
"Apa hubunganmu dengan laki laki itu?" ucap ronald seketika memecah keheningan di antara mereka berdua semenjak keluar dari klinik.
Edrea yang duduk di kursi depan sebelah ronald memalingkan wajahnya ke arah belakang, melihat ke arah anin yang berada di kursi penumpang, memastikan kalau dia sudah tertidur sebelum menjawab pertanyaan mantan suaminya itu. Berharap putrinya tak mendengar percakapan mereka saat edrea menjawab pertanyaan ronald.
"Apa hubungannya denganmu!" edrea kembali melihat ke arah ronald dengan tatapan sinis.
"Aku ayah dari anakmu! tentu saja aku harus tahu, kamu berhubungan dengan siapa saja!" ucap robald dengan nada menuntut.
Edrea terkekeh sisnis.
"Kamu sudah tidak perlu tahu masalah pribadiku sampai sejauh ini! kalau pun kita bertemu, seharusnya yang kita bahas adalah masalah anin bukan diriku!"edrea membuang tatapannya ke arah luar kaca mobil. Menghela nafas panjang agar membantu melepas penatnya.
"Tetap saja, aku tidak mau melihatmu terus berdekatan dengannya! bisa saja dia membawa pengaruh buruk kepada anin!" ucap ronald dengan nada keras.
"Lalu bagaimana denganmu!!" edrea berucap seolah mengingatkan kesalahan fatal yang telah di lakukan ronald sampai membuat keluarga kecil mereka hancur seperti sekarang.
Bukan karena edrea masih menyimpan perasaan kepada mantan suaminya itu.
Namun lebih merasa jengkel kepada ronald yang terus merusuhi kehidupan pribadinya.
Setelah bercerai keinginan edrea adalah ingin kembali hidup normal tanpa bayang bayang mantan suaminya, namun yang ada ronald selalu berusaha mengajak dirinya untuk rujuk kembali.
"Tetap saja aku tidak mau melihat kamu dekat dengannya!" ucap ronald penuh rasa amarah di dalamnya.
"Kamu sudah gila!!" edrea frustasi dengan sikap ronald yang tak kunjung berubah. Mata edrea membulat ke arah ronald. Dia berusaha menahan suaranya agar tidak mengganggu tidur anin yang mungkin sekarang sudah masuk ke alam mimpinya.
"Dia itu muridku" ucapnya pelan pelan di selipi ketegasan agar ronald dapat mendengar dengan jelas.
"Tapi aku tak melihatnya seperti itu!! ada dirimu di mata laki laki yang katanya adalah hanya muridmu!! aku melihatnya edrea" ronald berusaha keras membuat edrea percaya dengan ucapannya.
"Dia selalu menatap ke arahku dengan api kecemburuan yang membara di matanya, apa kamu tidak menyadari itu!!" nada bicara ronald terdengar seolah memberi petunjuk kepada edrea untuk waspada dengan muridnya.
"Tapi aku tidak berfikir seperti itu" ucap edrea dengan nada tenang, seolah hatinya tak tergerak mendengar ucapan ronald.
Edrea mengalihkan pandangannya, wajahnya musam seketika, hatinya merasa kehawatiran yang mendalam.
Tak bisa di pungkiri, kalau diingat kembali sikap jelo memang sudah melebihi batas kewajaran seorang murid kepada gurunya.
Edrea berusaha meredam perasannya, namun ucapan ronald semakin meyakinkan dirinya atas sikap jelo yang berlebihan kepadanya.
"Selama ini aku bisa mengatasi murid murid yang mengejarku, bahkan tak hanya satu atau dua orang murid di setiap sekolah, walau pun akhirnya berujung pada pemberhentian kontrak kerjaku di sekolah. Kalau pun kali ini jelo juga melakukan hal yang sama, aku yakin aku bisa mengatasinya dengan baik" ucapan edrea di penuhi akan nada keyakinan yang teramat.
Selama ini memang banyak murid laki laki yang mengejarnya, walau pun sampai ada yang nekad seperti kemarin saat insiden pelecehan itu terjadi.
Dan pelaku utama pelecehan itu kini berada dekat di sekitar edrea.
Edrea tidak pernah berfikir kalau akan ada murid yang lebih nekad mengejarnya.
Namun semua itu masih di batas pemikiran edrea.
Dia tidak akan menyimpulkan sesuatu yang belum di dengar dengan indra pendengarnya sendiri.
♡♡♡
Setibanya di rumah edrea, ronald menghentikan mobilnya. Tubuhnya bergerak membuka sabuk pengaman namun edrea berusaha menghentikannya.
"Kamu tidak perlu susah payah turun dan masuk ke dalam rumahku, aku akan menggendongnya sendiri! pulanglah, , nanti pacarmu akan marah kalau menunggu lama" edrea berusaha untuk tidak membiarkan ronald berlama lama di rumahnya.
Sampai saat ini ronald memamg belum menikahi kekasihnya yang membuat hubungan mereka hancur.
"Edrea" ronald memanggil nama edrea dengan penuh nada memohon kepadanya.
Edrea tidak bergeming dia lebih memilih membuka pintu mobil belakang dan segera menggendong anin, setelahnya membawa masuk tubuh putrinya yang masih tertidur pulas itu.
Seketika geraham ronald mengeras di sertai urat halus di pelipisnya yang menguat menahan emosi karena penolakan edrea.
♡♡♡
Jelo melangkah keluar dari arah dalam rumahnya, memakai kaos warna putih dengan jaket kulit berwarna coklat yang melekat epik di tubuhnya.
Memperlihatkan bagian lekukan lekukan otot lengan yang terlihat macho.
Gerakan kaki dan tangan anak buah brahm tiba tiba menghadang di depan pintu rumah, seketika menghentikan langkah kaki jelo.
Aura gelap langsung menyelingkupi tubuh jelo, tatapan matanya tajam menusuk ke arah anah buah ayahnya yang berdiri tegap di depannya.
Menciutkan nyali anak buah ayahnya yang sebelumnya terlihat garang, seketika dia menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata tuan mudanya itu.
"Maaf tuan muda, tapi, , bukannya hari ini anda tidak libur?, , kenapa tuan muda tidak memakai seragam?" ucapnya di penuhi rasa ketakutan di setiap kata katanya.
Geraham jelo mengeras membuat urat urat halus di pelipis dan lehernya terlihat.
"Aku tidak perlu melapor padamu kan!!, , kenapa aku tidak memakai seragam hari ini!!" jelo menggeram ke arah anak buah brahm yang masih menghadangnya di depan pintu.
Tara nampak berjalan mendekat ke arah jelo, dia meraih pundak anak buah brahm dengan maksut untuk menengahi mereka, tara mendorong pelan tubuh lelaki berpakaian jas lengkap yang sedang menghadang tuan mudanya seolah meminta memberikan jalan pada tuan mudanya dengan santai.
"Aku yang akan mengurus tuan muda!, , setelahnya kamu bisa fokus kembali menjaga rumah ini" suara tara terdengar sangat rendah dan penuh wibawa sebagai seorang kepala dari anak buah brahm.
Dengan sigap anak buah itu menunduk sedikit untuk mengindahkan perintah tara dan kembali mematung di depan pintu rumah seperti semula.
Memberi jalan kepada jelo untuk bergerak lagi keluar dari rumahnya.
Kening tara berkerut ketika melihat tuan mudanya itu berjalan ke arah mobilnya, biasanya dia lebih memilih naik motor untuk pergi keluar dari rumah.
Jelo berdiri di dekat pintu mobil, melirik ke arah tara sengaja menunggunua untuk memberikan kunci mobil.
Tara nampak kebingungan, dia berjalan mendekat ke arah jelo.
"Anda berniat pergi naik mobil?" ucap tara seolah dia tidak percaya dengan pertanyaannya sendiri.
"Berikan kuncinya padaku!" suara tegas yang keluar dari mulut jelo seketika membuat tara tak bisa menolak.
Tara menatap mata jelo, tatapannya seolah sedang membaca ekspresi wajah jelo yang mulai gelap.
"Anda tidak bermaksut untuk menyetir sendiri kan?" ucap tara penuh keraguan kapada jelo.
Jelo dengan cepat mengambil alih kunci mecy berwarna putih miliknya yang selalu di pakai tara untuk mengekor jelo kemana pun dia pergi.
Matanya mengerucut menyelidik ke arah lelaki yang ada di sampingnya.
"Jangan mengikutiku!" perintahnya seketika dengan nada tegas.
Tara menunduk pelan memenuhi perintah tuan mudanya. Namun tak lantas dia mengindahkan perintahnya begitu saja.
Setelah jelo pergi tara pasti mengikuti jelo tanpa sepengetahuannya.
♡♡♡
Mobil jelo berhenti di depan halte bus di mana edrea biasa menunggu bus untuk berangkat kerja.
Seperti dugaannya edrea masih berdiri mununggu bus. Tak ada orang lain selain edrea.
Mata wali kelasnya itu nampak acuh melihat mobil mercy yang berhenti tepat di depannya. Membelalak seketika saat melihat jelo keluar dari mobil itu.
Bukan tertegun dengan mobilnya namun lebih ke jelo yang nampak terlihat sangat lebih dewasa jauh ketimbang umurnya.
Memaksa nafasnya memburu saat melihat jelo berjalan mendekat ke arahnya.
Murid laki lakinya itu terlihat sangat tampan kali ini.
"Astaga!!!, , apa yang sedang kamu pikirkan edrea!! sadarlah!!!"
Edrea bergidik, berusaha menguasai pikiran nakalnya yang tiba tiba mencuat keluar dari alam bawah sadarnya.
"Kenapa tidak pakai seragam!!" ucapnya kemudian.
Jelo hanya diam, tatapannya menyelidik ke edrea yang melihat je arahnya dengan sinis.
"Memangnya siapa yang mau berangkat sekolah?" jawabnya dengan nada remeh.
"Ikut aku" tambahnya kali ini di selipi nada sedikit memaksa kepada edrea.
Edrea diam memaku tubuhnya mendengar murid laki lakinya itu memberi perintah kepadanya.
Jelo sempat berjalan ke arah mobil, hingga kini dia berhenti dan menengok melihat edrea dengan tatapan jengkel karena wali kelasnya itu masih saja diam di tempat.
Jelo kembali berjalan mendekati edrea. kali ini jelo mendekat mendorong kepalanya ke arah telinga edrea.
"Kamu mau jalan sendiri masuk ke mobil!! atau aku akan menggendongmu" bisiknya dengan nada rendah di telinga edrea.
Pipinya merona, sekejap edrea berusaha menguasai dadanya yang berdesir.
"Aku harus mengajar kalau"
"Aku akan mengantarmu!" ucap jelo seketika memotong pembicaraan.
Dia mengubah sedikit tubuhnya untuk memberi edrea jalan menuju ke mobil.
Edrea muram, dengan berat hati dia berjalan dan masuk ke dalam mobil jelo.
Entah kenapa dia tak bisa menolak keinginan laki laki yang terlihat sangat kharismatik hari itu.
Senyum kesenangan mewarnai bibir jelo saat edrea masuk ke dalam mobilnya.
♡♡♡
Jelo mengendarai mobil melewati jalan perkotaan, semakin menjauh dari jalan menuju ke arah sekolahnya.
Kening edrea berkerut, pandangan matanya menyapu ke arah luar kaca pintu mobil.
"Kenapa kita melewati jalan menuju ke sekolah?" tanyanya seketika.
Jelo tak menjawab, dia hanya diam dan fokus ke jalan sambil memamerkan senyum manis ke arah edre.
"Coba lihat, bahkan senyumnya kali ini terlihat sangat manis"
Edrea bergidik mencoba menetralkan perasaannya.
"Ya ampun!!! apa coba yang aku pikirkan!!, , sadar edrea! dia sedang menggodamu!"
"Kenapa kamu diam saja!!" edrea mengeraskan suaranya.
Mobil jelo berhenti di parkiran sebuah toko jam bermerk di kota itu.
Edrea tak menyadarinya karena sedari tadi dia melihat ke arah jelo dan sibuk marah marah dengan murid laki lakinya itu.
"Turun" perintah jelo kali ini dengan nada lembut.
Edrea mengalihkan pandangannya ke arah sekitar. Dia baru menyadari kalau jelo membawanya ke sebuah toko jam berlantai dua.
"Kenapa membawaku ke sini!!" ucap edrea, dia menaikkan nada bicaranya karena jelo telah melangkah keluar dari mobil, mengitari mobilnya membukakan pintu untuk dirinya.
"Ayo turun" perintahnya lagi dengan nada lembut, kali ini dia mengulurkan tangannya ke arah edrea.
"Jawab dulu!, apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan!" ucap edrea menuntut ke pada jelo.
Jelo tersenyum, bahkan kali ini senyumnya terlihat lebih manis dari yang tadi dilihatnya.
"Menculikmu" ucap jelo seketika.