My Soul

My Soul
#27 Menikahlah denganku



Rintik air mulai berjatuhan membasahi tubuh mereka benar saja Jelo tidak menyadari kalau cuaca sudah menggelap saat mereka mamasuki pintu gerbang karena dia lebih memilih menikmati keindahan taman bunga dengan Edrea.


Air yang mulai berjatuhan dari langit kini mulai deras membuat Jelo menarik tangan Edrea memaksanya untuk kembali memeluk dirinya dari belakang.


Namu Edrea tak mengindahkan permintaan Jelo, dia hanya menggenggam erat jaket di samping kanan kiri pinggang jelo.


Hujan lebat mulai membatasi jarak pandang mata Jelo namun dia lebih memilih mempercepat laju motornya hingga Edrea merasa takut dan memeluk tubuh Jelo dengan erat.


Jelo nampak tersenyum dari balik helem yang menutupi wajahnya.


Motornya berhenti di depan pintu gerbang ke dua sebelum langsung membawanya ke pintu masuk mension yang sudah di persiapkan oleh almarhum mamahnya dulu.


♡♡♡


Tubuh Edrea nampak menggigil kedinginan dia duduk di lantai di depan perapian ruang tengah.


Dia memakai baju yang terlihat kebesaran di tubuhnya, pelayan tidak pernah berfikir kalau Tuan Mudanya itu akan membawa seorang perempuan ke mension, jadi dia tidak menyiapkan baju seukurannya.


Udara yang sudah dingin di tambah cuara di luar yang sedang hujan lebat menambah kedinginan makin menusuk ke dalam tulangnya.


Jelo membawa dua cangkir satu berisi coklat panas dan satu lagi berisi kopi pahit.


Dia duduk di dekat Edrea memberikan cangkir berisi coklat panas ke padanya.


Jelo menyercap kopi pahit miliknya.


"Maaf mengajakmu bermain air hingga basah kuyup" suara Jelo terdengar rendah matanya lurus menatap perapian.


"Kamu pikir aku anak kecil apa! yang suka main air hujan!" suara Edrea bergetar karena kedinginan.


Tangannya memegang secangkir coklat panas dengan menggigil.


Jelo mengangkat tangannya memaku di udara menggerakkan sedikit jarinya seolah memberi perintah kepada seseorang untuk mendekat ke arahnya.


Sepasang kaki perempuan mengenakan sepatu khusus pelayan di mension itu berjalan mendekat ke arah Jelo dengan membawa sebuah selimut di tangannya.


"Tuan Angelo" sapanya, pelayan itu memberikan selimut kepada Jelo dengan sangat sopan.


Jelo berdiri membentangkan selimut, kakinya berlutut membungkuk untuk menyelimuti tubuh Edrea dirinya ikut merangkup tubuh perempuan itu dari arah belakang dengan erat.


Edrea terkejut dan menengok ke arah belakang dengan cepat.


"Jangan menolakku lagi!" bisik Jelo dengan lembut dan nada bicaranya teedengar menuntut di telinga Edrea.


Dada Edrea berdesir, serasa ada yang bergerak di dalam dadanya.


Dia memilih untuk kembali melihat ke arah api yang membara.


"Kamu menguntitku tadi?" ucap Jelo.


Edrea terkekeh sinis.


"Siapa juga yang menguntitmu!" tepisnya.


"Kamu mengikutiku semenjak aku keluar dari arah parkiran sekolah kan?" ucapnya menuntut Edrea untuk menjawab pertanyaannya.


Edrea menghela nafas.


"Hanya memastikan" Edrea berusaha mengelak lagi.


Jelo bergerak mengubah posisi dari belakang Edrea kini duduk dan menghadap ke arah Edrea.


Tangannya membelai lembut anak rambut Edrea dan menyimpan ke belakang telinganya.


"Kamu cemburu??" tanyanya kemudian.


Edrea sedikit terkejut mendengar ucapan Jelo.


"Kamu tahu apa itu cemburu?" nada bicara Edrea terdengar mengejek ke arah Jelo.


"Aku pernah menonton film, , aku tidak tahu apa itu sakit hati, apa itu cemburu, , tapi keberadaanmu mengajarkanku itu semua" sejenak Jelo berhenti berbicara untuk kembali mencercap kopi yang sudah mulai dingin.


Melihat ekspresi Jelo yang terlihat mengerutkan dahi saat mencercap kopinya Edrea merasa yakin kalau kopi itu pasti terasa pahit.


"Pahit?" tanyanya.


"Mm" Jelo mengangguk pelan, tatapan matanya kembali melihat ke arah Edrea dengan lembut.


Pipi Edrea bersemu merah karena malu.


"Kenapa?, , sudah tahu pahit kenapa tidak di tambah gula?" ucapnya kemudian.


"Sudah ada kamu!" Jelo meraih dagu Edrea.


"Seperti hidupku yang pahit, , namun sekarang sudah terasa sangat manis karena kehadiranmu!" ucapnya dengan tatapan melembut ke arah Edrea.


Edrea mengalihkan pandangannya, mencoba menutupi rasa malu karena Jelo terus membuatnya salah tingkah.


Edrea teringat akan ucapan tara waktu itu untuk memberinya pilihan.


Antara berada di sisi Jelo atau pergi dari hadapan Jelo.


Sepertinya Edrea kini yakin dirinya tak mampu pergi jauh dari kehidupan Jelo, selain dirinya merasa nyaman seperti sekarang dia juga memikirkan perasaan Anin, putrinya yang juga merasa nyaman saat berada di dekat laki laki yang kini sedang tersenyum sambil memandang ke arahnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" ucapnya penasaran.


"Mm" Edrea menggeleng pelan.


Jelo meraih tengkuk Edrea dan mengecup bibirnya.


Matanya mengawasi wajah Edrea kini tak ada penolakan lagi darinya.


Wajah pelayan nampak terkejut saat melihat pemandangan yang seharusnya tak dilihatnya.


Edrea semakin malu, dia berusaha menutupi wajahnya dari pelayan itu.


"Maaf Tuan" pelayan itu menunduk penuh rasa ketakutan.


Jelo menengok ke arah pelayan itu tanpa melihat wajahnya seolah sedang menunggunya pelayan itu untuk segera menyelesaikan urusannya.


"Kamar yang Tuan Muda minta sudah saya persiapkan. Saya akan meninggalkan mension, jika Tuan Muda membutuhkan sesuatu Anda bisa memanggil saya di ruang belakang"


Pelayan itu masih bertahan di tempatnya sebelun mendapat ijin dari Jelo maka dia akan terus berdiri di sana.


"Pergilah" ucap Jelo kemudian.


Pelayan itu menunduk memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Jelo.


"Kamar?"kening Edrea berkerut.


"Kita menginap" ucap jelo kemudian.


Edrea terkejut dia nampak gelisah.


"Tidak bisa aku harus pulang, Anin dan Ibu"


"Aku sudah menyuruh Tara mengirim orang untuk mengurus mereka berdua" Jelo memotong pembicaraan.


"Aku tidak yakin" Edrea berusaha mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Namun Jelo sudah terlebih dulu memperlihatkan foto foto kebahagiaan antara Anin dan Ibunya saat bersama dengan pelayan yang menjaga mereka.


Edrea menyambar ponsel dari tangan Jelo dengan cepat. Melihat dengan lekat ke arah layar ponsel milik Jelo yang terlihat bening dan besar itu.


Pantas saja ponselnya merk keluaran baru.


Ada sedikit kelegaan di wajah Edrea melihat foto putri kcilnya tengah tertawa bersama Ibunya.


"Sudah puas?" ucap Jelo saat Edrea menyerahkan kembali ponselnya.


Edrea mengubah duduknya kembali mengarah ke perapian.


Wajahnya seperti sedang berfikir keras mencari alasan untuk tak menginap di sana.


"Di luar masih huja lebat, jadi kita akan tetap menginap di sini" ucap Jelo seolah menepis keinginan Edrea yang belum sempat terucap dari bibirnya.


"Mm, , aku bisa tidur di sini! kalau kamu mau kamu bisa tidur di kamarmu" Edrea berucap seolah sedang menghindar dari sesuatu.


Jelo terkekeh riang.


"Kamu takut aku akan menyentuhmu?" tanyanya seketika.


"Otakmu kotor!!, , aku tidak berfikir sampai ke arah situ"


"Menikahlah denganku Edrea" ucap Jelo dengan tiba tiba.


Seketika keheningan membentang di antara mereka. Suara derasnya hujan di luar terdengar menggema di ruang perapian.


Edrea memaku tubuhnya, tatapan matanya masih melihat ke arah api yang semakin membesar hingga berbayang di kedua bola matanya.


Jelo masih terdiam menunggu reaksi Edrea setelah meminta dirinya untuk menikah dengan Jelo.


Tangan Edrea bergerak meraih cangkir coklatnya yang kini sudah berubah dingin seperti udara di luar.


Tangan Jelo menelusup ke sela rambut dan meraih pipi Edrea dengan lembut, memaksa Edrea untuk melihat ke arahnya.


"Kenapa kamu diam saja?" tanyanya kemudian.


Mata Edrea mengawasi ke dua bola mata Jelo dengan lekat.


"Kamu pikir menikah hanya karena berdasarkan suka sama suka?" Edrea mengingat kembali kenangan buruk akan perihal pernikahannya yang hancur karena sikap Ronald.


"Rasa cinta bisa berubah menjadi benci dalam hitungan detik, begitu pun sebaliknya"


Edrea masih takut ketika harus menjalin hubungan dalam ikatan resmi. Dia masih merasa takut jika suatu saat nanti harus kembali merasakan rasa kekecewaan yang pernah Ronald goreskan di hatinya.


"Aku bukan Ronald yang akan meninggalkanmu begitu saja" ucapnya masih dengan menatap mata edrea dengat lekat. Dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Edrea.


"Aku lebih takut, ketika suatu saat nanti malah dirimu yang akan meninggalkanku" tambahnya.


Edrea tidak bisa berfikir dengan jelas, kehadiran Jelo di hidupnya sudah sangat besar efeknya terutama ke pada putri semata wayangnya.


Di tambah lagi kini dia meminta untuk menikah dengannya, ini sungguh sesuatu di luar dugaan, dan sangat tiba tiba terlalu cepat bagi Edrea ketika Jelo mengambil keputusan untuk menikahinya.


"Kamu masih memiliki banyak waktu, suatu saat kamu akan menyesalinya karena telah memilihku, masih banyak perempuan lain yang lebih pantas mendapatkan cintamu dibandingkan diriku. Aku hanya orang biasa Jelo. Tak memiliki apa apa yang bisa membuatmu untuk memilihku"


"Aku memiliki segalanya, dan yang aku butuhkan sekarang hanya dirimu dan Anin"


Edrea terkekeh.


"Kamu pikir hanya dengan menikah kita bisa hidup? aku memiliki tanggungan yang cukup besar, kamu??" Edrea terdengar seperti sedang merendahkan Jelo.


"Masih duduk di kelas 3 SMA bagaimana caramu akan menghidupiku dan keluargaku nanti?" tambahnya diselingi tawa mengejek ke arah Jelo.


"Apa kamu membicarakan masalah uang?"


Edrea tidak bergeming. Bukan munafik hidup sekarang memang butuh uang bagaimana pun setelah menikah uang adalah hal yang menjadi perdebatan setiap hari.


"Masalah uang aku bisa mencari sendiri"


Benar tapi sebagai laki laki itu adalah tanggung jawabnya untuk menafkahi keluarganya.