![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
"Karena kau bodoh, makanya kau penakut," ejek Dicky menanggapi pernyataan Nitta tadi. Nitta langsung memelototi Dicky dan merungut.
"Aku itu pintar, dan jika aku bodoh itu tidak ada hubungannya dengan penakut," balasnya kesal, membuat Dicky terkekeh kecil.
"Tidak ada orang pintar yang merasa dirinya pintar," perkataan Dicky membuat Nitta terdiam dan semakin kesal. Meskipun kenyataannya memang benar seperti itu.
Sementara itu Sheryl hanya terdiam. Percakapan tadi membuatnya malas untuk berkata satu kata pun. Ia sudah malas untuk membahasnya dan ia hanya akan ikut rencana.
Bryan sedari tadi hanya memperhatikan Sheryl. Sheryl bahkan menghindari kontak mata darinya. Mungkin Sheryl hanya sedang ingin diam, pikirnya.
"Dicky, kapan kita melanjutkan menelusuri hutan?" tanya Nitta, sepertinya ia sudah bosan. Bukan bosan, lebih tepatnya ia ingin acara 'menelusuri hutan' ini cepat selesai.
"Benar juga, kita sudah beristirahat lama disini, sebaiknya kita kembali bergegas," sahut Dicky.
Kedua orang yang sedari tadi memperhatikan pun menyetujui. Mereka akhirnya bersiap-siap untuk kembali berjalan. Sesuai rencana mereka akan ke arah barat.
Tanpa mereka sadari, setiap percakapan yang mereka lakukan. Ada sosok yang selalu mengamati mereka dari balik rimbunnya pepohonan yang ada di sana.
Mereka pun memulai melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti karena peristirahat tadi.
"Dicky menurutmu kita akan selesai pada pukul berapa?" Nitta kembali bertanya. Entahlah hanya saja ia menjadi sering bertanya. Ia melakukan itu untuk mengalihkan perhatian dari rasa takutnya.
"Tidak akan lama lagi, kita hanya perlu sampai ke titik barat sekarang, setelah itu jika tidak ada apa-apa kota akan langsung pulang," jelas Dicky santai.
"Lagipula ide siapa untuk menyusuri hutan seluas ini," lirih Nitta kesal, yang ternyata terdengar oleh Dicky.
Dicky pun berdecak, "Diam bodoh, kenapa kau bertambah cerewet, lagipula dari awal aku tidak memaksamu untuk ikut"
Nitta menatap tajam Dicky yang ada disampingnya. Sementara dua orang itu asik berdebat, dua orang lainnya malah diam seribu bahasa.
Si gadis yang bersikap dingin karena ia merasa sudah tidak ada hubungannya lagi dengan ini semua. Dan si lelaki yang diam karena bingung menghadapi situasi seperti ini.
"Sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua," bisik Nitta kepada Dicky yang ada disampingnya.
Dicky menghela nafas jengah, gadis yang ada disampingnya itu baru menyadari ada yang salah dengan sahabatnya, "Apa kau benar-benar bodoh?"
Nitta kembali merengut, apa salahnya? ia kan hanya bertanya seperti itu, "Aku hanya bertanya, kenapa kau malah berkata seperti itu?!"
"Huft, entahlah mungkin mereka hanya kelelahan," jelas Dicky menjawab pertanyaan Nitta tadi dengan sebuah kebohongan.
Jujur saja ia lebih suka jika Nitta memahami situasi dengan sendirinya tanpa dijelaskan orang lain. Tidak hanya untuk Nitta, orang lain pun harus bisa membaca situasi, begitulah menurut Dicky.
Jalur barat yang mereka lalui saat ini cukup sulit, banyak ranting-ranting pohon berserakan dan daun-daun pun banyak yang jatuh, sehingga mereka harus berhati-hati.
'Brukkk'
Nitta terjatuh karena tersandung akar-akar pohon yang merambat ketanah. Kakinya terkena ranting kayu tajam yang membuatnya terluka cukup dalam, ia pun merintih kesakitan, "Aw sakit!"
"Nitta, kau baik-baik saja?" Dicky yang panik langsung memeriksa keadaan Nitta, ternyata luka tersebut luka sobek yang dalam sehingga mengeluarkan banyak darah.
"Dicky sakit... " rintihnya yang kesakitan. Karena rasa sakit itu ia tidak dapat menahan air matanya yang kini menetes.
'hiks' 'hiks'
"Nitta!!!" Sheryl melotot melihat keadaan sahabatnya yang kini terluka, tanpa pikir panjang ia merobek sedikit kain bajunya kemudian melilitkannya ke luka kaki Nitta, membuat sang empu menjerit sakit.
Dicky menatap kasihan kepada gadis itu, ia tidak tega melihatnya berteriak kesakitan, apalagi air matanya mengalir deras, pasti rasanya sangat sakit kan?
"Kuharap dengan kain ini dapat mereda pendarahan di kakimu," ujar Sheryl yang teramat cemas dengan sahabatnya. Ia pun bingung sekarang harus bagaimana, karena mereka masih di dalam hutan.
"Hei Nitta tenanglah," ujar Dicky menenangkan, ia mengusap-usap kepala Nitta, menenangkan gadis yang masih menangis. Ia duduk dihadapan perempuan itu.
'Swusshhh'
Angin kencang tiba-tiba berhembus menerpa mereka, membuat debu dan daun-daun kering berterbangan, mereka pun menutup mata mereka agar aman.
Entah tanpa sengaja atau tidak, Dicky kini mendekap gadis cerewet yang tengah menangis karena luka dikakinya. Nitta pun hanya terdiam, ia tidak tau apa yang harus dilakukan.
'Swushhhh'
Angin berhembus semakin kencang, membuat mereka semakin panik.
"Anginnya kencang sekali!" seru Sheryl yang terus menutup mata dengan kedua lengan yang ia silangkan didepan wajahnya.
"Sheryl kau tetap disitu!" perintah Dicky, karena ia harus melindungi Nitta dan angin kencang ini membuatnya sulit bergerak, sedangkan Sheryl kini sendirian.
Tunggu?! Apa?! Sheryl sendirian?! Lalu dimana Bryan?!
"SHERYL, DIMANA BRYAN?" tanya Dicky dengan berteriak, angin yang sangat kencang ini membuat mereka sulit berkomunikasi secara normal, sial.
Sheryl terkesiap, ia sedikit mengintip dibalik lengannya, dimana Bryan? bukankah tadi ia ada disampingnya, "DICKY, BRYAN TIDAK ADA!"
Seketika itu pula angin kencang yang tadi menerjang berhenti begitu saja. Apa ini? Badai yang berlalu begitu saja, tanpa diundang dan sangat lancang.
"Dicky, Bryan dimana?" tanya Sheryl cemas, ia melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa hanya keadaan yang berantakan karena angin tadi.
"Bukankah tadi Bryan masih disini?" Dicky kalang kabut, ia sangat benci ketika situasi tiba-tiba menjadi runyam seperti ini.
"Kau tunggu disini! aku akan mencari disekitar sini," Sheryl bergegas mencari Bryan di sekitar wilayah yang mereka lewati.
Sedangkan Dicky kini masih menenangkan Nitta yang berada di hadapannya. Ia ingin mencegah Sheryl pergi sendirian, namun ia juga tidak bisa meninggalkan Nitta sendiri disini.
"Apa yang terjadi?" Nitta yang shock tidak dapat berpikir jernih, ini semua terjadi begitu saja. Ia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan terluka seperti ini, lalu sekarang apa?
"Semuanya akan baik-baik saja," balas Dicky lembut, itu hanya kalimat penenang. Dirinya bahkan kini sama cemasnya dengan para sahabatnya.
"Aku takut," lirihnya bergetar, Nitta memang sedari awal sudah sangat takut, ditambah kejadian seperti ini. Membuatnya semakin berpikir yang tidak-tidak.
"Tenanglah, aku ada disini," ujar Dicky yang masih menenangkan sahabat dari Sheryl itu.
Dicky hanya bisa membatin, kenapa Sheryl lama sekali! Jangan membuatnya semakin cemas! ia bahkan hampir tidak dapat berpikir jernih lagi!
"DIKCY, BRYAN TIDAK ADA DISEKITAR SINI!" teriak Sheryl yang telah kembali, ia menjadi semakin kalang kabut dibuatnya.
Dicky pun bingung sekarang harus bagaimana, Sialan!
"BRYAN!!!"
Teriak gadis itu sekencang-kencangnya, tanpa sadar air matanya menetes, ia melihat ke sekelilingnya berharap ada Bryan disini, namun itu hanyalah sebuah harapan yang sirna.
"Jangan membuatku khawatir, tolong," lirihnya bergetar