
Ronald tahu, dilihat dari celana abu abu dan baju putih di balik jaket kulitnya itu, menandakan akan status laki lali yang duduk di sebelahnya.
Tapi dia ingin lebih memastikannya lagi kepada edrea, apa hubungan mereka.
"Dia om gantengku papah, dia temanku, , dia berjanji akan menemaniku setiap hari untuk mengganti keberadaan papah ketika papah sibuk bekerja ya kan om"
anin meraih tangan jelo dan menggenggamnya.
Jelo hanya melempar senyum ke arah anin sambil membalas genggaman tangannya.
Terlihat senyum tipis edrea menghiasi wajahnya, di penuhi rasa kepuasan ketika mendengar anin mengatakan hal itu.
Seolah membalas rada sakit hatinya.
"Anin, apa mamahmu tidak pernah mengatakan kalau jangan terlalu dakat dengan orang asing?" ronald seperti sedang memposisikan dirinya di tempat yang paling benar.
"Dia bukan orang asing pah" suara mungil itu seperti sedang membela keberadaan jelo di antara mereka.
"Aku berusaha menjadi teman yang baik buat anin, bukan menjadi orang yang akan meninggalkannya begitu saja" jelo berucap dengan nada lirih di penuhi dengan penekanan di setiap kata katanya.
Ronald mulai terpancing emosinya mendengar jelo mengatakan hal itu, dia berdiri dan mengepalkan ke dua tangannya.
Edrea meraih tangan ronald yang sedang tersulut emosi, dia berusaha menenangkan dirinya untuk tidak berlaku buruk di depan putrinya yang sedang sibuk menikmati es krim.
Mata jelo melekat ke arah tangan edrea yang sedang menggenggam tangan ronald.
Entah perasaan apa lagi ini, yang menggerayangi jiwanya. Dia tidak bisa mengartikan, namun hanya bisa merasakannya.
Anin meletakkan sendok di samping mangkuk es krim yang kini sudah habis bersih tak tersisa.
"Om bisakah kita pulang sekarang?" anin lebih memilih jelo untuk mengantarnya pulang.
"Bisa, anin mau pulang sekarang at?"
"Tidak bisa anin, papah akan mengantar kalian" ronald memotong bembicaraan.
"Tapi anin ingin, om angelo yang memgantar anin" anin berucap seolah seperti sedang memberi tahu nama laki laki dewasa yang sedang di depannya itu.
Dia turun dari kursi dan berjalan ke arah jelo menggandeng tangannya.
Dengan senang hati jelo malah langsung menggendong anin membawanya berjalan ke arah motor yang di parkir tidak jauh dari mobil ronald.
Edrea melepas tangannya dan berjalan menghampiri anin, namun ronald maraih tangan edrea berusaha menghentikannya.
"Kamu juga ikut ikutan pulang betsamanya?"
"Aku sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk anin" ucap edrea seolah tersirat kalau jelo akan menggantikan posisi ronald di hidupnya.
"Kamu sedang tidak bercanda denganku kan?" ronald semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan edrea.
"Lalu bagaimana denganmu??, saat kamu menggantikan posisiku dengannya, saat itu kamu juga sedang tidak bercanda kan?" edrea merasa puas kali ini bisa membalas ronald.
Dia menghempaskan tangan ronald dengan kasar, kemudian menghampiri anin dan jelo yang sudah menunggunya.
"Menggantikan posisimu???, , aku tidak ingin terluka lagi ronald. Biarkan aku dan anin berdua menikmati hidup kami, kamu atau siapa pun, tidak akan ada yang masuk ke kehidupan kami, , , untuk jelo??? biarkan nanti lama lama anin juga akan mengerti, kalau dia tidak bisa selamanya manjadi omnya"
♡♡♡
Jelo menghentikan motornya di depan rumah edrea.
Rumah yang terlihat sangat hangat walau pun baru di lihat dari luarnya saja.
"Masuk yo om, , , mamah akan memasak untuk kita, sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengantar kita pulang, ya kan mah"
Anin tahu kalau mamahnya tidak akan pernah bisa menolak keinginannya.
Edrea hanya tersenyum paksa sambil menggaruk pelan kepalanya.
"Tapi mamah lupa belum belanja nak, jadi mamah tidak bisa memasak untuk om mu ini" ucap edrea sambil menetralkan perasaannya yang mulai jengkel dengan sikap jelo yang malah dengan sengaja mendorong dirinya lebih dalam lagi untuk dekat dengan anin.
"Ibu baru saja belanja, sudah ibu belikan semua, sayur dan daging untuk mengisi kulkasmu" suara orang tua terdengar dari arah belakang edrea, membuat mereka mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Ibu?" edrea terkejut, meraih beberapa kantong plastik yang ada di tangan kanan dan kiri ibunya.
"Sudah berapa kali aku meminta ibu untuk tidak melakukan ini, kalau ibu tidak mau mendengarku, setidaknya kamu bisa menjaga kesehatanmu sendiri bu"
edrea membantu ibunya berjalan ke arah dalam rumahnya.
Jelo diam memaku tubuhnya, dia seperti sedang mencerna sikap edrea. Kasih sayang di antara mereka berdua meluluhkan akan pikirannya tentang seorang perempuan yang selama ini dianggapnya menjijikkan dan tak layak mendapat perhatian darinya.
Terlintas sosok mamahnya di benak jelo sekilas, sebelum suara anin yang masih berdiri di dekatnya kembali meracau pikirannya.
"Ayo om" anin menarik tangan jelo berusaha membawanya masuk ke dalam rumah.
Jelo menapaki rumah kecil edrea, sempit, terlintas di otaknya, bahkan untuk sebuah ruang tamu saja tak seluas kamar mandi pribadinya.
Namun terasa sangat nyaman, kehangatan mengelingkupi dirinya ketika mulai masuk ke dalam ruang keluarga, melihat foto keluarga terpasang hampir memenuhi setiap tembok.
Hanya bertiga, edrea, anin, dan ibunya.
"Sedang apa kamu di situ?"
Suara edrea mengacau pikirannya seketika, memaksa untuk mengalihkan pandangannya dari foto ke arah edrea yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
Edrea meraih foto yang kini sudah berada di tangan jelo.
"Aku hanya sedang melihatnya" ucap jelo sedikit gugup, dia berjalan keluar dari ruang keluarga menuju pintu yang langsung menghubungkan ke ruang tv.
Jelo melihat anin sedang duduk sambil menyiapkan sebuah kertas kosong, pensil warna dan alat untuk menggambar lainnya.
"Kamu ingin menggambar apa?" jelo berjalan mendekat ke arah anin.
"Ada deh, om bantu aku buat mewarnainya ya" ucap anin sambil mengeluarkan isi kotak krayonnya.
"Mm" jelo hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Nampak edrea keluar dari ruang keluarga, berjalan ke arah dapur yang langsung terhubung dengan ruang tv.
Dia mulai mencuci sayur dan mempersiapkan bahan bahan lainnya sebelum mulai memasak.
Tentu saja matanya terus mengawasi anin dan murid laki lakinya itu.
Sesekali edrea tersenyum ketika melihat anin tertawa saat jelo berusaha menceritakan sebuah dongeng yang pernah dia dengar dari almarhum mamahnya dulu.
"Drea??, apa kamu menyimpan obat ibu?" kata ibu edrea yang baru saja keluar dari arah kamarnya.
Seketika edrea berhenti dari aktifitasnya, kini raut mukanya mulai terlihat muram.
"Maaf bu, obat itu sebenarnya sudah habis untuk yang bulan ini, nanti kalau edrea sudah gajian langsung akan aku tebus resep yang baru untuk ibu" edrea menghela nafas panjang sebelum kembali memasak lagi.
Jelo mnggerakkan bola matanya sedikit ke arah mereka, karena mereka ada dalam satu ruangan membuat jelo tidak susah untuk mendengar pecakapan mereka.
"Tidak apa apa, , sebenarnya ibu tidak minum obat itu juga bisa tetap sehat ko" ibu edrea kembali masuk ke dalam ruang kamarnya.
Edrea nampak melamun mendengar perkataan ibunya barusan, membuat dirinya seperti anak yang tidak berguna.
Namun dia yakin bulan ini pasti akan menebus obat ibunya 3 kali lipat karena gaji bulan ini lebih besar dari gaji yang dia peroleh sebelumnya.
Jelo kembali menetralkan pikiranya dari percakapan ke dua perempuan barusan dan fokus kembali membantu anin untuk menggambar.
"Nenekku mengidap lupus om, jadi setiap bulan mamah harus menebus obat yang harganya tidak murah" anin berucap seolah dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh jelo.
Jelo hanya diam dan memaku bibirnya, bertemu dengan dua perempuan yang kini mengubah penilaiannya terhadap seorang perempuan, mereka membuktikan bahwa tidak semua perempuan seperti mereka mereka yang ada di sekeliling ayahnya.
Jelo berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak berlarut larut memikirkan keadaan mereka.
"Apa yang sedang kamu gambar?" jelo kembali menyadarkan perasaannya.
Anin mengambil kertas dan memperlihatkan gambar yang sudah selesai di warnainya ke arah jelo.
"Ini mamah, ini anin, dan yang ini, , om angelo" nampak senyum lebar menghiasi wajah anin ketika memamerkan gambar itu kepada jelo.
Edrea langsung mengalihkan pandangannya ke arah kertas yang sedang di pegang oleh anin.
Dadanya terasa sesak, nafasnya mulai memburu dan emosi mulai menyelimuti dadanya.
Dengan cepat edrea masuk ke dalam kamar, membuka laci yang berada dekat dengan tempat tidur, dia mengambil leontin milik jelo yang di temukannya malam itu.
Berjalan cepat keluar dari kamar mendekat ke arah jelo, meraih tangan jelo dan meletakkan leontin itu di telapak tangannya.
"Ini kan yang kamu inginkan?" edrea menatap lekat ke dua mata jelo.
Rahang jelo menguat, dia sedang menggertakkan giginya sendiri untuk menahan rasa emosi yang tiba tiba muncul ketika edrea mengatakan hal itu. Seolah dirinya harus segera pergi dari tempat itu.
Edrea tidak suka ketika anin berharap lebih kepada murid laki lakinya itu.
Jelo menghela nafas panjang, berusaha mengusai emosi yang mencoba melahab habis dadanya.
"Aku datang ke sini karena anin" senyum jelo nampak terlihat samar.
Anin melihat ke arah edrea yang sedang menatap jelo dengan aura kemarahan.
"Kenapa mamah marah sama om ganteng?" anin meletakkan kembali kertas gambarnya, berusaha mengganggu konsentrasi edrea yang sedang terpaut pada jelo.
Edrea mengalihkan pandangannya ke pada anin yang kini wajahnya mulai terlihat murung.
"Maaf anin, mamah bukan marah" edrea membelai lembut rambut anin dan menghela nafas sebelum melanjutkan lagi pembicaraan.
"Mamah tidak ingin anin seperti ini, bersikaplah seperti anak yang baik" ucap edrea dengan lembut namun di terselip nada ketegasan di dalamnya.
"Tapi anin cuma"
"Anin cukup!!!" kali ini edrea menaikkan sedikit nada bicaranya.
"Tapi mah"
"Masuk kamar sekarang!!" edrea berusaha mengendalikan emosinya.