My Soul

My Soul
#31 Tergila gila denganmu



"Ganti bajumu" Tangan Jelo bergerak meraih tangan Edrea yang sedang menggenggam erat kemeja yang menutupi dadanya.


"Mau apa kamu?" Edrea menatap ke arah Jelo dengan tatapan menyelidik.


"Membantumu mengganti baju" ucapnya tanpa rasa berdosa.


Pipi Edrea seketika merona.


"Apa kamu sudah gila!, , aku bisa melakukannya sendiri!" ucapnya dengan nada setengah berteriak.


Jelo terkekeh melihat sikap Edrea.


Edrea menatap galak ke arah Jelo yang menghalangi jalannya.


"Kenapa kamu masih di sini?" Edrea berucap seakan dia meminta Jelo untuk pergi dari hadapannya.


"Terus? aku harus kemana?"


Edrea menghela nafas.


"Bukannya kamu menyuruhku untuk mengganti bajuku!, , terus kenapa kamu masih di sini? pergi sana!"


"Kenapa aku harus pergi" bantahnya.


"Jalo!!" Edrea menggeram marah.


"Oke oke!" Jelo menelusupkan kembali ke dua tangannya di samping pinggang kanan dan kiri Edrea untuk mengangkat setengah tubuhnya dan membantunya turun dari meja.


Jelo membungkuk memaku tubuh Edrea.


Edrea menarik tubuhnya ke belakang hingga terpentok meja kerja Jelo.


Wajahnya terlihat sangat gugub.


"Kenapa dia selalu senang menggangguku seperti ini!!"


Jelo menatap mata Edrea dengan lembut meraih tengkuknya dan menyandarkan keningnya di kening Edrea.


"Mulai saat ini aku akan menjagamu!" dia mendaratkan kecupan di kening Edrea.


Tangannya bergerak meraih paperbag dan menggenggam salah satu tangan Edrea sementara kakinya menuntun perempuan itu ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruang kerjanya.


"Kamu bisa mengganti bajumu di dalam"


Edrea mengambil paperbag dari tangan Jelo dan segera masuk ke kamar mandi.


Namun Jelo menahan pintu dengan satu kaki saat Edrea mau menutupnya.


Mata Edrea langsung tertuju ke arah Jelo.


Dia berdecak jengkel karena laki laki di depannya itu benar benar sangat menyebalkan.


Edrea melebarkan matanya seolah dia meminta kejelasan kenapa Jelo menahan pintunya.


"Jangan lama lama!" ucapnya sambil menatap Edrea dengan tatapan sensual.


"Haduuuh ya ampuun!!"


Edrea segera menutup pintunya dengan cepat.


Matanya mengawasi seluruh dinding keramik yang mengelilingi kamar mandi itu.


"Kamar mandi di dalam ruang kerjanya saja sangat mewah, benar benar mereka membuang buang uang hanya untuk sebuah kamar mandi"


Edrea menepuk keningnya karena terheran.


Beberapa menit kemudian Edrea membuka pintu dia menemukan Jelo masih setia menunggu dirinya di depan pintu, sambil menopang tubuhnya dengan ke dua tangan yang bertumpu di sebelah kanan dan kiri gawang pintu seakan dia sedang mengepung Edrea agar tidak bisa keluar dari kamar mandi.


Mata Jelo menyapu tubuh Edrea. Dia benar benar terpana melihat kecantikan perempuan yang kini telah menguasai penuh atas dirinya.


Jelo tidak ingin melepaskan Edrea, dia juga tidak akan membiarkan Ronald dan perempuan itu datang lagi kepadanya.


"Aku sudah selesai, bisakah kamu menyingkir dari situ? aku harus lewat" ucapnya dengan menahan rasa gugub yang teramat.


Edrea terlihat sangat cantik menggunakan gaun berwarna biru muda yang melebar di bagian bawahnya dengan lengan sesiku, potongan leher yang memperlihatkan bagian pundak dan bawah lehernya yang jenjang dengan sangat indah.


"Gaun itu terlihat cantik, saat kamu yang memakainya" ucapnya tersirat akan sanjungan kepada Edrea.


Edrea menunduk tangannya meraih tengkuk dan lehernya secara bergantian.


Kemudian memaku tangannya di sana untuk menutupi dadanya yang sedikit terlihat.


Jelo melihat kearah kaki Edrea yang terlihat terus bergerak seolah mencari kenyaman di sepatunya.


"Kakimu sakit?"


"Mm" Edrea menggeleng pelan.


Jelo tersenyum dan menarik kembali tangannya, memberi jalan ke pada Edrea agar dia bisa lewat.


Namun baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah dari kamar mandi, Jelo langsung menahan tubuh Edrea dengan melingkarkan ke dua tangannya di pinggang Edrea.


Lalu mendekapnya dengan erat.


Edrea terkejut hingga nafasnya memburu seketika.


"Jelo apa yang kamu lakukan?" ucap Edrea berusaha meminta Jelo untuk melepaskan dirinya.


"Memelukmu" ucapnya dengan lembut. Dia membenamkan wajahnya di pundak Edrea.


"Nanti ada yang melihat"


"Aku sudah menyuruh Tara untuk menutup tirainya!"


"Kalau tiba tiba ada yang masuk?"


"Tidak akan! aku sudah mengunci pintunya"


Edrea nampak memutar otaknya untuk mencari alasan lain agar bisa lepas dari pelukan Jelo.


"Mau mencari alasan apa lagi, untuk lepas dari pelukanku?"


Edrea terkejut Jelo seakan bisa membaca isi pikirannya.


"E, mm, , Kakiku pegal, bolehkah aku duduk?" pinta Edrea kemudian.


Jelo tersenyum geli saat Edrea berusaha keras menjauh darinya.


Dia pun melepaskan pelukannya begitu saja.


Namun itu bukankah terkesan sangat aneh, katika Edrea meminta Jelo untuk melepaskan pelukannya, dengan mudah Jelo langsung menuruti keinginannya.


"Pasti ada alasan tertentu kenapa dia tiba tiba melepaskanku?"


Benar saja saat Edrea berhasil duduk di sofa, Jelo langsung menghampirinya.


Dia membungkuk di depan Edrea dan mengangakat setengah tubuh perempuan itu dan menggendongnya sebelun dirinya duduk dan memangku Edrea di pangkuannya.


Dada Edrea semakin berdebar, nafasnya terdengar kasar dan memburu lagi.


"Ya ampun!! posisi seperti apa ini, laki laki ini benar benar senang membuatku merasa malu"


Edrea menahan tubuhnya sendiri untuk tak terlalu dekat dengan Jelo. Namun Jelo meraih pinggang Edrea dan mendorongnya dengan kuat agar mendekat ke arah Jelo hingga tubuh mereka menempel.


Tangan Edrea bertumpu pada dada Jelo untuk menahan tubuhnya agar tak terlalu dekat dengan Tubuh Jelo.


Namun kekuatan tangan Jelo lebih kuat dibandingkan tangan mungilnya.


Jelo menengadah untuk melihat Edrea yang sedikit lebih tinggi darinya.


Dia nampak salah tingkak di buatnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan!!, biarkan aku turun!" ucapnya dengan galak.


Jelo tidak bergeming dia hanya tersenyum menantang ke arah Edrea. Kini dia malah membenamkan wajahnya di dada Edrea yang hangat itu.


Sontak tubuh Edrea memberi penolakan atas keterkejutannya. Tubuhnya bergerak ke belakang namun Tangan Jelo yang kekar itu hanya memberi dorongan sedikit kepada tubuh Edrea agar kembali mendekatkan tubuh perempuan itu ke arahnya.


Sekuat apa pun dia menarik tubuhnya sendiri menjauh dari Jelo tak akan bisa mengalahkan kekuatan lengan laki laki itu.


Kini tangan Edrea bergerak meraih kepala Jelo dan berusaha mendorong menjauh dari dadanya.


"Jangan menolakku!" ucapnya seketika.


"Biarkan seperti ini sebentar saja"


Jelo menikmati setiap tarikan nafasnya yang penuh akan aroma tubuh Edrea, seakan memberikan kenyamanan di hatinya. Membantu menghilangkan penat dan beban hidup yang selama ini di tanggungnya sendiri selama bertahun tahun.


Edrea memenuhi keinginan Jelo, dia membiarkan laki laki itu bersandar di dadanya.


Ketenangan menyelingkupi tubuhnya, berharap waktu berhenti seketika bahkan untuk selamanya, Ingin rasanya Jelo pergi jauh membawa Edrea dan Anin di dalam hidupnya. Menjauh menghilang dari bayang bayang Ayahnya yang pasti suatu saat akan terganggu dengan keberadaan Edrea di sisi putranya itu.


Bahkan Jelo sudah memikirkan sampai sejauh itu sebelum semuanya terjadi.


Betapa kerasnya dia berjuang untuk memikirkan kebebasan dirinya dari belenggu Ayahnya.


Bahkan untuk menghilangkan bayang bayang Ayahnya pun dia tak mampu melakukan itu.


Ada yang bergerak di dalam hati Edrea seolah menuntun tangannya untuk membelai kepala Jelo dengan lembut.


Jelo pun menengadah dan melihat ke arah wajah Edrea saat merasakan belaian lembut tangan Edrea


Ada rasa sedikit terkejut hingga membuat kening Edrea berkerut saat melihat mata laki laki yang sedang memeluknya itu terlihat memerah dan sedikit ada genangan bening di ujung matanya.


Edrea tidak bertanya perihal apa yang membuatnya sedih, namun dia seakan bisa ikut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Jelo.


Ibu jarinya bergerak mengusap ujung mata Jelo dengan lembut.


"Itu bukan air mata kesedihan" sejenak Jelo berhenti berucap untuk memberi ruang kepada Edrea berfikir sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Tapi air mata kebahagiaan karena telah menemukan dirimu di dalam hidupku yang tak berarti ini. Keberadaanmu kembali mengisi jiwaku yang telah lama kosong setelah kepergian Mamahku"


Edrea menatap mata Jelo dengan lekat, seolah dia ikut merasakan kesedihan yang tak bertepi di hidup Jelo.


"Jangan tinggalkan aku Edrea!" suara Jelo terdengar serak. Ucapanya tersirat akan sebuah permohonan di sana.


"Kamu tidak akan meninggalakanku bukan?, , itu janjimu padaku kemarin"


Jelo menatap ke arah Edrea, wajahnya memperlihatkan ekspresi yang tak terbaca di sana.


Edrea hanya tersenyum tipis ke arah Jelo sebelum mendengar ketukan pintu dan setelahnya terbuka hingga seketika menciptakan kekeningan di antara meraka.


Jelo lupa kalau Tara memiliki kartu akses untuk membuka kunci pintu apa pun yang ada di perusahaan ini, tak luput pintu ruang kerjanya juga.


Tubuh tara terpaku saat melihat Edrea tengah duduk di pangkuan Tuan Mudanya posisi mereka terlihat sangat sensual saat itu.


Seketika dia langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Tuan Mudanya dan Edrea. Pipinya pun merona melihat sesuatu yang tak seharusnya dilihat.


Edrea terkejut alih alih mendorong tubuh Jelo dan berusaha turun dari pangkuannya.


Namun yang ada Jelo malah menahan tubuh Edrea dan tidak membiarkannya pergi.


wajahnya bersemu merah.


"Lepas, dia bisa salah sangka nanti" bisiknya kepada Jelo.


"Biarkan dia salah sangka" Jelo berucap dengan keras sengaja agar Tara mendengarnya.


Mata Edrea membulat, jarinya bergerak kearah bibir Jelo untuk meminta dia memelankan suaranya.


"Jangan keras keras!" bisiknya lagi.


"Kenapa?? kamu meminta aku untuk menciummu?" Jelo semakin usil dia malah semakin mengeraskan suaranya. Sengaja menggoda Edrea di depan Tara.


Tara yang memunggungi mereka pun merasa salah tingkah sendiri.


"Ggmm!" dia berdehem untuk menguasai rasa canggungnya.


Edrea menggertakkan giginya karena jengkel. Ingin turun dari pangkuan Jelo tetapi laki laki itu menahannya dengan sangat kuat.


"Bocah ini memaksa Tara melihatku dengan posisi seperti ini?? jangankan orang asing bahkan dia anak buahnya pun akan mengira kalau akulah yang sedang menggodanya!"


Jelo menahan senyumnya sambil melihat ke arah Edrea yang terus salah tingkah dari tadi.


Edrea menangkupkan ke dua tangannya ke arah Jelo, memohon agar dia melepaskan dirinya.


"Apa?, , aku tidak mengerti maksudmu!" Jelo masih berbicara dengan keras memaksa Edrea untuk membungkam mulut laki laki di depannya itu dengan tangannya.


Dengan mudah Jelo meraih tangan Edrea dan menggenggamnya dengan erat.


"Jelo biarkan aku turun, aku mohon" pintanya masih dengan nada berbisik.


"kamu bilang ciumanku kurang panas??" teriaknya.


"Kenapa kamu tidak cekik aku sekalian biar mampus dari pada harus menanggung malu seperti ini! dasar bocah!!!"


Jelo terkekeh senang.


Edrea kembali membulatkan matanya penuh ke arah Jelo.


Dia sudah kehilangan akal karena ke dua tangannya sudah di cekal oleh Jelo.


Sedikit dia berbicara Jelo malah akan berucap yang semakin mambuatnya malu di depan Tara.


"Kamu minta aku untuk men , "


Edrea langsung membungkam mulut Jelo dengan mulutnya. Dia mengecup lama bibir Jelo.


Terlihat guratan kebahagiaan di mata Jelo saat perempuan yang dicintainya itu tengah mengecup bibirnya.


Dia tahu Edrea melakukan itu untuk menghentikan teriakan Jelo yang membuatnya merasa malu.


Jelo melepas ke dua tangan Edrea dan mengambil alih ciuman itu.


Tangannya bergerak meraih rahang edrea dan melumat bibirnya dengan sangat lembut.


Tara masih bertahan berdiri di sana. Bola matanya berputar seoalah sedang berfikir kenapa keheningan kini membentang di antara mereka.


Dia mengangkat ke dua alisnya sambil menahan senyum, seakan dia sadar apa yang sedang terjadi di belakangnya.


"Maaf Tuan Muda tetapi sebentar lagi rapat direksi serah terima jabatan akan segera di mulai" ucapnya dengan nada datar. Kelihatan kalau dia sangat bersusah payah menahan rasa canggungnya itu.


Tak mendengar sahutan dari Tuan Mudanya Tara sadar kalau dia datang di saat yang tidak tepat.


Dia pun melangkahkan kakinya ke arah samping menuju pintu dan keluar dari ruang kerja Jelo dan masih dengan cara memunggungi mereka.


Edrea mendengar suara pintu tertutup matanya kembali membuka setelah beberapa saat dirinya terhanyut dalam lumatan bibir Jelo.


Dia mendorong kuat dada Jelo dan segera turun dari pangkuannya di saat jelo sedang lengah.


Dia berdiri sambil mengatur nafasnya yang tersengal sengal.


Jelo kembali terkekeh, entah keberapa kalinya dia melakukan hal itu saat sedang bersama Edrea.


"Kamu sudah gila Jelo" ucap Edrea seketika sambil mengusap bibirnya yang masih sedikit basah.


"Iya, , gila karena kamu"