My Soul

My Soul
# 30 Perhatian Jelo



Jelo membenarkan jasnya yang sudah menutupi bagian atas tubuh Edrea. Dia membungkuk untuk meraih kaki edrea dan menggendongnya, membawa Edrea ke dalam mobil.


"Kamu tunggu di sini" ucapnya kemudian, dia pergi meninggalkan Edrea di dalam mobil sendiri untuk menemui Tara dan menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan di sana.


Jelo berjalan ke arah perempuan yang masih mencoba meronta untuk minta di lepaskan tangannya.


Tatapan matanya semakin tajam saat melihat ke arah Renata.


"Aku mohon, aku akui salah tapi" ucapnya terputus saat melihat Jelo menatapnya dengan tajam seolah sudah siap mencekikbya hingga mati kehabisan nafas.


Ronald berjalan mendekat ke arah Renata yang masih di cekal oleh Tara.


"Aku mohon lepaskan dia, dia hanya seorang perempuan. Kalau kamu ingin marah silahkan lampiaskan semuanya kepadaku!" ucapnya berusaha membela kekasihnya.


Jelo mengalihkan tatapan matanya ke arah Ronald dengan sengit.


"Hanya perempuan kamu bilang? lalu apakah kamu membenarkan tindakannya??" Jelo benar benar geram mendengar ucapan mantan suami Edrea itu.


"Aku akan melepaskanmu kali ini!! tapi jika sekali lagi kamu berani menyentuh Edrea bahkan seujung kukunya pun, aku akan menghabisimu" geramnya ke arah Renata.


Kemudian Jelo menganggukkan sedikit kepalanya ke arah Tara seakan memberi perintah kepada laki laki yang masih mencengkeram erat ke dua tangan perempuan itu untuk melepaskannya.


Renata berlari ke arah Ronald setelah Tara melepaskan dirinya.


"Urusi dengan benar perempuan menjijikkanmu ini!!" ucapnya kepada Ronald sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


Jelo dan Tara berjalan kembali ke mobil untuk segera kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke perusahaan.


♡♡♡


Tara menghentikan mobilnya di depan lobi.


"Siapkan baju untuknya dan segera bawa ke ruang kerjaku!" ucapnya memberi perintah ke pada Tara.


Tara hanya menengok sedikit lalu mengangguk memberi tanda kalau dia mengerti dengan permintaan Tuan Mudanya.


Seorang penjaga yang senantiasa berdiri di pintu masuk segera berlari kecil ke arah mobil Jelo dan membukakan pintu untuk Tuannya.


Jelo keluar dan mengitari mobil untuk mendekat ke pada Edrea.


Dia melihat wajah Edrea masih sangat tegang dan terus melamun memikirkan kejadian yang menimpa dirinya.


Jelo membungkuk untuk menggendong tubuh perempuan yang dicintainya itu dan membawanya masuk ke dalam lobi.


Berjalan melewati ruang dengan di penuhi para staf pekerja yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan cemburu.


Mereka saling berbisik dengan teman sebelahnya.


"Itu bukannya Tuan Angelo? dia akhirnya menjabat jadi Direktur sekarang"


"Ya ampuuunnn!! aku benar benar iri melihat perempuan yang sedang di gendong itu"


"Benar nanti siang para direksi akan mengadakan rapat untuk penyerahan jabatan"


"Loh tapi bukannya Tuan Brahm masih di luar negeri?"


"Iya berkas kepemilikan perusahaan memang atas nama Tuan Brahm. Sekitar 2 tahun yang lalu seharusnya Tuan Angelo sudah menduduki kursi direktur namun dia menolak. Semenjak Tuan Brahm meminta anaknya untuk menggantikannya dia sudah menandatangani berkas limpahan jabatan itu dari dulu. Nah kalau pun sekarang Tuan Brahm tidak ada di sini Tuan Angelo masih bisa melakukan serah terima jabatan yang disaksikan oleh para direksi"


"Kamu tahu dari mana bisa sampai sedetail itu?"


"Makanya suka ngumpul dong sama anak anak lantai 27 biar bisa tahu keadaan perusahaan kita"


"Lantai 27?? bukannya itu lantai Direktur??"


"Iya yang cerita kan para sekretarianya"


"Apa kalian masih mau ngerumpi di sini?" ucapan Tara yang baru saja datang membuat sekumpulan perempuan merasa canggung. Mereka pun segera pergi dan kembali ke meja kerja mereka masing masing.


♡♡♡


Jelo meletakkan tubuh Edrea dengan lembut dan hati hati di kursi kerjanya.


Edrea menunduk berusaha menutupi wajahnya dari Jelo yang sedang bersandar di meja kerjanya. Dia merasa malu saat harus bertatapan dengan laki laki yang masih berdiri di depannya itu.


"Kamu kenapa diam?" Jelo memecah keheningan di antara mereka.


"Mm" Edrea menggeleng pelan dan masih tertunduk.


Tok tok tok!!!


Jelo menengok ke arah pintu masuk, dia melihat Tara membuka pintu dan membawa sebuah paperbag berisi baju sesuai pesanannya.


"Letakkan saja di meja" ucapnya seakan meminta Tara untuk segera pergi setelah menaruh paperbag itu.


"Jangan lupa tutup tirainya sebelum kamu keluar" tambahnya.


Tara hanya mengangguk, dia menekan tombol otomatis yang berada di meja kerja Jelo untuk menutup tirai yang mengelilingi ruang kerjanya. Karena seluruh tembok ruang kerja Jelo terbuat dari kaca tembus pandang sehingga setiap orang yang lewat bisa melihat aktifitas saat dia sedang bekerja di dalam.


Tara kembali berjalan ke arah pintu sambil tersenyum malu saat mengetahui Tuan Mudanya itu memintanya menutup tirai ruang kerjanya.


Dia berhenti di sana untuk menggoda Jelo.


"Apa Tuan Muda butuh yang lain?"


"Pergilah, aku bisa memanggilmu nanti!" ucapnya masih dengan bertahan senderan di samping meja.


Setelah mendengar Tara menutup pintu Jelo bergerak mendekat ke arah Edrea, membungkuk dengan ke dua tangannya bertumpu di tepi kursi untuk menyangga tubuhnya.


Memaksa Edrea menarik tubuhnya sendiri hingga terpentok dinding kursi menjauh dari Jelo.


"Jangan lupa memanggilku, kalau Tuan muda butuh sesuatu!" ucap Tara sambil membuka pintu kembali dan menahan senyumnya.


Seketika Jelo langsung menatap ke arahnya dengan tajam. Dia tahu kalau Tara sengaja mengganggunya.


"Oke oke aku akan segera pergi" ucapnya sambil tersenyum lebar penuh kepuasan.


Jelo pun menekan tombol di bawah mejanya untuk mengunci pintu secara otomatis.


Jelo menyingkirakan berkas berkas yang ada di atas mejanya kemudian meraih sisi kanan dan sisi kiri dada Edrea untuk mengangkat setengah badannya dan membawa tubuh Edrea ke atas meja kerja.


Edrea terkejut matanya langsung memaku kr arah Jelo, hingga ke dua tangannya spontan meraih pundaknya dan mencengkeram kemejanya dengan erat.


Jelo terkekeh senang.


"Kenapa kamu ketakutan?, , aku tidak akan menyakitimu" ucapnya dengan lembut dan menenangkan.


Edrea kembali menunduk.


Sementara Jelo menghela nafas menatap wajah Edrea dengan lembut, tangannya bergerak meraih anak rambut yang berantakan menutupi wajah dan kening Edrea kemudian menyimpannya ke belakang telinga.


Mata Edrea menyelidik melihat Jelo.


"Jas, dasi, dan kemeja??" Edrea baru saja menyadari kalau Jelo tak memakai seragam.


"Mm, , Kenapa?? kamu ingin mengatakan kalau aku tampan?" ucapnya mulai menyombongkan diri.


Edrea terkekeh geli.


"Kamu kemanakan seragammu?" ucapnya ketus.


"Aku sudak tidak membutuhkannya" ucap Jelo dengan santai.


"Apa kamu bermaksud untuk menenuhi keinginan Ayahmu? dan berhenti sekolah"


ucap Edrea dengan nada menuntut jawaban dari Jelo.


Kening Jelo berkerut, tatapannya sedikit menajam ke arah Edrea.


"Tara sudah cerita denganmu?" tuduhnya ke pada Edrea.


"Mm, , semuanya" jelas Edrea.


Jelo menghela nafas panjang kemudian duduk sambil membenamkan punggungnya ke dinding kursi. Kepalanya mendongak ke atas pandangan matanya masih tertuju ke arah Edrea yang jauh lebih tinggi darinya.


"Baguslah jadi aku tidak perlu menceritakannya kepadamu!" ucapnya dengan kesal.


Tatapan mata Edrea kini berbalik mengawasi raut wajah Jelo.


"Apa kamu sedang marah?"


"Denganmu??" ucap Jelo kembali bertanya kepada Edrea.


"Apa kamu bercanda! aku tidak mungkin marah denganmu!" tambahnya untuk memperjelas.


"Kamu pernah marah denganku" ucap Edrea, dia berusaha keras mengembalikan ingatan Jelo saat marah dengannya.


"Kapan?" kening Jelo semakin berkerut bahkan kini lebih dalam kerutannya. Seolah dia sedang berusaha keras mengingat kejadian saat dia sedang marah dengan Edrea.


"Waktu kamu membuang jam tangan itu" ucapnya mengingatkan kembali ingatan Jelo saat membuang jam tangan yang di tolak olehnya.


Jelo memutar bola matanya sambil berusaha keras mengingat kejadian itu.


Ada guratan senyum tipis di pipi Jelo sebelum menghilang lagi setelah mengingat kejadian itu.


"Aku tidak marah denganmu!, , aku hanya jengkel dengan diriku sendiri. Karena aku seperti orang yang tidak berguna. Bahkan orang yang aku cintai pun telah menolakku dengan mentah mentah sebalum aku mengatakan perasaanku" mata Jelo menatap tajam ke arah Edrea hingga menusuk ke dalam dadanya.


Edrea menelan ludah dengan susah payah. Rencananya dia ingin menjebak Jelo malah dirinya sendiri kini yang terjebak dengan ucapannya.


Jelo beranjak dari kursi dan mendekat ke arah Edrea.


Jantung Edrea tiba tiba berdesir saat Jelo memaksa dirinya membuka ke dua pahanya dan memposisikan tubuh Jelo di sela sela ke dua kakinya.


Tangan Jelo bergerak membuka jasnya yang menutupi tubuh Edrea dengan perlahan.


Pipi Edrea semakin memerah dia berusaha dengan keras menghindari tatapan Jelo yang melihat ke arahnya dengan lekat.


Setelah jasnya terbuka arah pandangan mata Jelo beralih ke lengan Edrea yang terdapat bekas cakaran di sana.


"Di bagian mana lagi dia melukaimu?" tanyanya dengan lembut.


Edrea hanya menggeleng seakan memberi tahu laki laki di depannya itu bahwa tak ada luka lain selain cakaran di ke dua lengannya.


"Sakit?" Tanyanya dengan menyentuh bekas cakaran itu.


"Mm, , sakitlah! mana perih lagi!" gumamnya.


Jelo mengangkat ke dua alisnya setelah mendengar gumaman Edrea


"Kenapa jawabnya ketus?"


"Lagi pula udah tahu sakit kenapa masih tanya!" rengeknya seperti anak kecil.


Jelo terkekeh di buatnya. Kini satu tangannya maraih bibir meja dan satunya lagi bergerak ke arah belakang Edrea mendorong tubuhnya mendekati tubuh Edrea hingga wajah mereka berdekatan. Nafas Jelo terasa hangat saat menyapu wajah Edrea.


Tatapan matanya beralih dari mata kemudian kebibi Edrea dengan sangat sensual.


Dia sengaja menggoda perempuna di depannya itu.


Hingga kini semakin dekat dan memaksa tubuh Edrea condong ke belakang untuk menjauhi Jelo.


Edrea serasa jantungan, darahnya mengalir memanas naik menjadi satu di wajahnya hingga memerah di sana.


Jantung Edrea kembali berdetak dengan cepat.


"Mau apa kamu?" ucapnya dengan galak.


Jelo tidak menjawab dia kembali menarik tubuhnya setelah berhasil mengambil paperbag dari arah belakang Edrea dan menentengnya di depan mata Edrea.


"Apa yang aku pikirkan, dia hanya mengambil paperbag. Kenapa pikiranku sudah kemana mana!! ya ampuuunn!!!"


Ada kelegaan di wajah Edrea saat tahu ternyata Jelo hanya ingin mengambil paperbag itu.


Jelo hanya tersenyum geli, saat melihat Edrea salah tingkah.