MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#29, The Exorcist Part 2



MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, Gege mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan, Gege minta maaf kalau ada salah baik disengaja maupun tidak disengaja🙏


Ig Author : @aboutgege_ (Yuk follow nanti Follback).


...*********...


Ketiga gadis tersebut melangkahkan kakinya dengan cepat, dengan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut salah satunya.


"Astaga kenapa kita harus berpisah kelas? Apa susahnya dijadikan satu kelas saja?" Oceh Evangeline yang kini menekuk wajahnya kesal, seharusnya mereka satu kelas saja.


Gelya yang jenuh mendengar keluhan Evangeline kini merengut kesal, "Sudahlah Eva, aku juga kesal kepada profesor itu, tapi aku lebih kesal kepadamu yang sedari tadi mengoceh."


Evangeline menatap Gelya dengan bola mata yang membesar, "Diamlah, aku hanya takut sesuatu terjadi dan kita tidak bisa menghadapinya jika terpisah seperti ini."


"Hei kau seperti tidak mengenal kita berdua saja, banyak hal yang telah kita lewati, dan sekarang kita juga pasti bisa, lagipula belum tentu akan ada sesuatu," jelas Gelya panjang lebar untuk menenangkan si gadis bermata hazel tersebut.


Evangeline menatap Gelya serius, kemudian ia menghela nafas putus asa, lagipula berapa banyak ocehan pun keputusannya tidak akan berubah.


"Selagi kita berhati-hati, tidak akan terjadi apa-apa," penjelasan Anahira yang singkat tersebut dapat menenangkan kedua temannya itu.


Mereka sampai di lorong yang akan memisahkan kelas keduanya, Anahira menatap keduanya dengan senyum simpul dan tatapan yang lekat.


"Baiklah kita berpisah disini, jika terjadi apa-apa segera kabari aku," peringat Anahira kepada Eva dan Gelya.


Evangeline dan Gelya mengangguk mengerti, "Baiklah, semoga hari ini tidak terjadi apa-apa."


Mereka mengangguk kemudian berpisah, kelas Anahira melewati lorong sebelah kanan, sedangkan ruangan kedua temannya itu berada di lorong sebelah kiri.


Anahira melanjutkan langkah kakinya dengan tidak nyaman, ia sudah menahannya sedari awal masuk ke sekolah ini, bisikan-bisikan yang memekakkan telinganya membuat ia muak.


'Shshshshshshs'


Bisikan yang mengatakan sesuatu yang tidak jelas itu membuat telinga Anahira sakit, semakin lama bisikan itu semakin kuat yang membuat Anahira sedikit merintih, "Ah telingaku."


Anahira tidak fokus kepada langkah kakinya, ia berjalan dengan menunduk dan kedua tangannya menutup telinga. Ia pun tanpa sadar menubruk seseorang.


'Brukk'


"Eh- Maafkan aku, aku tidak berhati-hati." ia meminta maaf karena merasa bersalah, dan bisikan yang mengganggu itu seketika menghilang.


Seorang laki-laki berjas hitam menatap gadis yang kini berada dihadapannya itu dengan tatapan aneh, ia seperti tidak asing dengan sosok itu, "Ana-hira?"


Anahira mengerutkan keningnya bingung, bagaimana orang itu tau namanya? Apakah ia pernah mengenalnya? "Kau... siapa?"


"Ah sudah kuduga itu kau Ana, jika kau lupa izinkan aku memperkenalkan diri," sapanya dengan senyum simpul, ia dipertemukan kembali dengan seseorang yang ia kenal dulu.


Anahira semakin bingung dengan sikap laki-laki yang ia tabrak itu, keningnya mengerut dan kedua alisnya menyatu. Ia hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Aku Malvin yang dahulu satu sekolah denganmu, apa sekarang kau mengingatku?" Malvin menaikan satu alisnya menatap Anahira memastikan.


Anahira terperangah, ia sedikit terkejut namun ia masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya, ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Oh ya aku mengingatmu, dahulu kita satu sekolah lalu aku mendapat kabar bahwa kau pindah sekolah," meskipun ia tidak begitu dekat dengan Malvin namun Anahira mengenalnya, hanya sekedar mengenal.


"Tidak disangka aku akan bertemu kau lagi disini," ujar Malvin bernada aneh. Ia tidak banyak tau tentang Anahira, karena mereka dahulu hanya satu sekolah bukan satu kelas.


Malvin adalah pribadi yang tertutup, ia dikenal misterius. Anahira pun hanya sekedar tau nama Malvin tanpa tau seluk beluk ataupun sifatnya.


Mereka kemudian berjalan bersama di sepanjang lorong, memecah keheningan dengan sebuah percakapan yang canggung.


"A-ah iya," Anahira mencetak senyum canggung di bibirnya. Ia tidak tau harus bersikap bagaimana dengan situasi seperti ini.


"Berhati-hatilah disekolah ini Ana," peringat Malvin misterius. Malvin menatap Anahira dengan tatapan aneh.


Seketika langkah kaki Anahira terhenti, bukan karena ucapan Malvin melainkan karena Anahira merasakan sesuatu. Anahira pun menatap Malvin dengan serius.


"Malvin, aku masih ada urusan, bisakah kau meninggalkanku disini?" raut Anahira berubah menjadi datar, begitu pula dengan wajahnya yang dingin.


'Tap... Tap... Tap...'


Bisikan itu kembali muncul, seketika kegelapan menyelimuti lorong tersebut. Anahira terganggu dengan itu. Ketakutan yang tidak ia inginkan kini hadir.


'Shshshshshshshshs'


Sangat menusuk, Anahira mengatur nafasnya ia berhasil mengendalikan ketakutannya sendiri. Terdengar suara angin dari belakang.


"Sebenarnya apa yang sedari awal mengintai ku," Anahira melangkah mundur dengan perlahan, suara angin kembali terdengar, menyapu kulitnya dengan lembut, tapi juga membuat bulu kuduknya berdiri.


Anahira berbalik dengan cepat, dan...


'BOOM'


Tidak ada sesuatu disana. Hanya kosong dan hanya ada dirinya yang sendirian di lorong itu.


"Siapapun kau, jangan pernah menggangguku!" Ancam Anahira penuh penekanan, ia sangat tidak suka jika ada 'sesuatu' yang mengganggu dirinya.


Anahira pergi dari sana dengan raut kesal, ia melangkah cepat ke ruangan kelasnya. Tanpa membuang-buang waktu Anahira langsung membuka pintu kelas tersebut.


'Ceklek'


Beruntungnya disana tidak ada guru, sehingga ia tidak mendapatkan teguran karena berlaku tidak sopan.


Pandangan matanya tertuju pada seseorang yang duduk di sudut ruangan, Malvin? Lagi-lagi dia harus bertemu dengan orang itu, baiklah lagi pula itu tidak merugikan Anahira.


Anahira melangkahkan kakinya dengan anggun.


'Tap... Tap... Tap...'


"Bisakah kau tidak melamun?" peringat Anahira kepada Malvin yang hanya berdiam diri dan menatap keluar jendela.


Malvin menatap gadis yang tadi ia temui dengan tatapan misteriusnya, "Oh kau Ana, lebih baik kau memperkenalkan diri, lihatlah banyak yang menatapmu aneh."


Keduanya menatap ke sekeliling, benar saja banyak murid disana yang menatap Anahira aneh.


'Wah itu siapa ya? Cantik sekali'


'Dia siapa?'


'Cantiknya'


'Kenapa gadis itu malah bersama si misterius?'


Anahira yang menyadari itu pun kini tersenyum canggung dengan melambaikan tangannya, "Perkenalkan namaku Anahira."


'Oh namanya Anahira'


Anahira tidak memperdulikan mereka lagi, ia duduk disamping Malvin karena hanya disana tempat duduk yang tersisa. Ia melihat Malvin yang kembali melamun.


"Bukankah sudah ku bilang, jangan melamun dan jangan membiarkan pikiranmu menjadi kosong", tegur Anahira serius, jiwa yang sedang kosong sangat mudah untuk.... 'dirasuki'.


"Lagipula kenapa mereka memanggilmu misterius?" tanyanya dengan nada lirih. Malvin menatap Anahira dengan kerutan di dahinya.


Anahira menyadari tatapan Malvin, ia tidak bermaksud untuk menyinggungnya, "Eumm maaf, aku tidak bermaksud menyinggung mu."


Malvin mengangguk singkat, "Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan itu."


Hening, tak ada lagi percakapan. Sekarang Anahira mengerti, mereka memanggil Malvin misterius karena Malvin memang sangat misterius. Dia tidak banyak bergaul, dia hanya berdiam diri.


Suara gaduh terdengar, ada langkah cepat yang menuju kelas dan pintu terbuka dengan sangat keras.


'Brakkk'