My Soul

My Soul
#10 Boneka untuk anin



Di mini stadion yang berada di halaman belakang sekolah SMA o1 Xxx.


Edrea sedang memberi hukuman kepada 3 murid didiknya yang kemarin katahuan ikut tawuran.


"Lima kali putaran lagi!!" teriak edrea kepada jelo, azel dan basti yang sedang berlari mengitari mini stadion.


"Dia memberi kita hukuman yang sepele seperti ini, , apa tidak ada hukuman yang lebih berat lagi?" ucap azel sambil mengatur nafasnya saat sedang berlari.


"Sebentar lagi kita akan balas dia" ucap jelo seketika.


"Gitu dong, dari kemarin kita kita nunggu kamu mengatakan itu" basti berucap dengan penuh semangat.


 


Selesai mengitari stadion edrea menyuruh mereka bertiga berkumpul di satu ruangan.


 Jelo, azel dan basti duduk di kusi masing masing, di depan mereka sudah ada beberapa lembar kertas soal fisika yang sudah di persiapkan edrea untuk mereka.


"Jika kalian bisa menyelesaikan soal soal itu dengan nilai di atas 8, maka kalian akan aku bebaskan, tapi kalau di bawah itu, kalian masih harus menjalani hukuman" edrea berusaha keras memberi hukuman fisik atau non fisik kepada mereka bertiga.


Sperti yang edrea tahu kalau hanya hukuman fisik mereka dengan sangat mudah melaluinya.


Jelo tidak mungkin menjawab soal dengan asal asalan, karena nanti edrea akan menahan dirinya lebih lama di sekolah.


Padahal jelo sudah meminta kepada pembimbing anin untuk memberitahunya kalau jelo akan menemuinya hari ini.


Mau tidak mau, jelo menjawab semua soal dengan benar.


Tidak memerlukan waktu yang lama untuk menjawab soal yang di rasa sangat mudah bagi jelo.


30 soal pilihan, dan 10 soal esay di selesaikan jelo hanya dengan waktu 30 menit.


Semua jawaban seperti sudah terekam di otaknya dengan baik.


"Aku selesai" jelo segera beranjak dari kursinya.


membuat azel dan basti terpelongo, karena tidak seperti biasanya jelo bisa menyelesaikan soal dengan cepat, di pikiran mereka pasti jelo menjawab soal dengan asal asalan.


Namun edrea berusaha menahan jelo.


"Tunggu tunggu!!!, , kamu yakin, kalau bisa mendapat nilai di atas 8?" ucap edrea meragukan kemampuan jelo.


"Cek saja, aku akan menunggumu sampai selesai memberiku nilai" ucap jelo sambil kembali duduk di kursinya.


Edrea mengambil lembar jawaban milik jelo dengan tatapan mata sinis ke arahnya.


Dia bergerak ke arah belakang kembali duduk di kursi miliknya yang sedari tadi di gunakan untuk mengawasi mereka bertiga.


Mata edrea semakin melebar ketika mulai mengecek jawaban jelo satu persatu.


Tak ada satupun jawaban yang salah di jawaban soal pilihan.


Sesekali mata edrea mengerucut ke arah jelo yang sedang menatap ke arahnya seperti sedang menunggu hasil nilai darinya.


Wajah edrea semakin terheran heran manakala dia selesai mengecek jawab esay milik jelo, tak ada satupun angka yang kurang dari penghitungan setiap soal, bahkan semua rumus di tuliskan dengan komplit dan benar.


Terlihat senyum di ujung bibir jelo ke arah edrea yang sedang melihat ke arahnya dengan wajah keheranan.


"Sudah selesaikah" jelo berucap seperti sudah tahu makna dari tatapan edrea kepadanya.


"Kalau begitu aku akan pergi" jelo beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang itu,meninggalkan ke dua temannya.


Azel dan basti hanya saling lempar pandang tidak percaya, kalau jelo mendapat nilai penuh kali ini.


"Apa ada yang salah dengan teman kita satu itu, bagaimana bisa dia menjawab soalnya dengan benar" azel berucap dengan penuh rasa tak parcaya.


Namun basti hanya menggerakkan sedikit pundaknya, seolah dia juga tidak tahu akan hal itu.


"Kalian cepat selesaikan!!, , atau kalian akan menghabiskan waktu kalin semalaman disini!" ucap edrea membuat azel dan basti kambali fokus ke soal mereka.


♡♡♡


Jelo mengendarai motornya dengan cepat menuju ke arah sekolah anin.


Sampai di halaman paud jelo memakirkan motornya, dia melihat anin tengah berdiri di depan pintu masuk, seperti dengan sengaja menunggu ke datangannya.


Anin berlari ke arahnya membentangkan ke dua tangannya seolah ingin meminta jelo untuk memeluk tubuhnya. 


Jelo menekuk ke dua lututnya menunggu anin berlari ke arahnya dan memeluk dirinya.


Jelo membalas pelukan anin.


Layaknya seorang anak yang sudah lama tidak melihat ayahnya.


Kini perasaan itu yang sedang di rasakan oleh anin.


Nampak senyum bahagia menghiasi wajah berdua.


Jelo memberikan paperbag berisi boneka anak kucing kepada anin.


 


"Kamu menyukainya?"


Anin membuka paperbagnya dan memgambil boneka anak kucing berbulu putih, dengan matanya yang hitam pekat membuatnya terlihat tambah lucu seperti pemiliknya sekarang.


"Apa kamu datang kemari karena mencoba menepati janjimu, untuk memberiku boneka ini?" tambahnya, ucap anin kali ini seolah dia berharap lebih kepada jelo, matanya berbinar seketika melihat laki laki yang sedang berlutut di depannya telah menepati janjinya


"Mm" jelo mengangguk pelan, rasa senang menyelimuti hati jelo ketika melihat anin menyukai boneka pemberiannya.


Tetapi tak perlu dalam hitungan detik, kini wajah anin berubah terlihat sedikit murung.


"Kenapa?" jelo merasa kebingungan melihat raut wajah anin yang berubah drastis dengan sangat cepat.


"Apa kita harus membuat janji dulu? agar kamu mau menemuiku lagi?" ucap anin penuh harap.


Pertanyaan anin seolah menusuk lapisan jantung paling terdalam jelo hingga merasa sakit ketika harus mendengar permintaan gadis kecil di depannya, seperti sedang memohon agar mereka bisa terus saling bertemu.


"Aku akan datang terus setiap hari, jika kamu mau" ucapan jelo, berharap anin bisa merasa tenang ketika mendengarnya.


"Benar om??, tidak sedang berbohong denganku kan" anin memastikan, dia tak langsung percaya begitu saja dengan perkataan laki laki dewasa yang sedang menatap ke arahnya.


"Janji kelingking?" jelo mengulurkan jari kelingking ke arah anin berusaha membuat anin percaya dengan apa yang dia katakan.


Anin tesenyum manis sambil membalas janji kelingking jelo.


"Bisakah kita keluar jalan jalan untuk sekedar beli es krim om?" anin berucap lagi kali ini nadanya seperti seorang pacar yang sedang berusaha merayu dan mengajak kencan pacarnya.


Jelo tertawa riang mendengar permohonan anin.


Pemintaan anin sungguh menggelitik ke dalam hatinya, hingga jelo tak bisa menahan tawanya.


Jelo berusaha menguasai dirinya kembali setelah beberapa detik dia sedikit lepas kendali.


"Memangnya boleh, aku mengajakmu keluar dari sekolah?" jelo tidak yakin kalau dirinya di perbolehkan untuk membawa keluar anin seperti permintaannya.


"Sepertinya pembimbing tidak akan mengijinkanku keluar dari lingkungan sekolah ini, , bagaimana kalau kapan kapan saja, sekalian mengajak mamahku, biar kita bisa pergi bertiga?, , om mau kan?" ucap anin penuh harap. Anin tahu kalau kalau laki laki di depannya ini tidak akan bisa menolak permintaannya.


Wajah jelo memaku, dia tidak punya alasan untuk mengatakan tidak pada gadis kecil yang terus memohon di depannya.


Kini senyum jelo terlihat terpaksa ke arah anin.


"Gimana ya" usaha jelo mencari alasan sepertinya sia sia, karena sudah terbaca oleh gadis kecil yang terus melihat ke arahnya.


"Janji kelingking?" anin berusaha memastikan agar om barunya ini tidak berbohong kepadanya, pasalnya anin tahu dari raut wajah jelo yang terlihat tidak meyakinkan kalau dia bisa menepati janjinya kali ini.


"Mm, , om usahakan" jelo berusaha mempertahankan senyum terpaksanya itu ke arah anin.


Tapi kali ini malah anin yang terkekeh riang, sepertinya dia merasa puas melihat sikap jelo yang berusaha dengan keras memenuhi keinginannya.


Jelo masih menemani anin di sisa waktunya sebelum pulang sekolah.


Sementara anin sedang bermain dengan teman temannya jelo hanya melihat dari kejauhan, layaknya seorang ayah yang sedang menunggu dan mengawasi putrinya di sekolah.


Sesekali anin berlari menghampiri jelo untuk sekedar menggodanya.


Nampak jelas jelo sangat senang dan menikmati hal itu.


Melihat tingkah gadis kecil yang menggemaskan membuatnya merasa bahagia, kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


Berjam jam dia duduk, pandangan matanya tak pernah lepas dari anin yang tingkahnya sangat aktif.


Terkadang dia di buat tertawa melihat tingkah anin.


"Sudah berapa tahun aku tidak tertawa selepas ini??"


Hanya karena tingkah anak kecil, jelo bisa melepas ingatan buruk tentang masa lalu walaupun sementara, ketika dia kembali ke rumahnya, maka ingatan buruk itu akan menghantuinya kembali.


Hingga akhirnya waktu juga yang memisahkan mereka.


"Apa om tidak bisa ikut pulang denganku?" permintaan anin semakin aneh.


Namun jelo memahami hal itu.


"Bukan sekarang anin, , nanti kapan kapan om akan mengantarmu pulang" ucap jelo berusaha menenangkan perasaan anin.


Sepertinya anin mau mengerti, dan kini dia memberi pelukan hangat kepada jelo sebelum dia pergi meninggalkannya.


♡♡♡


Selesai dari kantin, jelo dan temannya berjalan melewati perpustakaan, dia menghentikan langkah ketika melihat wali kelasnya sedang asyik membaca buku di salah satu lorong perpustakaan dari arah luar jendela kaca.


Membuat azel dan basti ikut berhenti dan mengarahkan pandangan mata mereka ke arah di mana jelo sedang menatap.


Jelo berjalan masuk ke ruang perpustakaan, mendekat ke arah edrea.


Rasa ingin mengganggunya semakin kuat menggerayang di dalam hati jelo ketika melihat aura dari wajah wali kelasnya itu.


Tubuhnya yang mungil, terlihat sangat rapuh dimata jelo. Rasa yang bergejolak di dalam hatinya ingin dilampiaskan dengan selalu mengganggu wali kelas yang sedang serius membaca buku, entah merasa gemas atau benci ke duanya saling bercampur di hati jelo.


Azel dan basti pun mengikuti langkah jelo masuk ke dalam perpustakaan.


Jelo melihat situasi untuk melancarkan aksinya. Nampak dia mengangkat alisnya dengan cepat seperti sedang meminta arahan kepada ke dua temannya untuk memastikan waktu yang tepat.


Entah apa yang akan di lakukan mereka bertiga untuk mengganggu wali kelasnya saat itu.


Namun jelo sedang mengawasi edrea yang sedang terlihat susah payah mengembalikan buku di tumpukan bagian rak paling atas.


Sampai harus berjinjit, tetap saja tinggi badannya tak mampu menjangkaunya.