MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#25, Hilang Part 8




...***********...


Disaat keputusasaan menenggelamkan harapan mereka. Entah dari mana sebuah cahaya muncul di hadapan mereka, cahaya yang menyilaukan mata.


Kemunculan seorang kakek dengan jubah berbahan bulu yang lebat dengan jenggot dan kumis serta rambut yang telah memutih membuat mereka terkejut.


"Siapa kau?" tanya Zylan berwaspada. Kakek itu tersenyum lembut, bagaikan ia sudah mengenal sosok pria yang sedang memangku badan gadis yang kini terkapar.


Riel menanggapi diamnya sang kakek dengan pertanyaan yang sama, "Siapa kakek ini?"


"Roh kucing itu masih dapat diselamatkan," ujarnya menatap Liza yang masih menutup mata dan wajahnya yang terlihat pucat.


"Bagaimana caranya?"


Zylan tidak peduli siapa yang ada dihadapannya sekarang ini, yang pasti jika orang itu tau cara menyelamatkan Liza maka ia akan sangat berterima kasih.


"Cabut segel yang kau tanam ditubuhnya," jawab kakek yang membuat Zylan terdiam dan berpikir.


"Segel? apa kau memasang nona Liza segel, Zy?" tanya sahabatnya yang bahkan tidak tau bahwa Zylan memasang Liza sebuah segel.


"Segel itu... bukankah sudah terlepas?" Zylan berbalik bertanya kepada sang kakek. Kakek itu kembali tersenyum dengan tenang.


"Apa buktinya bahwa segel itu telah terlepas?"


Zylan terdiam sejenak, "Dia bisa menggunakan wujud manusianya, itu artinya segelnya sudah terlepas."


Kakek itu mengangguk-anggukan kepalanya, wajar saja jika lelaki itu berpikir demikian, namun kenyataannya tidak seperti itu.


"Ingin mendengar cerita?" kakek itu ingin menjelaskan sebuah kenyataan yang telah lama tersembunyi.


Keterdiaman Zylan dan Riel menandakan kesetujuan mereka.


"Di suatu hari aku menemukan kucing yang hampir mati..."


#Flashback On


'Tap' 'Tap' 'Tap'


Hewan yang berjalan dengan keempat kakinya itu terlihat sangat tak berdaya, ia sedari tadi hanya menyusuri hutan yang sangat luas bagai tiada ujung.


"Aku sudah tidak bisa berjalan lagi," bersamaan dengan lirihannya ia terjatuh tak sadarkan diri.


Seorang kakek misterius menemukan kucing yang sudah tergeletak tak berdaya, kakek pun membawanya ke dalam sebuah gubuk ditengah hutan tersebut.


...*********...


Liza mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling. Dalam pandangan mata kucingnya ia kini berada di dalam sebuah rumah kecil bertembok bambu.


Ia melihat seorang kakek masuk kedalam dan menuju kepadanya, "Si-siapa kau?!"


Liza ketakutan melihat kakek itu, namun tubuhnya masih belum bisa digerakkan dengan tenaga miliknya yang masih habis.


"Tenanglah, aku tidak berniat menyakitimu," jelas sang kakek dengan tenang, ia membawakan makanan serta minuman untuk kucing itu.


Kakek tersebut baru menyadari sesuatu, "Kupikir kau kucing biasa, ternyata kau dapat berbicara."


Tampak raut wajah kucing itu masih gelisah, dia memang bukanlah kucing biasa, "Aku roh kucing."


Kakek itu pun terdiam sekejap, ia memandang lekat Liza, ada sesuatu yang mengganjal, "Kenapa kau ada disini? tidak seharusnya roh kucing berkeliaran."


Liza duduk dengan ekornya yang menyamping, ia menunduk, "Aku dibuang oleh tuanku sendiri."


Mendengar penjelasan Liza yang pelan kakek itu mengerutkan keningnya, "Tuan mu itu... apakah dia dari keluarga dewa?"


Pertanyaan dari kakek itu dibalas anggukan oleh sang kucing, "Dia sangat baik, namun entah mengapa sikapnya berubah menjadi sangat kejam."


"Dan sekarang dia mengusirku, aku tidak tau harus bagaimana, aku tidak bisa menggunakan wujud manusiaku karena tuanku menyegelnya."


Liza benar-benar putus asa, ia tidak bisa terus-terusan hidup dalam bentuk kucing selamanya.


Kakek itu merasakan banyak kejanggalan mendengar penjelasan Liza. Namun untuk sekarang yang pasti ia tidak bisa meninggalkan kucing itu sendirian.


"Siapa namamu?" tanya sang kakek.


"Namaku Liza."


"Baiklah Liza, apa kau mau tinggal bersamaku? setidaknya sampai kau bisa menggunakan wujud manusia mu, akan bahaya jika kau berkeliaran diluar sana "


Liza terkejut mendengar pertanyaan sang kakek, dia masih belum bisa mempercayainya, namun dia juga tidak mempunyai pilihan lain.


"Baiklah, terimakasih kakek" Liza sangat berterimakasih jika benar kakek itu berniat baik.


Waktu terus berlalu, berbulan-bulan Liza tinggal bersama sang kakek, dan benar kakek menepati janjinya, ia sama sekali tidak pernah menyakiti Liza.


Suatu pagi kakek memanggilnya kebelakang gubuk, dibelakang gubuk itu terdapat banyak tanaman untuk bahan makanan sehari-hari.


"Ada apa kakek memanggilku?" tanya Liza yang kini menunduk menunjukkan rasa hormatnya kepada sang kakek.


"Jangan terlalu sopan Liza, kau sudah ku anggap seperti cucu ku sendiri," ujar kakek itu tersenyum.


"Baik, kek."


Sang kakek menggendong Liza yang masih dalam bentuk kucing dan meletakkannya ditempat duduk sampingnya.


"Liza, apa kau ingin kembali normal?" tanya kakek yang membuatnya bingung.


"Maksud kakek?"


"Apa kau ingin mendapatkan kembali wujud manusia mu?"


"Tentu, aku ingin mendapatkannya kembali, tapi bagaimana caranya?" Liza sendiri tidak tau bagaimana cara mematahkan segel itu.


"Jika kau sangat berkeinginan untuk mendapatkannya aku akan membantumu," ujar kakek yang menatapnya dengan senyum lembut. Liza terkejut mendengarnya.


"Apa kakek tau caranya?"


Kakek itu terdiam sejenak, "Aku bisa membantumu tapi... mungkin kau bisa kehilangan sebagian ingatanmu, karena mantra ini membutuhkan pengorbanan."


Liza termenung, kalau dia dalam bentuk kucing dia tidak dapat mencari tuannya, kalau dia dalam wujud manusia mungkin dia bisa mencari tuannya.


Tapi bagaimana caranya kalau dia hilang ingatan?


"Apa kau masih menginginkannya?"


Pemikiran panjang itu berhenti saat Liza mengambil kesimpulan setidaknya ia bisa bertahan hidup dengan wujud manusianya,


"Tidak apa-apa kek, asalkan aku bisa mematahkan segelnya dan kembali hidup sebagai roh kucing."


Kakek itu tersenyum tanpa arti. Jika itu keputusannya maka ia akan menurutinya, "Baiklah, sekarang tutup matamu."


Liza menuruti perintah kakek, dia tidak menyangka bahwa mantra itu akan di rapalkan sekarang, ia sangat takut namun itu keputusannya sendiri.


Sang kakek membaca mantra-mantra yang telah ia siapkan, tongkatnya yang selalu ia sembunyikan kini muncul dihadapannya.


Cahaya putih bersinar terang disekitar mereka. Secara tidak sadar tubuh kucing Liza terangkat ke udara. Hingga cahaya putih itu menyebar ke seluruh penjuru.


'Sringgg'


Tubuh Liza kembali turun ke bangku kayu yang tadi ia duduki, ia tidak sadarkan diri karena efek mantra itu. Sang kakek tersenyum, "Kau akan sadar besok."


Ucap sang kakek itu tersenyum, ia berdiri memegang tongkat putihnya, ia menatap Liza yang terlelap, "Dengan begini, aku ucapkan selamat tinggal."


Kakek itu menghilang dibalik kabut putih, dengan kelegaan karena dapat membantu sang cucu.


...~Keesokan paginya~...


Liza terbangun dengan mata menyipit, ia melihat ke sekeliling, ia mengernyit, "Kenapa aku ada disini? Aku seharusnya ada di..."


Tunggu... Liza tidak dapat mengingat apapun kecuali namanya, apa yang terjadi? dia tidak dapat mengingat tempat asalnya.


"Apa yang... terjadi?"


#Flashback Off


"Yang aku lakukan saat itu bukanlah melepas segelnya, aku hanya mengurangi efek segel dengan memilih antara ingatan atau wujud manusianya."


Zylan dan Riel sedari tadi hanya diam mendengarkan cerita sang kakek, mereka terhanyut kedalam cerita lama.


"Ternyata wujud manusianya memerlukan energi yang cukup besar, karena itulah selain ingatan kekuatannya pun ikut tersege.l"


Zylan dan Riel tersentak, jadi karena itu Liza tidak mengingat mereka berdua, bahkan kekuatannya pun sangat menurun drastis.


"Yang perlu kau lakukan saat ini adalah melepas segel seutuhnya untuk menyelamatkan Liza," jelas kakek misterius itu.


Zylan menatap lekat Liza, tidak disangka segelnya membawa penderitaan untuk Liza sendiri, ia merasa sangat bersalah terhadapnya, "Baiklah."


Zylan meletakkan jari telunjuknya ke dahi Liza, saat itu pula muncul simbol bunga mawar di wajah Liza, itu adalah segelnya.