My Soul

My Soul
#21 Pilu



Perhatian Edrea teralihkan saat pintu kamar terbuka, dia melihat seseorang menerobos masuk dengan memakai pakaian jas berwarna hitam lengkap.


Laki laki itu berdiri di seberang ranjang menghadap ke Edrea sambil sedikit membungkuk untuk memberi salam padanya.


Edrea yang merasa tidak enak langsung berdiri dan membalas salamnya dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Tara membawa beberapa perawat untuk membawa tubuh Jelo. Edrea yang nampak terkejut dia langsung menghalanginya.


"Mau di bawa kemana dia" ucapnya dengan galak wajahnya juga terlihat sangat khawatir.


"Maaf Edrea mereka hanya akan memindah ruang inap Tuan Angelo ke ruang inap VVIP" ucap tara.


Edrea semakin terkejut saat laki laki yang berdiri didepannya dan tak di ketahui identitasnya itu menyebut namanya secara tiba tiba.


"Siapa kamu sebenarnya" tanyanya seketika.


Sementara perawat telah membawa tubuh Jelo keluar dari ruangan itu.


"Siapa saya itu tidak penting, silahkan" Tara memberi jalan ke pada Edrea untuk ikut dengannya.


Mata Edrea nampak menyelidik ke arah Tara sambil berjalan ke arah pintu keluar mengikuti perawat yang telah lebih dulu membawa Jelo.


"Bisa saya minta tolong kepada anda" ucap Tara setelah tubuh jelo berhasil di pindah di ruang inap VVIP.


Tatapan mata Edrea selalu menyelidik ke arah Tara.


Dia mengangguk pelan setelah Tara mengucapkan permintaan padanya.


"Bisa kita bicara di luar" pintanya kemudian.


Edrea pun memenuhi keinginan laki laki yang sampai sekarang belum di ketahui namanya olehnya.


♡♡♡


Suasana kantin di rumah sakit sangat sepi malam itu, hanya ada Edrea dan Tara yang mengisi salah satu deretan meja di sana.


"Namaku Tara" ucap laki laki itu kemudian. Tara tahu kalau dari tadi Edrea sangat ingin tahu dengan namanya.


"Apa hubunganmu dengan Jelo?" Edrea mulai mengungkapkan rasa penasarannya.


"Saya di tugaskan oleh Ayahnya untuk menjaga Tuan Anggelo, dia putra dari Brahmantya Abraham"


Mendengar namanya saja sudah membuat Edrea merinding.


Namun dia berusaha menetralkan rasa kegelisahannya.


"Siapa pun dia, lebih baik suruh dia cepat kemari"


Ekspresi wajah Tara mulai menggelap, sepertinya perempuan yang ada di depannya ini tidak tahu seperti apa laki laki yang bernama Brahm itu.


"Tinggal di pelosok manakah dia?? sampai tidak tahu siapa itu Brahmantya Abraham.


Dia juga berani menyuruhnya datang kemari??"


Tara berdehem untuk mencairkan suasana.


"Beliau tidak bisa datang kemari, Andalah orang yang harus menjaga Tuan Angelo" ucap Yara dengan nada menuntut ke pada Edrea.


Edrea mengancungkan jari telunjuknya ke arah wajahnya sendiri.


"Aku?" ucapnya dengan nada meragu.


"Anda seharusnya tahu, kenapa Tuan Muda sampai mabuk seperti ini" sekali lagi ucap tara dengan nada menuntut.


"Ini orang udah gila kali, mana aku tahu coba, kalau Tuan Mudanya sampai mabuk mabukkan"


Edrea menghela nafas panjang.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu!" ucap edrea dengan nada tegas.


Dia meraih minuman kaleng di atas meja dan menegugnya perlahan.


"Tuan Muda menyukai Anda" ucap Tara seketika membuat menuman yang masih tertahan di tenggorakan Edrea hampir saja mencuat keluar kalau dia tak bisa mengendalikannya.


Tara mengambil selembar tisu dan memberikannya kepada Edrea untuk membersihkan minuman yang sempat menetes dari mulutnya.


"Terima kasih" ucapnya ketus. Edrea membersihkan dagunya yang basah dengan tisu.


"Dari mana kamu tahu, kalau dia menyukaiku?" tambahnya Edra seolah mengelak akan ketahuannya kalau Jelo memang menyukainya.


"Saya selalu mengikuti kemana pun Tuan Muda pergi, Saya selalu di sampingnya semenjak dia masih kecil , , apa pun yang di lakukan, apa yang di rasakan oleh Tuan Muda saya mengetahuinya dengan persis" ucap tara dengan penuh keyakinan.


"Jangankan meminun, Tuan Muda tidak pernah menyentuh botol minuman keras!! dan kini beliau mabuk menghancurkan dirinya sendiri sampai keracunan alkohol itu semua karena anda" Tara sedikit menaikkan nada bicaranya ke arah Edrea.


Dia menyalahkan kejadian yang menimpa Jelo adalah murni karena kesalahnya.


Dia juga merasa sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada Jelo.


Hanya saja dia menahan rasa khawatirnya di depan Edrea.


Edrea menelan ludahnya dengan susah payah, seketika dia nampak murung memikirkan ucapan Tara yang sedikit menggerakkan hatinya.


"Kalau anda tidak bisa membalas perasaannya, setidaknya jangan pernah muncul kembali di hadapan Tuan Muda" ucap Tara dengan nada menuntut.


"Lalu bagaimana dengan kehidupanku dan keluargaku? kalau aku harus pergi dari kehidupan Jelo??, , aku mendapatkan pekerjaanku di sekokah yang setiap hari harus bertemu dengannya! mana mungkin aku pergi dari hidupnya" ucap Edrea dengan nada setengah berteriak.


"Saya akan menyiapkan segala sesuatunya untuk anda dan keluarga, saya akan menjamin kehidupan kalian"


Edrea terkekeh mendengar ucapan Tara.


"Kenapa harus sampai seperti itu??, , hanya untuk Tuan Mudamu??" Edrea berucap dengan tenang namun terdengar manyakitkan bagi Tara.


"Hanya??" ucap Tara dengan nada penuh penekanan.


"Kata itu tidak sebanding dengan perjuangannya selama menjalani hidupnya yang kelam. Bahkan jika Tuan Muda bisa memilih, beliau pasti akan memilih untuk tak di lahirkan ke dunia ini" Tara berucap dengan nada datar, namun terdengar sangat memilukan di Edrea.


Dia menghela nafas panjang sebelum bercerita tentang Tuan Mudanya.


Flash back on


Di usianya yang masih sangat terbilang belia 10 tahun Jelo termasuk anak yang jenius, karena selalu mendapat nilai penuh di setiap mata pelajaran.


Jika ada nilai di atas 100 mungkin semua guru akan memberinya lebih.


Usianya memang bisa di bilang anak anak namun sikap dan perilakunya yang melebihi sikap seorang anak seusianya membuat dirinya sudah terlihat lebih dewasa dari umurnya. Teman teman wanita di sekolah selalu menempel dan mengerumuninya ketika baru saja keluar dari mobil yang mengantarnya ke sekolah.


Di kalangannya jelo dikenal sebagai anak dewa.


Di samping pintar, anak orang kaya dia juga sangat ramah serta ceria.


Seperti tak ada kekurangan apa pun pada dirinya.


Tetapi setiap kembali ke rumah dia selalu terlihat murung ketika mendapati luka memar di bagian yang berbeda beda pada tubuh mamahnya.


Jelo selalu mananyakannya, kenapa bisa memar itu selalu berpindah pindah tempat.


Kadang di kening, di pipi, di lengan tangannya, bahkan pernah bibirnya terlihat sedikit pecah.


****ADELIA ENRICA****, hanya tersenyum menjawab dengan lembut, dan selalu mencari alasan yang mungkin bisa di terima oleh anaknya.


Anak seusianya di bohongi pun dia tidak akan tahu, dan pasti akan langsung percaya apa lagi ketika mamahnya sendiri yang mengatakan kebohongan itu.


Tapi itu tidak berlaku pada jelo, dia tahu itu bukan memar karena jatuh. Lebih seperti bekas pukulan.


Istri dari BRAHMANTYA ABRAHAM itu memang perempuan berhati lembut, penyayang kepada orang orang di sekitarnya, adelia selalu berlaku baik bahkan pada setiap pelayan di rumahnya.


Apa lagi dengan jelo anak semata wayangnya.


Brahm nama panggilan suaminya, dia selalu menjaga ketat gerak gerik adelia.


Kemana pun dia pergi selalu menyuruh bodyguard untuk mengawal sang istri.


Berbanding terbalik dengan adelia, brahm adalah seorang suami psychopath.


Semenjak lahirnya jelo, dirasanya sang istri tidak pernah bisa memuaskan dirinya saat di atas ranjang.


Dari dulu brahm selalu mendambakan seorang anak laki laki, makanya dia tidak pernah menyalahkan atas kelahiran putranya itu.


Mulai saat itu dia selalu menghajar istrinya setelah berhasil menidurinya, dirasa gairah sang istri terasa berbeda setelah anaknya lahir, maka dia akan menghajar tubuh edelia untuk mendapatkan kepuasan yang lebih.


Itulah dimana luka luka lebam yang di peroleh oleh adelia.


Brahm juga termasuk seorang workaholic, dia selalu menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk duduk di ruang kerja.


Cara berfikir dan kepandainnya dalam memimpin semua perusahaan memang sudah di kenal di kalangan pebisnis. Dan sepertinya hanya sifat itu yang menurun pada anak laki lakinya itu.


Tak bisa di pungkiri brahm seorang suami yang sangat bertanggung jawab dengan istrinya dalam hal materi.


Bahkan brahm menyerahkan salah satu perusahaan yang dibangun ke pada adelia, mungkin saat ini nama kepemilikan perusahaan tersebut sudah di atas namakan jelo oleh adelia tanpa sepengetahuan sang suami.


Ketika adelia tidak bisa memuaskan dirinya di atas ranjang brahm selalu memuaskan dirinya dengan menghajar tubuh adelia.


Tak jarang setiap pulang ke rumah dia selalu membawa wanita lain yang berbeda beda untuk memenuhi hasratnya itu.


Tak segan segan dia dengan sengaja memamerkan wanita yang di bawanya di depan adelia.


Adelia tidak bisa berbuat apa apa kecuali hanya menerima perlakuan buruk suaminya.


Dia hanya wanita lemah, dan tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan brahm.


Hingga suatu malam yang mencekam, brahm menghajar istrinya tepat di depan ke dua bola mata jelo.


Jelo terlihat duduk di lantai pojokan lemari kaca hias di ruang keluarga.


Memeluk lutut sendiri sambil melihat lurus ke arah pintu yang langsung terhubung ke arah kamar orang tuanya.


Tubuh jelo nampak bergetar menahan rasa ketakutan yang mulai menyelimuti tubuhnya.


Brahm memakai celana panjang berwana hitam serta bertelanjang dada.


Dilihatnya tangan sang ayah sedang menarik ikat pinggang yang melingkar di pinggangnya dengan paksa.


Brahm mendaratkan sabetan ikat pinggang ke arah tubuh istrinya seperti sedang mengayunkan samurai kepada musuh, dengan keras dan penuh emosi yang meledak di jiwanya.


Suara sabetan terdengar sangat keras ketika menyentuh tubuh adelia, lengan berotot di kedua tangan brahm nampak terlihat menguat, dia terus meluapkan emosi di setiap sabetan.