MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#38, Lari Part 2



Pagi hari yang menyambut Neira sangat cerah, namun pasti akan berubah menjadi kelabu saat waktu perlahan perjalan.


"Aku ingin membolos."


Namun jika ia menuruti keinginannya sendiri itu akan mengancam beasiswanya. Dia memutuskan untuk bergegas bersiap pergi ke sekolah.


...***********...


"Kemana gadis kampungan itu? apa dia berniat tidak sekolah?" kesal Kiara yang menunggu Neira datang.


Jessi tersenyum menanggapi pertanyaan temannya, "Tunggu saja, dia pasti datang."


Pintu kelas terbuka, menampakkan Neira yang baru datang dengan wajah menunduk dan meremas tali tasnya. Ia kembali merasa diintimidasi.


"Hai kau kampungan, belikan aku makanan di kantin! aku belum makan!" suruh Kiara enteng.


Neira ketakutan, namun dia tidak mau, "A-aku tidak mau."


Kiara melotot mendengar penolakan Neira, ia segera menghampirinya, "Kau berani menentangnya?! HAH!"


Teriakan itu membuat Neira terperanjat. Ia tidak ingin terluka lagi, lebih baik ia menerimanya, "Ti-tidak, a-aku akan membelikannya, mana uangnya?"


Kiara tertawa remeh saat Neira menyodorkan tangannya dan meminta uang, "Pakai uangmu bodoh."


Neira terdiam mendengar ucapan sang penguasa itu. Dia merasa marah, namun dia juga tidak punya keberanian untuk menolaknya.


"Apa? kau tidak mau?!" seru Kiara.


Neira tidak ingin menambah masalah, ia segera menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak, akan ku belikan sekarang."


Kiara tertawa puas saat melihat Neira pergi dengan wajah takut. Ia sangat puas, pagi hari ia sudah bisa melampiaskan semua kekesalannya.


Jessi tersenyum mengejek, pertunjukan yang sangat seru menurutnya.


Tanpa disadari mereka, seorang laki-laki memperhatikan mereka dari jauh, tak seperti biasanya lelaki itu hanya diam tak bergeming.


...************...


Neira kini menunggu pesanannya untuk Kiara, uang sakunya habis untuk membelikan Kiara sarapan, "Aku harus makan apa siang nanti?"


Monolognya penuh nelangsa, menyadari nasib buruk yang selalu menghantuinya. Ia hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi saat ini.


"Silakan pesanannya"


Neira menerima makanan itu dan segera kembali ke kelasnya, ia tidak ingin Kiara memarahinya lagi.


...************...


Kiara yang tengah berbincang-bincang bersama teman-temannya kini menatap Neira yang baru hadir dan membawa kantung plastik.


"I-ini makananmu" Neira menyodorkannya dengan gugup, seperti kebiasannya ia selalu menunduk saat berhadapan dengan orang lain.


Kiara tersenyum mengejek, ia mengambil makanan itu dan langsung mengusir Neira, "Pergi kau gadis kampungan!"


Tak punya moral dan etika, itulah Kiara. Seseorang seharusnya mengucapkan 'terima kasih' setelah dibantu, tapi dia? hah didikan yang buruk.


Neira menghela nafas lelah, seperti inilah rutinitasnya di sekolah. Selalu menjadi pesuruh, hidupnya tak jauh menjadi seseorang yang terbully.


Dengan perasaan tertekan ia menjauh dan duduk di bangkunya. Bersamaan dengan itu bel masuk pun berbunyi.


'Kring' 'Kring'


...***********...


Skip Istirahat.


Kantin sekolah sangat ramai, wajar saja karena hampir selurus siswa sedang di sana untuk makan siang.


'Kruck' 'Kruck'


Hanya ada satu siswi yang kini di kelas yang menahan rasa laparnya, "Aih, Aku lapar sekali."


Wajahnya memelas, namun tak ada siapapun yang akan membantunya Disni, percuma saja. Ia mendaratkan kepalanya ke meja.


"Apakah tidak ada seseorang yang berbaik hati padaku?" harapnya dengan sungguh. Ia hanya bisa memohon kepada Tuhan, siapa tau benar-benar ada orang baik.


'Ceklek'


Suara pintu terbuka, serta langkah kaki yang mendekat. Ia hanya menduga itu adalah salah satu siswa kelas.


Hah? Neira mengedipkan matanya, siapa? Ia mendongakkan kepalanya dan melihat orang yang kini disampingnya, "Alex?"


Lelaki yang dipanggil Alex itu mengangguk, ia kembali menyodorkan roti yang ada di tangannya, "Untukmu."


Neira termangu, ia kebingungan dan tak menyangka ternyata masih ada orang yang menganggap dia ada, "Untukku?"


Ia memastikannya dan lagi-lagi Alex menganggukkan kepalanya, "Iya, kau belum makan bukan?"


Darimana Alex tau bahwa Neira belum makan? entahlah, daripada itu Neira pun menerima roti pemberian Alex, "Terima kasih."


Keduanya diam dalam keadaan canggung, gadis itu belum memakan rotinya sama sekali, bahkan belum membuka bungkusnya.


"Ehm, baiklah kalau begitu aku permisi, jangan lupa makan rotinya" Alex menjentikkan jarinya pelan ke dahi Neira, membuat gadis itu tertegun.


"E-eum," balasnya dengan pipi merona. Tangannya bergerak menyentuh dahinya, mendadak ia menjadi gugup. Alex pun melenggang pergi.


Ada apa dengan Alex hari ini? membuat jantung seorang gadis berdegub lebih cepat dari biasanya, apakah lelaki itu mau bertanggung jawab?!


Tanpa disadari, seorang gadis memperhatikan keduanya dibalik pintu, ia melihatnya dari awal hingga akhir. Ia segera pergi saat Alex mendekati pintu.


"Eh?" Alex terdiam, ia menyadari sesuatu yang mencurigakan di sana. Sudahlah, ia lebih memilih pergi meninggalkan kelas itu.


Gadis yang menuruni anak tangga itu tersenyum miring, kejadian tadi itu sangat menarik, sekaligus membuatnya sangat kesal.


...************...


Pulang sekolah.


Hari kini beranjak gelap, namun Neira masih belum pulang, ia masih harus menyelesaikan laporan harian kelas dan beberapa tugas.


"Huft, sepertinya ku lanjutkan nanti saja."


Ia menoleh ke luar jendela. Langit sore itu berwarna jingga, senja yang terukir di cakrawala sangat menghangatkan hatinya.


Ia segera berkemas memasukkan semua bukunya kedalam tas. Neira pun bangkit dan meninggalkan ruangan kelas. Ia baru menyadari ternyata sekolahan ini sangat sepi.


"Andai saja ketenangan seperti ini bisa kekal." gumamnya.


Neira kini berjalan sendirian keluar gerbang, namun ia dikagetkan seseorang yang tiba-tiba berbicara kepadanya.


"Apa kau sendirian?" laki-laki itu tersenyum tipis menatap Neira, "Kau baru pulang?"


Neira mendapati seseorang itu ternyata Alex, ia mengangguk untuk menanggapi pertanyaan tersebut, "Eum, karena aku harus menyelesaikan beberapa tugas."


"Begitu kah?"


Neira kembali mengangguk, ia berbalik bertanya, "Lalu kau?"


Mereka berdua kini berjalan berdampingan, setidaknya menurut Alex tidak akan ada yang melihat mereka berdua.


"Ya, Aku juga harus menyelesaikan beberapa laporan," jelas Alex. Neira mengangguk mengerti, lagipula memang wajar bahwa Alex sibuk.


Sebagai ketua OSIS pasti lelaki itu disibukkan dengan beberapa hal, "Enaknya... kau pasti bisa menikmati tugasmu bersama teman-temanmu."


Alex terdiam, ia melihat tatapan sedih dari mata gadis itu yang menatap lurus ke depan.


Neira tersadar, ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan, "Ah maaf."


Lelaki itu tersenyum tipis, "Bodoh, untuk apa kau meminta maaf?"


Mendengar itu Neira pun menunduk, ia tidak tau harus menjawab bagaimana.


"Emm, tidak apa-apa."


Alex menyadari gadis itu selalu terpuruk dan tertekan. Bukan lagi menjadi rahasia, gadis itu telah dianggap sebagai seseorang yang dikenal sebagai orang terisolir.


Tetapi, ia ingin gadis itu bangkit, ia yakin bahwa Neira bisa untuk melangkah maju, mungkin gadis itu hanya perlu keberanian.


Alex tersenyum tulus menatap Neira yang terdiam, "Neira, Cerialah."


Neira tertegun melihat senyuman tulus yang tak pernah ia lihat sebelumnya, dan ia terkejut karena baru kali ini ada seseorang yang memanggil namanya dengan suara lembut tanpa membentak.


Melihat Alex yang sangat tulus kepadanya, membuat dia tak bisa menahan senyum bahagia, "Eum, terima kasih."


Sore ini menyenangkan.


Namun, lagi-lagi keduanya tidak menyadari bahwa seseorang melihat mereka dari kejauhan, menatap dengan tatapan kebencian pada si perempuan.