My Soul

My Soul
#18 Lepas kendali



"Ya ampun!! apa otak kamu sudah tidak waras?? atau kamu sudah gila!" ucap edrea seketika.


Jelo tersenyum membiarakan dirinya memenuhi pikiran edrea.


"Ikut saja denganku" jelo menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada edrea untuk menggandeng tangannya.


Edrea mengabaikannya, dia lebih memilih untuk mengalihkan pandangan matanya.


"Aku harus mengajar!, aku baru saja di terima di tempat kerjaku yang baru!! kalau sekarang aku tidak berangkat bagaimana aku menghadapi kepala sekolah besok? jika aku di berhentikan, apa kamu mau tanggung jawab!!" ucap edrea dengan nada galak.


Jelo tersenyum.


"Aku akan tanggung jawab, kalau perlu kamu tidak usah mengajar lagi!! aku akan menghidupimu!" ucap jelo dengan nada tenang ke pada edrea.


Edrea melirikke pada jelo dan terkekeh, senyumnya terlihat mengejek ke arahnya.


"Kamu benar benar sudah tidak waras!" edrea jengkel, dia mengalihkan pandangannya lagi berharap jelo berubah pikiran dan menuruti keinginan dirinya.


"Iya aku memang tidak waras!! dan kamu tahu, itu semua karena kamu!" ucapnya di selipi nada menuntut kepada edrea


Edrea menatap jelo dengan tatapan sinis.


Dia berdecak jengkel sambil menggeleng heran ke arahnya.


"Memang apa yang sudah aku lakukan hingga membatmu menjadi tidak waras?"


Jelo berusaha menguasai perasaannya yang mulai tak terkendali.


"Kalau kamu nurut, kita akan semakin cepat menyelesaikan ini" jelo tidak menjawab pertanyaan edrea, dia malah berucap dengan nada menuntut kepada edrea.


Edrea menghela nafas panjang, dia tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan murid laki lakinya itu.


Edrea turun dari mobil, mengikuti arahan jelo untuk masuk ke dalam galeri.


Jelo berjalan ke arah sofa besar berwarna hitam yang membentang di tengah tengah ruang. Tembok kaca yang mengelilingi sebagian toko membuat cahaya matahari masuk dan menerangi ruang itu dengan sinarnya yang hangat. karena kebetulan saat itu masih sekitar jm 8 pagi.


Edrea masih berdiri, terlihat bingung sambil mengawasi setiap sudut ruang yang sangat luas.


Sesekali melihat ke arah jelo yang sedang duduk menyilangkan satu kakinya di atas kaki lain, menyenderkan punggungnya ke dinding sofa membuat dirinya senyaman mungkin duduk di sofa itu.


"Ya ampun!! lagaknya seperti seorang bos besar lagi, dasar bocah ingusan!"


Jelo menepuk nepuk pelan sofa di sebelahnya, matanya melihat ke arah edrea yang masih berdiri, seolah sedang memberi isyarat ke pada edrea untuk duduk di dekatnya.


Edrea menghela nafas panjang, dia tidak mengindahkan perintah jelo. Dengan sengaja edrea duduk di kursi yang bahkan berseberangan dengannya.


Senyum jelo terlihat mengejek hanya tersungging di sebagian pipinya, sementara matanya masih mengawasi edrea dengan lekat.


Jelo hendak bergerak bangkit dari kursi namun edrea langsung paham dan seketika langsung mengikuti keinginan jelo.


"Oke oke aku akan duduk di sana" ucap edrea seketika.


Edrea beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke sofa sebelah jelo.


"Bagaimana caranya menghadapi kepala sekolah besok, ya tuhan, bocah ini benar benar"


Edrea bingung biasanya dia selalu mampu dan mudah menghindar dari murid murid yang selalu mengejarnya. Tetapi kali ini kenapa dia tak memiliki kekuatan bahkan keyakinan di dalam dirinya untuk menghindar dari jelo.


Malah dengan sengaja memberi ruang kepada jelo untuk selalu berada di sekitarnya.


"Bagaimana keadaan anin?" tanyanya seketika mengacau pikiran edrea tentangnya.


"Baik" jawab edrea pendek, terlihat dia sangat kesal dengan sikap jelo yang seenaknya saja.


Jelo mengangkat dan menggerakkan sedikit jarinya ke arah pegawai yang sedari tadi sudah bersiap siap untuk mendekat ke padanya.


Salah satu seorang pegawai perempuan mengenakan kemeja putih berbalut blazer hitam dan rok span yang panjangnya di atas lutut, terlihat sangat elegan saat berjalan mendekat ke arah jelo.


"Tuan muda angelo" ucap pegawai itu menyambut jelo.


Belum sempat berbicara dengan pegawai galeri perempuan itu, jelo mendengar kekehan pelan yang keluar dari mulut edrea.


Seketika mengalihkan perhatian jelo ke arahnya.


Edrea tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar sapaan pegawai kepada muridnya. Merasa lucu dengan apa ya dia dengar.


Menyadari kalau jelo kini melihat ke arahnya, edrea lalu berdehem untuk menguasai perasaan yang sempat lepas kendali.


Jelo mengalihkan pandangannya ke pada pegawai galeri.


"Bawakan aku jam tangan untuk perempuan ini!" perintahnya dengan nada tegas.


Pegawai galeri mengangguk pelan dan bergerak cepat kembali untuk mengambil beberapa contoh jam tangan.


"Untukku???"


Edrea teringat saat jam tangannya waktu itu mati karena batrenya telah habis.


"Siapa sebenarnya dirimu?? kenapa setiap kali aku bersamamu selalu ada orang yang memanggilmu dengan sebutan tuan muda?" mata edrea menyelidik, wajahnya terlihat sangat penasaran, bahkan dia menanyakan hal itu langsung tanpa basa basi ke pada jelo.


"Aku bukan tuan mereka, ! merekalah yang menganggapnya begitu" mata jelo mengawasi wajah edrea yang sepertinya tidak puas dengan jawaban yang dia berikan.


"Kenapa?? , kamu tidak percaya dengan jawabanku?" tambahnya.


Edrea mengangguk pelan, matanya juga masih mengawasi ekspresi jelo, berharap dia akan mendapatkan jawaban yang lebih memuaskan.


Tetapi pegawai galeri jam itu datang dengan beberapa staf lainnya yang sudah berjejer rapih dan membawa jam di tangan mereka masing masing, seketika mengalihkan perhatian jelo.


"Maaf membuat tuan muda menunggu lama" perempuan itu menunduk pelan.


"Mm, perlihatkan jamnya satu persatu ke pada perempuan ini" ucap jelo mengacu pada edrea yang duduk di sebelahnya.


"Tidak ada sopan santunnya kamu sama orang yang lebih tua!" bisik edrea kepada jelo.


Jelo hanya melirik dan melempar senyum ke arah edrea.


Edrea di buat menganga melihat rentetan jam tangan yang di bawa oleh staf pegawai galeri.


Satu persatu dari mereka duduk di sebelah edrea, membantu memasangkan jam dan melepasnya kembali untuk memberi kesempatan kepada edrea agar bisa mencobanya satu persatu sebelum mengambil keputusan.


Semuanya nampak terlihat bagus dan berkilau di mata edrea, namun tak ada satu pun yang menarik perhatiannya.


Karena dia tetap lebih memilih jam tangannya yang rusak, hanya dengan membawanya ke toko untuk mengganti batunya pun sudah langsung bisa di pakai lagi.


Edrea tahu jam yang di depannya itu pastilah bermerk dan sangat mahal.


"Aku tidak tertarik dengan semuanya!" ucap edrea seketika.


Jelo mengehela nafas panjang sebelum mengambil keputusan untuk memilih jam tangan yang akan di berikannya kepada edrea.


"Apa aku harus memaksamu!" jelo sudah kehabisan akal kali ini.


Edrea menatap ke arah jelo dengan jengkel.


"Kenapa kamu selalu melakukan keinginan tanpa" mulut edrea memaku ketika jelo menarik tengkuknya dan mengecup bibirnya di depan para pegawai.


Mata edrea membulat, kini tubuh edrea sepenuhnya memaku, pipinya merona darahnya berdesir memenuhi jantung dan dadanya berdebar terus memaksanya untuk bernafas dengan cepat.


Jelo tak sempat melihat eksprasi wajah edrea karena ada mobil yang sedari tadi menarik perhatiannya, mata jelo melirik ke arah luar dari balik kaca, dan benar dia melihat salah satu mobil ayahnya yang terparkir di parkiran galeri.


Dia tahu dengan jelas siapa yang ada di dalamnya.


Jelo menarik kembali tangannya.


"Kamu tunggu di sini! dan segera pilih yang kamu suka! atau aku akan memaksamu lagi" perintahnya.


Kemudian jelo beranjak dari sofa berjalan menuju ke pintu dan keluar menemui tara di mobilnya.


Edrea masih membisu, tangannya meraba bibir yang baru saja di kecup oleh muridnya.


"Edrea, apa yang terjadi denganmu?? kenapa kamu membiarkan dia meneyentuhmu untuk yang ke dua kalinya"


Edrea kembali terdiam kali ini karena mendengar percakapan pegawai staf galeri yang memaksanya mau tak mau harus mendengarnya.


"Ya ampun, aku belum pernah melihat tuan muda angelo datang ke galeri bersama seorang perempuan" bisik salah satu pegawai kepada pegawai.


"Iya benar, Bahkan yang aku dengar dia itu benci banget sama perempuan, tapi kenapa dia sekarang datang dengannya dan bahkan berani menciumnya di depan umum, ya ampun, aku benar benar iri dengannya" ucap pegawai lainnya merujuk ke pada edrea.


"Aku dengar dari pengawal ayahnya, waktu datang ke sini dengan perempuan simpanannya, kalian tahu, aku dengar juga dari mereka kalau ayahnya tuan angelo itu sangat kejam"


Semua staf yang membawa jam di tangan mereka pun memggeleng pelan karena kaget mendengarnya.


"Tidak sopan! mereka membicarakannya di depanku bahkan suara mereka terdengar sangat jelas sekali"


Edrea berdehem keras berusaha menghentikan para pegawai galeri yang sedang ngerumpi di depannya.


Para staf pun merasa malu dan segera menundukkan kepala, sebagai rasa penyesalan mereka kepada edrea.


Edrea bergerak mengubah arah duduknya, untuk memudahkan dirinya melihat jelo yang tadi sempat dilihatnya berjalan menuju pintu keluar.


Matanya mengawasi ke arah jelo yang masih berdiri di samping mobil sedan berwarna hitam gelap.


Tak nampak siapa yang ada di dalam mobil dan sedang berbicara dengan jelo.


Namun dilihat dari raut wajah jelo yang berubah, membuat edrea semakin penasaran.


Saat edrea akan beranjak dari tempat duduknya, dia melihat jelo tengah berjalan kembali menuju ke arah pintu masuk, edrea pun mengurungkan niatnya untuk menemui jelo.


Mata jelo langsung mengawasi edrea saat masuk kembali ke galeri.


Kini matanya mengerucut ketika melihat tangan edrea masih kosong.


"Kamu tidak mendengar ucapanku?" jelo menghela nafas panjang. Dia duduk kembali di tempat semula.


Edrea tidak bergeming.


"Berikan satu jam yang paling bagus di sini" ucap jelo kepada pegawai.


Pegawai itu langsung mengambil salah satu jam tangan yang di bawa oleh staf lainya.


"Maaf tuan, ini yang paling bagus di antara yang lainnya, seri audemars piguet cocok untuk pacar tuan muda" ucapnya.


Pipi edrea merona, dia tidak menyangka kalau mereka akan menganggapnya sebagai pacar muridnya itu.


"Coba lihat" ekspresi wajah jelo terlihat biasa mendengar pegawai menyebut edrea sebagai pacarnya, dia lebih tertarik dengan jam yang di pilih oleh staf galeri itu.


"Bungkus yang ini" tambahnya.


Pegawai dan staf lainnya langsung bergerak kembali ke tempat mereka semula.


"Jam ku masih bisa di benarkan, dan cuma butuh ganti batre saja kenapa harus beli yang baru, aku tidak punya uang untuk membayarnya karena pastinya jam itu sangat mahal" ucap edrea dengan nada resah berusaha untuk menolak membeli jam yang terlihat sangat mahal itu.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membayar" jelo meminta salah satu staf untuk membawa bon pembelian jam, dan langsung menandatanganinya.


"Tapi" edrea berusaha terus menolak.


Jelo kembali mendekatkan wajahnya ke arah edrea yang kini memaku lagi, sangat dekat bahkan nafasnya sampai terasa hangat saat menyapu wajah edrea.


Dan memaksa edrea menelan ludahnya dengan pelan.


"A, aku aku akan menerimanya" ucapnya terbata karena dadanya kembali berdebar dengan kencang.


Tak ada pilihan lain selain mengatakan hal itu, karena yang ada nanti jelo pasti akan malakukan lagi hal yang kini terbesit di otaknya. Yaitu menciumnya lagi.


Jelo tersenyum senang, dia menarik kembali kepalanya menjauhi wajah edrea. Tangannya bergerak mengambil paperbag kecil dari tangan staf yang baru saja datang dan memberikannya ke pada edrea.


"Simpan itu" ucapnya sambil beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar.


Edrea bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah jelo dari arah belakang.


♡♡♡


"Aku tidak bisa seperti ini!! aku harus menanyakan dengan jelas, kenapa dia selalu memaksaku seperti ini"


Kata itu terus menggerayangi pikiran edrea semenjak keluar dari galeri itu.


"Kenapa kamu selalu memaksakan kehendakmu!!, kamu pikir aku akan menyukainya!" ucap edrea dengan nada tinggi seketika memecah keheningan di antara mereka.


Jelo lebih memilih fokus ke pada setirnya. Namun tak urung dia mengabaikan pertanyaan edrea.


"Seharusnya kamu lebih berpengalaman dibanding diriku! kenapa aku melakukan semua ini" ucapnya dengan nada menuntut ke pada edrea.


Edrea menelan ludah dengan pelan. Tentu saja dia tahu, tetapi dia tidak ingin berfikir melebihi batas nalarnya sebelum dia mendengar sendiri dari mulut jelo.


Sesekali jelo melirik ke arah edrea mempelajari eksprasi wajahnya yang hanya diam saat mendengar jawaban dari mulutnya.


Jelo menepikan mobilnya.


Kening edrea mengerut, dan mengalihkan pandangannya ke arah jelo yang sedang melepas sabuk pengamannya.


Jelo mendorong punggungnya mendekati edrea yang semakin membenamkan tubuhnya ke dinding kursi belakangnya.


Dia mengawasi wajah jelo yang kini berada dekat di depannya.


Matanya, wajahnya, kulitnya sangat bercahaya, terlihat kalau laki laki di depannya itu sangat terawat dengan baik.


Sesaat membuat edrea terlena hanyut ke dalamnya, dan menikmati mata jelo yang sangat menawan.


Seolah sedang menghipnotis alam bawah sadarnya menuntun jemari edrea bergerak membelai pelipis jelo dengan sendirinya, merangkup pipinya dengan ke dua tangannya.


Menarik kepala jelo mendekat ke arahnya, mata edrea menutup ketika bibir mereka saling menempel namun nafas edrea yang memburu seketika langsung menyadarkan dirinya.


Mata edrea membulat, lalu mendorong punggung jelo agar menjauh darinya.


Nafasnya terdengar sangat kasar, dadanya terus bergemuruh.


Pikirannya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukannya.


Mata jelo mengerucut, memindai setiap perubahan ekspresi wajah edrea yang berubah.


Edrea hendak berpaling namun jelo langsung menahannya, meraih pipi edrea dan mencium bibirnya. Kali ini jelo lebih berani melumat bibir edrea dengan sangat lembut.


Mata Edrea membulat, dia nampak bergeming berusaha keras mendorong tubuh jelo namun, kelembutan bibir jelo membuat ke dua tangannya tak bertenaga. Lunglai seketika.


Manisnya bibir jelo membuat edrea tak bisa mengontrol dirinya, terasa sekali di bibir edrea kalau jelo belum berpengalaman untuk berciuman.


Dia mengambil alih ciuman itu, meraih kepala jelo dan meremas rambutnya secara acak.


Menyesap bibir jelo yang sangat lembut dan manis. Tak jarang dia menyesap dengan sangat keras hingga kening jelo berkerut halus ketika menahan bibirnya yang terasa sedikit sakit saat di tarik paksa oleh bibir edrea.


Namun jelo tersenyum dan menikmati semuanya.


Jelo membiarkan edrea menuntun bibirnya, mengajari setiap gerakan yang memberikan efek besar di tubuhnya.


Darahnya berdesir, tubuhnya memanas dan gejolak di jiwanya meletub letub seketika.


Jelo mendorong kepala edrea ke arahnya untuk lebih memperdalam ciumannya, hingga nafas mereka terdengar kasar dan saling berebut oksigen saat berciuman.


Di tengah tengah pagutan ciuman mereka edrea mendengus pelan, seketika matanya terbelalak lebar menyadarkan dirinya akan perbuatan di luar nalarnya itu.


Edrea langsung mendorong tubuh jelo dengan tangannya yang tiba tiba mendapatkan kembali kekuatannya secara penuh saat tersadar.


Wajahnya memaku, dirinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukannya, sembari meraup oksigen sebanyak banyaknya karena nafasnya yang terngah engah.


Dia mulai menyadarkan pikiran bawah sadarnya yang baru saja menguasai tubuhnya secara menggila.


Edrea menggelang pelan seolah dia tidak percaya dan mengutuk perbuatannya sendiri.


"Ini tidak benar!!!"


Edrea terus berusaha mengembalikan pikiran nalarnya.


Sementara jelo berusaha mempelajari setiap perubahan ekpsresi yang ada pada wajah edrea.


Edrea mengalihkan pandangannya, menunduk mengusap wajahnya perlahan.


"Edrea ini tidak boleh terjadi!!"


"Maaf, ini semua salahku!" ucap edrea seketika.


Dia langsung membuka pintu mobil dan meloncat dengan cepat keluar dari mobil jelo, menghentikan taxi dan segera pergi meninggalkan jelo yang masih terdiam di dalam mobil.