MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#22, Hilang Part 5




...************...


Seorang misterius berjubah gelap menatap lekat seorang gadis yang tengah tertidur itu, namun ia hanya bisa memandang tanpa bisa mendekat.


Sesuatu yang ia cari sudah ia dapat, kini saatnya kembali.


... ************...


Gadis itu menguap pelan dan menyipitkan matanya saat dirasa cahaya matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela kacanya.


Ia segera bangun dari singgasananya, samar-samar ia mendengar teriakan anak kecil yang semakin mendekat, "Kak Liza!"


Oh, Liza lupa bahwa dirumahnya masih ada dua anak yang menggemaskan itu, rumahnya yang dahulu sepi kini terasa ramai, "Selamat pagi!"


"Pagi kak Liza, apa tidurmu nyenyak?" basa basi dipagi hari oleh Kai yang ditanggapi senyuman oleh Liza.


"Tentu, karena aku tidak sabar menjalani pagi hari bersama kalian berdua" jawab Liza yang membuat kedua anak itu tersenyum sumringah.


'Kruyuk' 'Krukk'


Lilu terdiam malu, ia memegangi perutnya yang terasa lapar. Menyadari itu Liza tersenyum memaklumi, "Kalian mau makan apa pagi ini?"


Keduanya terdiam, sebenarnya mereka tidak enak hati karena mereka hanyalah tamu disana.


Liza mengerti dengan perasaan mereka berdua, terlihat dari raut wajahnya, "Tidak apa-apa, pagi ini aku akan memasakkan sesuatu untuk kalian"


Ucapan lembut itu berhasil membuat kedua bocah yang diliputi kemurungan itu menjadi senyuman lebar, "Terimakasih! kakak."


"Baiklah mari kita turun ke lantai bawah," ajaknya berdiri sembari menggandeng tangan kedua anak yang mungkin dalam beberapa waktu akan menetap disana.


Saat Liza menuruni anak tangga, ia mendapati dua orang laki-laki yang sangat menyebalkan itu dirumahnya, ia menghela nafas jengah.


"Apa tidur kalian nyenyak?" tanya Liza hanya sekedar untuk sapaan, karena bagaimanapun juga ia adalah tuan rumah yang harus bersikap ramah.


Riel tersenyum ramah kepada Liza yang baru turun, "Nona, kami terbiasa tidak tidur."


"Oh begitu," jawab Liza hanya datar. Ia pun menuju ke dapur yang tak jauh dari ruangan itu.


Riel tersenyum kecil, sepertinya mereka masih dianggap asing oleh gadis itu. Wajar saja karena... "Zylan, bagaimana menurutmu?"


Sang empu yang ditanya tidak mengerti dengan apa yang Riel maksud, ia hanya menunggu agar pertanyaan itu diperjelas.


"Ck, kau menyelidiki sesuatu bukan?"


Walaupun sahabatnya itu sedang serius namun Zylan tidak terlalu menghiraukannya, ia hanya bersikap santai, "Tidak ada."


Riel menjadi geram dengan sosok yang satu itu, tampangnya yang selalu dingin dan tenang namun biasanya menyembunyikan sesuatu.


"Sudahlah," Riel menarik nafas panjangnya, terserah apa yang akan dilakukan Zylan.


Mereka sedang menunggu masakan dari Liza, dua anak yang ada dirumah itu juga tengah bermain-main diruang tengah.


"Ngomong-ngomong apa kau tau tentang iblis yang kemarin?" tanya Riel serius, ia membicarakan sesuatu diluar akal yang kemarin mereka jumpai.


Iblis bertubuh manusia. Mereka baru pernah melihatnya lagi setelah beberapa ratus tahun yang lalu. Entah ini akan menjadi pertanda apa.


"Entahlah, namun sepertinya akan ada sesuatu buruk terjadi," jawab Zylan dengan keyakinannya, seperti beberapa ratus tahun yang lalu, itu adalah hal yang buruk.


"Kalian berdua membicarakan apa?" sahut sang pemilik rumah yang tiba-tiba muncul dari dapur kemudian bergabung bersama mereka, ia tertarik dengan topik pembicaraan tadi.


"Nona, apa kau tau dari mana datangnya iblis yang kemarin kau temui?" tanya Riel tampa basa-basi.


Hmm, Liza masih terkejut dengan bentuk yang kemarin ia temui, "Tidak, hanya saja aku merasa tidak asing, apakah pernah terjadi hal yang sama?"


Kalimat terakhirnya ia sengaja memelankan suaranya, namun tetap saja kedua orang yang ada didekatnya mendengar ucapannya, "Ada apa denganmu, nona?"


"Tidak ada," jawabnya singkat, ia sangat muak dengan dirinya, ingatannya terhapus kekuatannya diambang batas, hanya sampai disini saja kah?


Mata dingin itu terus memandangi gadis yang terlihat semakin melemah yang ada dihadapannya, ia dapat melihat kekuatan roh gadis itu semakin sedikit.


"Ah, sepertinya makanannya sudah matang," Liza kembali kedapur, sebenarnya ia juga ingin mengalihkan pembicaraan.


Sepeninggalan Liza keduanya terdiam, banyak hal terjadi akhir-akhir ini. Zylan pun berpikir demikian, mungkin sebentar lagi mereka akan menghadapi bencana.


Namun yang lebih Zylan pikirannya adalah gadis yang sekarang ada disekitarnya. Mungkin sebenarnya gadis itu sedang berada dalam ambang batasnya.


"Kai, Lilu bisakah kalian membantuku membawakan makanan ke meja makan?" pinta Liza kepada dua anak yang sedari tadi bermain diruang tengah.


"Baik kak!" keduanya patuh dan membantu Liza membawa makanan tersebut.


Liza melihat ke dua orang lelaki yang ada diruang tv-nya, ia pun memanggil keduanya, "Kalian juga kemarilah, mari makan bersama."


Sejujurnya mereka berdua bisa saja hidup tanpa makan, "Ayolah Zylan, untuk menghargai nona Liza."


Riel mengajak sahabatnya, ia ingin bergabung karena ia menghargai makanan dari Liza. Zylan yang nampak bimbang itu akhirnya bangun dan ikut bergabung.


...***********...


(Dunia bawah)


"Tuan, persiapan sudah selesai sepenuhnya," ucap seorang bawahan yang menunduk dihadapan seorang bertanduk hitam.


Sang pria bertanduk pun tersenyum puas karena apa yang mereka rencanakan akhirnya bisa segera dimulai, "Ahahah, bagus!"


Iblis bawahan tersebut juga tersenyum saat melihat senyum jahat dari atasannya. Pria bertanduk itu pun menyeringai, "Mari kita mulai."


"Baiklah demon lord, pengikutmu didunia ini sudah bertambah banyak, apa kau tidak ingin bangun lagi? mari kita mulai perang seperti ratusan tahun yang lalu!!!"


Teriak pria bertanduk itu kegirangan dengan bencana yang akan datang. Mata yang terpancar dari dinding gua itu membara.


Mata itu terlihat bersemangat untuk sesuatu yang ia nanti-nantikan. Goa tersebut bergetar hebat, bebatuan disana pun ikut runtuh bersama langit-langit goa.


"Ahaha bangkitlah raja kegelapan!!!"


Mata itu perlahan bangkit dengan tubuh yang sangat besar.


'grukkk' 'grukkk'


...*************...


Langit siang itu tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Liza yang masih dirumahnya bersama dua lelaki asing kini menjadi sedikit cemas.


"Ada apa? kenapa langit tiba-tiba menjadi gelap?" Liza menatap cemas langit yang tiba-tiba seperti malam, ia menatap luar dari dinding kaca kamarnya.


Liza segera turun kebawah dan mendapati Zylan dan Riel yang berada di depan rumahnya. Ia segera menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Liza kepada keduanya.


Riel menatap cemas ke arah gadis itu, "Nona, sepertinya ada yang tidak beres."


Mendengar itu Liza semakin khawatir, ia mengepalkan tangannya kuat, apalagi ia kini sudah diambang batas, "Mari kita lihat."


Zylan menatap Liza dingin, ia tidak mengizinkan gadis itu ikut, "Kau tidak perlu ikut, kau dalam keadaan lemah bukan?"


Liza berdecih, ia memalingkan wajahnya, tapi dia sangat khawatir kali ini, ia tidak bisa membiarkannya, "Kau tidak ada hak untuk melarangku."


Mereka sedikit terkejut mendengar pernyataan itu, karena Liza mengatakannya dengan sangat dingin, berbeda dari Liza yang biasanya.


Zylan menatap lurus kedepan, ia berdecak pelan, perempuan yang keras kepala, "Riel siapkan mantra untuk teleportasi!"


Riel mengangguk patuh, saat ia ingin merapalkan mantranya, tiba-tiba ada dua anak kecil berteriak ke arah mereka, "Kak Liza, kalian mau kemana?"


Liza terkejut, ia menatap Kai dan Lilu cemas, ia tidak ingin kedua anak itu terluka.


"Aku akan pergi sebentar, kalian berdua tunggulah dirumah, kunci semua pintu dan jendela, jangan keluar sebelum aku pulang!"


Perintah Liza yang membuat kedua anak itu takut, namun mereka hanya bisa patuh.


Liza menghela nafas pelan, ia pun tersenyum untuk menenangkan, "Tenanglah aku tidak akan lama, kalian masuklah kedalam."


"Baik, kak," kedua anak kecil itu menunduk dan mengangguk. Keduanya pun akhirnya masuk kedalam rumah sesuai perintah Liza.


Baiklah, kini saatnya mereka pergi untuk melihat apa yang terjadi, "... terbukalah gerbang tak terlihat!"


Munculah lubang berwujud energi dengan warna ungu, mereka pun mempersiapkan diri untuk melihat apa yang terjadi.


Mereka melangkah bersama kedalam dan... menghilang.


'Swushhh'