengatakannya waktu lalu agar lelaki itu menjauh darinya, "Kenapa kau selalu datang kesini?"


"Karena kepala mu sedang sakit, aku ingin merawat mu, kenapa kau tidak pernah keluar beberapa hari terakhir? aku mengkhawatirkan dirimu."


Mendengar penjelasan Alex yang sepertinya memang mengkhawatirkannya, tapi jika Kiara dan Jessi mengetahuinya mungkin mereka akan melakukan hal buruk lagi.


'Sudahlah, lagipula aku akan segera mengakhirinya' batinnya.


"Aku hanya ingin sendiri," jawab Neira pada pertanyaan Alex tadi.


Alex semakin yakin jika kejadian beberapa hari yang lalu bukanlah kecelakaan, "Apa yang terjadi padamu waktu itu sampai kepalamu berdarah?"


Gadis itu mengernyit, untuk apa menanyakannya sekarang, sudah pasti sedang menyebar bahwa ia terjatuh di kamar mandi, "Hanya kecelakaan."


Meskipun begitu, sudah pasti banyak kejanggalan. Salah satunya bajunya yang basah, memanglah wajar jika terjatuh di kamar mandi. Namun sedikit mencurigakan.


"Kau serius?" tanya Alex sekali lagi. Ia hanya ingin memastikannya, ia tidak ingin gadis itu terluka lagi.


Jika memang itu hanyalah kecerobohannya, menurutnya tidak apa-apa. Tapi jika itu ulah orang lain, maka ia tidak bisa diam saja.


"Ya, aku hanya terjatuh dan terbentur," ia tersenyum miris. Sekali lagi, siapapun akan lebih percaya pada yang punya kekuasaan.


Bukan percaya, lebih tepatnya patuh dan tunduk dan tak bisa menyangkalnya apalagi membantah.


Alex terdiam, ia tersenyum tipis, apapun itu ia bersyukur karena sekarang Neira sudah baik-baik saja, "Syukurlah kau sudah kembali seperti biasa."


Meskipun menurutnya sikap Neira banyak berubah, tapi ia benar-benar bersyukur.


Sedangkan Neira, ia mengukir senyumannya, sedikit kesedihan terpancar namun tertutupi. Alex sangat baik kepadanya, "Apa kau akan berangkat sekolah?"


Alex mengangguk, "Eum, apa kau mau berangkat bersamaku?"


Mendengar penawaran Alex, Neira pun berpikir sebentar, "Jika kau tidak keberatan menunggu ku."


"Tentu, sekarang kau bersiap-siaplah, aku akan menunggumu disini," ujar Alex yang langsung di patuhi Neira.


...************...


"Neira."


Panggilan dengan nada berbeda dari Alex membuatnya menatap Alex miring, "Ada apa?"


Mereka hampir sampai ke kelas masing-masing, "Jika ada sesuatu tolong segera hubungi aku."


Mendengar ucapan Alex membuat Neira sedikit mematung, namun sedetik kemudian ia tersenyum tulus, "Eum pasti."


Alex tersenyum, ia menyentuh ujung kepala gadis itu dengan lembut, "Baiklah, aku akan ke kelas, kau hati-hati."


Neira menatap punggung lelaki yang baru saja melenggang pergi itu, senyum tulusnya menjadi senyum sendu, "Kuharap kau bisa memaafkan ku, nanti."


Neira pun berjalan menuju kelasnya sendiri, berbeda dari biasanya ia memasang wajah datar dan dingin, bersiap menghadapi semuanya.


Semua murid dikelas itu menatap Neira kaget saat ia memasuki kelasnya, tak ada yang menyangka selama beberapa hari ia akan kembali ke sekolah.


"Neira, apa kau baik-baik saja?"


"Bagaimana kabarmu?"


"Apa yang terjadi padamu waktu itu?"


"Syukurlah kau akhirnya kembali ke sekolah."


Banyak pertanyaan yang kini menyerangnya satu persatu, ia hanya membalasnya dengan senyum tipis, "Aku sudah baik-baik saja."


Mereka menyadarinya, keterdiaman mereka adalah bukti bahwa ada yang berbeda dari sikap Neira.


"Heh gadis kampung, jadi kau sudah sembuh ya? sebenarnya apa yang terjadi padamu?" dengan nada kasar Kiara bertanya seperti itu.


Neira berdecih lirih, ia pun tersenyum miring, "Bukankah kau tau bahwa itu hanyalah kecelakaan?"


Kiara mendelik, gertakan! itu gertakan! "Apa maksudmu?!"


Semua siswa dikelas itu menatap Kiara dengan bingung, pasalnya mengapa gadis itu marah dan membentak Neira.


"Loh? ada apa? kenapa kau bertanya seperti itu? bukankah memang benar kejadian waktu itu hanyalah kecelakaan, iya kan Jessi?"


Gadis yang di panggil oleh Neira pun tergagap, entah kenapa saat seperti ini ia tidak bisa tenang, "Y-ya kau benar."


'Gadis sialan, aku akan membalasnya nanti' batin Jessi.


Kiara memiringkan senyumnya, "Ya, lain kali kau harus berhati-hati, tapi syukurlah kau baik-baik saja."


Neira berjalan menuju bangkunya, bangku bagian belakang, "Tentu, karena jika aku tidak lekas sembuh akan ada orang lain yang kerepotan."


Saat di samping Kiara ia berhenti sejenak, berkata lirih hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya, "Kerepotan karena harus menutupi kejahatannya sendiri."


Ia kembali berjalan, meninggalkan gadis yang mengandalkan kekuasaan itu mematung sembari mengepalkan tangannya, gadis sialan!!!


Neira tersenyum kemenangan, butuh keberanian lebih untuk melakukannya, jadi ia mengapresiasi dirinya sendiri. Awalan yang sangat bagus untuk hari ini.


"Kalian, kenapa masih berdiri, cepat duduk!" perintah guru yang baru saja datang ke kelas itu.


Semuanya terkejut dan segera mematuhi perintah dari sang guru itu.


"Hei bukankah ada yang aneh dengan sikap Kiara dan Jessi?"


"Ya kurasa ada sesuatu yang sangat janggal diantara mereka, entahlah hanya mereka yang tahu."


"Hei sudahlah, sebaiknya kita tidak ikut campur dengan urusan mereka, kalian tahu kan kalau Kiara akan menggunakan kekuasaan ayahnya."


Bisik-bisik murid lain membuat Kiara dan Jessi menjadi semakin marah, salah satu dari mereka ada yang lebih kesal di antara yang lainnya.