![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
Anahira yang terkejut dengan suara teriakan Eva pun menatap teman-nya dengan aneh. Ternyata ada sesuatu yang datang dan sayang sekali Ia tidak bisa menghindarinya.
'Srakkk'
Goresan pisau sedikit melukai punggungnya, yang seketika membuat tetesan darah keluar dari sana, Anahira menjerit kesakitan, "Arghhhh."
Anahira memejamkan matanya kuat-kuat, ia menahan rasa sakit yang baru saja menyerangnya, perih terasa dari lukanya.
"HAHAHA kalian tidak akan selamat, aku benci seseorang yang taat kepada tuhan," iblis tersebut mengintimidasi.
Anahira berdecih keras, Ia lebih benci kepada iblis yang tidak mempercayai tuhan. Padahal sudah jelas bahwa Tuhan-lah yang menciptakannya, dan iblis masih berani menentang Tuhan?!
"Aku lebih membencimu!" Seruan Ana menggema diruangan tersebut. Evangeline dan Gelya menatap Ana dengan pandangan khawatir.
'Krekk... Krekk'
Makhluk itu kembali mengeluarkan suara-suara aneh yang menjadi ciri khasnya. Makhluk yang merangkak dan merasuki seseorang itu terlihat sangat menjijikan sekaligus menakutkan.
"Ana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Evangeline khawatir, ia kini mencoba berdiri bersama Gelya, mau tidak mau mereka harus melawan sesuatu yang ada dihadapan mereka saat ini.
Anahira menganggukan kepalanya, "Tenang saja, aku tidak apa-apa."
"Ana apa yang harus kita lakukan?" Ujar Gelya yang merasa sangat putus asa, ia tidak tau lagi apa yang akan terjadi, akankah takdir mereka hanya sampai sini?.
Belum sempat Anahira menjawab ia dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan kelas... Malvin.
Anahira semakin bingung, mereka kini dalam keadaan sangat terdesak. Malvin menatap Anahira dengan smirk, tidak itu adalah senyum dari makhluk yang memasukinya "Ana, kemarilah bermain bersamaku."
Bulu kuduk Anahira berdiri ketika mendengar suara Malvin yang sangat berat, begitu pula dengan nadanya yang menusuk.
Anahira menatap kedua temannya, begitu pula dengan Evangeline dan Gelya yang membalas tatapan Anahira, mereka seakan sedang memikirkan rencana, "Eva, Gelya, kalian lawanlah makhluk bodoh itu, aku akan mengurus yang satunya."
Begitulah rencana yang diberikan Anahira. Evangeline dan Gelya mengangguk mengerti, mereka berlari ke arah belakang untuk memancing iblis yang sedari tadi mengganggu mereka.
"Kemarilah wahai iblis bodoh," meskipun langkah kaki mereka kini tertatih, namun mereka tidak akan menyerah untuk melawan.
Sedangan Anahira, ia berusaha mendekat ke arah Malvin, dengan raut wajah yang menahan rintihan karena luka yang cukup dalam di punggungnya.
"Malvin, sadarlah!" Tegur Anahira keras. Namun sayang Malvin tidak akan sadar begitu saja.
Malvin justru memberikan tatapan membara, seakan-akan Anahira adalah mangsanya. Dan ia tidak akan membiarkan Anahira lari darinya.
Kuku-kuku Malvin tiba-tiba memanjang, sungguh iblis yang merasukinya sangat kuat hingga sampai bisa memberikan perubahan wujud pada Malvin, "Ana, aku tidak akan melepaskanmu."
'Srekkk'
Dengan gerakan yang sangat cepat Malvin tiba-tiba sudah berada dihadapan Ana, kedua tangannya mencengkeram lengan Anahira dengan kencang, hingga kuku-kuku tajamnya melukai lengan Ana.
"Malvin sadarlah! Dan lepaskan aku!" Anahira meronta, ia merasakan kulit lengannya seakan tersobek, kini seragamnya sudah tidak berbentuk dengan di beberapa bagiannya robek.
Punggung Anahira juga semakin sakit, tapi ia yakin ia bisa bertahan sampai akhir, itulah alasan kenapa ia bisa melawan semua yang terjadi.
"Hahaha!" Tawa Malvin menggema, ia menatap puas Anahira yang kini penuh luka, ia semakin gencar untuk menyiksa gadis berambut pirang itu.
Ingat saja itu sebenarnya bukan salah Malvin, melainkan perbuatan dari makhluk yang merasukinya.
Kini ditangan Malvin telah tersedia pisau tajam, entah darimana ia bisa mendapatkannya benda tajam itu. Raut wajah Anahira berubah menjadi panik, ia semakin meronta, "Malvin lepaskan!"
Makhluk yang ada didalam tubuh Malvin itu merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, itu membuatnya marah, "Apa yang kau lakukan bodoh?!"
"Arghhh," Makhluk tersebut meronta, sayang sekali Ia tidak bisa mengendalikan Malvin lebih lama lagi, dan Makhluk tersebut pun melakukan sesuatu yang tidak terduga....
'Srekkk'
Pisau tersebut menusuk Anahira, hingga cairan merah pun keluar dari sana, Anahira melemah dalam hati ia masih merapalkan doa-doa.
'Sringg'
Malvin menjatuhkan pisau yang telah melukai Ana itu kelantai, tatapan matanya telah berubah, ia menjadi terkejut dengan keadaan kacau yang sedang berlangsung ini, "Ana!"
Anahira terjatuh diatas Malvin. Malvin yang masih dalam keadaan s**hock itu kini terduduk bersandar di dinding kelas, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tatapan mata Malvin menjadi penuh kebimbangan, ia sangat ketakutan dengan kejadian ini, apalagi saat melihat keadaan Anahira yang penuh darah, "Tenanglah Malvin"
Anahira masih memiliki sisa-sisa tenaga untuk menjawab, meskipun suara yang ia keluarkan terdengar sangat lirih. Tangan kanannya menutupi luka perutnya, ia berharap darah berhenti mengalir.
Tangan Malvin yang penuh darah itu kini menutup wajahnya, ia sangat ketakutan. Malvin menatap Anahira yang terbaring diatas dada bidangnya.
Kini tangan Malvin mengusap kulit pipi yang memucat itu. Nafasnya tercekat, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, sungguh, "Ana kau baik-baik saja?"
Seharusnya Malvin tak perlu menanyakan itu, ia sudah mengetahui keadaan Anahira yang cukup parah dengan banyak bercak darah.
Kini tinggal Evangeline dan Gelya yang masih berusaha melawan makhluk yang satunya, "Pergilah kau sejauh-jauhnya dan jangan pernah kembali lagi!"
Evangeline dan Gelya membacakan doa untuk iblis Itu, berbeda dengan tadi kini doa tersebut cukup untuk membuat sang iblis tidak bisa berkutik.
"Argghh cukup!" Iblis tersebut merasa sangat tidak nyaman, dengungan yang terngiang dikepalanya sangatlah mengganggu.
Evangeline dan Gelya semakin yakin untuk melawan iblis itu, mereka berdua memilik keyakinan yang cukup kuat didalam hatinya, "Pergilah dan jangan kembali lagi."
"Argghhh, manusia sialan, ingatlah satu hal, Aku akan selalu ada jika tujuh dosa mematikan masih ada, dan kalian para makhluk hina masih saja bermaksiat"
Iblis tersebut semakin kesakitan, hingga ia menyerah dengan kekuatan doa dari kedua gadis Itu, iblis itu pun akhirnya memilih untuk... menghilang.
Evangeline dan Gelya kini bernafas lega, mereka berdua terduduk lemah dilantai, sungguh hari ini sangat tidak terduga. Mereka tidak percaya sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.
"Dimana Ana?" Tanya Evangeline yang kini mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia mencari gadis tersebut untuk memastikan keadaanya.
"Dia disana," jawab Gelya lirih saat melihat sosok Ana yang bersimbah darah bersama dengan seorang laki-laki yang dalam keadaan lemah.
Mereka mendengar suara kegaduhan dari luar, dan tampaklah beberapa orang yang masuk ke dalam ruang penuh kekacauan itu.
"Bagaimana keadaan kalian semua?" Tampak raut Prof. Gerald yang sangat khawatir.
Bagaimana pun keempat orang itu memiliki pemikiran yang sama yaitu... 'Bantuan yang sangat terlambat, dan mereka tidak membutuhkannya'
Malvin merapihkan rambut Anahira yang berantakan, ia memeriksa denyut nadi gadis Itu, dan untunglah Anahira masih bernafas, ia masih hidup.
Malvin sangat bersyukur, ia memiliki perasaan bersalah yang teramat besar kepada sosok gadis yang kini bersandar di tubuhnya.
THE END.