
Laki laki itu melanjutkan langkahnya dan berhenti di depan Tara.
Dia menatap lekat mata Tara, menajam seperti ujung tombak yang seakan siap menusuk jantungnya.
"Perempuan itu wali kelas Tuan Muda" ucap Tara seakan dia sudah mengerti dengan jelas apa yang sedang dipikirkan oleh Tuannya itu.
Setelahnya Brahm masuk ke dalam ruang ICU, melangkah mendekat ke arah ranjang.
"Aku sudah mendapatkan laki laki yang yang mencelakaimu! seharusnya kamu sadar dari komamu untuk menyakasikan aku menghabisi laki laki itu!" seketika aura ruangan itu menggelap dan membuat bulu kuduk merinding.
♡♡♡
Tara berjalan menuju ruang kerja Brahm, dia juga masih tidak tahu apa yang akan di bicarakan Tuannya.
Dia berdiri di seberang meja kerja.
Sementara Bram masih mengawasi beberapa lembar foto yang ada di tangannya, ujung matanya sempat milihat ke arah Tara sebelum membuang foto itu ke meja hingga berserakan di sana.
Wajah Tara memaku saat melihat foto itu, namun dia berusaha menahan rasa terkejutnya agar Brahm tak merasa curiga. Namun dia sadar bahwa semuanya sudah terlambat.
Brahm menarik tubuhnya bersandar di dinding kursi. Sementara jari tangannya saling bartautan.
Tatapannya menajam ke arah Tara dan seketika ruangan itu di penuhi aura menggelap dan mencekam.
"Itu foto laki laki yang telah menabrak Putraku" Brahm memulai pembicaraan dengan nada santai namun terdengar sangat mengerikan di telinga Tara.
"Dan perempuan yang ada di samping laki laki itu adalah mantan Istrinya. Perempuan yang sama dengan perempuan yang kemarin keluar dari ruang ICU. Kamu bilang dia Wali kelas Angelo??" Brahm pun terkekeh.
Tara menunduk tapi sesekali dia mencuri pandang untuk melihat ekspresi wajah Tuannya. Sementara Bram hanya memperlihatkan ekspresi yang tidak bisa di tebak.
Brahm mengangkat tangan, menggerakkan jarinya untuk memberi isyarat kepada anak buahnya yang setia berdiri di pintu.
Laki laki bertubuh kekar dengan mengenakan setelan jas hitam itu melangkah mendekat ke arah Brahm. Dia memberikan sebuah ponsel kepada Tuannya.
Brahm beranjak dari kursinya dan meraih ponsel itu, ibu jarinya bergerak mengusap layar ponsel.
Dia menyeringai, senyumnya sangat manis namun mematikan lawannya.
Brahm menyalakan video, dalam video itu terdengar suara teriakan perempuan dewasa dan seorang anak kecil sedang menangis memohon ampun.
Mata Tara membulat, tanpa melihat videonya dia tahu jelas bahwa suara itu adalah suara Istri dan anaknya.
Nafasnya memburu, dadanya bergemuruh dan memanas karena menahan amarahnya. Dia tahu dengan benar kalau dia melawan laki laki di depannya itu, maka keluarganya akan di habisi saat ini juga.
"Ayaaaahhh" suara anak kecil yang sedang berteriak memanggil namanya diiringi isak tangis menggema di telinga Tara.
Dahinya berkerut kasar, ada kilauan air di ujung matanya.
Wajahnya memerah karena menahan tangis saat mendengar teriakan orang yang disayanginya.
Kaki Tara melemas, dia menekuk lututnya dan lagi lagi bersujud di depan Brahm.
"Kamu tidak ingin melihat seperti apa reaksi Istrimu ketika sebuah pistol mengarah tepat di depan Kepala anak perempuanmu?"
Tara langsung membungkuk menggunakan ke dua tangannya untuk menopang tubuhnya yang bertumpu di lantai.
Kilauan bening itu kini mengalir menetes ke punggung tangannya.
"Bunuhlah saya, jika itu bisa membuat Anda puas Tuan" rahang Tara menguat karena gertakan giginya.
Dia berusaha menguasai emosi yang membakar habis dadanya.
Brahm mengambil pistol dari balik jasnya, memposisikan pistolnya dalam keadaan siap untuk menembak dan mengarahkan ujung pistol itu ke kepala Tara yang sedang menunduk.
Tara memejamkan mata, keringat dingin mengalir melewati pelipis bercampur menjadi satu dengan air mata di ujung dagunya.
Brahm terkekeh kemudian berubah menjada tawa penuh kepuasan yang menggema di setiap sudut ruang kerjanya.
"Aku tidak mungkin membunuhmu Tara!" Brahm kembali menyimpan pistolnya di balik jas hitam.
"Aku masih membutuhkanmu!" Bram kembali berjalan duduk di kursi.
"Lalu, apa hubungan mereka?" Bram berusaha membuat Tara menceritakan semuanya tentang Putranya selama beberapa hari ini.
Tara masih bersujud di lantai, kini dia mulai menceritakan apa hubungan Jelo dengan Edrea.
"Kamu bilang Putraku mencintai janda itu??" ucapnya tak percaya.
"Apa yang menarik dari perempuan itu!!" Bram mulai memainkan kursinya, memutar ke kanan dan kekiri dengan satu kaki yang di silangkan di atas kaki lainnya.
"Angelo mau menandatangani pengangkatan jabatan apa juga karena perempuan itu?" Brahm tersenyum sinis.
Tara hanya diam, tak berucap apapun.
"Dia perempuan yang sama dengan perempuan lain. Dia pasti membutuhkan banyak uang untuk menghidupi keluarganya" Bram menghentikan ucapanya sejenak. Dia menutup matanya seakan sedang memutar otak, mencari cara agar perempuan itu menjauh dari putranya.
"Bawa perempuan itu kemari" ucapnya kemudian.
Tara tak membantah, dia tahu perasaan Brahm sedang buruk. Dia lebih memilih untuk mengikuti keinginan Tuannya.
♡♡♡
Jelo telah di pindah ke ruang inap setelah Dokter mengatakan keadaannya semakin membaik.
Semua alat yang yang menempel di dadanya telah di lepas, begitu juga dengan selang yang membantu pernafasannya.
Jelo berusaha membuka matanya perlahan, dia melihat bayangan laki laki yang memakai pakaian lengkap berwarna hitam, yang tidak lain itu adalah Brahm Ayahnya.
"Tuan Muda??" ucap Tara dengan penuh harap. Dia merasa sangat senang dan hampir lepas kendali untuk memeluk tubuh pria yang masih lemah itu.
"Tara?" suaranya terdengar sangat serak dan tubuhnya masih lemah.
"Syukurlah bisa melihatmu sadar kembali" Brahm berucap dengan santai, benar benar gila seperti tak pernah terjadi apa apa dengan putranya. laki laki itu langsung pergi meninggalkan Jelo di ruang itu bersama Tara.
Jelo memejamkan matanya dengan erat, dia berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Tuan Muda??, bagaimana keadaanmu?" Tara berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Aku, kepalaku masih terasa sakit" Jelo berusaha memejamkan matanya merasakan kepala dan bagian tubuhnya yang masih terasa ngili.
"Jangan di paksakan Tuan, syukurlah tidak ada tulang di tubuhmu yang patah" seperti julukannya anak Dewa. Jelo terselamatkan dari tabrakan mobil yang kencang waktu itu.
Hanya mengalami pendarahan di bagian otaknya. Namun laki laki itu bisa melewatinya dengan baik.
"Edrea?" Jelo menyebut nama perempuan itu. Dan hanya ada nama Edrea di dalam ingatannya.
"Dia tidak di sini Tuan, lebih baik Tuan Muda fokus dengan kesehatan Anda" Tara berucap untuk menenangkan Jelo.
♡♡♡
Selesai mengajar Edrea pulang menaiki bus, setelah turun di halte dia dan berjalan melewati trotoar untuk menjemput Putrinya.
Namun langkahnya terhenti saat mobil hitam menghadang di depannya.
Dia terkejut saat melihat beberapa orang turun dari mobil dan langsung meraih lengannya dengan erat.
Laki laki itu mencengkeram membungkam mukut Edrea.
"Lepas!!, ,mmmmmm"
Saat di dalam mobil prempuan itu meronta dan terus berusaha melepaskan diri.
"Diam!!" salah satu dari mereka berteriak ke arah Edrea.
"Jangan berbuat kasar dengannya!!" ucap Tara.
Mata Edrea membulat penuh saat memdengar suara yang tidak asing dari arah kursi depan.
Perempuan itu mengarahkan pandangannya ke arah laki laki yang duduk di sebelah kursi supir.
"Tara???, , ada apa ini sebenarnya??"