
“Kenapa kau tidak makan?” Daisuke mengajak Yukie ke suatu tempat untuk makan malam bersama, di sana mereka bisa melihat galaksi bintang dengan mata telanjang namun tempat itu menyediakan teropong agar para pengunjung bisa lebih melihat dengan jelas.
Melihat Yukie lebih banyak melamun Diasuke berpikir kalau gadis itu tak menyukai makanannya maka dia berinisiatif memesankan makanan lain untuk Yukie.
“Apa kau tidak suka makanannya? Kalau iya aku akan memesan yang lain.” Daisuke kemudian mencari pelayan, dan ketika melihatnya dia kemudian berseru.
“Permisi” dia telah mengangkat tangannya dia bermaksud mengundang pelayan namun ternyata Yukie menolak.
“Tidak perlu, mmm... aku menyukai makanannya, jadi kau tidak perlu memesan yang lain” karena merasa tidak enak hati Yukie kemudian melahap makanannya agar Daisuke tak berpikir macam-macam. Karena memang sebenarnya saat itu Yukie sedang melamun memikirkan siapa sebenarnya yang memberikan kalung itu ladanya.
Teringat dengan masalah kalung Yukie pun tersadar dengan pesan dari Daiki kalau sore ini dia juga ada janji dengannya.
“Astaga!” gumamnya, Yukie lalu merogoh ke dalam tas untuk mengambil ponselnya karena ingin melihat apakah Daiki menghubungi dirinya, dan ternyata benar dia melihat kalau beberapa kali Daiki telah melakukan panggilan kepada nomornya
Ada 11 kali panggilan tak terjawab namun tak ada pesan singkat dari lelaki itu.
Yukie sempat mengarahkan pandangannya ke Daisuke untuk memastikan kalau lelaki yang sedang menikmati makanan itu tak curiga dengan dirinya yang sedang sibuk bermain ponsel hanya untuk melihat panggilan dari Daiki.
Setelah yakin kalau Daisuke tak memperhatikan dirinya, Yukie segera mengirim pesan singkat kepada Daiki.
Di seberang meja Daisuke yang sedang mengunyah makanannya kemudian terpaku, dia memang tidak melihat kearah Yukie namun dia sadar kalau gadis itu tengah sibuk fengan ponselnya. Daisuke sempat berpikir kalau Yukie sedang membalas pesan dari seseorang.
Apakah itu Daiki?
Untuk lebih meyakinkan dirinya akhirnya Daisuke pun bertanya kepada Yukie untuk mengobati rasa penasarannya. Lelaki itu mengambil segelas minuman kemudian meneguknya perlahan sebelum berucap dengan nada tenang.
“Apa itu dari Daiki?”
“Ha?” Yukie terkejut dan langsung menyimpan ponselnya.
“Tidak, aku... hanya memberi kabar kepada Bibi kalau aku sedang ada di luar” Yukie mencari alibi agar Daisuke tak curiga. Tetapi ketika tersadar Yukie akhirnya terdiam.
“Tunggu! Kenapa aku harus berbohong kepada Daisuke? Kalau seperti ini aku jadi seakan-akan sedang selingkuh darinya! Ah ya ampuuun... bagaimana ini?” batinnya, Yukie menggigit bibir bawah karena cemas.
“Haruskah aku memberi kabar kepada Daiki?”
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dreeeett!
Merasakan getaran dari ponselnya, Daiki dengan cepat mengambil ponsel dari saku jaket. Melihat bahwa dia mendapat pesan singkat dari Yukie, dia langsung membukanya.
“Maaf, aku lupa kalau ada janji denganmu sore ini” isi pesan dari Yukie.
Daiki hanya diam dengan wajah malasnya, kemudian dia membalas pesan itu.
“Lupakan! Apa kau sedang bersama Daisuke?” lumayan lama Daiki menunggu balasan pesan dari Yukie kali ini. Entah apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang, yang pasti membuat Daiki tak bisa berpikir dengan tenang.
Dreet!
Akhirnya gadis itu membalas, Daiki secara tak sabar membuka pesan balasan dari Yukie.
“Ya!” jawabnya singkat.
Daiki menatap layar ponselnya, berkali-kali dia membaca pesan dari Yukie. Terlihat sekali dari raut wajahnya kalau dia menahan rasa kesal.
Daiki melirik karah jam tangan yang melingkar di tangannya, waktu menunjukkan pukul 9 malam namun Yukie belum terlihat batang hidungnya. Lelaki itu masih setia menunggu duduk di jok motor, kadang dia terlihat bosan sehingga Daiki melangkah mondar-mandir seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang tak pasti.
Akhirnya dia memilih untuk berjongkok dan bersandar ke tembok menundukkan kepala di sela kedua tangan, sementara bunga mawar itu masih berada di tangannya.
Mobil milik Daisuke terlihat berhenti di depan gang. Melihat Yukie seperti tergesa-gesa ingin melepas sabuk pengaman membuat Daisuke langsung meraih tangan Yukie menghentikan gadis itu.
“Tunggu!”
Yukie terdiam menatap tangan Daisuke yang masih berada di atas tangannya, perlahan Yukie menarik tangannya karena merasa malu dan canggung.
“Ya, kak?”
“Kak??” Yukie berucap membuat Daisuke tersadar dari lamunannya.
“Oh! Mmm lupakan... terima kasih atas waktumu malam ini” Daisuke berucap sambil mengusap rambut Yukie. Pandangannya terpaku pada wajah Yukie yang terlihat manis karena sinar rembulan yang memantul ke wajahnya.
Yukie terdiam saat Daisuke menatap wajahnya namun ketika sadar kalau wajah lelaki itu semakin bergerak mendekat Yukie langsung menghindar membuang pandangannya kearah lain.
“Mmm, ini sudah larut Kak... aku akan turun. Kau hati-hati di jalan.”
Daisuke sadar sekali kalau Yukie seakan sedang menghindar darinya, namun dia mencoba untuk memahami karena mereka baru mengenal beberapa minggu yang lalu.
Setelah berhasil turun dari mobil Yukie bisa bernafas lega, dia sempat berdebar ketika Daisuke seperti ingin menciumnya.
“Apa itu tadi? Apakah dia... tidak mungkin. Tidak mungkin Daisuke ingin menciumku! Ah ya ampuun... kenapa pipiku jadi terasa panas!” Yukie melangkah melewati gang sembari menyentuh pipinya yang merona.
Saat hampir sampai di rumah, Yukie melihat sebuah motor terparkir di depannya. Alisnya langsung menyatu keningnya berkerut memikirkan motor itu karena sebelumnya dia tak pernah melihat kendaraan itu.
“Motor siapa ini?”
Gang menuju ke rumahnya lumayan gelap hanya ada beberapa lampu namun tak bisa membuat jalanan menjadi terang hanya di bagian yang tersorot lampu yang tampak terlihat jelas.
Yukie membuah pandangannya ke sekitar memastikan siapa pemilik motor itu, hingga akhirnya matanya tertuju kepada sosok lelaki yang tengah berdiri bersandar di tembok samping pintu gerbang rumahnya.
Wajahnya tak terlihat jelas namun dari postur tubuh serta gaya rambutnya, Yukie seketika yakin kalau lelaki itu adalah Daiki.
“Daiki??” gumanya.
Lelaki itu tengah berjalan mendekat dengan raut wajah datar namun lebih kearah kesal.
“Kau?” ucap Yukie ketika Daiki berdiri di bawah sorot lampu dengan begitu dia bisa melihat jelas wajahnya.
“Kau menungguku di sini??” Yukie merasa bersalah karena dia tak menyangka kalau lelaki itu akan menunggu sampai larut malam.
Daiki menghela nafas panjang sembari membuang pandangan kearah lain. Sekuat mungkin dia menahan rasa kesal namun Daiki sadar kalau dia bukan siapa-siapa sehingga tak bisa marah ataupun meluapkan kekesalannya kepada gadis itu.
“Baguslah kalau kau pulang dengan selamat!” melihat Yukie kembali dengan selamat membuat Daiki merasa tenang, setidaknya walaupun dia kecewa malam itu bisa melihat wajah Yukie sudah membuat Daiki lega.
Dia pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Saat ini Daiki sedang berusaha memakai helm.
“Daiki? Maaf... apa kau marah? Aku benar-benar lupa kalau hari ini aku juga ada janji dengan Kakakmu” walaupun Yukie berusaha untuk menjelaskan namun itu tak membuat rasa kesal Daiki menghilang.
Jika memang Yukie memiliki perasaan kepada Daiki seharusnya gadis itu pasti akan ingat dengan janjinya kepada Daiki namun dia justru lupa dan lebih ingat dengan janjinya kepada Daisuke. Dengan begitu Daiki dapat mengambil kesimpulan kalau Yukie sepertinya memang lebih condong kepada Daisuke.
“Bukan salahmu, lagi pula itu juga bukan hal yang penting. Bukankah kau senang bisa pergi dengan lelaki yang memberimu kalung itu? Baguslah!” Daiki mencoba berucap dengan tenang meskipun dia benar-benar kesal dan ingin marah.
Entah kenapa mendengar ucapan Daiki membuat dada Yukie tiba-tiba terasa sesak, hingga berdesir dan timbul rasa panas yang tak bisa dia kendalikan.
“Daiki!” ucap Yukie dengan nada memohon agar lelaki itu tak pergi dengan keadaan marah karena Yukie yakin kalau Daiki saat ini sedang kesal, dan dia tak ingin lelaki itu mengendarai motornya saat keadaan emosi karena itu akan membahayakan dirinya.
Daiki sempat menyalakan mesin motornya kemudian karena Yukie, akhirnya dia mencabut kunci dari motor sehingga mesinnya mati dengan sendirinya.
“Kenapa?”Daiki bersedekap menunggu Yukie menyelesaikan ucapannya.
Mengingat Daiki membahas soal kalung itu, Yukie pun teringat dengan pertanyaan yang belum Daiki jawab.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu... benarkah, kalung yang ada padaku adalah milikmu? Benarkah anak kecil waktu itu bukanlah Daisuke?”
Sesaat Daiki terdiam membuang pandangannya kearah lain namun setelahnya dia menoleh dan menatap mata Yukie dengan mata tajamnya.
“Jawab dulu pertanyaanku... setelah itu aku akan mengatakan yang sejujurnya!”
Yukie terpaku melihat mata tajam Daiki yang belum pernah dilihat sebelumnya, sepertinya lelaki itu benar-benar kesal karena dirinya. Yukie pun menunduk menyembunyikan wajahnya karena ketakutan dengan tatapan Daiki yang seakan ingin menerkam dirinya.
“Kau... menyukai Kakakku?”