![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
Suasana di ruangan itu semakin tidak kondusif. Ditambah semua orang didalamnya kini ketakutan.
"Kita harus keluar sekarang, cepat!" perintah Andra yang diangguki semuanya.
Namun saat baru melangkahkan satu kaki mereka, pintu tiba-tiba terbuka dan tertutup kencang dengan sendirinya.
"Brak!!!"
Para anak muda pun kini saling pandang. Andra memberanikan diri untuk mengeceknya, ia pun berusaha membuka pintu, namun tidak bisa dibuka.
"Pintu ini tertutup sangat kencang, tidak bisa dibuka." jelas Andra. Keputusasaan tercetak pada wajah mereka semua.
"Pintu itu mungkin masih terkunci," ucap Dessy, ia pun tak tau kenapa pintu itu bisa terbuka dan tertutup dengan sendirinya, tapi yang pasti pintu itu terkunci.
"Dimana kunci pintu ini?" tanya Kevin.
"Di kamar Mama dan Papa," jawab Rendi.
Kedua orangtuanya sudah ketakutan, "Tidak mungkin kita kembali ke kamar itu, sebaiknya kita lewat belakang saja."
Belakang rumah ini adalah hutan, meskipun tidak terlalu luas namun tetap saja ada kehidupan liar. Namun situasi sekarang sangat genting.
"Tidak ada pilihan lain, ayo lewat pintu belakang," putus Andra yakin.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Dessy memastikan.
"Ya, tidak apa-apa," kalimat penenang. Andra sendiri tidak tau apa yang akan terjadi namun tidak ada jalan selain pintu belakang.
Mereka pun berbalik dan berjalan beriringan, lebih tepatnya agak berhimpitan karena mereka semua tengah ketakutan.
Tiba-tiba saja foto yang tertempel di dinding perlahan bergetar. Dessy yang menyadarinya semakin ketakutan, "Apa yang terjadi?!"
'Pyar!' 'Pyar!' 'Pyar!'
Satu persatu foto tersebut jatuh dan pecah. Mereka semakin kalut, Andra mengambil tindakan, "Cepat lari menuju pintu belakang!!!"
Mereka kalang kabut dan langsung berlari dengan berdorong-dorongan. "Hati-hati jangan sampai terjatuh."
Baru saja dinasihati seperti itu, Dessy kini tersungkur ke lantai, "AAA! SAKIT!"
"Dessy, apa kau baik-baik saja?" tanya Mamanya dengan khawatir. Air matanya pun tak bisa ia bendung lagi.
"Ma, Sakit," keluh Dessy dengan air mata mengalir. Mungkin kakinya terkilir, ia tidak bisa menggerakkannya. Padahal hanya terjatuh saja.
Rendi membantu Dessy berdiri dan memapahnya, "Tidak apa-apa, aku akan memapahmu, ayo kita kembali jalan."
Mereka kembali berjalan, kini sudah sampai di dapur dan tinggal beberapa langkah lagi mereka bisa keluar. Tapi...
Piring-piring di sana tiba-tiba terbang dan terbanting tak terarah.
'Pyar!' 'Pyar!' 'Pyar!'
"Hati-hati! Piringnya tidak terarah, pecahannya bisa mengenai kalian," peringat Kevin, ia pun berusaha menghindari pecahan piring yang tersebar dimana-mana.
Andra berhasil membuka pintu belakang, karena tak ada kunci khusus yang digunakan pada pintu tersebut, "Semuanya kemarilah, cepat keluar!"
Mata mereka berbinar, meskipun masih dalam keadaan kepanikan. Namun akhirnya ada jalan keluar.
Mereka berjalan dengan perlahan, berhati-hati dengan pecahan piring. Satu persatu berhasil keluar rumah. Kini tinggal Rendi dan Dessy.
"Kak, kakiku sangat sakit." tangis Dessy kembali pecah. Rendi menatap adiknya dengan sangat cemas.
"Bertahanlah, setelah keluar dari sini kita akan kerumah sakit," ia berusaha menenangkan adiknya. Sang adik perempuan pun mengangguk.
"Cepat Rendi!"
Ia pun mempercepat langkah kakinya. Hingga akhirnya semuanya berhasil keluar. Andra cepat-cepat menutup pintu.
"Kita harus kembali berjalan sampai ke rumah tetangga untuk meminta bantuan," ucap Papa Dessy yang sudah sedikit lega.
Mereka mengangguk dan mengikuti arahan dari orang tua pemilik rumah. Entah apa yang sebenarnya terjadi dirumah itu, masih menjadi misteri.
Untunglah tetangga dekat rumahnya mau menolongnya.
************
Setelah kejadian itu, mereka memutuskan untuk pindah rumah di daerah yang ramai. Masing-masing dari keluarga pemilik rumah memiliki trauma mendalam.
"THE END"