
Yukie bisa saja menolak ajakan Daiki tapi, saat dia sadar tangannya digenggam erat oleh lelaki itu dia merasa sangat nyaman. Timbul perasaan aneh saat tangan mereka bersentuhan, hingga dengan sendirinya Yukie pun membalas genggaman tangannya sembari berusaha mengikuti langkah kaki Daiki yang terbilang cukup lebar membuatnya kualahan ketika mengikutinya dari belakang.
Di saat itu Daiki sempat terkejut karena dia bisa merasakan jari-jemari kecil milik Yukie mulai bergerak membalas genggaman tangannya tapi, dia sama sekali tak menghentikan langkahnya.
Tiba di tempat biasa Yukie menghabiskan jam istirahatnya, yaitu di bawah pohon samping stadion mini yang biasa digunakan untuk berolah raga, Daiki melepaskan tangannya. Itu sempat membuat Yukie terkejut tapi akhirnya dia sadar bahwa beberapa detik yang lalu tubuhnya seakan terhipnotis hingga menuruti perintah Daiki tanpa perlawanan.
“E.kenapa kau membawaku kemari?” pertanyaan itu terlontar setelah Yukie memperhatikan keadaan sekitar. Sesaat dia dibuat bingung karena Daiki hanya diam menatapnya dengan ekspresi wajah datar tak terbaca. ‘Kenapa? Apa dia ingin menjelaskan tentang berita di media sosial itu?’ pikirnya dalam hati.
“Buka maskermu!” perintahnya dengan nada datar, tidak marah dan juga tidak lembut. Lebih terasa dingin saat Yukie mendengarnya.
‘Bodoh! Tentu saja bukan. Mana mungkin dia membahas tentang berita itu denganku. Jelas-jelas itu tak ada hubungannya denganku!’
“Kau bisa mendengarku?? Buka maskermu!” tak ada respons dari Yukie, akhirnya dia sedikit menaikkan nada bicaranya.
“E.e.mmm... kenapa?” tanyanya terbata. Yukie baru ingat tak seharusnya dia menuruti perintah Daiki untuk ikut bersama dengannya. Membuka masker? Jika dia tahu ada luka di wajahnya lalu apa yang akan Daiki lakukan? Memikirkan itu membuatnya penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Daiki. Akankah sama seperti dulu di mana lelaki itu terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya?
Untuk sesaat pikiran itu memenuhi otaknya. ‘Tidak bisa! Jika reaksinya sama seperti waktu dulu... ini akan berakibat buruk buat Bibi. Aku tidak bisa membiarkan hal itu!’ “Kenapa? Aku sedang flu apa kau tidak takut tertular?”
Daiki tahu ada yang tidak beres saat itu, makanya dia sangat penasaran. Mendapat penolakan dari Yukie tentu saja tak membuatnya menyerah. Tetapi kali ini dia tak bersikap kasar dengan langsung membuka masker secara paksa seperti apa yang sudah terekam di otaknya. Perlahan kakinya bergerak maju disertai tatapan mengintimidasi yang mampu membuat dada Yukie berdetak cepat.
Yukie tidak bisa menghindar, bahkan saat itu dia tak berani membalas tatapan matanya. Karena Daiki yang semakin mendekat kearahnya, mau tak mau Yukie akhirnya melangkah ke belakang, mundur perlahan hingga tak lagi bisa bergerak karena terhalang pohon besar di belakangnya. “Eh!” tubuhnya tersentak.
Dengan kedua tangannya, Yukie berusaha menahan dada Daiki yang masih terus bergerak mendekat. “Da.daiki!! Hentikan!” dia berhasil mendorongnya menjauh, memberi jarak di antara mereka.
Itu bukan tatapan benci tapi, lebih mengarah ke khawatir akan sikap Yukie. “Kau akan membukanya sendiri... atau aku akan membuka secara paksa?” Daiki bahkan mengancam dengan nada datar dan tenang.
“Hentikan Daiki!” sahut Yukie.
“Apa?”
Yukie benci dan lelah dengan apa yang sedang dia rasakan, awal pertama mendengar dia mendapat beasiswa di sekolah itu, Yukie merasa sangat senang. Walaupun dia sadar dan tak berharap akan mendapatkan teman. Dia hanya ingin menyelesaikan sekolah dengan baik tanpa mendapat masalah apapun.
Tetapi kenyataannya dia bisa dekat dengan Daiki itu sungguh suatu di luar dugaan. Di saat semua murid perempuan berlomba-lomba ingin mendekatinya, dengan senang hati Daiki justru memilih dirinya. Yukie tak berharap lebih, tetapi rasa peduli dan sikap Daiki serta kenyataan bahwa mereka telah saling mengenal sejak kecil membuatnya semakin berharap, bahwa hubungan di antara mereka akan bertahan lama.
Ternyata semuanya salah, perasaan yang dimilikinya saat ini tak sama seperti dulu. Ini sungguh sangat berbeda. “Berhanti mengganggu pikiranku!”
“Apa? Apa yang sedang kau bicarakan?” Daiki bingung sama sekali tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Yukie.
Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Daiki dengan mata memerah dan berkaca. Daiki sangat terkejut, hatinya merasa rapuh saat melihat Yukie menangis. “Kenapa kau menangis?”
“Berhenti menggangguku! Apa yang kau lakukan selalu menggangguku! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu, hingga kau menyiksaku seperti ini?” air matanya mulai mengalir, tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Daiki.
“Tidak bisakah kita kembali seperti masa lalu? Saat itu kita bisa bercanda tanpa peduli hari esok. Aku tak pernah melihat kebencian di matamu... tapi” ucapnya terputus, dada Yukie terasa sangat sesak hingga dia memutuskan menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Tapi... kini kau berubah Daiki. Kau menarikku ke dalam hidupmu... kau melakukan apapun yang kau inginkan dan aku mencoba menerimanya. Lalu sekarang kau mendorongku agar menjauh. Kau bersikap keras padaku seakan aku telah melakukan kesalahan besar! Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku perbuat hingga kau mampu berkata kasar seperti saat itu. Jika kau ingin memiliki hubungan Kira kenapa kau tidak mengatakannya padaku, kau tidak perlu membuatku menjauhimu. Aku tahu batasanku.”
“Tidak! bukan begitu!” Daiki dikejutkan dengan pernyataan Yukie, yang menurutnya tak masuk akal. Seharusnya dia sadar karena tak mau jujur sehingga membuat kesalah pahaman itu semakin jauh. ‘Aku pikir dengan cara seperti ini kau akan tahu kenapa aku marah denganmu!’
“Mari kita akhiri semua ini, jangan lagi kau perlihatkan wajah cemas dan pedulimu di depanku!” karena itu pasti sangat membuat Yukie semakin berharap, dia tak ingin lagi merasa gelisah karena perasaannya sendiri, untuk itu dia meminta Daiki menyudahi sikapnya yang seolah berpura-pura peduli terhadap dirinya. “Kau ingin melihat apa yang ada di balik wajahku, bukan?”
“Yukie?” Daiki mencoba meraih tangannya, tapi gadis itu menolak. ‘Dia terlihat sangat sedih... apakah aku terlalu menyakitinya?’ Jika Daiki tidak egois maka mereka berdua tak akan ada yang tersakati.
Yukie mencoba melepas masker yang dikenakannya dan membiarkan Daiki melihat luka di wajahnya.
Reaksi lelaki itu sungguh sangat di luar dugaan. Setelah melihat bibir Yukie lebam dan juga luka di pelipisnya, kedua matanya memancarkan kilatan kemarahan yang pernah Yukie lihat sebelumnya.
“Yukie, Bibimu yang melakukan ini?” Daiki tak mempedulikan permintaan Yukie, dia jauh lebih fokus dengan luka di wajahnya.
“Luka yang Bibiku berikan ini tak seberapa, dibandingkan dengan ucapanmu waktu lalu! Berhenti bersikap seolah kau peduli padaku!!” sesaat hening, mereka hanya saling memandang penuh dengan kekesalan setidaknya itu yang sedang dirasakan oleh Yukie.
Tetapi sebaliknya dengan Daiki, dia baru menyadari kesalahannya. Sempat berpikir untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan serta mengakui perasaan yang sebenarnya kepada Yukie tapi, situasinya sudah menjadi sangat sulit baginya untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Yukie terlanjur kecewa dengan sikapnya, itu tidak akan mudah bagi Daiki.
“Maaf” suaranya sangat lemah. Tangannya terpaku saat ingin menyentuh bibir Yukie yang terluka karena gadis itu memalingkan wajahnya. Tak memberi ijin kepada Daiki untuk menyentuhnya.
“Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, aku harap kau tak melakukan hal yang sama dengan Kira!” Yukie telah memakai lagi maskernya, kemudian pergi meninggalkan Daiki sendirian di tempat itu. ‘Aku berharap ini keputusan yang tepat!’
***
Tok! Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran penuh rasa tak sabar agar segera dibuka.
“Ya ya ya!!! Kau pikir kau siapa berani bertamu dan menggedor-gedor pintu sembarangan seperti itu!!” umpat Bibi Mai, langkahnya lebar menuju pintu dengan geram karena merasa tamu itu telah mengganggu waktu istirahatnya.
Brak!!
Tubuhnya tersentak kaget melihat lelaki yang tengah berdiri di depan pintu. “K.kau?” Bibi Mai hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya, nyaris jatuh karena lututnya seketika terasa lemas melihat Daiki muncul di depan matanya. ‘Sial!! Apa bocah itu melapor padanya?” gumam Bibi Mai dalam hati.
“Kau... m.mau apa kemari? Yukie belum pulang dari sekolah! Dia tidak ada di sini” ucapnya terbata, tubuhnya bergetar ketakutan. Mengingat terakhir kali bahwa Daiki mengancam akan membunuhnya saat dia memukul Yukie lagi.
Namun hari itu terlihat berbeda, Daiki mencoba menahan amarahnya hingga kedua matanya memerah. Tangannya mengepal kuat berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan hal bodoh yang akan di sesalinya. “Aku datang kemari tidak untuk mencari Yukie!”
“Hah?” Bibi Mai semakin ketakutan, cepat-cepat dia menjauh penuh waspada.
“Bisa kita bicara di dalam?” melihat ekspresi ketakutan di wajahnya, Daiki berucap untuk menenangkan Bibi Mai. Meskipun begitu dia tetap akan membuat perhitungan dengannya. “Tenang saja, aku tidak akan memukulmu atau melakukan apa pun padamu!”
***
Ruang tamu yang menjadi satu dengan ruangan Tv serta ruang keluarga itu terasa canggung dan mencekam bagi Bibi Mai. Dia merasa tertekan nyaris tak bisa bernafas. Daiki hanya duduk diam di seberang meja, namun tajamnya tatapan yang ditujukan pada Bibi Mai mampu membuat perempuan paruh baya itu tak berkutik.
“Kau mau minum? Aku akan menyiapkan untukmu!” dia telah beranjak dari kursi, tapi Daiki berucap secara tiba-tiba dan menghentikannya.
“Hentikan basa-basimu! Aku datang kemari tidak untuk minum teh dan mengobrol hangat denganmu!”
Bibi Mai kembali duduk, dengan sikap tunduk mencoba membatasi gerakan serta tingkah laku yang akan membuat Daiki naik pitam. Meskipun sangat terpaksa dia berusaha menjadi sopan di depannya.
“Aku datang kemari untuk melakukan kesepakatan denganmu!” pandangannya yang begitu mengintimidasi tak pernah lepas dari Bibi Mai.
“Ha? Ke.kesepakatan? Tentang apa itu?”
Daiki menghela nafas panjang kemudian mengambil tas miliknya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat. Sebelumnya dia sempat bertemu dengan pengacara yang biasa mengurusi permasalahan keluarganya, dan meminta kepada sang pengacara tersebut untuk membuatkan sebuah perjanjian. “Bukalah, kau bisa membacanya sendiri!” dia meletakkan amplop coklat itu di atas meja.
Setelah mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop, Bibi Mai kemudian membacanya secara perlahan dan teliti.
Di saat itu Daiki mengeluarkan satu amplop lagi namun berukuran lebih kecil dan sedikit tebal. Setelah meletakkannya di atas meja dia mendorongnya kearah Bibi Mai. “Sesuai dengan kesepakatan yang tertulis di kertas itu kau akan mendapatkan uang setiap bulannya, tapi kau tidak boleh menyentuh Yukie sedikit pun! Jika aku melihat ada luka baru di tubuhnya... aku berhak menuntutmu! Kau paham!” tak ingin berlama-lama lagi di tempat itu Daiki langsung beranjak berdiri dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Bibi Mai.
Setelah melihat lelaki itu melangkah keluar dengan cepat Bibi Mai langsung mengambil amplop berisi uang tersebut. Matanya berbinar memperlihatkan kebahagiaan saat melihat lembaran uang dalam jumlah yang sangat banyak. “Ya, aku akan menuruti semua permintaanmu. Seharusnya kita melakukan kesepakatan dari awal sehingga aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menyentuh tubuh anak itu! Ha ha ha!” Bibi Mai benar-benar sudah dibutakan dengan uang. Hingga dia tak bisa lagi berpikir jernih kalau keluarga adalah harta yang paling berharga.