MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#39, Lari Part 3



Neira bergegas berangkat sekolah, pagi itu cukup normal menurutnya.


...***********...


Gadis itu pun segera masuk kedalam kelas, namun ia mendadak terdiam membeku saat dirasa serbuk tepung kini mengenai dirinya, "ha-hah?"


"Aduh? sepertinya kau harus membersihkannya, perlu kami bantu?" ujar Kiara yang seolah-olah bersimpati kepada Neira.


Gadis itu hanya diam, ia masih shock dengan tepung yang melumuri tubuhnya. Apa yang terjadi?


"Heh, memang sudah menjadi tugas kita untuk saling membantu, jadi tidak perlu menunggu jawabannya," Jessi tersenyum remeh.


"Oh ya, betul juga katamu, baiklah gadis kampungan saatnya membersihkan dosa-dosa mu," Kiara menyeret Neira dengan kasar.


Gadis itu pun memberontak, namun dia hanya memiliki sedikit keberanian, "To-tolong lepaskan aku."


Gawat! ia memiliki firasat buruk.


"Melepaskanmu? kau tau bukan? seorang Kiara tidak akan pernah melepaskan siapapun yang sudah ada ditangannya!" gertak Kiara yang membuat Neira takut.


Jessi tersenyum sinis melihat gadis yang memberontak dan terus meminta dilepaskan, "Kau seharusnya menyadari posisimu bodoh."


'Brakk'


Tubuh Neira terlempar dengan keras dan menabrak pintu toilet, ia merintih kesakitan, "A-aw."


"A-apa yang kalian inginkan?" tanya Neira takut-takut, ia terduduk lemah dan menundukkan kepalanya tak berani menatap dua orang dihadapannya.


Kiara tertawa, seakan-akan itu adalah pertanyaan yang bodoh, "Haha! kau bertanya apa yang aku inginkan?!"


Sentakan itu membuat Neira semakin ketakutan, jantungnya berdegup kencang, nafasnya tercekat, tubuhnya gemetar karena rasa takut yang menyeruak.


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan pada gadis kampungan ini?" ujar Kiara bertingkah seperti sedang berpikir, sembari dirinya menatap Jessi.


Jessi pun menatap Neira yang terduduk dengan keadaan penuh tepung, "Sepertinya kau harus membersihkan bajunya terlebih dahulu."


Kiara tersenyum lebar, ia melirik bak kecil yang telah disiapkan seseorang untuk dirinya, "Kemarilah Neira sayang, aku akan membersihkan bajumu yang kotor."


'Byurrr'


Tanpa aba-aba Kiara langsung menyiram gadis yang terduduk tak berdaya itu, membuat Neira menahan nafasnya dan terbatuk, "Uhuk... Uhuk!"


"Apa kau tau air ini?" tanya Kiara menyeringai, "Itu air bekas mengepel lantai, karena ada pembersih didalamnya yang akan membuat bajumu bersih."


Jessi memalingkan wajahnya, wajahnya menunjukkan seringai yang sangat merendahkan Neira. Ia tau temannya cukup kejam.


Gadis yang dibully itu mengeluarkan isakan tangis kecil, tangannya mengepal, hatinya hancur kala ia diperlakukan seperti binatang, Dia itu manusia!


"Cukup, tolong semua ini sudah cukup!" sentak Neira menatap tajam keduanya, ia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan memutuskan melawan mereka.


Kiara yang mendengarnya terkejut, tak mengira bahwa orang yang biasanya diam saat diperlakukan seperti itu kini melawan, "Eh, jadi kau menentang ku ya?"


Tatapan Kiara berubah menjadi marah, tanpa sedikitpun rasa simpati ia menendang perut Neira membuat sang empu melotot, sakit!


"Ugh, a-apa yang kau lakukan?" Neira meringkuk dilantai toilet, ia merasakan nyeri diperutnya.


Tampak Jessi yang terkejut dengan tindakan Kiara, namun ia lebih memilih mengikuti permainan temannya, "Bodoh! kau seharusnya tidak membuatnya marah."


"Sejak kapan kau mulai berani padaku hah?!" bentak Kiara, wajahnya yang memerah karena rasa marah. Tak akan ada lagi belas kasihan darinya.


Kiara menarik gadis itu dengan kasar, membuat Neira terpaksa berdiri dengan kaki gemetar, ia memejamkan matanya kuat-kuat.


"Argh, Ap-apa salahku? kenapa kalian terus menggangguku?" butiran sebening kristal yang lembut jatuh dari matanya, hatinya sangat sakit.


Hidup di dunia yang kejam ini memanglah tidak mudah, semua orang menganggap bahwa mayoritas adalah kebenaran yang mutlak, sang minoritas hanya bungkam.


"Cih," sosok pembully itu berdecih, "Kau harus berkaca dan menyadari apa saja kesalahanmu, bodoh! selain itu, apa yang kemarin kau lakukan bersama Alex? Hah!"


Alex? Apa yang Kiara bicarakan? sejurus kemudian Neira menyadari penyebab kemarahan Kiara ini, "Aku hanya sedikit berbincang dengannya."


Mendengar penjelasan dari sosok yang tak berdaya itu membuat Kiara tertawa, "Berbincang? lalu siapa yang bersimpati padamu dan mengajakmu pulang kemarin?!"


Neira terbungkam, apakah ada orang yang melihat mereka berdua kemarin? atau Kiara sendiri yang melihatnya, "Apa ada yang salah dari itu?"


Sang gadis perundung melotot mendengar lontaran dari Neira, tidak salah?! "Apa kau berpikir bahwa tidak ada yang salah?"


Kiara menjeda kalimatnya, "Kalau begitu kau yang salah!!! gadis kampungan apa kau berpikir kau berhak mendapatkan rasa simpati darinya?!"


Apa maksudnya? Neira itu manusia! dia berhak mendapatkan rasa simpati dari siapapun. Meskipun ia tidak suka jika seseorang mengasihani dirinya, tapi...


"Siapapun berhak mendapatkan rasa simpati, terlebih lagi seseorang juga berhak memberikan rasa simpatinya kepada orang lain!" bantahnya.


"Seharusnya kau yang harus berkaca, seseorang tidak berhak mengatur orang lain dalam hal apapun, apalagi kau selalu mengintimidasi ku," lanjut Neira.


Kiara dan Jessi sedikit tersentak dengan kalimat Neira. Namun, bukannya tersadar dengan perbuatannya, keduanya malah semakin menjadi-jadi.


"Kau pikir kau siapa sampai berkata seperti itu?! gadis bodoh kau harus menyadari posisimu!!!" sentak gadis itu marah.


"Cih," sembari berdecih Jessi pun menatap si gadis yang dirundung dengan tatapan tajamnya, "Kau merepotkan sekali!"


"Sudahlah! aku akan segera mengakhirinya!"


Kiara menarik rambut Neira, sedetik kemudian ia mendorong kepala gadis itu ke tembok membuatnya terbentur sangat keras.


Neira tersentak, ia merasakan sesuatu mengalir dari pelipisnya, darah? "Apa yang...?"


Ia merasakan kesadarannya perlahan hilang, matanya terasa sangat layu, ia lelah, ia ingin beristirahat, "Kalian..."


Tanpa bisa melanjutkan kalimatnya, tubuhnya jatuh tersungkur dan ia pun kehilangan kesadaran. Kedua gadis yang merundung tersenyum puas.


Seolah yang dilakukannya adalah hal yang patut dibanggakan, perbuatan tercela seperti itu, bahkan untuk dimaafkan saja tidak cukup!


"Ayo kita kembali," perintah Kiara dengan dingin, ia sudah merasa puas dengan ketidakberdayaan Neira.


Jessi terdiam sebentar, jujur saja ia merasa kasihan dengan gadis yang tidak sadarkan diri itu, namun kembali lagi menurutnya gadis itu yang salah.


"Hah, seharusnya kau tidak menyebabkan masalah."


Mereka berdua keluar dari toilet, tanpa ada rasa bersalah. Perbuatan keduanya padahal sangat menjijikan, bahkan mungkin seperti perbuatan iblis.


"Aku akan membuatnya seolah-olah itu adalah kecelakaan, semuanya pasti akan mempercayaiku, karena pengaruh ayahku," jelas Kiara tanpa perasaan.


Jessi tersenyum simpul, "Itu memang dirimu."


Tidak dapat dipercaya. Mereka berdua benar-benar hina. Lalu bagaimana dengan nasib gadis yang kini tergeletak tak sadarkan diri di toilet.


Kalian yang mencelakakan, suatu saat kalian pasti akan mendapatkan akibatnya. Semua perbuatan di dunia ini, baik ataupun buruk, segalanya memiliki karma tersendiri.


Karma bukan hanya tentang hal buruk, terkadang untuk mereka yang bersabar dengan apa yang dihadapinya, itu bisa menjadi balasan yang paling baik.