![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
Didunia ini percaya atau tidak 'iblis' bukan lagi hal yang tabu. Banyak sekian orang yang percaya akan kehadirannya, namun tak sedikit pula yang tidak percaya dengan keberadaan 'Iblis'.
Begitu pula dengan Anahira, gadis dengan rambut pirang tersebut mempercayai dengan adanya sosok yang sering menyesatkan manusia dengan cara yang menjijikkan, karena Anahira sering bertemu mereka.
Anahira percaya 'Iblis' selalu ada disamping manusia, apalagi manusia yang sering berbuat 7 dosa besar, ketujuh dosa yang sangat mematikan dengan penebusan dosa yang sangat tidak ringan
"Ana, apa kau sudah siap?" sapa sang gadis dengan mata hazel tersebut kepada Anahira, ia adalah Evangeline.
Mereka bertiga akan berpindah sekolah hari ini. Bertiga? Ya tentu si rambut pirang alias Anahira, lalu Evangeline sang gadis bermata hazel, dan juga Gelya yang ceria.
"Ah rasanya aku sangat tidak sabar di sekolah baru, cepatlah Anahira, kau sangat lama!" seru Gelya seiring lebarnya senyum yang mengembang.
Meskipun begitu, senyum tersebut bukanlah senyum manis, melainkan senyum miring membuat siapa saja yang melihatnya merinding.
"Kudengar sekolah baru kita terkenal sangat berhantu," jelas Evangeline yang kini duduk di kursi menunggu Anahira, sembari memainkan kedua kakinya.
"Justru itulah yang membuatku sangat semangat Eva hihi," tawa kecil Gelya tersebut cukup mengerikan. Namun tidak untuk kedua temannya yang telah lama mengenal Gelya.
Evangeline berdecak kesal, mungkin Gelya masih bisa tertawa sekarang ini tapi nanti? Mungkin tidak akan mudah seperti yang dibayangkan, "Ck, berhentilah mengoceh, kita hanyalah gadis remaja yang diberkahi dengan sedikit keistimewaan."
Gelya yang mendengar teguran Evangeline itu kini merubah raut wajahnya menjadi sedih dengan menekuk wajahnya. Sedangkan Evangeline hanya memutar bola mata malas.
Anahira mengambil tasnya, ia kini telah siap dengan seragam sekolah yang telah melekat ditubuhnya, tak lupa jas hitam sekolahnya yang kini ia kenakan.
"Kita berangkat, Eva, Gelya," ajak Anahira dengan singkat, begitu juga dengan wajahnya yang datar, siapapun didekatnya pasti bisa merasakan aura dingin dari diri Ana.
Evangeline dan Gelya mengangguk, mereka berdua mengikuti Anahira dari belakang.
Mereka bertiga berangkat bersama menggunakan kendaraan roda empat berwarna hitam. Mobil elegan tersebut melaju dijalanan yang sepi, dedaunan yang gugur menutupi jalan kini berterbangan.
"Aku sedikit mencari info tentang sekolah itu, kudengar sudah banyak yang kehilangan nyawa karena ada 'sesuatu' disana" Anahira berniat mengisi kesunyian. Namun yang ia katakan itu sangat serius.
Evangeline yang sedang menikmati perjalanan itu kini menatap Anahira dengan kerutan di dahinya, "Sudahlah Ana, kita hanya akan bersekolah 'normal' disana, tidak melakukan hal lain."
Evangeline kembali menatap keluar jendela, namun Gelya sepertinya tertarik dengan percakapan itu, jadi ia ikut menimpali ucapan Eva, "Tapi Eva, bagaimana jika ada hal yang tidak kita inginkan terjadi?"
"Karena itulah aku ingin kita bersekolah 'normal' disana, dan jangan berbuat macam-macam," jelas Evangeline penuh penekanan, jujur saja 'keistimewaan' yang ia miliki itu sangat mengganggu.
"Berhati-hatilah, jangan sampai ada sesuatu yang buruk terjadi," peringat Anahira serius, ia mempercepat laju mobilnya.
'Brum... brum'
Firasat Anahira berkata akan ada sesuatu yang buruk terjadi, tapi ia harap itu hanya sebuah fikiran yang terselip dan fiktif. Mengingat sekolah baru mereka sangat 'tidak biasa'.
"Baik Ana," sahut keduanya yakin, mereka juga tidak ingin mengambil resiko, bagaimana pun keadaan sekolah mereka nanti, mereka harus bersikap biasa saja, seolah tidak ada yang salah.
Tak berselang lama, mereka telah sampai didepan gerbang besi yang tertutup rapat. Anahira melihat ke sekililing, suram.
'Bip' 'Bip'
Anahira menekan klakson, berharap ada seseorang ataupun penjaga yang akan membukakan pintu untuk mereka.
"Terimakasih," Anahira kembali melajukan mobilnya, ia memakirkan mobilnya di tempat yang telah tersedia disana.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan memandang lekat bangunan suram yang ada dihadapan mereka saat ini. Seharusnya tempat ini 'beraura' biasa saja bagi orang normal, namun tidak bagi mereka bertiga.
"Kalian siap disekolah baru ini?" tanya Anahira memastikan, tatapan mata gray nya tersebut mengintimidasi seluruh penjuru bangunan.
Mereka memulai perjalanan menuju ruangan kepala sekolah, untuk memastikan kelas yang akan mereka dapat nanti.
"Sekolah ini memiliki guru yang religius, seharusnya energi negatif disini tidak terlalu kuat," ucap Evangeline yang masih menatap ke sekitarnya, bulu kuduknya ikut berdiri seakan disana ada 'sesuatu'.
"Apa kau lupa tentang Greed?" Anahira mengatakan itu tanpa menatap Evangeline, ia masih fokus untuk melangkahkan kakinya ke depan.
*Greed yang berarti ketamakan atau keserakahan, salah satu dari Seven Deadly Sins.
"Benar juga, tidak menutup kemungkinan semua yang ada disini adalah pendosa, yang membuat 'sesuatu' itu sangat nyaman disini," jelas Evangeline dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Greed, ketamakan dari manusia yang selalu ingin meminta lebih, pantas saja itu disebut dosa mematikan," sahut Gelya, ia tidak mengerti kenapa manusia selalu meminta lebih.
Padahal tuhan mereka lebih tau apa yang dibutuhkan, namun mereka tidak pernah berterimakasih atas apa yang telah diberikan, sungguh miris sekali.
Tuntunan langkah mereka terhenti didepan pintu sebuah ruangan. Anahira mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali, itu hanya untuk formalitas.
'Tok... Tok... Tok...
"Masuk," suara sahutan dari dalam itu menyuruh ketiga remaja tersebut untuk masuk kedalam ruangan. Mereka pun menurutinya.
Seorang pria dengan rambut yang sedikit memutih, namun itu tidak menutupi ketampanannya. Pria itu terlihat sangat formal.
"Apa kalian murid baru disini?" Tanya Pria tersebut menatap ketiga gadis itu secara bergantian.
Anahira menganggukan kepalanya, ia tidak suka berbasa-basi, "Yes sir, bisakah kau memberi tahukan dimana kelas kami?"
Pria itu menatap Anahira dengan senyum simpul, gadis yang memiliki aura dingin tersebut memikat perhatiannya.
Prof. Gerald melihat berkas yang ada di tangannya, itu adalah data siswa yang didalamnya ada data dari ketiga pelajar tersebut, "Baik, disini tertulis Anahira di kelas D, sedangkan Evangeline dan Gelya dikelas A"
Evangeline melirik Anahira, haruskah mereka berpisah kelas? Lalu jika ada sesuatu yang terjadi bagaimana?
"Maaf Profesor, apa tidak bisa kita satu kelas saja?" Gelya ingin bernegosiasi, hanya untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.
Prof. Gerald menatap ketiganya dengan senyuman, "Sayang sekali kalian harus berbeda kelas, dan keputusan ini tidak bisa dirubah."
Eva dan Gelya berdecak kesal, tidak dengan Anahira yang bersikap tenang, "Baik sir, kami permisi."
Anahira mengajak kedua temannya itu untuk pergi dari sana dan mencari kelas masing-masing. Prof Gerald tidak bisa mengubah arah pandangnya dari gadis tersebut.
Ia sangat istimewa, begitu pula dengan namanya 'Anahira' yang berartikan Malaikat Utama. Seperti yang diyakini, sebuah nama biasanya mencerminkan pemiliknya.
"Kuharap kau bisa mengatasi sesuatu disana," gumam Prof Gerald lirih.