MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#21, Hilang Part 4




...********...


Liza merengut kesal menghadap seseorang yang ada dihadapannya saat ini, ia sedang kesal dengan keduanya jadi maaf saja. Sedangkan lelaki itu tersenyum meringis.


"Maaf Liza, dia memang orang yang berhati dingin, tapi aku yakin dia punya maksud lain," ujar Riel merasa bersalah atas perlakuan sahabatnya.


Liza terdiam, kemudian menghela nafas. Ya, dia hanya marah kepada yang satunya, bukan kepada Riel, "Aku tidak marah kepadamu, aku hanya kesal dengannya."


"Sebenarnya dia yang dulu bukanlah sosok yang kejam dan berhati dingin," ujar Riel menunduk sedih mengingat masa lalu mereka yang telah dilewati bersama.


Liza menatap Riel tidak mengerti, padahal orang itu memang terlihat kejam dan menyeramkan, "Apa maksudmu?"


Riel menghela nafas panjang, "Yah meskipun dia telah berubah cukup lama, namun dia yang dulu bukanlah dia yang seperti sekarang ini."


Nampaknya gadis yang duduk dihadapan Riel itu masih tidak mengerti, "Kalau tidak keberatan kau bisa menceritakannya, aku akan mendengarkan."


Riel menghela nafas panjangnya, ia memasang raut sedih yang mengundang prihatin, "Itu semua terjadi sekitar seratus tahun yang lalu."


Mendengar kata ratusan tahun membuat Liza tidak terkejut, ia pun sama, mereka yang istimewa mendapatkan hidup yang lebih panjang dari manusia biasa, "Lalu?"


"Saat itu ia membuang seseorang yang sangat ia sayangi," pernyataan itu membuat Liza terkejut dan termenung.


Bagaimana tidak? lelaki itu dahulunya memiliki seseorang yang di cintai. Ditambah lagi ternyata ia membuangnya? apa maksud dari semua ini?


"'Membuang'?" Liza tidak paham dengan semua ini.


Riel mengangguk dan tersenyum pahit, "Ya, karena alasan tertentu ia harus meninggalkan perempuan itu, hingga akhirnya Zylan menjadi seperti ini."


"Zylan?" gumam Liza pelan, oh jadi namanya Zylan, ya? pikirnya didalam hati.


"Nona kucing, jangan-jangan kau baru mengetahui namanya," tebak Riel dengan senyum mengejek.


Liza tergagap dan berusaha mengelaknya, ia memalingkan wajahnya, "Ti-tidak aku sudah mengetahuinya dari awal."


"Oh, benarkah?" goda lelaki penyihir dengan menaikkan kedua alisnya. Liza menutupi rasa malunya dengan ekspresi kesal.


"Y-ya begitulah... tapi dari pada itu aku merasa tidak asing dengan ceritanya," Liza mengalihkan pembicaraan dengan sebuah fakta yang ia rasakan.


Liza merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak kedalam hatinya, rasanya cerita itu sangat tidak aneh baginya.


"Hmm, benarkah?" tanya Riel dengan nada misterius.


"Ya, sepertinya aku pernah mendengarnya," jelas Liza, namun ia tetap tidak bisa mengingatnya. Semakin ia mencoba mengingat kepalanya semakin sakit.


Riel yang menyadarinya menjadi khawatir dengan gadis itu, "Kau tidak apa-apa Liza?"


Liza memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, ia memejamkan matanya, "Aku baik-baik saja."


Riel menyadari ada yang salah dengan gadis itu, ia menatapnya lekat dan mengepalkan tangannya.


"Eh?" Riel terkejut merasakan hawa keberadaan seseorang yang ia kenal. Liza menatapnya tidak mengerti.


Riel menatap ke pintu, Liza yang tidak mengerti apa-apa juga ikut menatapnya. Dan dalam hitungan pintu rumah Liza pun...


'Brakkk!'


Rusak.


...*************...


"Apa yang kau lakukan bodoh?!" Liza benar-benar kesal dengan orang yang mendobrak pintunya. Lihatlah sekarang pintunya rusak.


Zylan hanya bergeming. Dan hal tersebut membuat Liza semakin kesal, ia akan mengutuk lelaki dingin itu nanti, ingat itu!


Sedangkan gadis itu masih mengomel, "... kau ini menyebalkan..."


"Kemarilah," perintah Zylan, masih dengan nada yang tidak dapat dibantah. Sementara gadis yang baru saja mengomel kini terdiam dan bertanya dengan alis mengkerut.


"Apa?" pertanyaan tersebut membuat Zylan menatap tajam Liza. Liza yang tidak mau terkena amukan ia pun hanya bisa menurut.


Liza mendekat dengan waspada, namun pria tidak sabaran itu langsung menarik tangannya dan Liza pun terduduk dihadapan Zylan.


Liza terkejut namun ia hanya bisa memerhatikan apa yang dilakukan pria yang duduk didepannya, "Apa yang kau lakukan?"


Zylan tak menjawab, ia melihat luka-luka yang ada di tubuh Liza. Zylan mengambil obat lalu mengoleskannya ke tangan gadis itu, "Aw!"


Liza sedikit meringis. Karena ia tidak ingin kembali dicap lemah untuk yang kedua kalinya oleh orang yang saat ini mengobatinya maka ia akan diam dan menahan rasa sakitnya.


"Maaf"


Lirihan yang hampir tidak terdengar itu membuat Liza termangu. Hah? apa dia tidak salah dengar? pria dingin yang sedang di hadapannya saat ini mengucapkan kata maaf?!


"Kau bilang apa tadi?" Liza ingin mendengarkan kata itu sekali lagi, siapa tau dia hanya salah dengar.


Pria itu tampak tersipu malu, namun ia pandai menyembunyikannya, "Tidak ada"


Liza memiringkan kepalanya dan bertanya sekali lagi kepada pria yang kini bertingkah biasa saja, "Bukankah kau tadi berkata 'maaf'?"


"Ehem," pria itu berdehem dan memasang raut kesal, meskipun raut itu terlihat sangat tipis diwajahnya, "Kalau sudah tau kenapa harus bertanya?"


"Pfftt," Liza menahan tawanya, hah jadi benar pria itu mengucapkan kata maaf? astaga ternyata Zylan yang berhati dingin masih mempunyai hati.


Zylan yang melihat Liza menahan tawanya kini menatapnya datar, "Tertawa saja kalau mau."


"Haha! tidak ku sangka ternyata pria dingin seperti dirimu masih mempunyai hati" tawa Liza puas.


Zylan hanya mendengus dan sembari membersihkan kotak obat. Ia memperhatikan Liza yang telah meredakan tawanya, "Sudah puas?"


"Ahaha sudah, tapi tetap saja aku masih kesal denganmu," ujar Liza yang mengusap surainya sendiri dan memperhatikannya yang telah menjadi pendek.


"Bahkan kau bisa memperpanjangnya lagi dengan sihir" sahut Zylan enteng. Namun itu malah yang membuat Liza terdiam.


Liza yang tadinya ceria kini berubah menjadi sosok yang tenang, entah itu tenang yang sebenarnya atau hanya sekedar untuk menutupi.


"Tidak semudah itu, kemampuanku semakin melemah, dan mungkin hampir mencapai batasnya" Liza tersenyum simpul dan termenung.


Hal itu membuat Zylan berpikir, bagaimana bisa? gadis itu bukanlah roh sembarang yang lemah.


*************


Malamnya dua orang lelaki itu kini berada di ruang tamu rumah milik Liza, ini semua karena Zylan, "Ini semua karena kau, kenapa kau hancurkan pintunya!"


Sementara sang empu yang disalahkan hanya diam tanpa menjawab omelan sahabatnya, "Riel, dia itu...?"


Riel menampilkan senyum misteriusnya saat mendengar pertanyaan itu, "Kau sudah menyadarinya, kan?


"Tidak aku belum yakin," ucapnya dengan dingin. Riel menghela nafasnya, memang bukti belum semuanya terlihat, namun fakta-fakta perlahan mulai terbuka.


"Dia mungkin saja mengalami hilang ingatan, dan aku belum bisa memastikan penyebabnya," jelas Riel dengan serius.


Zylan terlihat bimbang dengan hal itu, ia tidak bisa memastikan apakah semuanya benar atau salah.


"Karena kita sedang dirumahnya kenapa kau tidak mengeceknya sendiri?" ucap Riel dengan senyum simpulnya. Zylan menatapnya tajam.


Itu semua semakin mempersulit dirinya. Namun ia juga tidak ingin gadis itu kenapa-kenapa. Entahlah, dia tidak tau apa yang harus dilakukan.