MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#12, Pemisahan Pikiran Part 1




...**********...


Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, sangat sunyi dan menenangkan, ia bisa membayangkan suasana yang begitu menenangkan saat malam hari.


Namun entah mengapa, dibalik ketenangan malam ada kegelisahan yang tersembunyi dibaliknya, setidaknya itulah yang dipikirkan lelaki yang terbaring lemah dibrankar itu.


'Ceklek'


"Belum tidur? Duh kau ini! kebiasaan burukmu itu harus segera kau akhiri," omel seorang gadis dengan suara imut, ia menghampiri lelaki yang terbaring itu.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya gadis yang merupakan kekasih dari lelaki yang sedari tadi hanya berbaring di brankar.


Cristie, sapaan yang biasa digunakan saat memanggil gadis itu. Ia kini duduk di samping brankar Rafael.


Rafael, laki-laki itu sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Cristie, kekasihnya itu yang datang disetiap malam, "Eum, aku sudah cukup baik."


Cristie tersenyum mendengar hal baik itu, "Syukurlah! kuharap kau bisa lekas sembuh dan keluar dari sini."


"Apa kau hari ini sibuk lagi?" tanya Rafael yang melihat wajah lelah dari kekasihnya, tangannya terulur untuk mengusap pipinya, "Lagipula kau tidak perlu memaksakan diri untuk kesini setiap malam hari."


Cristie tersenyum, meskipun itu senyum lelah, "Tidak, aku tidak apa-apa, aku pasti akan selalu mengunjungimu meskipun itu malam hari."


Yah, pasangan itu terlihat saling menyayangi satu sama lain. Cristie memang selalu sibuk disiang hari, sehingga dia hanya sempat menjenguk Rafael di malam hari.


"Maafkan aku, andai aku bisa menjengukmu di siang hari." ujar Cristie dengan raut wajah merasa bersalah, saat siang hari Rafael hanya dirawat oleh seorang perawat.


Rafael menggelengkan kepalanya pelan, bahkan dimalam hari pun ia merasa tidak apa-apa selagi ada kekasihnya, "Tidak apa-apa, aku sudah merasa senang karena kau kesini."


Kalimat penenang dari kekasihnya membuat Cristie tak dapat menyembunyikan senyum tulusnya, "Kau memang lelaki yang baik."


"Karena kau lelaki baik, sebaiknya kau tidur sekarang, dan kau harus mengatur jam tidurmu lagi," Cristie memang sangat cerewet, ia sering mengomeli Rafael karena hal-hal kecil.


Namun karena perhatian gadis itu, hal tersebutlah yang membuat Rafael menyayangi perempuan yang sangat tulus, yaitu Cristie.


"Baiklah," Rafael pun pasrah dan memilih menyerah, ia memejamkan matanya dan bersiap ke alam mimpi.


Cristie memandang Rafael yang telah memejamkan mata, dengan kesenduan ia tersenyum memandang lelaki itu. Selalu seperti ini, setiap malam.


...**************...


Pagi hari.


Rafael terbangun dari tidurnya, saat ia melihat ke sekelilingnya tidak ada Cristie disana, ia sudah terbiasa bangun dengan keadaan seperti ini.


'Ceklek'


Seorang perempuan dengan baju perawat memasuki ruangan itu. Ia menyambut pagi hari dengan tersenyum untuk pasien yang ada diruangan, tentu saja Rafael.


Perempuan itu adalah perawat baru disana, meskipun tidak terlalu baru. Karena ia sudah beberapa bulan disini, setidaknya setelah Rafael dirawat disana.


"Pagi tuan Rafael," sapanya dengan senyuman ceria yang mengembang. Seperti biasa ia membawakan makanan untuk Rafael.


Rafael hanya membalas dengan senyum singkat, ia menghela nafas jengah melihat makanan itu, "Eum pagi."


"Bagaimana kabarmu tuan?" tanya perawat tersebut, tangannya yang bergerak menyiapkan sarapan untuk Rafael.


"Baiklah, tuan harus makan dengan teratur agar bisa sembuh," ujar sang perawat tersenyum manis, ia bersiap untuk menyuapi pasien yang ada dihadapannya itu.


Namun tangan Rafael bergerak menghentikan sendok yang ada didepannya, "Tunggu Mira, aku tidak berkata aku ingin makan."


Mira, ya nama perempuan itu adalah Mira. Sesuai dengan kepribadian dirinya, yang sangat ramah dan ceria.


"Ya kalau menunggu tuan berkata ingin makan sampai besok pun tuan tidak akan mengatakannya," sindir Mira ketus, sebagai perawat ia juga sering menyuapi Rafael.


"Baiklah," pasrah Rafael yang dengan berat hati menerima suapan itu. Tentunya ia mengunyah makanan dengan lamban, karena nafsu makannya sangat tidak baik.


Saat jam untuk makan, entah itu pagi siang atau sore, Mira akan menyempatkan diri ke ruangan Rafael dan menyuapinya, karena ia merasa kasihan dengan Rafael.


Lihatlah Rafael sendirian, tidak ada keluarga yang menjenguknya, "Oh ya, apakah kekasih tuan masih sering berkunjung kesini?"


Rafael menatap Mira, maksudnya Cristie bukan? kekasihnya itu selalu kesini, "Ya, dia setiap malam selalu menjengukku, meskipun saat pagi hari ketika bangun ia sudah tidak ada."


Mira terdiam sebentar, wajahnya terlihat aneh. Namun sedetik kemudian ia tersenyum manis, meskipun terlihat sangat tipis senyuman miris.


"Oh begitukah? syukurlah setidaknya tuan tidak sendirian saat malam hari," balasnya seperti semuanya terasa baik-baik saja dan tidak ada yang salah.


"Ngomong-ngomong kau tidak harus memanggilku dengan sebutan 'tuan' karena akupun memanggilmu dengan nama," ucap Rafael yang sedikit risih dengan panggilannya itu.


Mira terkejut dengan perkataan Rafael, bagaimanapun itu tidak sopan mengingat Rafael adalah... Ah sudahlah.


Mira sedikit tidak enak jika harus memanggilnya dengan nama, namun karena Rafael yang mengatakannya jadi ia akan mencoba, "Baiklah jika itu mau tu- emm maksduku baiklah jika itu maumu."


Mira sedikit canggung karena ia sudah terbiasa memanggil pasien yang ada di sana dengan panggilan 'nyonya' ataupun 'tuan'. Mira pun hanya bisa tersenyum canggung.


"Begitu lebih baik," Rafael sedikit tersenyum tipis. Tanpa sadar sedari tadi Mira menyuapinya hingga makanan yang ada di piring itu habis tak tersisa.


"Yeay! akhirnya kau bisa menghabiskan makananmu," seru Mira terkekeh sembari bertepuk tangan, karena biasanya Rafael tidak menghabiskan makanannya.


Rafael menanggapinya dengan senyum tipis. Perawatnya itu memang tidak bisa diam, tingkahnya yang riang itu pasti mengundang kebahagiaan bagi orang-orang disampingnya.


"Kau ini, bukan berarti aku belum pernah memakan habis makananku," ketus Rafael yang berpura-pura kesal, hal itu malah mengundang tawa untuk Mira.


Tawa keduanya bersahutan di ruangan itu. Mira memperhatikan wajah Rafael yang sedang tertawa, ia baru pernah melihatnya, tawa indah itu seakan-akan tidak ada beban.


"Baiklah mulai besok aku akan memberikanmu makanan dua kali lipat," ucap Mira setelah meredakan tawanya, ia tersenyum lebar dan mengangkat dua jarinya, "Bercanda, deh."


Rafael merasa senang karena hiburan dipagi hari ini, andai saja perempuan yang menghiburnya itu adalah Cristie, pasti ia akan lebih bahagia.


Yah, mungkin saja sekarang Cristie sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tenang saja mereka akan bertemu nanti malam, mungkin.


"Ada apa tuan- eh Rafael?" tanya Mira yang melihat Rafael terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak ada," jawab Rafael tenang. Rafael mengerti dengan kekasihnya yang sibuk, jadi ia tidak akan mempermasalahkan jika Cristie hanya menjenguk dimalam hari.


"Baiklah kalau begitu," Mira memberi minum untuk Rafael, yang diterima dengan senang hati oleh sang penerima.


Mira pun segera membersihkan piring dan gelas kotor tadi, baiklah karena pagi ini tugasnya dengan Rafael telah selesai maka ia akan pergi dari ruangan itu.


"Sampai jumpa di jam makan selanjutnya, dah," salamnya sengan senyum andalan, ia melambaikan tangannya sembari berjalan keluar ruangan dan mendorong rak makanan.


"Dah."