MYSTERY [COMPLETED]

MYSTERY [COMPLETED]
#8, The School Part 7




...**********...


"Kalian berdua tetap disini! aku yang akan mencari Bryan!" perintah Sheryl penuh keyakinan, apapun yang terjadi ia harus segera menemukan Bryan.


Karena tidak mungkin jika Nitta ditinggalkan sendirian dihutan, dan tidak mungkin jika ia yang akan menemani Sheryl karena ia tidak akan pernah tau bahaya apa lagi yang akan terjadi.


Karena itulah Dicky yang harus menjaga Nitta, Sheryl yakin lelaki itu bisa melindungi sahabatnya, "Dicky tolong jaga Nitta, kalau perlu kalian pulanglah terlebih dahulu, biar aku saja yang mencari Bryan."


"Kau jangan gegabah Sheryl!" seru Nitta yang khawatir akan sahabatnya itu.


Ya, Sheryl tau dirinya gegabah, namun tidak ada cara lain. Lagipula mereka harus kembali sebelum fajar menyingsing.


"Tidak ada cara lain Nitta, hanya ini yang bisa kita lakukan, tidak ada waktu lagi sekarang sudah pukul dua dini hari," jelas gadis itu mengharapkan pengertian dari sahabatnya.


Dicky diam, memikirkan apa yang Sheryl katakan. Ya, memang benar tidak ada cara lain, sementara pesan dari neneknya bahwa mereka harus kembali sebelum pagi.


"Baiklah, tapi kau harus segera kembali kesini apapun yang terjadi!" sahut Dicky menyetujui serta memberikan syarat. Sheryl hanya bisa menganggukinya.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat," Sheryl bergegas membawa senter, selebihnya ia tidak membawa apapun. Sebegitu khawatirnya ia pada Bryan.


...*************...


"Hai lelaki ku," sapa sosok berparas cantik nan jelita, manatap laki-laki yang berada di pangkuannya. Sosok itu mengenakan dress simpel berwarnya putih, membuatnya terlihat anggun.


"Ingin ku ceritakan sesuatu?" tanya nya bukan untuk menawarkan, karena ia tidak membutuhkan jawaban. Ia akan menceritakan sebuah kisah, kisahnya.


#Flashback On


Perempuan yang sedari tadi mengeluh mual dan pusing itu kini tengah berbaring diatas brankar rumah sakit, ia sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Yang ditunggu pun akhirnya tiba, seseorang berjas putih menghampiri dirinya yang terbaring lemah, berharap ia memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan ibu tidak sakit apa-apa, gejala yang ibu alami adalah tanda-tanda normal pada orang hamil, selamat ya bu," jelas dokter tersebut yang membuat perempuan tersebut mengernyitkan dahi.


"Maksud dokter saya hamil?" tanyanya memastikan, berharap jawabannya adalah tidak! ia mohon jawablah dengan kata 'tidak'!


"Iya bu, selamat atas kehamilannya, kalau begitu saya permisi dahulu," pamit dokter yang memeriksanya, ia segera keluar dari ruangan rawat inap dari seorang pasien yang bernama Celinedya.


Celine masih tidak percaya apa yang dokter itu katakan. Apa yang terjadi? Ia bahkan belum menikah dengan seseorang! Tolonglah jika seperti ini ia akan menjadi bahan bulan-bulanan tetangganya.


Apalagi jika orang tuanya mengetahui. Apa yang harus ia lakukan? disaat seperti ini kenapa air matanya harus menetes. Ia putus asa dengan keadaan seperti ini.


"Kalau aku hamil? siapa ayahnya?" gumamnya dengan suara bergetar, ia menatap perutnya yang masih datar, meskipun begitu diperutnya sudah ada nyawa yang tertanam.


Matanya semakin berkaca, ia mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Ingatannya jatuh pada saat sebulan yang lalu, ia bersama kekasihnya berada di sebuah club malam.


Ia semakin menangis mengingatnya, bagaimana ini terjadi? hatinya seakan tertusuk pisau tajam, sakit sekali. Ia menjambak rambutnya frustasi diselingi dengan isak tangisnya.


'Hiks' 'Hiks'


"Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah ini?" lirihnya yang sangat frustasi, ia tampak seperti kehilangan akal sehatnya.


Celine menatap ke sekeliling, entah apa yang ia cari, tatapan kosongnya jatuh ke sebuah benda diatas laci. Benda kecil yang membuatnya berfikir nekat.


"Maafkan aku, semuanya."


Perempuan nekat itu tidak pernah berpikir panjang dan melihat apa yang akan terjadi kedepannya.


Ia menyalakan pemantik api yang ia temukan tadi, dengan air mata penyesalan ia pun membakar brankar yang ia tempati saat ini.


Api mulai membesar, tak ada ketakutan dari wanita itu. Padahal brankarnya kini telah terbakar, yang sebentar lagi akan membakar dirinya hidup-hidup.


Itulah kalimat yang ia ucapkan, sebelum semuanya tersisa kegelapan yang kekal.


#Flashback Off


Bryan mengerjakan matanya beberapa kali, ia yang baru bangun dibuat kebingungan dengan apa yang ia lihat tadi.


Sesuatu bagaikan film yang diputar ulang, dengan pemeran utama adalah kekasihnya sendiri, Celine. Ia menyadari adanya sosok wanita menghadap keluar jendela, siapa?


"Siapa kau?" tanya Bryan mengamati gerak-gerik sosok bergaun putih itu, ia terlihat anggun dengan gaunnya.


"Baru kutinggal beberapa minggu apa kau sudah melupakanku?" Betapa terkejutnya Bryan saat sosok itu berbalik badan dan menghadap padanya.


Ini nyata atau apa? apa ia tidak salah lihat? ataukah kekasihnya itu masih hidup? "Celine? apa itu benar kau?"


"Tentu Bryan, ini aku," jawabnya pasti dengan lengkungan senyum manis dibibirnya, sungguh senyumnya itu membuat ia menjadi lebih anggun.


Hah? Bryan masih tidak menyangka? apakah ini mimpi? jika benar mimpi tolong jangan bangunkan dirinya dan biarkan ia terjebak dalam mimpinya sendiri.


Jadi yang ia lihat tadi adalah kilas balik kejadian kebakaran gedung rumah sakit samping sekolah dasarnya dulu? dan penyebabnya adalah Celine sendiri.


"Kenapa kau meninggalkanku?" tatap Bryan sedih memandang Celine yang tersenyum kearahnya. Celine berjalan mendekat.


"Aku tidak pernah meninggalkanmu, aku masih selalu disampingmu," jawab Celine dengan senyum sendu yang menenangkan.


Hingga sosok wanita itu kini tepat berada di depan Bryan. Bryan berbinar, sepertinya ia benar-benar bermimpi. Sosok Celine terpampang begitu nyata, bahkan kehangatan Celine masih terasa.


"Apa kau akan selalu disisiku?" tanya Bryan penuh harap, berapa kali pun ia menyangkal kehilangan sosok yang ia cintai sangat berat, bahkan ia kini berharap Celine bisa hidup kembali.


Celine hanya membalas dengan senyuman anggun khasnya. Bryan apakah kau tidak sadar bahwa Celine itu sudah mati? apa yang kau harapkan dari jiwa yang sudah melayang menuju dimensi lain itu.


"Dan apakah aku ayah dari anak yang kau kandung saat itu?" Bryan menatap Celine serius. Jika memang benar ia adalah ayah dari anak itu ia akan merasa sangat berdosa dan hidup dalam penyesalan.


Pertanyaan itu membuat sosok gadis dihadapan Bryan berbalik badan dan membelakanginya. Gadis itu diburu rasa gundah gulana, kenapa Bryan harus menanyakan hal ini?


"Tidak, itu bukan anakmu!" jawabnya dengan dingin. Membuat Bryan terdiam bingung, tubuhnya terasa lemas. Lalu itu anak siapa?


"Maksudmu?" Bryan bertanya meminta kejelasan, pikiran-pikiran negatif sudah menghinggapi kepalanya. Maksudnya apa?


Bryan mencoba mengusir isi kepalanya yang kini berisi hal-hal negatif. Meskipun demikian ia masih tidak bisa memikirkan kemungkinan apa yang akan menjadi jawaban Celine.


"Kau ingat saat kita mabuk di club?" Celin tersenyum miris, ia masih membelakangi Bryan yang menatapnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


"Saat itu pagi hari ketika aku bangun aku sudah berada di sampingmu," Celine mulai menceritakan kejadian yang menyakitkan itu, bila diingat kembali ia merasa bahwa dirinya bukanlah wanita baik-baik


"Namun baru belakangan kuingat kembali, saat kau kehilangan kesadaran seseorang mengajakku berdansa, kemudian tanpa sadar kita melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan."


Pernyataan dari Celine itu membuatnya diam tak berkutik tanpa suara. Ia tidak menyangka, dan ia merasa terkhianati. Hatinya tertusuk pisau, mahkota kekasihnya diambil seseorang yang tidak dikenal.


Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu? Biad*b sekali lelaki yang merayu kekasihnya itu, pikir Bryan. Padahal dirinya juga tak lebih dari seorang biadab.


Celine tersenyum miris, luka hatinya terbuka kembali saat mengingat hal yang membuatnya semakin tersiksa dengan rasa kesedihan, "Kau tunggulah disini, seseorang pasti akan menjemputmu"


...**********...


..."Apa yang akan kau pilih?...


...Memilih jiwa yang telah mati atau pergi mencari pengganti dengan mencintai dua hati?"...


...~Celine~...