MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#10, The School (Ending)




...*************...


Mereka semua kini tengah beristirahat di rumah Dicky. Ditemani nenek Noe yang siap mendengarkan cerita mereka.


"Lalu apa yang kalian temukan?" tanya nenek itu dengan penuh rasa penasaran. Sementara itu, mereka bingung harus berkata apa.


"Kami tidak menemukan apa-apa, tapi sepertinya Bryan menemukan sesuatu," jelas Dicky yang menatap sahabatnya, memberi isyarat untuk menceritakan semuanya.


Yah, bahkan jika ia disuruh menjelaskan pun ia bingung harus memulai dari mana, merepotkan, "Apa yang ingin nenek ketahui?"


"Kebenaran dibalik rumor tersebut," jawab nenek Noe dengan sungguh, ia benar-benar ingin mengetahui tentang kebenarannya.


"Baiklah!" Bryan mencoba menyusun kalimatnya sebaik mungkin agar mudah dipahami, meskipun ia saja belum siap untuk menghadapi apa yang telah terungkap malam tadi.


"Sosok itu memang benar ada dihutan itu, mungkin dia sebenarnya mengikutiku kemanapun," penjelasan awal Bryan membuat teman-temannya beserta nenek Noe kaget.


"Lalu?" Dicky tidak sabar menunggu kelanjutannya, karena ini menyangkut kekasih Bryan yang merupakan sahabat Dicky.


"Dan penyebab kejadian yang memakan nyawanya adalah ulahnya sendiri, dengan kata kasarnya dia bunuh diri," semakin terungkap semakin membuat mereka semua terkejut.


"Tidak mungkin," Nitta berkata lirih, ia sempat diceritakan mengenai kejadian yang memakan korban itu, tak disangka penyebabnya adalah seseorang yang bunuh diri.


"Sejauh mana yang kau ketahui Bryan?" gumam Dicky, ia tau kenyataan-kenyataan yang terungkap pasti membuat lelaki itu sangat terpukul. Ia saja sangat terkejut.


"Lalu janin yang dikandungnya saat itu adalah ulah dari seseorang yang tidak bertanggung jawab, yang jelas bukan diriku."


Untuk penjelasan kali ini, benar-benar mengejutkan semua pendengar yang kini membelalakkan matanya, terutama Dicky.


"Jangan bercanda! kau kekasihnya kan?!" seru Dicky marah, dia melupakan sesuatu jika fakta ini benar pasti hati Bryan sangat hancur, kan?


"Aku tidak tau siapa orangnya, tapi yang jelas bukan aku!" tegas Bryan dengan wajah dingin, untuk menutupi raut sedihnya, tidak apa-apa.


Sheryl, dia hanya diam menunggu fakta satu persatu keluar. Ia yang menurutnya tidak ada hubungannya dengan semua ini saja ikut merasakannya.


"H-hah?" Nitta tak sanggup berkata, entah semua yang dikatan Bryan adalah kebenaran atau hanyalah bualan belaka. Namun dilihat dari wajahnya itu terlihat serius.


Jadi, Bryan merasa terkhianati meskipun kejadian itu adalah ketidaksengajaan? lalu mana yang lebih sakit sekarang antara Sheryl atau Bryan?


"Dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya," penutup dari Bryan membuat semua pendengar menghembuskan nafas kecewa.


Sejujurnya banyak hal yang masih menjadi teka-teki, namun untuk sekarang ini informasi dari Bryan sudah lebih dari cukup.


Mereka sedikit lega setelah mengetahui fakta-fakta dibalik kejadian tragis itu.


"Baiklah, kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan, kan?" tanya Sheryl serius.


Setelah ini ia mungkin akan memutuskan untuk tidak telibat dengan kedua lelaki yang ada dihadapannya ini.


Dicky dan Bryan serempak menatap Sheryl dengan tatapan yang berbeda-beda. Entah kenapa hawa diruang keluarga itu mendadak menjadi dingin, hanya perumpamaan.


"Untuk kedepannya, aku tidak ingin terlibat lagi," jelas Sheryl yang membuat mereka terdiam. Semenjak ia kembali dari hutan, tingkahnya menjadi semakin dingin.


"A-ah kalian silakan berbicara dulu, nenek ingin beristirahat sebentar," ujar nenek Noe yang mengerti situasi. Ia pun meninggalkan mereka semua yang kini saling menatap.


Dicky menatap Sheryl bingung. Sejak awal ia yang bersikeras ingin terlibat, lalu sekarang? ada apa sebenarnya dengan perempuan itu?


"Tunggu Sheryl, setidaknya untuk malam ini kalian bisa beristirahat disini, sembari menunggu luka Nitta sembuh," bujuk Dicky, ia sebenarnya butuh waktu untuk membicarakan ini semua.


"Benar Sheryl, aku tidak bisa pulang dengan kondisi seperti ini," Nitta juga ikut membujuk sahabatnya.


Sheryl menghembuskan nafasnya pasrah, benar apa yang dikatakan Nitta, "Baiklah, hari ini kita bermalam disini."


...~Skip Malam~...


Sheryl duduk di rerumputan halaman rumah Dicky, memandang langit yang penuh bintang, kelap-kelipnya membuat ia membentuk lengkungan senyum indah.


"Apa yang salah denganmu?" tanya seseorang yang tiba-tiba menghampirinya. Seseorang yang paling ingin dia hindari, sial.


"Tidak ada," jawabnya singkat, memalingkan wajahnya kearah lain. Tidak ingin ada kontak mata dengan orang itu.


"Maafkan aku," ujar Bryan dengan perasaan bersalah yang teramat dalam. Ia merasa telah menyakiti hati Sheryl.


"Sudah kubilang tidak perlu meminta maaf karena..." mata keduanya bertemu, membuat Sheryl tak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Karena apa?" Bryan menatap lekat mata Sheryl, mencari jawaban dimata yang tidak pernah berbohong.


"Karena kau tidak bersalah" lanjutnya pelan. Sejujurnya bukan itu yang ingin ia katakan.


'Karena semakin kau merasa bersalah, aku semakin sadar bahwa diriku bukanlah siapa-siapa' Sheryl ingin mengatakannya, namun kalimat itu tidak mau keluar!


Bryan merasa bersalah tanpa alasan apa-apa. di lubuk hati Bryan ia masih mencintai Celine.


Namun tidak dapat dipungkiri perempuan yang bisa membuatnya nyaman dan merasakan kehangatan adalah Sheryl.


"Jangan pernah pergi, lagi," pinta Bryan pelan, karena sebelumnya mereka berdua telah berpisah cukup lama dan tidak pernah bertemu


Yah, lelaki itu adalah lelaki paling egois di dunia ini.


"Untuk apa?... Untuk apa aku tetap disini?" tanya Sheryl tersenyum kecut, 'disini' yang ia maksud adalah disisi Bryan, sesuai yang Bryan inginkan.


"Untuk diriku," jawaban Bryan membuat Sheryl menatap benci lelaki itu, jangan menambah rasa sakit dihatinya!


"Untuk dirimu? Aku untuk dirimu dan kau untuk Celine? seperti itu maksudmu?" sarkas Sheryl yang membuat Bryan tertegun, si lelaki egois.


"Untuk saat ini, aku yakin dengan adanya kau disampingku aku akan segera melupakan Celine," ucapan Bryan membuat hati yang lemah itu semakin tergores.


"Kau bahkan hanya menjadikanku alat untuk melupakan kekasihmu itu," lirih Sheryl dengan hati yang kini telah hancur bertubi-tubi.


"Kau tidak pernah memikirkan ku, sedangkan aku selalu memikirkanmu!!! kau pikir kau siapa bisa bertingkah sejahat itu!!!" seru Sheryl yang sudah muak dengan keegoisan Bryan.


Air mata yang sedari tadi ia bendung itu tak dapat lagi ia tahan, air matanya menetes begitu saja, membuat hatinya terasa sesak.


Tanpa pikir panjang, Bryan mendekap perempuan itu, meskipun Sheryl memberontak ia tetap mendekap Sheryl. Sampai perempuan itu tenang meskipun masih sesenggukan.


"Maafkan aku, kumohon," pinta Bryan dengan sungguh, ia memang sangat egois! ia merasa seperti pecundang yang menyakiti hati wanita.


"Aku lelah, Bryan," lirih Sheryl dengan suara serak, air matanya masih saja mengalir, mungkin hingga hati itu puas. Tangan Bryan terulur mengusap perempuan yang didekapannya.


Dari balik jendela, Dicky dan Nitta menatap keduanya dengan senyum pilu. Dicky tau di posisi Sheryl ia akan merasa sangat tersakiti.


Namun jangan lupakan, Bryan yang ditampar berkali-kali oleh kenyataan, ia pasti membutuhkan seseorang disampingnya.


Dalam keadaan ini keduanya sama-sama tersakiti.


'Maafkan kami, Sheryl.'


Kedua orang yang memperhatikan itu saling menggenggam tangan, andaikan kehangatan itu sampai kehati Sheryl, pasti gadis itu akan merasa tenang.


THE END