![MYSTERY [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/mystery--completed-.webp)
Liza ketakutan saat ia menyadari bahwa kini dirinya sendirian, di tengah ruang hampa yang tak memiliki ujung, "Aku dimana?"
Ia ketakutan jika tidak menemukan jalan pulang, ia pun tak menemukan orang lain di sana, "Tolong aku, apakah ada orang disini?"
'Mungkin aku telah mati'
Gadis itu terduduk lemas, lututnya tidak dapat lagi menopang tubuhnya yang kini bergetar, air matanya menetes, ia menunduk untuk menyembunyikan itu.
Seketika hawa dingin nan sejuk menerpa dirinya, nyaman terasa di ruang hampa itu, ia mendongak dan menatap ke sekeliling.
Nampak kejadian-kejadian yang diputar bak film yang sedang dipertontonkan khusus untuk dirinya. Sangat banyak, satu persatu ia mengingat.
Matanya berbinar dengan kehangatan yang seketika menyelimuti hatinya. Rasanya ia bahagia bisa mengingat ini, "Tunggu, apa itu ingatanku?"
Tangannya tergerak melayang ke udara menggapai sesuatu mengenai ingatan itu, "Aku merindukan kehidupanku yang dulu."
"Tuan, selamatkan aku."
...***********...
Segel yang telah terpasang di tubuh Liza selama bertahun-tahun kini telah terlepas sepenuhnya.
Zylan yang baru menyadari bahwa ia telah membelenggu Liza selama ini sangat merasa bersalah, "Maaf."
"Zylan, sebaiknya kita membawanya kembali, dia sedang dalam masa pemulihan sekarang," saran dari sang sahabat. Zylan mengangguk.
Mereka bersiap untuk kembali pulang ke rumah, namun sebelum itu Riel ingin berterimakasih dengan kakek misterius yang membantu mereka.
"Terimakasih, Ke-" Riel mengerutkan dahi ia melihat ke sekeliling, tidak ada siapapun selain mereka di sana, "Eh- kemana perginya kakek tadi?"
Entah ia bertanya kepada siapa. Kakek itu benar-benar misterius, datang tanpa hawa keberadaan pergi pun tanpa meninggalkan jejak.
Zylan memiliki firasat aneh yang tidak bisa dijelaskan, "Tidak apa-apa, kita bisa berterima kasih lain kali."
Riel hanya bisa mengangguk patuh saat mendengar penjelasan Zylan. Ia pun segera menyiapkan portal teleportasi ke tempat mereka semula.
'Swushhh'
...************...
Seminggu kemudian.
Zylan masih menunggu akan bangunnya sosok yang kini masih terbaring tanpa membuka matanya sekalipun, itu menambah rasa bersalahnya.
"Seburuk itu kah kesalahanku? kapan kau akan kembali?" sesal Zylan teramat mendalam, hatinya terasa sangat sesak.
Ia tidak tau sungguh, jika ia tahu akan seperti ini jadinya ia tidak ingin menanam segel ditubuh Liza, "Hei, bangunlah."
Zylan terus menatap wajah Liza tanpa memalingkan wajahnya sedetikpun. Tangannya tergerak untuk mengusap pipi gadis yang masih tak sadarkan diri itu.
Saat dipandangi, gadis itu tiba-tiba membuka matanya dengan pelan, masih terasa berat. Ia menggenggam tangan yang berada di pipinya.
Lelaki yang sedari tadi menemaninya menatap tak percaya, meskipun gadis itu masih sangat lemah namun ia bahagia, "Syukurlah, kau sudah sadar."
Liza tersenyum simpul saat melihat sosok yang kini berada disampingnya, "Aku mengingat semuanya."
Kenyataan itu membuat hati Zylan tertusuk, sesak tak tertahankan dan tak bisa diungkapkan, "Maaf."
Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan. Sedangkan gadis itu, tidak tau harus berbicara apa. Perasaan kecewa? tentu saja ada.
"Aku merindukanmu, aku merindukan semuanya, aku merindukan kehidupanku sendiri," ucap Liza tersenyum sendu.
Selama bertahun-tahun ia kehilangan jati diri, dan bahkan ia melupakan sebagian besar ingatan kehidupannya, "Maafkan aku yang telah melupakan semuanya."
Mendengar permintaan maaf dari Liza, Zylan merasa tertampar dengan itu, "Kau tidak pernah bersalah, aku lah yang menyebabkan hal itu terjadi."
Meskipun begitu, Liza masih merasa kosong, ingatan yang kembali itu membuatnya bahagia, namun satu kenyataan yang membuatnya terhempas.
Liza dibuang oleh tuannya sendiri, tuan yang sangat ia cintai, entah untuk alasan apa. Dia merasa sangat sedih karenanya, "Kenapa kau membuang ku?"
Pertanyaan yang membuat Zylan diam termenung, mungkin jika dijelaskan Liza akan mengerti, "Banyak hal yang terjadi saat itu."
Liza mengerutkan kening, "Seperti?"
Zylan ingin menjelaskannya sekarang, namun saat melihat Liza yang masih lemah dan belum memakan apapun selama ini membuatnya tak tega.
"Aku akan menjelaskannya setelah kau sembuh."
"Hah? aku ingin mendengarnya sekarang," desak Liza yang merasa kecewa.
"Aku janji, setelah kau sembuh."
Keputusan itu membuat Liza terdiam. Apakah masih ada hal yang harus ditutupi? Ah dia sangat kecewa sekarang.
"Ya, terserah saja," jawab Liza acuh.
Zylan mengerti dengan sikap Liza yang nampak kecewa, namun ia belum bisa menjelaskannya sekarang, "Kau tunggu disini, aku akan menyiapkan makanan."
Setelah mengatakan itu Zylan langsung pergi, meninggalkan Liza yang masih diam tak bergeming.
'Apalagi yang harus disembunyikan sekarang?'
Meskipun pikiran buruk terus menerus menyerangnya namun ia berusaha mengusirnya. Lama termenung ia dikagetkan dengan bantingan pintu.
'Brakkk'
"Astaga!" pekiknya kaget, ia menoleh ke arah pintu dan melihat Riel beserta Kai dan Lilu yang kini terlihat kelelehan dan sedang mengatur nafas.
"Kak Liza!!!" teriak dua bocah itu penuh gembira melihat Liza yang sudah sadar sepenuhnya. Mereka langsung menghampirinya.
"Syukurlah, nona akhirnya sudah sadar," ujar Riel yang merasa lega.
Liza tersenyum simpul mendengarnya, "Tentu."
Dua anak yang menghampiri Liza tadi kini telah berada di samping kanan kiri Liza, mereka menjaganya seakan-akan tidak akan membiarkannya terluka kembali.
"Mereka berdua sangat menyayangimu," haru Riel karena Kai dan Lilu terlihat sangat senang dengan berita di pagi hari ini.
Gadis itu merasa hatinya menghangat, ia merasakan kasih sayang itu, "Apa kalian berdua kesepian?"
"Tidak, kami hanya khawatir melihat kakak yang senantiasa hanya berbaring tak sadarkan diri," jelas Kai dengan sangat jujur.
Kejujurannya membuat hati Liza luluh. Begitu pula jawaban dari Lilu yang kembali menghangatkan hatinya, "Sekarang kami senang karena kakak sudah bangun!"
"Apakah nona sudah mengingat semuanya?" tanya Riel penuh kehati-hatian.
Pertanyaan itu dijawab anggukan oleh sang empu, "Tentu, aku bahkan tidak sadar telah melupakan hal sepenting itu, maafkan aku Riel."
"Tidak nona, nona Liza tidak bersalah, aku bersyukur jika kau telah mengingat semuanya," sanggahnya dengan cepat saat mendengar permintaan maaf dari Liza.
Lagi-lagi Liza kembali tersenyum, sepertinya kekosongan yang selama ini menemani hari-harinya sedikit demi sedikit telah terisi.
"Maaf membuatmu menunggu," Zylan membawa mangkuk berisi bubur yang ia buat. Ia melirik ke tiga orang pengunjung dikamar itu, "Sebaiknya kalian keluar dahulu, Liza masih perlu istirahat."
Riel tersenyum kecil, ia tau maksud Zylan, ia pun mengajak Kai dan Lilu keluar, "Baiklah, mari kita keluar Kai, Lilu."
Kedua anak kecil itu hanya mengangguk patuh dengan wajah polos. Setelah mereka keluar ruangan, Liza menunjukan raut kesalnya.
"Apa-apaan mengusir mereka seperti itu!" ketus Liza yang hanya diacuhkan oleh Zylan. Lelaki itu malah menyendok bubur dan bersiap menyuapi Liza.
"Makanlah," lelaki itu masih saja bersikap dingin, namun sekarang ia sedikit menunjukkan rasa perhatiannya.
Liza pun hanya bisa patuh.
...************...
Pertemuan singkat yang sangat tak terduga, kepingan ingatan yang telah kembali ke sang pemilik, kekosongan yang kini terisi.
Kejadian yang tak disangka dan pertanyaan yang masih tersisa.
Meskipun masih banyak hal yang harus dijelaskan, roh kucing telah memilih puas dengan kehidupannya saat ini.
Dan dia tidak akan lupa dengan pertanyaan yang masih harus dijelaskan.
THE END
..."Perpisahan dan penghianatan, entah tersembunyi niat apa didalamnya, seseorang yang begitu tulus tentu akan menerimanya kembali meskipun dulu sempat pergi... ah maafkan aku telah menyiakan seorang wanita baik itu, dulu."...
...~Zy~...