My Soul

My Soul
#34 Sakit



Edrea kembali mengajar seperti biasanya, namun pikirannya hari itu hanya tertuju pada bangku kosong. Dimana biasanya Jelo duduk di sana.


Ttteeeeeeett!!


Suara bel sekolah mengakhiri jam pelajaran hari itu.


"Edrea?" suara Teo guru olah raga dari arah belakang menarik perhatian Edrea. Hingga perempuan itu menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Teo.


"Aku akan mengantarmu pulang" tambahnya.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" entah mengapa pikirannya selalu tertuju ke pada Jelo. Hingga membuat hatinya selama beberapa hari ini tidak bersemangat.


Pasalnya setelah malam itu, Jelo tak ada kabar sama sekali bahkan dia juga tidak menghubungi Edrea.


Perempuan itu kini berjalan melewati tempat parkiran siswa dengan wajah frustasi untuk menuju ke pintu gerbang. Matanya menyelidik ke arah motor yang berjejer rapih di sana. Biasanya dia melihat motor milik Jelo terparkir di tempat itu.


"Aku ingin melihatnya!"


Edera menghela nafas panjang untuk mengatasi rasa kegelisahan di dalam hatinya.


"Jelo sekarang udah nggak sekolah lagi. Jadi nggak semangat karena berasa ada yang hilang" suara Azel yang sedang berjalan ke arah motornya seketika memaku langkah kaki Edrea.


"Kapan kita kumpul? coba hubungi dia. Aku nggak berani kalau harus ke rumahnya" ucap Basti sambil memakai helamnya.


"Horor ya, ,"


"Melebihi rumah hantu kali" mereka pun tertawa mendengar Basti mengucapkan hal itu.


"Kalian mau menengok Jelo?" Zeline yang baru datang langsung berucap ke arah mereka berdua.


Ujung matanya nampak bergerak menyelidik ke arah Edrea yang sedang berdiri tidak jauh darinya.


Azel dan Basti hanya saling lempar pandang, seolah mereka tidak mengerti dengan ucapan teman perempuannya itu.


"Jangan bilang kalau kalian tidak tahu kondisi Jelo sekarang?. Kalian bilang diri kalian sahabat untuk Jelo?? tapi sekarang dia sakit kalain tidak tahu!" mata Zeline menyelidik ke arah Basti dan Azel. Pasalnya mereka hanya diam saat mendengar kabar tentang jelo.


"Dia tidak memberitahuku!" Azel meraih ponselnya yang ada di dalam saku celana.


Zeline tersenyum sinis.


"Ya ampuuun! teman macam apa kalian ini!" cibirnya.


Edrea nampak terpaku saat mendengar pembicaraan mereka bertiga.


"Kenapa dia tidak memberi tahuku?"


Ederea segera beranjak dari tempat itu untuk menemui Jelo.


Sementara Zeline matanya memandang ke arah Edrea yang semakin menjauh darinya.


"Sepertinya Jelo tidak memberi kabar kepada Guru magang itu. Apa mereka sedang bertengkar?"


♡♡♡


Edrea menyuruh taxi untuk berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Gerbang berwarna hitam itu merupakan salah satu akses menuju ke rumah Jelo.


Ada beberapa penjaga berpakaian jas hitam lengkap berdiri di sana. Menjaga pintu gerbang itu dengan sangat baik.


Mereka berdiam diri seperti robot, bahkan hanya bergerak ketika melihat Edrea berjalan mendekat ke arah gerbang itu.


"Maaf, Anda siapa?" salah satu anak buah Brahm tengah menghadang Edrea.


"Ee, , aku" Edrea nampak tergagab ketika melihat laki laki menjulang tinggi itu menghalangi jalannya.


Salah satu dari anak buah Brahm tangannya tengah meraih telinga sebelah kiri seakan dia sedang mendengarkan perintah dari seseorang melalui alat yang menempel di telinganya.


Kemudian dia mempersilahkan Edrea untuk masuk ke dalam.


Anak buah Brahm menekan tombol sehingga pintu gerbang itu terbuka secara otomatis. Setelahnya dia menemani Edrea masuk ke dalam menuju ke rumah Jelo.


♡♡♡


"Dia ada di sini, saya sudah menyuruhnya masuk" Tara memberi tahu kalau Edrea tengah menunggunya di ruang tengah


Jelo masih teridur di atas ranjang, setelah pulang dari rumah Edrea beberapa hari yang lalu dia langsung jatuh sakit.


Sudah beberapa kali Tara menyuruh Dokter keluarga untuk datang memeriksa keadaan Jelo, namun dia tidak mau bertemu dengan Dokternya.


Jelo tidak bergeming, dia hanya diam dan masih tidur sambil memunggungi Tara.


"Maaf, Tuan Muda tidak bisa menemui Anda" ucap Tara.


Edrea nampak tak suka mendengar ucapan yang jeluar dari mulut laki laki yang sedang berdiri di depannya itu.


"Kalau dia tidak mau menemuiku, biar aku yang menemuinya!" ucapnya dengan nada menuntut.


Edrea beranjak dari sofa dan berjalan ke arah tangga.


"Maaf Nona" anak buah Brahm lainnya tengah mencegat Edrea.


"Minggir!!" ucap perempuan itu dengan nada setengah berteriak.


Laki laki itu melihat ke arah Tara yang sedang memberi kode kepadanya agar mempersilahkan perempuan itu naik ke lantai dua di mana kamar Jelo berada.


Dengan cepat laki laki bertubuh tegap itu menyingkir memberi jalan kepada Edrea


Edrea menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar Jelo.


Dia melihat laki laki itu tengah tidur memunggunginya dengan setengah badan yang tertutup selimut.


Edrea melangkah perlahan ke arah ranjang, memposisikan dirinya tepat berdiri di depan Jelo. Dia melihat Jelo masih tertidur dan menutup matanya.


"Kamu sedang tidak tidur kan?" ucapnya kemudian.


Mata Jelo langsung membuka namun tatapannya lurus ke depan tak melihat ke arah Edrea.


Laki laki itu nampak sedikit kesusahan saat merubah posisi tidurnya menjadi duduk di atas ranjang.


Edrea bermaksud untuk menolong Jelo namun dia tiba tiba mengurungkan niatnya.


"Kenapa datang kemari?" Jelo masih berusaha menghindari tatapan mata Edrea.


"Dari mana Zeline tahu kalau kamu sakit?, , sementara ke dua sahabatmu?? mereka juga tidak mengetahuinya?" Edrea mengawasi raut wajah Jelo dengan lekat.


"Kamu juga tidak memberitahuku?"


Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Edrea seakan memberi angin sejuk di hati Jelo.


Dia mengalihkan pandanganya ke arah Edrea. Mata dan wajahnya memerah, sementara kelopak mata juga membesar seakan memeperlihatkan betapa suhu badannya sangat tinggi.


"Apa keadaanku ini begitu penting untukmu?"


Mendengar Jelo mengatakan hal itu dada Edrea terasa sesak dan nafasnya pun sedikit memburu.


Ada senyum kekecewaan yang mewarnai bibir Edrea.


"Kamu anggap aku ini apa?, , kamu yang menyeretku ke dalam kehidupanmu sejauh ini! dan sekarang kamu bertanya, apakah keadaanmu begitu penting untukku???" sejenak dia menghentikan ucapannya untuk menghela nafas.


"Jika aku kembali bertanya kepadamu, sepenting apa diriku di hidupmu? apa kamu bisa menjawabnya?"


Jelo terkekeh mendengar pertanyaan dari Edrea.


"Kamu pikir yang aku lakukan selama ini untuk apa? untuk siapa?"


Edrea memaku bibirnya, sementara matanya masih menatap Ke arah Jelo.


"Bahkan kamu tahu dengan benar kalau dirimu sangat berarti untukku. Tapi kamu masih menolakku dan kamu juga belum yakin dengan perasaanmu sendiri. Lalu apa aku harus memberi tahumu keadaanku yang sekarang? apa aku tidak punya malu harus sampai mmberi kabar tentang keadaanku kepada orang yang bahkan aku sendiri tidak tahu orang itu menyukaiku atau tidak. Apa yang ingin kamu dengar dari mulutku hingga kamu percaya kalau aku sangat membutuhkanmu??"


Edrea membisu, mulutnya seakan tak bisa berucap sepatah kata pun.


"Apa ini karena waktu malam itu?? saat aku menolakmu?" Perempuan itu kini berjalan lebih mendekat kepada Jelo.


Jika memang benar mungkin akan terlihat bahwa Jelo seperti anak anak yang sedang marah karena tak di penuhi keinginannya.


Namun bukan hanya karena hal itu, baginya mengetahui perasaan Edrea jauh lebih penting ketimbang hal yang lain.


Perempuan itu kini telah berhasil duduk di tepi ranjang. Matanya menyapu seluruh wajah Jelo dengan lembut.


"Waktu itu aku hanya belum yakin dengan perasaanku"


Kini Edrea nampak ragu saat tangannya akan meraih tangan Jelo.


Tatapan mata Jelo melembut ke arah Edrea.


"Tidak perlu memaksakan diri seperti itu. Aku tidak akan memaksa seseorang untuk menyukaiku!"